Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 21 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Siswantoyo
BPSK Vol.13, No.2
Surabaya : Balitbangkes Kemenkes RI, 2010
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Taufan Patrianto; Pembimbing: Mila Patrianto; Penguji: Hendra, Indri Hapsari, Yuni Kkusminanti, Muhammad Maududy
Abstrak: Kegiatan berolahraga di Unit Kegiatan Mahasiswa bidang olahraga Universitas Indonesia (UKOR UI) memiliki risiko terhadap keselamatan dan kesehatan anggotanya. Penelitian ini untuk menggambaran kasus cedera olahraga dan persepsi anggota UKOR UI terhadap faktor risiko cedera olahraga yang terjadi di UKOR UI tahun 2019. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan disain penelitian cross sectional. Pengambilan datanya menggunakan kuesioner dengan teknik accidental sampling. Penelitian ini diikuti oleh 87 responden dari populasi yang terdiri dari 448 orang di 17 cabang olahraga. Rata-rata usia mereka adalah 21,38 tahun. Usia minimumnya 18 tahun dan maksimumnya 30 tahun dan terbanyak adalah laki-laki (74%). 64,4% responden memiliki BMI normal. 58,6% responden memiliki riwayat cedera. Tingkat keparahan cedera sebagian besar pada tingkat ringan dan sedang (78,4%). Lokasi cedera yang paling banyak terjadi pada ekstrimitas bawah (64,8%) yaitu pada engkel (31,4%), paha (15,7%) dan lutut (13,7%). Sedangkan menurut kondisi medisnya cedera yang paling besar mengenai ligamen/keseleo sebanyak 64% dan cedera otot (tendon) sebesar 24%. Persepsi responden cenderung setuju bahwa kebugaran tubuh (80%), kurang pemanasan (84%) dan kurang latihan (65%) dan kondisi lapangan (65%) sebagai faktor penyebab terjadinya cedera olahraga di UKOR UI. Hasil penelitian ini menyarankan bahwa pemangku kepentingan olahraga di UI untuk mengkaji risiko cedera olahraga dan mengembangkan SOP aktifitas olahraga di setiap UKOR dan mempromosikan kegiatan olahraga yang bebas cedera kepada mahasiswa UI seperti melakukan latihan olahraga secara rutin dan terjadwal, melakukan pemanasan yang cukup sebelum berolahraga, menjaga kebugaran fisik, dan menggunakan alat pelindung olahraga yang disyaratkan.
Read More
T-5559
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maryati Kasiman; Pembimbing: Izhar M. Fihir; Penguji: Ridwan Z. Sjaaf, Dadan Erwandi, Lusi Widiastuti, Rachmat Suherwin
Abstrak:

Penelitian deskriptif kuantitatif dengan disain Cross Sectional Survey mengenai Studi Persepsi tentang Penyakit Kardiovaskular dan Upaya Pencegahannya pada karyawan XY, menggunakan konsep Health Belief Model, meneliti persepsi kerentanan (perceived susceptibility), persepsi keparahan (perceived severity), persepsi manfaat (perceived benefit), persepsi hambatan (perceived barrier) dan pengetahuan sebagai salah satu modifying factor. Rendahnya persepsi kerentanan karyawan dapat menjadi alasan ketidak aktifannya dalam berolahraga. Dari perhitungan statistik dengan korelasi spearman,terdapat korelasi yang bermakna antara persepsi hambatan dengan perilaku karyawan untuk berolahraga dengan p = 0.002 dan r = -0.297.


Quantitative descriptive study with cross-sectional survey design of the study and the Perception of the Cardiovascular Disease Prevention Efforts in XY employees, using the concept of Health belief model, examines perceived susceptibilit), perceived severity , perceived benefits ,perceived barriers and knowledge as a modifying factor. The low perception of susceptibility of employees can be a reason for the lack of exercise ( Physical Inactive ). Of statistical calculations with Spearman correlation, there is a significant correlation between perceived barrier to exercise behavior of employees with p = 0.002 and r = -0297.

Read More
T-3779
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Kumala; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Siti Arifah Pujonarti, Naniek Isnaini Lestari, Ida Ruslita
Abstrak:

ABSTRAK Sarapan adalah penting bagi setiap orang untuk mengawali aktivitas sepanjang hari. Sarapan berfungsi sebagai sumber energi dan zat gizi agar dapat berpikir, belajar dan melakukan aktivitas secara optimal setelah bangun pagi. Bagi anak sekolah, sarapan terbukti dapat meningkatkan kemampuan belajar dan stamina anak dan kebiasaan sarapan dapat menanamkan pola makan yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor determinan terhadap kebiasaan sarapan siswa di SMP IT Insan Harapan Tangerang Selatan. Penelitian ini menggunakan Desain Cross Sectional. Sampel pada penelitian adalah siswa kelas VII dan VIII SMP IT Insan Harapan Tangerang Selatan sebanyak 195 siswa. Pengolahan data menggunakan program komputerisasi (spss). Analisis data menggunakan Chi Square dan Regresi logistic. Hasil penelitian menunjukkan proposi siswa yang memiliki kebiasaan sarapan baik (56,4%). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin, ketersediaan sarapan, olahraga dengan kebiasaan sarapan (p<0,05). Faktor paling dominan yang berhubungan dengan kebiasaan sarapan adalah ketersediaan sarapan di rumah. Diharapkan bagi pihak sekolah agar memberikan pendidikan gizi dan promosi kepada siswa tentang kesehatan terutama pentingnya sarapan melalui Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) dalam materi pelajaran maupun Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Dengan mengadakan penyuluhan kesehatan tentang materi pedoman gizi seimbang kepada siswa, guru maupun komite sekolah dapat menjadi jembatan informasi kepada keluarga khususnya ibu siswa yang berperan dalam ketersediaan sarapan.


ABSTRACT Breakfast is important for everyone to start their activities throughout the day. The breakfast is a source of energy and nutrients for thinking, learning and performing an optimal activity after waking up in the morning. For school children, breakfast is proven to improve their learning ability and stamina. The habits of breakfast can instill good diet. This research aims to evaluate the determinant factor of the breakfast habits of students in junior high school IT Insan Harapan South Tangerang. This study used cross-sectional design. The samples in this study were 195 students of grade VII and VIII at Junior High School IT Insan Harapan South Tangerang. Computerized SPSS program was used to process data. Data were analyzed by using of Chi Square and logistic regression. Results of this study showed proportion of students who have a better breakfast habits (56.4%). Statistical test results showed that there was a significant relationship between the sexes, breakfast availability, sports activity with the breakfast habits (p <0,05). The most dominant factor associated with breakfast habits is the availability of breakfast at home. For further improvement of breakfast habits, the schools should provide nutrition education and health promotion to students about the importance of breakfast, especially through Information, Education and Communication (IEC) in the subject matter and School Health Unit (UKS). By conducting health education about balanced nutrition guidance materials to students, teachers and school committee can be a bridge of information to families, especially mothers of students who play a role in the availability of breakfast.

Read More
T-3761
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Chandra Rudyanto; Promotor: Purnawan Junadi; Kopromotor: Rita Damayanti; Penguji: Anhari Achadi, Besral, Evi Martha, Ermita Isfandiary Ibrahim Ilyas, Rustika, Nana Mulyana
Abstrak: Kondisi kesehatan yang memadai sangat dibutuhkan oleh jemaah haji karena prosesibadah haji melibatkan aktivitas fisik yang sangat berat. Jemaah haji yang bugar adalahjemaah haji yang memenuhi istifa'ah kesehatan. Untuk menjadi bugar dan istifa'ah,jemaah haji harus diberdayakan dan diberi pembinaan, sehingga memiliki kemampuan diri melakukan latihan fisik secara teratur. Partisipasi jemaah haji dalam program peningkatan kebugaran, baik secara perorangan maupun kelompok, dapat diupayakan melalui pembinaan latihan fisik dengan melibatkan peran kader kesehatan olahraga (kesorga).
 
Studi ini bertujuan untuk mengetahui: (i) peran kader kesorga dalam mendukungkeberhasilan latihan fisik jemaah haji di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur; (ii) hubungan variabel komposisional level individu dengan latihan fisik; (iii) diketahuinya hubungan variabel kontekstual level desa dan level Puskesmas dengan latihan fisik. Penelitian ini menggunakan mixed method yaitu metode kuantitatif dan kualitatif, dengan desain studi potong lintang cross sectional. Variabel yang diukur ada 3 level yaitu: (i) level individu meliputi karakteristik demografik dan penerapan konsep HBM pada 178 jemaah haji; (ii) level desa terdiri atas karakteristik demografik kader, motivasi dan keaktifan 61 kader serta dukungan 61 kepala desa; (iii) level Puskesmas mencakupdukungan 22 Puskesmas dan 19 KUA. Analisis data menggunakan uji statistik multilevel regresi logistik berganda untuk membuktikan hipotesis penelitian.
 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan konsep HBM terbukti memilikihubungan yang signifikan dengan partisipasi jemaah haji dalam melakukan latihan fisik.Fakta ini menerangkan bahwa berolahraga secara teratur bukanlah hambatan bagi jemaahhaji. Selanjutnya jemaah haji juga meyakini mampu melakukan latihan fisik secara teraturdan cenderung menjadikannya sebagai kebiasaan hidup. Ditemukan pula bahwa kaderkesorga terbukti berperan dan memiliki hubungan yang signifikan dengan tingkat latihanfisik jemaah haji.
 
Studi ini menemukan ada variasi atau perbedaan peran kader kesorga menurut penerapaan konsep HBM dalam kaitannya dengan tingkat latihan fisik jemaah haji. Disarankan agar setiap Puskesmas dapat mengembangkan pola alternatif pembinaaan kader kesorga dan calon jemaah haji dengan melibatkan klub olahraga, kelompok jemaah haji, kepala desa dan KBIH. Program latihan fisik jemaah haji dengan melibatkan peran kader kesorga perlu diadopsi oleh Kementerian Kesehatan RI dan selanjutnya direplikasikan ke daerah lain.
 

 
Adequate health condition urgently required by pilgrims because the process ofpilgrimage involves a very heavy physical activity. Hajj pilgrims with good physical fitnessclassified as pilgrims who fulfill health isti'ah. In order to become fit and isti'ah,pilgrims should be empowered and provided such a coaching, so they will have the abilityto execute physical exercise in a regular basis. Participation of pilgrims in a fitness improvement program, either individually or in groups, could be pursued through physical exercise coaching by involving the role of sport health cadres.
 
The main purpose of this study was to find out: (i) the role of sport health cadres inorder to support the success of pilgrims physical exercise in Lumajang District, East Java Province; (ii) examine the association of compositional variables individual level with physical exercise; (iii) examine the association of contextual variables village and Puskesmas levels with physical exercise.
 
This research was conducted using a mixed method quantitative and qualitative methods with cross sectional study design. The measured variables consisted of 3 levels: (i) individual level included demographic data and the application of HBM concept to 178 pilgrims; (ii) village level consisted of cadre demographic characteristics, cadres motivationand cadres; activeness of 61 cadres and the support of 61 village heads; iii Puskesmaslevel included the support of 22 Puskesmas and 19 KUAs. Data analysis was performedusing multilevel statistical test of multiple logistic regression to prove a research hypothesis.
 
The application of the HBM concept proved to have a significant relationship withparticipation of pilgrims in physical exercise. The findings of the study explain that regularphysical exercise is not an obstacle for pilgrims. Furthermore, pilgrims also convince thatthey are able to maintain physical exercise regularly and tend to make it as a habit of life. Another result of study indicates the cadres proved to have a significant relationship withthe level of pilgrims; physical exercise.
 
Finally, in conclusion this study found that there was a variation or differencebetween the application of the HBM concept and the role of cadres with the level ofpilgrims; physical exercise. It was suggested that each Puskesmas should develop variousalternative coaching patterns for cadres and pilgrims by involving sports clubs, hajj groups, village heads and KBIH. Hajj pilgrims; physical exercise program involving the role ofcadres required to be adopted into the Ministry of Health program and then replicated toother provinces.
Read More
D-386
Depok : FKM-UI, 2018
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bunga Listia Paramita; Pembimbing: Ayuningtyas Dumilah; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Adik Wibowo, Ari Setyaningrum, Erni Yustisiani
Abstrak:
Pijakan kebijakan tentang layanan kedokteran olahraga di rumah sakit di Indonesia masih bersifat umum sehingga butuh adanya pedoman. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun rancangan pedoman penyelenggaraan pelayanan kedokteran olahraga di rumah sakit umum kelas B di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif di 4 lokasi rumah sakit, yang berlangsung pada bulan September sampai Desember 2020 dengan teknik triangulasi dan metode Delphi 2 tahap, kemudian dianalisis. Saat ini pada lokasi penelitian masih terlihat adanya variasi pelayanan, mulai dari alur, ketenagaan, prasarana, peralatan, dan proses penyelenggaraan layanan. Begitupula pada metode Delphi dimana terdapat 59 topik yang tidak berhasil mencapai konsensus sehingga perlu dianalisis dan dicari penguatan dari sumber lainnya. Adapun rekomendasi rancangan pedomannya pada kondisi yang ideal (gold standard) yaitu layanan dilakukan secara tim yang dipimpin dokter spesialis kedokteran olahraga dan anggota yang terdiri dari manajer, tenaga klinisi dan tenaga sains olahraga dengan konsep multidisiplin dan interdisiplin; prasarana dan peralatan gold standard seperti CT-Scan, DXA Scan, Echocardiography, dan CPET perlu disediakan lengkap di dalam satu area; optimalisasi alur layanan; upaya promotif diberikan kepada seluruh pasien, pelatih, dan tenaga kesehatan; MCU yang melibatkan unit kedokteran olahraga dari awal hingga akhir; dilakukannya program exercise is medicine sesuai FITT; pengawasan terhadap doping; coding diagnostik spesifik; serta pasien atlet yang perlu ditangani secara kolaboratif sejak awal sampai return to sports, sedangkan pasien non atlet, alih rawat pasien dari dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi kepada dokter spesialis kedokteran olahraga dilakukan setelah pasien bebas cedera. Rekomendasi ini diharapkan menjadi awal dari disusunnya naskah akademik dan kemudian ditetapkan sebagai kebijakan guna mewujudkan pelayanan terintegrasi, one stops services, athlete /patient centered-care, dan paripurna.

The policy foundation for sports medicine services in hospitals in Indonesia is still general in nature, so guidelines are needed. This study aims to develop guidelines of sports medicine services in class B general hospitals in Indonesia. This research is a qualitative study in 4 hospital locations, which took place from September to December 2020 with triangulation techniques and the 2-stage Delphi method, then analyzed. Currently, at the research location there are still variations in services, starting from the flow, workforce, infrastructure, equipment, and service delivery processes. Likewise in the Delphi method where there were 59 topics that failed to reach a consensus so that it needed to be analyzed and sought reinforcement from other sources. The recommendations for draft guidelines in ideal conditions (gold standard), namely services are carried out in a team led by sports medicine specialists and members consisting of managers, clinicians and sports science personnel with multidisciplinary and interdisciplinary concepts; gold standard infrastructure and equipment such as CT-Scan, DXA Scan, Echocardiography, and CPET need to be fully provided in one area; optimization of service flow; promotive efforts are given to all patients, trainers, and health workers; MCU involving the sports medicine unit from start to finish; doing exercise is medicine program according to FITT; supervision against doping; specific diagnostic coding; as well as athletic patients who need to be handled collaboratively from the start to return to sports, while non-athletic patients, transfer of patient care from a physical medicine specialist and rehabilitation to a sports medicine specialist is carried out after the patient is free of injury. This recommendation is expected to be the beginning of the preparation of an academic paper and then set as a policy to realize integrated services, one stop services, athlete /patient centered-care, and plenary.
Read More
B-2200
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurul Anggraini; Pembimbing: Fatmah; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Mury Kuswari
S-8838
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aridianti Nisa Karima; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Ahmad Syafiq, Nur Fitranto
S-9192
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Uswatun Hasanah Sriyadi; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Enny Ekasari
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi program kesehatan dan olahraga padaPegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkup kerja Pemerintah Kota Depok tahun 2015dengan melakukan analisis pada penggunaan input dan proses sehingga dapatmempengaruhi pencapaian target program kesehatan dan olahraga. Desainpenelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penelitian dilakukan denganmelihat komponen input (peraturan, sumber daya manusia, sumber dayakeuangan, danfasilitas) dan proses manajerial (perencanaan, pengorganisasian,pelaksanaan, pengendalian, dan evaluasi) dalam pelaksaan program. Datadikumpulkan melalui wawancara mendalam kepada stakeholder, pelaksana, danpeserta. Selain itu, data juga dikumpulkan melalui telaah dokumen terhadapdokumen-dokumen program. Temuan dari penelitian ini adalah dari sisi inputbelum ada peraturan daerah yang menjadi dasar pelaksanaan program dan belumtersedia anggaran untuk media promosi program.
Kata Kunci :Evaluasi program; Kesehatan dan olahraga; Variabel input dan proses; KotaDepok.
Read More
S-9296
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wida Tri Damayanti; Pembimbing: H.E. KUsdinar Achmad; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Siti Arifah Pujonarti, Galopong Sianturi, Konni Kurniasih
Abstrak:

ABSTRAK

Kegemukan pada balita merupakan masalah gizi yang dihadapi di seluruh dunia termasuk Indonesia. Kegemukan pada balita mengakibatkan kegemukan pada masa dewasa. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan faktor dominan yang berhubungan dengan nilai z?score BB/TB. Penelitian dilakukan pada bulan Maret 2013. Desain penelitian yang digunakan adalah metode cross sectional dengan secara systematic random sampling dengan jumlah sampel 111 balita. Sampel penelitian adalah balita umur 36--59 bulan beserta ibunya di wilayah Puskesmas Wadas. Uji statistik yang digunakan adalah regresi linier sederhana serta regresi ganda untuk analisis multivariat.

Hasil penelitian memperlihatkan prevalensi kegemukan pada anak umur 36?59 bulan adalah 10,8 %, dengan rata ? rata nilai z-score + 0,21 (95 % CI : -,0,73 ? 0,51). Faktor yang berhubungan dengan nilai z?score BB/TB adalah jumlah anggota keluarga, berat badan lahir, pendidikan ibu, frekuensi olahraga, durasi pemberian ASI, asupan energi, karbohidrat, lemak, dan protein. Faktor yang paling dominan terhadap nilai zscore BB/TB adalah frekuensi olahraga frekuensi olahraga setelah dikontrol variabel jumlah anggota keluarga, durasi ketidakaktifan, pendidikan ibu, durasi pemberian ASI eksklusif, IMT ibu, asupan karbohidrat, skor persepsi ibu, asupan protein, asupan lemak, serta berat badan lahir. Program balita sehat, balita aktif merupakan salah satu cara pencegahan dan penanggulangan kegemukan pada balita.


ABSTRACT

Overweight in children was an issue malnutrition around the world, including Indonesia. Overweight in toddlers may result overweight in adulthood. The purpose of this study is to find out the dominant factor associated with the value of WHZ score index. The study was conducted in March 2013. Desain study was a cross sectional with a systematic random sampling of 111 subjects through subjects were toddlers ages 36-59 months and their mothers in the Public Health Center Wadas. Statistical tests were use simple and multiple linear regressions.

The results showed the prevalence of overweight among children aged 36-59 months was 10.8%, with the average value of the WHZ ? score index is + 0.21 (95% CI: - 0.73 to 0.51). Factors associated with the value of WHZ score index are the number of family members, birth weight, maternal education, exercises frequency, duration of breastfeeding, the intake of energy, carbohydrates, fats, and proteins. Dominant factor for the value of WHZ ?score index was exercises frequency, after being controlled the number of family members, inactivity, maternal education, duration of exclusive breastfeeding, maternal BMI, carbohydrate intake, maternal perception score, fat intakes, protein intakes and birth weight. ?Balita Sehat Balita Aktif ? is one program for prevention and controlling overweight in toddlers.

Read More
T-3847
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive