Ditemukan 10 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
The number cases of HIV infection in risk groups Men Who have Sex with Men(MSM) in Bogor increasingly concerned each year. Sexual risk behavior in MSMis influenced by various factors. Health Belief Model as a concept in healthresearch has done many research on behavior including use of condoms as an HIVprevention efforts. Although results have varied, support for significantrelationship between perception risk of HIV, benefits and barriers and selfefficacy of condoms use are apparent. The aim of study is to find determiningfactor of condom use behavior with Health Belief Model construction comparedwith other factors. Cross-sectional method with collecting data using respondentdriven sampling technique. Item questionnaire consisting 41 questions based onthe construction of Health Belief Model obtained from 133 respondents. Theresults of multiple logistic regressions found significant only perception risk ofHIV than other factors. Conclusion. Perception risk of HIV is the biggestdetermines factor of condoms use, therefore interventions program of HIVprevention among MSM should be emphasized to change perception risk of HIVsuggested with interpersonal communication (peer group discussion).Key words: Health Belief Model, Condom, Men who have Sex with Men (MSM),HIV.
This study discussed the risk perception of Central Administration Staff of The Universityof Indonesia in facing fire if happening in Rectorate Building of the University ofIndonesia. The design of this study uses a descriptive quantitative method with a cross-sectional approach and the total sample is 240 respondents. The results of this studyconclude that fire risk perception on the staff has been good generally based on the factorswhich influence the perception. It also proves that factors which influence the fire riskperception significantly are gender, fire experiences, fire training, emotional states, thebehavior of others, and floor level. However, other factors do not influence the fire riskperception such as age, education, fire knowledge, trust in authorities, fire informationcredibility, physical environment, and social role.Key words: Fire risk perception, high-rise building, fire experience, fire training, fireknowledge, fire information credibility, emotional states, behavior of others, trust inauthority, social role.
Abstrak
Imunisasi dasar lengkap (IDL) merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular, khususnya pada bayi dan balita. Cakupan IDL yang tinggi menunjukkan kinerja pelayanan kesehatan yang baik, sementara ketimpangan cakupan mencerminkan adanya tantangan dalam sistem pelayanan. Di Kabupaten Bogor tahun 2022, tercatat perbedaan mencolok antara Puskesmas Bojong Nangka dengan cakupan IDL sebesar 187,5% dan Puskesmas Ciapus yang hanya mencapai 15,35%. Perbedaan ini mengindikasikan adanya faktor-faktor penting yang memengaruhi keberhasilan maupun kegagalan cakupan imunisasi.
Tujuan: Mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi cakupan imunisasi dasar lengkap di dua Puskesmas dengan cakupan kontras.
Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan dipilih secara purposive dan terdiri dari tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat, dan orang tua anak. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen. Data dianalisis menggunakan pendekatan Kualitatif.
Hasil: Faktor Supply meliputi jumlah dan kompetensi tenaga kesehatan, ketersediaan sarana prasarana, serta dukungan dana. Faktor Demand mencakup pengetahuan dan kesadaran masyarakat, sosiodemografi, serta kepercayaan terhadap vaksin. Di Ciapus, ditemukan keterbatasan sumber daya dan resistensi terhadap imunisasi. Sebaliknya, Bojong Nangka menunjukkan kolaborasi aktif antara petugas dan masyarakat.
Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan adanya ketimpangan signifikan dalam cakupan imunisasi dasar lengkap (IDL) antara Puskesmas Bojong Nangka dan Ciapus di Kabupaten Bogor tahun 2022. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh kesalahan pencatatan data, faktor sosiodemografi, keterbatasan tenaga kesehatan, sarana prasarana, pendanaan, serta tingkat pengetahuan dan kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi. Kolaborasi aktif antar petugas dan masyarakat serta dukungan lintas sektor terbukti efektif meningkatkan cakupan IDL. Strategi peningkatan cakupan perlu disesuaikan dengan karakteristik lokal guna mengatasi disparitas dan mencapai target kesehatan anak secara merata
Kata kunci: Imunisasi Dasar Lengkap, Cakupan Imunisasi, Ketimpangan Layanan, Tenaga Kesehatan, Sosiodemografi, Kepercayaan terhadap Vaksin
Abstrak Imunisasi dasar lengkap (IDL) merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular, khususnya pada bayi dan balita. Cakupan IDL yang tinggi menunjukkan kinerja pelayanan kesehatan yang baik, sementara ketimpangan cakupan mencerminkan adanya tantangan dalam sistem pelayanan. Di Kabupaten Bogor tahun 2022, tercatat perbedaan mencolok antara Puskesmas Bojong Nangka dengan cakupan IDL sebesar 187,5% dan Puskesmas Ciapus yang hanya mencapai 15,35%. Perbedaan ini mengindikasikan adanya faktor-faktor penting yang memengaruhi keberhasilan maupun kegagalan cakupan imunisasi. Tujuan: Mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi cakupan imunisasi dasar lengkap di dua Puskesmas dengan cakupan kontras. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan dipilih secara purposive dan terdiri dari tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat, dan orang tua anak. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen. Data dianalisis menggunakan pendekatan Kualitatif. Hasil: Faktor Supply meliputi jumlah dan kompetensi tenaga kesehatan, ketersediaan sarana prasarana, serta dukungan dana. Faktor Demand mencakup pengetahuan dan kesadaran masyarakat, sosiodemografi, serta kepercayaan terhadap vaksin. Di Ciapus, ditemukan keterbatasan sumber daya dan resistensi terhadap imunisasi. Sebaliknya, Bojong Nangka menunjukkan kolaborasi aktif antara petugas dan masyarakat. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan adanya ketimpangan signifikan dalam cakupan imunisasi dasar lengkap (IDL) antara Puskesmas Bojong Nangka dan Ciapus di Kabupaten Bogor tahun 2022. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh kesalahan pencatatan data, faktor sosiodemografi, keterbatasan tenaga kesehatan, sarana prasarana, pendanaan, serta tingkat pengetahuan dan kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi. Kolaborasi aktif antar petugas dan masyarakat serta dukungan lintas sektor terbukti efektif meningkatkan cakupan IDL. Strategi peningkatan cakupan perlu disesuaikan dengan karakteristik lokal guna mengatasi disparitas dan mencapai target kesehatan anak secara merata Kata kunci: Imunisasi Dasar Lengkap, Cakupan Imunisasi, Ketimpangan Layanan, Tenaga Kesehatan, Sosiodemografi, Kepercayaan terhadap Vaksin
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti yang membawa virus dengue (DENV). Kepadatan permukiman serta perilaku masyarakat yang belum optimal dalam pencegahan menjadi faktor yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko penularan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status sosial ekonomi, pengetahuan, dan individual beliefs berdasarkan teori Health Belief Model terhadap perilaku ibu rumah tangga dalam pencegahan penyakit DBD. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel penelitian terdiri dari ibu rumah tangga di RW 01 Pasar Minggu yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis data menggunakan uji chi-square dengan tingkat signifikansi 95% (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku pencegahan DBD dengan p-value sebesar 0,007 dan nilai Odds Ratio (OR) 3,260 (1,439–7,386). Analisis hasil menunjukkan bahwa ibu rumah tangga dengan pengetahuan kategori kurang baik memiliki risiko dengan peluang sebesar 3,260 kali lebih besar untuk melakukan perilaku pencegahan penyakit DBD yang kurang baik. Kesimpulannya adalah pengetahuan berperan penting dalam mendorong perilaku pencegahan DBD pada ibu rumah tangga di RW 01 Pasar Minggu. Oleh karena itu, saran yang dapat diberikan kepada masyarakat yaitu meningkatkan implementasi program edukasi berbasis masyarakat serta memperkuat peran kader jumantik dalam penyuluhan dan pemantauan lingkungan, terutama jentik nyamuk di rumah.
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an infectious disease caused by the bite of Aedes aegypti mosquitoes carrying the dengue virus (DENV). High population density and suboptimal community preventive behaviors contribute to an increased risk of disease transmission. This study aimed to analyze the association between socioeconomic status, knowledge, and individual beliefs based on the Health Belief Model with housewives’ dengue prevention behaviors. This study employed a cross-sectional design with a quantitative approach. The sample consisted of housewives in RW 01 Pasar Minggu, selected using simple random sampling. Data were collected through structured interviews using a questionnaire. Data analysis was performed using the chi-square test with a 95% confidence level (α = 0.05). The results showed that knowledge was significantly associated with dengue prevention behavior, with a p-value of 0.007 (p < 0.05)and an Odds Ratio (OR) of 3.260 (95% CI: 1.439–7.386). The findings indicate that housewives with poor knowledge were 3.260 times more likely to have poor dengue prevention behavior compared to those with better knowledge. In conclusion, knowledge plays a crucial role in influencing dengue prevention behavior among housewives in RW 01 Pasar Minggu. Therefore, it is recommended to enhance community-based educational programs and strengthen the role of jumantik (larvae monitoring cadres) in health education and environmental monitoring, particularly in controlling mosquito larvae at the household level.
