Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Fitri Annisa Ahlul Jannah; Pembimbing: R. Sutiawan; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Kardinah
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Fitri Annisa Ahlul Jannah Program Studi : Kesehatan Masyarakat Judul : Analisis Efektivitas Asesmen Risiko dan Sistem Rekomendasi Kanker Payudara Berbasis Artificial Intelligence Pembimbing : R. Sutiawan, S.Kom., MSi Angka kejadian kanker payudara meningkat setiap tahun, namun angka cakupan deteksi dini sebagai program penanggulangannya masih sangat rendah. Salah satu penyebab hal tersebut adalah tingginya beban kerja tenaga kesehatan di puskesmas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan chatbot asesmen risiko dan sistem rekomendasi, serta menilai efektivitasnya untuk membantu puskesmas dalam meningkatkan cakupan deteksi dini secara efektif dan efisien melalui pendekatan selektif. Desain penelitian menggunakan desain kualitatif studi kasus di Puskesmas Jayagiri Lembang untuk mengetahui efektivitas chatbot dalam menilai risiko kanker payudara dengan menerapkan pendekatan model waterfall dalam membangun model aplikasi chatbot. Chatbot—yang dikembangkan menggunakan teknologi natural language understanding dan conditional statements sehingga membuatnya lebih dinamis dalam berinteraksi dan mengurangi error—teruji sangat efektif untuk melakukan asesmen awal risiko kanker payudara. Namun, sistem ini perlu dilakukan upaya revalidasi dan pengembangan lebih lanjut sebelum dapat digunakan oleh masyarakat secara masif. Kata kunci: Kecerdasan buatan, asesmen risiko, kanker payudara, deteksi dini, informatika kesehatan


ABSTRACT Name : Fitri Annisa Ahlul Jannah Study Program : Bachelor of Public Health Title : Analysis of the Effectiveness of the Artificial Intelligence-Based Breast Cancer Risk Assessment and Recommendation System Counsellor : R. Sutiawan, S.Kom., MSi The incidence of breast cancer increases every year, but the coverage rate for early detection as a prevention program is still low. One of the reasons is the high workload of health workers at the public health center. The purpose of this study was to develop a risk assessment and recommendation system and assess its effectiveness to assist public health center in increasing the coverage of early detection effectively and efficiently through a selective approach. A qualitative case study design at the Jayagiri Lembang Public Health Center to determine the effectiveness of chatbots in assessing breast cancer risk by applying the waterfall model approach in building a chatbot application model was used for the research design. Natural language understanding and conditional statements were used by the developed chatbot hence made it more dynamic in interacting and preventing errors. It was also proven very effective in doing early risk breast cancer assessment. However, this system needs to be revalidated and further developed before it can be used by the community on a massive scale. Keywords: artificial intelligence, risk assessment, breast cancer, early detection, health informatics

Read More
S-11552
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meiyanti; Promotor: Dumilah Ayuningtyas; Kopromotor: Besral, Rina Kurniasri Kusumaratna; Penguji: Adang Bachtiar, Raden Rara Diah Handayani, Vivian Soetikno, Maxi Rein Rondonuwu, Henry Candra
Abstrak:
Angka keberhasilan pengobatan Tuberkulosis Indonesia tahun 2023 belum mencapai target 90%. Keberhasilan pengobatan berdampak terhadap penurunan penyebaran infeksi dan kasus resistensi obat, sehingga perlu untuk memprediksi keberhasilan pengobatan lebih dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model pendekatan pembelajaran mesin untuk prediksi keberhasilan pengobatan. Penelitian ini menggunakan data kohort Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) Indonesia. Pasien usia produktif (15-64 tahun) terdiagnosis tuberkulosis sensitif obat dan mendapatkan pengobatan dari 1 Januari 2020 sampai 31 Desember 2023 diikutsertakan dalam penelitian ini. Data dikelompokkan secara acak ke dalam set data pelatihan untuk membangun model (80%) dan set data pengujian untuk validasi model (20%), dan dilakukan validasi silang untuk data. Algoritma yang digunakan meliputi decision tree, random forest, multilayer perceptron, extreme gradient boosting, dan logistic regression. Dilakukan konsensus untuk pengambilan keputusan variabel yang diperlukan dalam melakukan pemodelan berbasis pembelajaran mesin dari data SITB untuk memprediksi keberhasilan pengobatan dengan menggunakan metode Delphi. Hasil dari penelitian model algoritma pembelajaran mesin random forest menunjukkan kinerja terbaik dan akurasi tertinggi dalam memprediksi keberhasilan pengobatan. Aplikasi prediksi berbasis pembelajaran mesin dapat memberikan prediksi dini dengan interpretasi berbasis SHAP (SHapley Additive ExPlanations) yang memudahkan tenaga kesehatan dalam mengambil keputusan.

The tuberculosis treatment success rate in Indonesia in 2023 did not reach the 90% target. Treatment success impacts the reduction of infection spread and drug resistance cases, making early prediction of treatment success crucial. This study aims to develop a machine-learning model to predict treatment success. Data from Indonesia's Tuberculosis Information System (SITB) cohort was used. The study included productive-age patients (15-64 years) diagnosed with drug-sensitive tuberculosis who received treatment from January 1, 2020, to December 31, 2023. Data was randomly split into training (80%) and testing (20%) sets for model validation, with cross-validation performed. The algorithms used include decision tree, random forest, multilayer perception, extreme gradient boosting, and logistic regression. A consensus was reached for decision-making variables required in performing machine learning-based modeling of SITB data to predict treatment success using modeling of SITB data to predict treatment success using the Delphi method. The results of the study show that the random forest machine learning algorithm had the best performance and highest accuracy in predicting treatment success. This machine learning–based prediction tool can provide early predictions with SHAP (SHapley Additive ExPlanations) interpretation, helping healthcare workers make informed decisions more easily.

 

Read More
D-573
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Syauqie; Promotor: Sutanto Priyo Hastono; Kopromotor: Kemal Nazaruddin Siregar, Nila F. Moeloek; Penguji: Tris Eryando, Prasandhya Astagiri Yusuf, Eva Susanti, Lutfah Rif’ati, Joss Riono
Abstrak:
Kelainan refraksi yang tidak terkoreksi merupakan penyebab terbesar visual impairment di seluruh dunia. Deteksi dini dan intervensi cepat sangat krusial untuk mencegah gangguan penglihatan permanen pada masa kanak-kanak. Skrining konvensional di komunitas sering terhambat oleh keterbatasan sumber daya manusia dan waktu pemeriksaan yang lama. Prinsip pemeriksaan photorefractive dapat diadaptasi menggunakan kamera smartphone untuk menghasilkan foto refleks merah fundus mata, namun analisisnya memerlukan pakar. Proses analisis ini dapat diotomatisasi dengan penggunaan model algoritma Deep Learning Convolutional Neural Network (CNN). Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model algoritma deep learning berbasis pola refleks merah fundus mata untuk deteksi kelainan refraksi pada anak yang dapat dioperasikan secara efektif oleh tenaga pemeriksa non-spesialis (guru sekolah) dalam upaya meningkatkan cakupan deteksi dini di komunitas. Penelitian bersifat diagnostik dengan desain cross-sectional dan dilakukan dalam empat tahap. Sumber data primer adalah foto kedua mata dengan pola refleks merah fundus yang diambil menggunakan kamera smartphone dan data power dioptri mata dari autorefraktometer sebagai baku emas. Total 315 siswa SD berusia 6-13 tahun di Kota Padang (630 mata) dijadikan sampel pada tahap pengujian lapangan. Model deep learning optimal yang dikembangkan adalah model CNN 3-branch. Kinerja model dievaluasi menggunakan metrik diagnostik (Sensitivitas, Spesifisitas, AUC) dan diuji reliabilitasnya antara pemeriksa spesialis dan non-spesialis. Pada validasi internal di tahap 2, model CNN 3-branch menunjukkan kinerja optimal dengan tingkat akurasi sebesar 91%, presisi sebesar 92%, dan recall sebesar 91%. Pada uji coba lapangan di tahap 3, hasil pengujian di 3 Sekolah Dasar menunjukkan: 1) Untuk deteksi miopia signifikan, model mencapai Sensitivitas 92.0%, Spesifisitas 79.9%, dan AUC 0.86; 2) Untuk deteksi kelainan refraksi tidak signifikan, Sensitivitas 67.1%, Spesifisitas 84.2%, dan AUC 0.76; dan 3) Untuk deteksi hipermetropia signifikan, Sensitivitas 42.4%, Spesifisitas 98.0%, dan AUC 0.70. Dalam hal feasibilitas, model algoritma deep learning memiliki reliabilitas dan akseptabilitas yang baik ketika digunakan oleh pemeriksa non-spesialis (guru). Model algoritma deep learning berbasis pola refleks merah fundus mata memiliki validitas yang baik dibandingkan dengan autorefraktometer dan reliabilitas yang baik antara pemeriksa spesialis dan non-spesialis. Instrumen ini menunjukkan potensi sebagai terobosan baru yang feasible untuk skrining kelainan refraksi yang cepat dan akurat di tingkat pelayanan kesehatan primer dan komunitas.

Uncorrected refractive error is the primary cause of visual impairment worldwide and early detection and rapid intervention are crucial in childhood. Conventional vision screening in the community is hampered by limited human resources and lengthy examination times. The photorefractive examination principle can be adapted using a smartphone camera to capture a red fundus reflex image, but its analysis requires an expert ophthalmologist. This analysis process can be automated through the use of a Deep Learning Convolutional Neural Network (CNN) algorithm model. This study aims to develop a deep learning algorithm model based on the red fundus reflex pattern for detecting refractive errors in children, which can be effectively operated by non-specialist examiners (school teachers). This is a diagnostic study with a cross-sectional design and was conducted in four stages. Primary data sources included images of both eyes displaying the red fundus reflex pattern taken with a smartphone camera and dioptric power data from an autorefractometer. A total of 315 elementary school students (630 eyes) aged 6–13 years in Padang were included. The deep learning model developed was the 3-branch CNN model. Model performance was evaluated using diagnostic metrics (Sensitivity, Specificity, AUC) and tested for its reliability. In the internal validation (Stage 2), the model had an accuracy rate of 91%, precision of 92%, and a recall of 91%. In the field trials (Stage 3), testing results in 3 schools showed: 1) For the detection of significant myopia, the model achieved a Sensitivity of 92.0%, Specificity of 79.9%, and AUC of 0.86; 2) For the detection of non-significant refractive error, the model achieved a Sensitivity of 67.1%, Specificity of 84.2%, and AUC of 0.76 ; and 3) For the detection of significant hypermetropia, the model achieved a Sensitivity of 42.4%, Specificity of 98.0%, and AUC of 0.70. Regarding feasibility, the deep learning algorithm model demonstrated good reliability and acceptability when used by non-specialist examiners (teachers). The deep learning algorithm model based on the red fundus reflex pattern possesses good validity when compared to the autorefractometer and good reliability between specialist and non-specialist examiners. This instrument shows potential as a new and feasible breakthrough for rapid and accurate refractive error screening at the primary healthcare and community level.
Read More
D-601
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ikhwan Rinaldi; Pembimbing: Wahyu Kurnia Yusrin Putra; Penguji: Tris Eryando, Panca Hadi Putra, Deasy Sugesty, Benedict Sulaiman
Abstrak:

Penggunaan Rekam Medis Elektronik (RME) mempunyai tantangan tersendiri dalam praktiknya. Meski tak dipungkiri memiliki manfaat, namun masih ada inefisiensi dan inefektivitas dalam implementasinya dalam praktik klinis. Salah satunya gangguan komunikasi dan interaksi dokter-pasien sebagai akibat dari teralihkannya fokus dokter pada layar komputer acap kali terjadi terutama pada pasien rawat jalan baru. Dalam sistem RME penilaian efisiensi dan efektivitas ini dilakukan menggunakan SUS (System Usability Scale) dan UEQ (User Experience Questionnaire) yang berisikan sejumlah pertanyaan yang mewakili efisiensi dan efektivitas. Solusi dari masalah tersebut mungkin bisa terjawab dengan fitur speech-to-text sebagai bagian kecerdasan buatan serta pengintegrasian RME dalam kecerdasan buatan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang. Dokter-dokter spesialis selaku responden melakukan penilaian terhadap dua sistem, yaitu RME dan prototipe sistem RME dengan fitur speech-to-text berbasis kecerdasan buatan, yaitu pengubahan percakapan menjadi tulisan dalam komputer RME yang kemudian diintegrasikan kecerdasan buatan yang sudah ada dalam dunia kecerdasan buatan (misal: gemini AI). Usability diukur menggunakan System Usability Scale (SUS), sedangkan user experience diukur menggunakan User Experience Questionnaire (UEQ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa RME yang digunakan saat ini mendapat median skor SUS 57,5 (5-70) dengan kategori usability “marginal” (mendekati “not acceptable”) dan user experience mendapat skor Daya tarik: 0,401; Kejelasan: 0,648; Efisiensi: 0,234; Ketepatan: 0,508; Stimulasi: 0,352; Kebaruan: -0,07 dengan kategori "bad" pada seluruh komponennya. Sementara itu, prototipe sistem RME dengan fitur speech-to-text berbasis kecerdasan buatan memiliki rerata skor SUS 69 ± 14.3 dengan kategori “marginal” (mendekati “acceptable”) dan user experience dengan skor Daya tarik: 1,880; Kejelasan: 1,813; Efisiensi: 1,852; Ketepatan: 1,172; Stimulasi: 1,938; Kebaruan: 2,078 dan termasuk "excellent" pada kategori daya tarik, stimulasi, dan kebaruan, "good" pada kategori kejelasan dan efisiensi, atau "above average" pada kategori ketepatan. Terdapat perbedaan yang bermakna antara kedua sistem RME, baik pada usability maupun user experience. Kesimpulannya skor SUS dan UEQ prototipe yang dibuat ini lebih dapat diterima daripada RME sebelumnya.


The use of Electronic Medical Records (EMRs) in clinical practice still faces several challenges. Even with numerous benefits, there are multiple inefficiencies and ineffectiveness in implementing through clinical practice. Doctor–patient communication is often disrupted and interaction may decline because physicians’ attention is frequently diverted to computer screens, especially towards newly admitted outpatients. In this EMR system, the evaluation of efficiency and effectiveness is conducted using System Usability Scale (SUS) and the User Experience Questionnaire (UEQ), which consists of a series of questions representing both efficiency and effectiveness. The proposed solution to these issues may be addressed through the implementation of speech-to-text features as part of artificial intelligence, as well as the integration of EMR systems with artificial intelligence. This study was a quantitative study with a cross-sectional design. Specialist physicians, as respondents, evaluated two systems: the existing EMR and an EMR prototype with an artificial intelligence–based speech-to-text feature, which converts spoken conversations into written text within the EMR system and is further integrated with existing artificial intelligence technologies (i.e., gemini artificial intelligence). Usability was measured using the System Usability Scale (SUS), while user experience was measured using the User Experience Questionnaire (UEQ). The results showed that the current EMR had a median SUS score of 57.5 (5–70), categorized as “marginal” usability and close to “not acceptable,” while its user experience scores were Attractiveness: 0.401; Perspicuity: 0.648; Efficiency: 0.234; Dependability: 0.508; Stimulation: 0.352; and Novelty: -0.07, all of which were categorized as “bad” in all of its components. Meanwhile, the EMR prototype with an artificial intelligence–based speech-to-text feature had a mean SUS score of 69 ± 14.3, categorized as “marginal” usability and close to “acceptable.” Its user experience scores were Attractiveness: 1.880; Perspicuity: 1.813; Efficiency: 1.852; Dependability: 1.172; Stimulation: 1.938; and Novelty: 2.078, which were categorized as “excellent” for attractiveness, stimulation, and novelty; “good” for perspicuity and efficiency; and “above average” for dependability. There were statistically significant differences between the two EMR systems in both usability and user experience. The conclusion is that the SUQ and UEQ scores in this prototype is more acceptable than the old EMR.

 

Read More
B-2582
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive