Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Resty Wulandari; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Dadan Erwandi, Indri Hapsari Susilowati, Bimo Prasetyo, Roy Nababan
Abstrak:
Read More
Distres kerja menjadi masalah kesehatan yang cukup serius di industri konstruksi. Distres kerja dikaitkan dengan perasaan emosional dan mental, tapi juga dapat berdampak buruk pada kesehatan secara fisik, menurunkan motivasi, produktivitas, dan kepuasan kerja. Ada berbagai faktor yang mempengaruhi timbulnya distres kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko distres kerja pada pekerja konstruksi proyek XYZ, baik faktor individu, faktor psikososial, dan faktor dukungan sosial. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Penelitian dilakukan pada pekerja konstruksi XYZ pada bulan Maret-Mei 2023. Jumlah sampel penelitian adalah 127 responden yang diambil dengan teknik non random sampling. Kuesioner yang digunakan adalah Short Version – New Brief Job Stress Questionnaire (SV-NBJSQ) dan 3 pertanyaan tambahan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji statistik chi-square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan faktor risiko yang berhubungan dengan distres kerja adalah faktor psikososial job control, kompatibilitas dengan pekerjaan, interaksi dengan atasan, interaksi dengan organisasi, dan faktor dukungan sosial. Hasil analisis menunjukkan variabel yang dominan berhubungan dengan distres kerja adalah job control dan dukungan sosial. Dari kedua variabel tersebut, dukungan sosial adalah variabel yang paling dominan berhubungan dengan distres kerja (AOR=4,062)
Job distress is a serious health problem in the construction industry. Job distress is associated with emotional and mental feelings, but it can also have a negative impact on physical health, reducing motivation, productivity and job satisfaction. There are various factors that influence the emergence of job distress. This study aims to analyze the risk factors of job distress on XYZ construction workers, including individual factors, psychosocial factors, and social support factors. This research used a cross sectional design. The research was conducted on XYZ construction workers in March-May 2023. The number of samples in this study were 127 respondents who were taken using a non-random sampling technique. The questionnaire used is the Short Version – New Brief Job Stress Questionnaire (SV-NBJSQ) and 3 additional questions. Data analysis was performed using the chi-square and logistic regression statistical test. The results showed that the risk factors associated with job distress were psychosocial factors, job control, job compatibility, interactions with superiors, interactions with organizations, and social support factors. The results of the analysis show that the dominant variable related to job distress are job control and social support. Among these two variables, social support is the most dominant variable related to job distress (AOR=4,062)
T-6720
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Riyan Saputra ; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Ab,dul Kadir, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Ridha Renaldi, Swadexi Istiqphara
Abstrak:
Read More
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis berbagai faktor risiko psikososial pada tiga arena kehidupan (individu, pekerjaan, dan rumah) serta hubungannya dengan tingkat distres kerja pada operator PT XX tahun 2026. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi crosssectional, penelitian ini melibatkan 161 operator tambang batubara di Kalimantan Timur yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data primer dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur yang diadaptasi dari Permenaker No. 5 Tahun 2018, Effort-Reward Imbalance (ERI), dan Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ). Hasil analisis universitas menunjukkan bahwa mayoritas operator (83,23%) memiliki tingkat distres kerja yang rendah, sementara 16,77% sisanya mengalami tingkat distres tinggi. Hasil analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda metode backward elimination menunjukkan bahwa faktor prediktor utama yang paling dominan terhadap tingkat distres kerja tinggi adalah masalah tidur dari arena rumah dengan nilai Odds Ratio sebesar 11,58 (OR = 11,585). Faktor prediktor kuat berikutnya adalah perilaku menyerang (workplace bullying) dari arena pekerjaan dengan nilai Odds Ratio sebesar 4,05 (OR = 4,053). Manajemen perusahaan disarankan mengoptimalkan program intervensi kesehatan mental, penataan jadwal kerja untuk manajemen fatigue, serta penerapan kebijakan nol toleransi terhadap perundungan guna meminimalkan risiko operasional.
This study aims to analyze various psychosocial risk factors across three life domains (individual, work, and home) and their relationship with job distress levels among operators at PT XX in 2026. Employing a quantitative approach with a cross-sectional study design, this research involved 161 coal mining operators in East Kalimantan selected through a purposive sampling technique. Primary data collection was conducted using structured questionnaires adapted from the Minister of Manpower Regulation (Permenaker) No. 5 of 2018, the Effort-Reward Imbalance (ERI), and the Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ). Univariate analysis results indicated that the majority of operators (83.23%) experienced low levels of job distress, while the remaining 16.77% suffered from high distress levels. Multivariate analysis using multiple logistic regression with the backward elimination method revealed that the most dominant primary predictor for high job distress was sleep problems from the home domain, with an Odds Ratio of 11.58 (OR = 11.585). The next strong predictor was offensive behavior (workplace bullying) from the work domain, with an Odds Ratio of 4.05 (OR = 4.053). Company management is advised to optimize mental health intervention programs, restructure work schedules for fatigue management, and implement a zero-tolerance policy against bullying to minimize operational risks.
T-7559
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rola Mesrani; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Dadan Erwandi, Indri Hapsari Susilowati, Khaerudin, Masrulloh
Abstrak:
Read More
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan distres kerja sebagai epidemi global abad ke-21. Pegawai yang bekerja di instansi pemerintahan sangat berisiko mengalami distres kerja, termasuk Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kesehatan di Batam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis determinan distres kerja pegawai pada Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kesehatan di Batam tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional, dengan sampel penelitian ini diambil menggunakan metode purposive sampling yang berjumlah 174 orang. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ) III ditambah dengan 4 pertanyaan terbuka. Hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas pegawai mengalami distres ringan (62,6%). Berdasarkan analisis inferensial dengan uji chi square terdapat hubungan faktor individu (jenis kelamin) dengan distres kerja, dan terdapat hubungan faktor psikososial (work-life balance) dengan distres kerja pegawai pada Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kesehatan di Batam Tahun 2023. Uji regresi logistik ganda menunjukan variabel jenis kelamin merupakan faktor yang paling dominan, yaitu pegawai perempuan memiliki peluang sebesar 6,2 kali lebih tinggi dibandingkan laki-laki untuk mengalami distres kerja setelah dikontrol variabel usia, sifat pekerjaan, hubungan interpersonal, dan work life balance. Perlu dilakukan upaya pengendalian dan pencegahan distres kerja pegawai dengan menerapkan manajemen stres di tempat kerja baik di tingkat individu maupun organisasi.
The World Health Organization (WHO) classifies job distress as a global epidemic of the 21st century. Employees working in government agencies are highly at risk of experiencing job distress, including the Technical Implementation Unit of the Ministry of Health in Batam. This study aims to analyze the determinants of job distress among employees in the Technical Implementation Unit of the Ministry of Health in Batam in 2023. The study adopts a cross-sectional design, with a sample of 174 individuals selected using purposive sampling method. Data collection is done using the Copenhagen Psychosocial Questionnaire (COPSOQ) III, supplemented with 4 open-ended questions. The results of the study show that the majority of employees experience mild distress (62.6%). Based on inferential analysis using the chi-square test, there is a relationship between individual factors (gender) and job distress, and a relationship between psychosocial factors (work-life balance) and job distress among employees in the Technical Implementation Unit of the Ministry of Health in Batam, 2023. Multiple logistic regression analysis indicates that gender is the most dominant factor, with female employees having a 6,2 times higher chance of experiencing job distress compared to male employees, after controlling for age, job nature, interpersonal relationships, and work-life balance variables. Efforts to control and prevent job distress among employees are necessary, including the implementation of workplace stress management at both individual and organizational levels.
T-6736
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
