Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Martono; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Dadan Erwandi, Ridwan Zahdi Sjaaf, Adenan
Abstrak: Latar belakang : Perilaku Keselamatan kerja dipengaruhi oleh persepsi terhadap resiko. Pekerja PT. X dalam kegiatan produksinya ditemukan pekerja yang tidak memakai Alat Pelindung Diri, kondisi lingkungan kerja yang tidak aman dan pengangkutan yang manual. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui factor factor yang mempengaruhi persepsi pekerja terhadap resiko kecelakaan kerja.

Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan Kuantitatif. Subjek penelitian berjumlah 50 pekerja di bagian produksi, pengambilan sampel dengan teknik table Krejcie & Morgan. Jenis kuesioner tertutup dengan pilihan jawaban SS, S, KS, TS dan STS diukur menggunakan skala Likert. Kuesioner telah diuji validitas dengan Teknik analisis koefisien korelasi product moment pearson dan uji reliabilitas dengan alpha cronbach > 0,60. Analisa data menggunakan analisis korelasi dan regresi berganda.

Hasil Penelitian : Hasil analisis regresi berganda menunjukkan variable 9 paradigma psikometri mempunyai pengaruh signifikan terhadap persepsi resiko kecelakaan kerja (p value < 0.05). Variabel pengalaman, pendidikan, usia, jenis kelamin, lama kerja dan sub unit kerja tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan persepsi resiko kecelakaan kerja.

Kesimpulan : Variabel paradigma psikometri menunjukkan pengaruh signifikan terhadap persepsi resiko kecelakaan kerja. Kata kunci: Persepsi , resiko, kecelakaan kerja
Read More
T-4312
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Widhati Kurniasari; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Hendra, Laksita Ri Hastiti, Alfajri Ismail, Devie Fitri Octaviani
Abstrak:
Kecelakaan kerja di sektor industri manufaktur masih menjadi tantangan termasuk di PT X yang mencatat insiden dengan berbagai tingkat keparahan pada periode tahun 2023-2025. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat keparahan kecelakaan kerja pada pekerja di PT X. Menggunakan desain studi cross-sectional, sampel penelitian berjumlah 257 kasus kecelakaan diambil dengan teknik total sampling dari master data perusahaan. Variabel yang diteliti meliputi jenis kelamin, usia, masa kerja, karakteristik pekerjaan, shift kerja departemen, dan penyebab langsung. Analisis data dilakukan secara deskriptif, inferensial (chi-square), dan multivariat (regresi logistik). Hasil menunjukkan bahwa mayoritas kecelakaan berada pada tingkat luka ringan dengan total 197 kasus (76,7%), sementara luka berat sejumlah 60 kasus (23,3%). Analisis inferensial membuktikan adanya hubungan signifikan antara jenis kelamin (p-value = 0,001) dengan laki-laki berisiko 2,87 kali mengalami luka berat dibanding perempuan. Ada hubungan karakteristik pekerjaan (p-value=0,000) dengan pekerjaan risiko tinggi berisiko mengalami luka berat 3,26 kali dibanding pekerjaan risiko rendah. Ada hubungan shift kerja (p-value=0,045) dengan shift siang berisiko 3,36 kali mengalami luka berat dibanding shift pagi. Ada hubungan departemen (p-value=0,002) dengan departemen support lebih berisiko 4,5 kali daripada produksi untuk mengalami luka berat. Hasil uji multivariat didapatkan jenis kelamin (p-value=0,006; OR=2,50) dan karakteristik pekerjaan (p-value=0,000; OR=2,97) merupakan faktor paling signifikan. Pekerja laki-laki berisiko 2,5 kali daripada pekerja perempuan dan pekerjaan berisiko tinggi berisiko 2,9 kali dibanding pekerjaan berisiko rendah untuk mengalami luka berat. Hal ini merupakan representasi dari segregasi penempatan kerja (job assignment), di mana pekerja laki-laki lebih banyak ditempatkan pada area berisiko tinggi yang mengoperasikan mesin bertenaga mekanis dan kinetik masif. Penelitian ini mempertegas bahwa eskalasi keparahan cedera di PT X bersifat teknis-mekanis. Manajemen perusahaan disarankan untuk berfokus pada penguatan mitigative barriers guna menahan transmisi energi saat terjadi malfungsi, seperti memprioritaskan pemasangan interlocking guard pada area high-risk, memastikan kecepatan respons darurat medis, serta menegakkan budaya Stop Work Authority (SWA) sebagai penahan energi terakhir bagi para pekerja.

Occupational accidents in the manufacturing sector remain a challenge, including at PT X, which recorded incidents of varying severity during the 2023-2025 period. This study aims to analyze the factors associated with the severity of occupational accidents at PT X. Using a cross-sectional study design, a sample of 257 accident case was selected using total sampling from the company’s master data. The variables studied included gender, age, work tenure, job characteristics, work shift, department, and immediate causes. Data analysis was performed using descriptive, inferential (chi-square), and multivariate (logistic regression) statistics. The results showed that the majority of accidents resulted in minor injuries, totaling 197 cases (76.7%), while major injuries amounted to 60 cases (23.3%). Inferential analysis demonstrated a significant association between gender (p-value = 0.001), where male workers were 2.87 times more at risk of experiencing major injuries compared to females. There was also a significant association with job characteristics (p-value = 0.000), where high-risk jobs were 3.26 times more likely to result in major injuries compared to low-risk jobs. Furthermore, work shift (p-value = 0.045) showed that the afternoon shift had a 3.36 times higher risk of major injuries compared to the morning shift. The department (p-value = 0.002) was also significantly associated, with the support department being 4.5 times more at risk of major injuries than the production department. The multivariate analysis revealed that gender (p-value = 0.006; OR = 2.50) and job characteristics (p-value = 0.000; OR = 2.97) were the most significant factors. Male workers were 2.5 times more at risk, and high-risk jobs were 2.9 times more at risk of experiencing major injuries compared to their counterparts. This represents job assignment segregation, where male workers are more frequently placed in high-risk areas operating machines with massive mechanical and kinetic energy. This study reinforces that the escalation of injury severity at PT X is technical-mechanical in nature. Company management is advised to focus on strengthening mitigative barriers to contain energy transmission during malfunctions, such as prioritizing the installation of interlocking guards in high-risk areas, ensuring rapid emergency medical response, and enforcing a Stop Work Authority (SWA) culture as the ultimate energy barrier for workers.
Read More
T-7606
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andini Aisyah Putri; Pembimbing: Mufti Wirawan; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Imam Pratama Azi
Abstrak:
Kasus kecelakaan kerja di industri semen, khususnya area packer merupakan masalah serius yang dapat berdampak pada banyak hal termasuk produktivitas, keselamatan, dan kesejahteraan pekerja. Data menunjukkan bahwa kecelakaan kerja di area Packer Industri Semen PT X Tahun 2024 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2023 dan menjadi lokasi dengan frekuensi kecelakaan tertinggi selama 2024. Investigasi kecelakaan kerja dan tindakan perbaikan telah dilakukan oleh PT X, tetapi kecelakaan terus berulang. Hal tersebut mungkin saja karena terlewatnya analisis faktor manusia dalam proses investigasi kecelakaan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran kontribusi faktor manusia berupa kondisi laten dan kegagalan aktif terhadap kecelakaan kerja yang terjadi di area packer PT X selama 2023-2024. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif analitik menggunakan metode Human Factor Analysis Classification System (HFACS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi laten lebih banyak berkontribusi terhadap kecelakaan kerja di area packer PT X dibandingkan kegagalan aktif. Faktor kondisi laten yang paling berkontribusi terhadap kecelakaan kerja diantaranya organizational climate, organizational process, resource management, dan inadequate supervision. Sementara, faktor kegagalan aktif yang paling banyak berkontribusi adalah decision error. PT X perlu melakukan perbaikan kondisi laten dari level organisasi dan pengendalian kegagalan aktif atas faktor-faktor yang ditemukan berkontribusi terhadap kecelakaan kerja di area packer.


Occupational accident cases in the cement industry, especially the packer area, are a serious problem that can have an impact on many things including productivity, safety, and worker welfare. Data shows that occupational accidents in the Packer area of the PT X Cement Industry in 2024 have increased compared to 2023, making it the area with the highest accident frequency in 2024. Occupational accident investigations and corrective actions have been conducted, but accidents continue to recur. This may be due to the absence of human factor analysis during the investigation process. Therefore, this study was conducted to determine contribution of human factors specifically latent conditions and active failures to occupational accidents that occurred in the PT X packer area during 2023-2024. This study was conducted using a descriptive analytical method using the Human Factor Analysis Classification System (HFACS) method. The results of the study showed that latent conditions contributed more to occupational accidents than active failures. The latent condition factors that contributed the most to occupational accidents included organizational climate, organizational process, resource management, and inadequate supervision. Meanwhile, the active failure factor that contributed the most was decision error. PT X needs to improve latent conditions at the organizational level and implement control to mitigate active failures in the packer area.
Read More
S-12103
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Umar Mulkhan Fajar; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Hendra, Putri Ayuni Alayyannur
Abstrak:
Sektor pertanian merupakan salah satu sektor dengan risiko keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tertinggi di dunia, namun implementasi K3 di kalangan petani di Indonesia masih belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran pengetahuan, sikap, dan praktik pencegahan kecelakaan kerja pada petani aktif di Desa X, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan melibatkan seluruh 54 petani aktif anggota kelompok tani sebagai responden melalui metode total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur yang terdiri atas instrumen pengetahuan (11 item, skala dikotomi), sikap (7 item, skala Likert 4 poin), dan praktik (12 item, skala frekuensi 4 poin) mengenai pencegahan kecelakaan kerja. Analisis data dilakukan secara univariat menggunakan distribusi frekuensi dan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki (83,3%) dengan rata-rata usia 52,5 tahun dan rata-rata masa kerja 21,0 tahun. Sebanyak 57,4% responden belum pernah memperoleh informasi mengenai pencegahan kecelakaan kerja dan 33,3% pernah mengalami kecelakaan kerja. Dari sisi pengetahuan, sebagian besar responden (59,3%) tergolong memiliki pengetahuan yang baik tentang pencegahan kecelakaan kerja (skor ≥8 dari 11) dengan mean 7,52 (SD ± 2,55), meskipun pengetahuan terendah ditemukan pada aspek keselamatan kelistrikan (46,3%) dan membaca petunjuk penggunaan mesin (55,6%). Dari sisi sikap, sebanyak 57,4% responden memiliki sikap positif terhadap pencegahan kecelakaan kerja (mean 21,28; SD ± 3,84) berdasarkan cut-off mean setelah uji normalitas Shapiro-Wilk. Dari sisi praktik, hanya 37,0% responden yang tergolong memiliki praktik pencegahan kecelakaan kerja yang baik (skor ≥36 dari 48) dengan mean 30,39 (SD ± 8,05). Praktik terendah ditemukan pada pencatatan penggunaan pestisida (68,5% tidak pernah) dan perlindungan kelistrikan mesin (50,0% tidak pernah). Terdapat kesenjangan antara pengetahuan dan sikap yang relatif lebih baik dibandingkan dengan praktik pencegahan kecelakaan kerja yang masih rendah. Temuan ini mengindikasikan perlunya intervensi yang tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pada penguatan faktor pendukung (enabling factors) dan peningkatan akses terhadap alat pelindung diri guna mendukung penerapan pencegahan kecelakaan kerja di kalangan petani.

The agricultural sector is one of the industries with the highest occupational safety and health (OSH) risks worldwide. However, the implementation of occupational safety and health (OSH) among farmers in Indonesia remains suboptimal. This study aimed to describe the knowledge, attitudes, and practices regarding occupational accident prevention among active rice farmers in Village X, Rancaekek District, Bandung Regency. A descriptive study with a quantitative approach was conducted involving all 54 active members of farmer groups using a total sampling method. Data were collected using a structured questionnaire consisting of a knowledge instrument (11 dichotomous items), an attitude instrument (7 items on a 4-point Likert scale), and a practice instrument (12 items on a 4-point frequency scale) related to occupational accident prevention. Data were analyzed using univariate analysis with frequency distributions and descriptive statistics. The results showed that most respondents were male (83.3%), with a mean age of 52.5 years and an average working experience of 21.0 years. A total of 57.4% of respondents had never received information regarding occupational accident prevention, while 33.3% had experienced a work-related accident. Regarding knowledge, most respondents (59.3%) demonstrated good knowledge of occupational accident prevention (score ≥8 out of 11), with a mean score of 7.52 (SD ± 2.55). The lowest levels of knowledge were found in electrical safety (46.3%) and reading machine operating instructions (55.6%). Regarding attitudes, 57.4% of respondents demonstrated positive attitudes toward occupational accident prevention (mean = 21.28, SD ± 3.84), based on the mean cut-off after the Shapiro-Wilk normality test. Regarding practices, only 37.0% of respondents demonstrated good occupational accident prevention practices (score ≥36 out of 48), with a mean score of 30.39 (SD ± 8.05). The poorest practices were related to recording pesticide use (68.5% never performed) and protecting machinery electrical systems (50.0% never performed). A noticeable gap was observed between respondents' relatively good knowledge and attitudes and their poor occupational accident prevention practices. These findings indicate the need for interventions that not only improve knowledge but also strengthen enabling factors and increase access to personal protective equipment to support the implementation of occupational accident prevention among farmers.
Read More
S-12373
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive