Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nurbani Bangsawan, Abd.Rahman Kadir, Rasyidin Abdullah
MKMI Vol.9, No.1
Tamalanrea : FKM Universitas Hasanuddin, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maman Saputra; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Pujiyanto, Anhari Achadi, Wahyu Pudji Nugraheni, Soitawati
Abstrak: Konsumsi makanan gorengan, tinggi lemak jenuh diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular yang merupakan penyakit dengan penanganan yang lama dan mahal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan konsumsi makanan gorengan di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder SUSENAS Tahun 2019 dengan sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 883.952 responden. Model yang dipakai dalam analisis ekonometrika adalah two-part model. Variabel outcomenya adalah probabilitas dan kuantitas konsumsi makanan gorengan. Hasil penelitian menunjukkan individu yang mengonsumsi makanan gorengan di Indonesia diprediksi sebanyak 84,57 persen dengan kuantitas 4,12 potong per minggu. Determinan yang berhubungan dengan konsumsi makanan gorengan di Indonesia adalah harga, pendapatan per kapita, umur, lama menempuh pendidikan, status pekerjaan, tempat tinggal, akses informasi dan akses terhadap makanan. Variabel jenis kelamin tidak menunjukkan hubungan dengan probabilitas konsumsi tetapi berhubungan hanya pada kuantitas konsumsi pada mereka yang mengonsumsi makanan gorengan. Variabel yang paling dominan berhubungan dengan konsumsi makanan gorengan di Indonesia adalah harga. Kenaikan satu persen harga makanan gorengan akan menurunkan probabilitas orang mengonsumsi makanan gorengan sebesar 0,21 persen dan 0,74 potong per hari pada mereka yang mengonsumsinya. Makanan gorengan tergolong dalam jenis barang yang inelastis terhadap perubahan harga. Variabel umur, lama menempuh pendidikan, dan status pekerjaan memiliki kekuatan hubungan yang sangat kecil.
Consumption of fried foods, high in saturated fat is known to increase the risk of cardiovascular disease which is long and expensive treatment. This study aims to analyze the determinants of fried food consumption in Indonesia. This study uses secondary data from the 2019 SUSENAS with a sample that meets the inclusion and exclusion criteria of 883,952 respondents. The model used in econometric analysis is a two-part model. The outcome variable is the probability and quantity of fried food consumption. The results showed that individuals who consumed fried food in Indonesia were predicted to be 84.57 percent with a quantity of 4.12 pieces per week. The determinants related to the consumption of fried food in Indonesia are price, income per capita, age, length of education, employment status, place of residence, access to information and access to food. The gender variable did not show a relationship with the probability of consumption but only related to the quantity of consumption in those who consumed fried food. The most dominant variable related to the consumption of fried food in Indonesia is price. A one percent increase in the price of fried food will reduce the probability of people consuming fried food by 0,21 percent and 0.74 pieces per day for those who eat it. Fried foods are classified as goods that are inelastic to price changes. The variables of age, length of education, and employment status have very small relationship strength
Read More
T-6149
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Widi Astutty Casimira Daeli; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Budi Hidayat, Ratu Ayu Dewi Sartika, Risky Kusuma Hartono
Abstrak: PTM merupakan masalah kesehatan yang sedang dihadapi saat ini. PTM menyebabkan 71% kematian di dunia dan diperkirakan sebesar 73% kematian di Indonesia. Banyak penelitian menunjukkan kontribusi minuman berpemanis terhadap PTM seperti kelebihan berat badan dan obesitas, diabetes mellitus, dan PTM lainnya. Minuman berpemanis adalah minuman yang diberi tambahan gula dan mempunyai nilai kalori dan nutrisi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi minuman berpemanis di Indonesia Tahun 2017. Metode yang digunakan menggunakan analisis logit dan regresi OLS serta data sekunder Susenas 2017. Hasil penelitian ini diketahui bahwa sebesar 70,91% dari 897.088 individu mengkonsumsi minuman berpemanis. Variabel dengan arah koefisien konsisten adalah variabel harga, pendidikan, status pekerjaan, jenis kelamin, pendapatan (kuintil), kepemilikan TV, Regional Jawa dan Maluku & Papua. Variabel paling berhubungan menurunkan probabilitas konsumsi minuman berpemanis adalah usia >65tahun dan yang meningkatkan adalah variabel konsumsi makanan dan camilan. Variabel paling berhubungan menurunkan jumlah konsumsi minuman berpemanis dalam satuan gram gula adalah harga minuman berpemanis dan yang meningkatkan adalah pendapatan pada kuintil 5. Kesimpulannya adalah hasil elastisitas sebesar -1,935 artinya jika harga dinaikkan sebesar 10% maka menurunkan konsumsi minuman berpemanis sebesar 19,35%. Saran kebijakan untuk mengurangi konsumsi minuman berpemanis adalah menaikkan harga minuman berpemanis. Berdasarkan simulasi kenaikan harga, ketika terjadi kenaikan harga minuman berpemanis akan menurunkan rata-rata konsumsi minuman berpemanis. Sebab pada saat harga meningkat maka jumlah konsumen pun menurun dan pendapatan suppier ikut menurun. Kenaikan harga di titik 40% merupakan paling optimal untuk pemerintah mendapatkan pendapatan akibat cukai
Read More
T-5757
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sheirly Novan Indra; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Adang Bachtiar, Ferdy Danny Tiwow, Nana Mulyana
Abstrak:

Latar belakang Berbagai faktor diketahui memengaruhi kepuasan dan loyalitas pasien Instalasi Gawat Darurat (IGD) sebuah rumah sakit, mulai dari mutu layanan, harga hingga citra merek. Kepuasan dan loyalitas pasien IGD Rumah Sakit Eka Cibubur masih menjadi salah satu permasalahan dari keseluruhan pelayanan Rumah Sakit, yang berdampak pada kinerja operasionalnya berupa pertumbuhan negatif pada tahun 2023. Tujuan Tujuan utama penelitian ini adalah menganalisis dan menguji berbagai faktor yang memengaruhi kepuasan dan loyalitas pasien Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Eka Cibubur. Metode Merupakan studi kuantitatif pada 163 pasien yang menggunakan layanan IGD Rumah Sakit Eka Cibubur pada Desember 2023 hingga Januari 2024. Data diambil dengan menyebarkan questionnaire kepada pasien yang telah ditentukan setelah diujicobakan terlebih dahulu. Kemudian dilakukan analisis multivariat serta estimasi hubungan saling ketergantungan antara variabel laten secara bersamaan melalui uji Stuctural Equation Modeling (SEM). Hasil Kepuasan pasien dipengaruhi oleh mutu layanan (p = 0,034), harga (p = 0,000) dan citra merek (p = 0,015). Sedangkan loyalitas pasien hanya dipengaruhi oleh citra merek (p = 0,003) dan kepuasan pasien (p = 0,003). Selain itu, kepuasan pasien memediasi penuh hubungan antara harga (p = 0,024), namun tidak memediasi hubungan antara mutu layanan (p = 0,109) dan citra merek (p = 0,068) dengan loyalitas pasien. Kesimpulan Mutu layanan, harga dan citra merek yang dipersepsikan dengan baik oleh pasien IGD terbukti memengaruhi kepuasan akan layanannya. Dengan loyalitas akan penggunaan layanan berikutnya sangat ditentukan oleh kepuasannya, khususnya kepuasan akan harga yang terbukti sangat memengaruhi loyalitas pasien akan penggunaan layanan IGD selanjutnya. Lebih lanjut, studi terhadap faktor lain masih perlu dilakukan guna perbaikan berkelanjutan. Kata Kunci: Mutu Layanan, Harga, Citra Merek, Kepuasan, Loyalitas


 

Background Various factors are known to influence patient satisfaction and loyalty in a hospital's Emergency Room (IGD), ranging from service quality, price to brand image. Satisfaction and loyalty of emergency room patients at Eka Cibubur Hospital is still one of the problems of the hospital's overall services, which has an impact on its operational performance in the form of negative growth in 2023. Objective The main objective of this research is to analyze and test various factors that influence patient satisfaction and loyalty at the Emergency Department (IGD) of Eka Cibubur Hospital. Methods This is a quantitative study on 163 patients who used the emergency room services at Eka Cibubur Hospital from December 2023 to January 2024. Data was collected by distributing questionnaires to patients who had been determined after being tested first. Then, multivariate analysis was carried out and estimation of the interdependence relationship between latent variables simultaneously through the Structural Equation Modeling (SEM) test. Results Patient satisfaction is influenced by service quality (p = 0.034), price (p = 0.000) and brand image (p = 0.015). Meanwhile, patient loyalty is only influenced by brand image (p = 0.003) and patient satisfaction (p = 0.003). In addition, patient satisfaction fully mediates the relationship between price (p = 0.024), but does not mediate the relationship between service quality (p = 0.109) and brand image (p = 0.068) and patient loyalty. Conclusion Service quality, price and brand image that are well perceived by emergency room patients have been proven to influence satisfaction with their services. Loyalty regarding subsequent use of services is largely determined by satisfaction, especially satisfaction with price which has been proven to greatly influence patient loyalty regarding subsequent use of ER services. Furthermore, studies on other factors still need to be carried out for continuous improvement. Keywords: Service Quality, Price, Brand Image, Satisfaction, Loyalty

Read More
B-2451
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fanny Annisa Abriani; Wachyu Sulistiadi; Penguji: Ede Ede Surya Darmawan, Masyitoh, Monika Noviena Susanto, Abdul Robby Azhadi
Abstrak:
Keputusan masyarakat dalam memilih layanan rumah sakit dalam negeri menjadi isu strategis di tengah meningkatnya akses terhadap layanan kesehatan luar negeri. Meskipun memiliki kemampuan finansial dan informasi untuk berobat ke luar negeri, sebagian masyarakat tetap memilih rumah sakit di dalam negeri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan faktor keputusan memilih layanan rumah sakit dalam negeri oleh masyarakat Pekanbaru yang memiliki kemampuan akses layanan kesehatan luar negeri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Data dikumpulkan dari 140 responden yang memenuhi kriteria melalui kuesioner. Hasil penelitian didapatkan bahwa masyarakat Pekanbaru sebagian besar memilih rumah sakit dalam negeri dan faktor dominan yang berhubungan dengan keputusan tersebut adalah harga dan produk. Masyarakat dalam memilih rumah sakit cendrung mempertimbangkan aspek kualitas layanan yang dirasakan langsung serta harga yang sesuai dengan layanan yang diterima.

The public's decision to choose domestic hospital services has become a strategic issue in the midst of increasing access to foreign health services. Despite having the financial ability and information to seek treatment abroad, some people still choose domestic hospitals. This study aims to determine the decision factors influencing the choice of domestic hospital services by the Pekanbaru community who can access foreign health services. This study used a quantitative approach with a cross-sectional design. Data were collected from respondents who met the criteria through questionnaires. The results showed that the Pekanbaru community mostly chose domestic hospitals and the dominant factors associated with the decision were price and product. People in choosing a hospital tend to consider aspects of service quality that are felt directly and the price that is by the services received.
Read More
B-2537
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dhia Fairuz Auza; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dian Ayubi, Dian Rosdiana
Abstrak:
Latar belakang: Terdapat peningkatan jumlah perokok remaja di Indonesia berdasarkan perbandingan data Riskesdas 2016 dan Riskesdas 2018. Jika dibandingkan dengan data pada tahun 2016, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan terdapat peningkatan jumlah perokok remaja di Indonesia sebesar 0,3% dengan perokok usia 10-18 tahun mencapai 9,1%. Beberapa faktor yang melatarbelakangi terbentuknya perilaku merokk pada siswa adalah harga diri, tekanan dalam pertemanan, dan pola asuh negatif. Metode: Studi cross-sectional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara harga diri, tekanan dalam pertemanan, dan pola asuh negatif dengan perilaku merokok melalui Angket Perilaku Remaja Siswa Sekolah Menengah di DKI Jakarta pada bulan November 2023. Penelitian melibatkan 160 responden dari kelas 10 dan 11 di SMAN 38 dan SMAN 90 Jakarta yang diambil secara stratified proportional random sampling. Hasil: Tidak ada hubungan yang siginifikan antara harga diri (p-value 0,725) dan pola asuh negatif (p-value 0,713) dengan perilaku merokok. Namun, ada hubungan yang signifikan antara tekanan dalam pertemanan (p-value 0,004) dengan perilaku merokok. Kesimpulan: Disarankan bagi SMAN 38 dan SMAN 90 untuk dapat meningkatkan pengawasan pelaksanaan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di sekolah.

Background: There is an increase in the number of teenage smokers in Indonesia based on a comparison of Basic Health Research of the year 2016 and 2018. When compared with 2016 data, the 2018 Basic Health Research (Riskesdas) shows that there is an increase in the number of teenage smokers in Indonesia by 0.3% with smokers aged 10 -18 years reached 9.1%. Several factors behind the formation of smoking behavior in students are self-esteem, peer pressure, and negative parenting patterns. Method: A cross-sectional approach which aims to determine the relationship between self-esteem, peer pressure, and negative parenting patterns with smoking behavior through the Adolescent Behavior Questionnaire for Middle School Students in DKI Jakarta in November 2023. The research involved 160 respondents from grades 10 and 11 at SMAN 38 and SMAN 90 Jakarta using stratified proportional random sampling. Results: There is no significant relationship between self-esteem (p-value 0,725) and negative parenting patterns (p-value 0,713) and smoking behavior. However, there is a significant relationship between peer pressure (p-value 0,004) and smoking behavior. Conclusion: It is recommended for SMAN 38 and SMAN 90 to increase supervision of the implementation of No-Smoking Areas (KTR) in schools.
Read More
S-11531
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive