Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Tubagus Dwika Yuantoko; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mila Tejamaya, Mufti Wirawan, Widura Imam Mustopo, Lucky Bindri Soegito
Abstrak: Jumlah kasus kecelakaan kereta api di Indonesia masih terbilang cukup besar dalam beberapa tahun terakhir. Tesis ini akan meneliti kasus kecelakaan kereta api di Indonesia menggunakan model analisis kecelakaan dengan pendekatan sistem sosioteknis bernama AcciMap yang dikembangkan oleh Jens Rasmussen. Sumber data penelitian berasal dari laporan-laporan investigasi kecelakaan kereta api di Indonesia selama tahun 2015 ? 2021 yang telah disusun dan dipublikasikan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis tematik untuk mengidentifikasi faktor-faktor kontribusi dan interaksinya dalam seluruh laporan investigasi tersebut. Berdasarkan pendekatan sistem sosioteknis, terdapat peran dan kontribusi dari lima tingkatan sistem sosioteknis kereta api di Indonesia yang saling berinteraksi dalam terjadinya kecelakaan kereta api, meliputi: pemerintah atau badan regulator transportasi kereta api; organisasi atau perusahaan lain terkait; manajemen perusahaan pelaksana operasi kereta api; proses dan tindakan fisik petugas, awak, operator, teknisi dan; kondisi peralatan, sarana, prasarana dan lingkungan sekitar.
Hasil dari penelitian ini telah menunjukkan beberapa rekomendasi untuk intervensi pencegahan kecelakaan dan peningkatan kinerja keselamatan transportasi kereta api di Indonesia. Penelitian ini juga berhasil menunjukkan bahwa pendekatan sistem sosioteknis dalam analisis kecelakaan telah memberikan gambaran permasalahan dan kondisi serta interaksinya dari berbagai tingkatan yang saling berpengaruh dalam terjadinya kecelakaan-kecelakaan kereta api di Indonesia. Pendekatan sistem sosioteknis diharapkan dapat diterapkan dalam proses investigasi kecelakaan untuk mendapatkan gambaran permasalahan dan interaksinya secara lebih komprehensif.
The number of cases of train accidents in Indonesia is still quite large in the last few years. This thesis will analayze train accident cases in Indonesia using a sociotechnical system approach accident model called AcciMap developed by Jens Rasmussen. Source of data comes from train accident investigation reports in Indonesia during 2015 ? 2021 which have been created and published by the National Transportation Safety Committee (KNKT).
This study uses a qualitative approach with thematic analysis to identify contributing factors and their interactions within the reports. Based on the sociotechnical system approach, there are roles and contributions from the five levels of the sociotechnical rail transportation system in Indonesia that interact each other in the occurrence of accidents, including: the government or rail transport regulatory agency; other related organizations or companies; management of companies implementing railway operations; processes and physical actions of officers, crew, operators, technicians and; condition of equipment, facilities, infrastructure and the surrounding environment.
The results of this study have shown several recommendations for accident prevention interventions and improving the safety performance of rail transportation in Indonesia. This study also demonstrates that the sociotechnical system approach in accident analysis has provided an comprehensive view of the problems and conditions and their interactions from various levels that influence each other in the occurrence of train accidents in Indonesia. The results also suggest that sociotechnical system approach is expected to be applied in the accident investigation process to get more comprehensive informations and insights within the accident.
Read More
T-6478
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Denissa Rahayu Ningtyas; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Budi Hartono, Sri Tjahjani Budi Utami, Heri Nugroho, Sofwan
T-4995
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayuthia Firdanianty; Pembimbing: Hendra; Penguji: Mila Tejamaya, Supriadi
Abstrak: Penelitian tentang pajanan bising telah banyak dilakukan pada kereta api lokomotif, sedangkan penelitian sejenis pada kereta api commuter line masih jarang dilakukan. Kabin masinis commuter line juga berpotensi terpajan bising yang tinggi baik dari suara yang berasal dari kereta itu sendiri maupun dari keretalain yang berpapasan saat diperjalanan. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Besar sampel pada penelitian ini adalah 199 masinis kereta api commuter line Jabodetabek. Pengukuran tingkat bising didalam kabin diukur dengan sound level meter dan faktor risiko lainnyadikumpulkan dengan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62.3% masinis tidak memiliki keluhan pendengaran subyektif dan rata-rata tingkat kebisingan di dalam kabin masih di bawah nilai ambang batas sehingga tidak adafaktor risiko yang berhubungan dengan keluhan pendengaran subyektif. Namun perlu dipertimbangkan untuk melakukan pengukuran tingkat kebisingan padasemua jenis rangkaian kereta, dan selalu menutup kaca jendela kabin, serta melakukan pemeriksaan audiometri sebagai base line data bagi PT. KAI terhadap fungsi pendengaran masinis.
Kata Kunci : Kebisingan, Masinis Kereta Api, Gangguan Pendengaran.
Research about noise exposure has been much done on a locomotive train, whilesimilar research on commuter line train is still rare. Cabin machinist the commuterline also potentially exposed to high noise from sound that coming from the trainitself or from another train that passed while on the road. This research method isquantitative cross-sectional approach. The sample size in this research was 199machinist commuter line. Measurement noise rate inside the cabin is measuredwith a sound level meter and other risk factors was collected by questionnaire.The result showed that 62.3 % machinist have no disorders of hearing subjectiveand average rate of noise in the cabin was still below threshold value so there wasno risk factors associated with hearing complaints subjective. However, it shouldbe considered to measure noise rate in all types of circuit train, and always closethe window cabin, as well as audiometric examination as base line data for PT.KAI on auditory function machinist
Keyword : Hearing Disorders; Noise; Train Machinist.
Read More
S-8236
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Firlando Anugerah Laude Ansyari; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Ema Hermawati, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak:
Tingginya frekuensi lalu lintas kereta di Stasiun Manggarai berpotensi terhadap risiko gangguan pendengaran di pemukiman sekitar Stasiun Manggarai. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara paparan kebisingan (pengukuran nilai desibel), jarak rumah ke stasiun manggarai, lama tinggal di pemukiman, dan umur responden terhadap gangguan pendengaran ibu rumah tangga menggunakan uji Chi-Square. Penelitian dilakukan di Pemukiman Warga sekitar Stasiun Manggarai pada 40 Orang Ibu Rumah Tangga di RW 02 dan 04. Hasil uji Chi-Square menunjukkan ibu rumah tangga yang terpapar kebisingan > 55 dB(A) dan jarak rumah ≤ 100 meter signifikan terhadap gangguan pendengaran. Peneliti menyarankan agar paparan kebisingan dari aktivitas kereta api berkurang dengan cara menambah tanaman vegetatif di sekitar rumah dan menutup pintu serta jendela saat tidak diperlukan.

The high frequency of train traffic at Manggarai Station has the potential to increase the risk of hearing loss in the neighborhoods around Manggarai Station. This study aims to look at the relationship between noise exposure (decibel value measurement), distance of house to Manggarai station, length of stay in residential areas, and age of respondents to the prevalence of hearing loss in housewives using the Chi-Square test. The research was conducted in residential areas around Manggarai Station on 40 housewives in RW 02 and 04. The results of the Chi-Square test showed that housewives who were exposed to noise > 55 dB(A) and a distance of ≤ 100 meters from home were significant to the prevalence of hearing loss. Researchers suggest that noise exposure from train activity be reduced by adding vegetative plants around the house and closing doors and windows when not needed.
Read More
S-12192
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive