Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Indirawati Tjahja Notohartojo, Lelly Andayasari
Bulitsiskes Vol.16, No.2
Surabaya : Balitbangkes Depkes RI, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khadijah Qurrata Ayun; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Nurhayati Adnan, Antony Azarsyah
Abstrak:
Gangguan kesehatan gigi dan mulut memiliki angka yang cukup tinggi di Indonesia menjadi faktor risiko penyakit tidak menular sehingga dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas di Indonesia. Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk usia produktif yang tinggi sehingga gangguan kesehatan gigi dan mulut yang dapat mempengaruhi produktivitas perlu untuk ditangani. Penelitian ini bertujuan mengetahui proporsi dan determinan yang mempengaruhi kejadian gangguan kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat usia produktif di Indonesia berdasarkan hasil SKI 2023. Penelitian ini berdesain studi cross-sectional menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia 2018. Sebanyak 486.994 subjek memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil analisis multivariat model prediksi dengan regresi cox menunjukkan bahwa usia, jenis kelamin laki-laki, pendidikan rendah, sering konsumsi makanan manis, sering konsumsi minuman manis, merokok, konsumsi minuman beralkohol, dan frekuensi sikat gigi <2x/hari merupakan prediktor gangguan kesehatan gigi dan mulut. Modifikasi gaya hidup dan menerapkan perilaku kebersihan gigi sejak dini dapat dilakukan untuk mencegah tingkat keparahan. Perlunya peran pemerintah dalam memperkuat regulasi dengan koordinasi lintas sektor untuk menurunkan angka gangguan kesehatan gigi dan mulut yang dimulai pada tahap promotif dan preventif.


Dental and oral health disorders have a fairly high rate in Indonesia, becoming a risk factor for non-communicable diseases that can increase morbidity and mortality rates in Indonesia. Indonesia is one of the countries with an abundant productive age population, so dental and oral health disorders that can affect productivity need to be addressed. This study aims to determine the proportion and determinants that influence the incidence of dental and oral health disorders in productive age people in Indonesia based on the results of the 2023 SKI. This study was a cross-sectional study design using data from the 2018 Indonesian Health Survey. A total of 486,994 subjects met the inclusion and exclusion criteria. The results of the multivariate analysis of the prediction model with cox regression showed that age, male gender, low education, frequent consumption of sweet foods, frequent consumption of sweet drinks, smoking, consumption of alcoholic beverages, and frequency of toothbrushing
Read More
T-7427
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Viera Anisa Rahmawati; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Muhamad Lukman Sahaja
Abstrak:
Permasalahan kesehatan gigi dan mulut di Indonesia masih tergolong tinggi. Kementerian Kesehatan (2025) melaporkan 57% masyarakat Indonesia mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut. Pada anak tunagrahita, prevalensi karies mencapai 82,6% sebagai akibat dari keterbatasan kognitif dan motorik yang dimiliki. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus untuk menganalisis praktik edukasi pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut pada anak tunagrahita di SLBN 9 Jakarta tahun 2026. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap delapan informan yang terdiri dari enam guru wali kelas, satu koordinator bagian tunagrahita, dan kepala sekolah; serta observasi terhadap praktik edukasi, sarana, dan peraturan terkait. Hasil penelitian menunjukkan, edukasi kesehatan gigi dan mulut dilaksanakan secara rutin melalui program Bina Diri dengan metode pembelajaran interaktif, demonstrasi, dan evaluasi berkala. Guru wali kelas memiliki pengetahuan yang mumpuni dan menunjukan sikap, serta persepsi positif terhadap program edukasi, namun, keterbatasan waktu pembelajaran dan banyaknya tuntutan target capaian akademik masih menjadi kendala dalam pelaksanaan edukasi. Guru juga menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam edukasi pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anak. Sarana dan prasarana penunjang masih tergolong terbatas. Praktik edukasi memanfaatkan fasilitas umum sekolah dengan alat yang dibawa secara mandiri oleh murid dan guru. Belum terdapat program dan kebijakan khusus terkait edukasi kesehatan gigi dan mulut anak tunagrahita. Meskipun demikian, kurikulum memberikan fleksibilitas bagi guru untuk menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan anak. Praktik edukasi di SLBN 9 Jakarta telah berjalan cukup baik dan adaptif, namun dapat dioptimalkan melalui peningkatan fasilitas, penguatan kolaborasi dengan orang tua, dan menjalin kerja sama dengan pihak eksternal.

The Ministry of Health reported that 57% of the population in Indonesia experienced oral health issues (2025). Among children with intellectual disabilities, the prevalence of dental caries reached 82.6%, attributed to their cognitive and motor impairments. This study employed a qualitative approach, with a case study design, to analyze dental and oral health maintenance education practices for children with intellectual disabilities at SLBN 9 Jakarta in 2026. Data were collected through in-depth interviews with eight informants: six homeroom teachers, one coordinator of the childrens' intellectual disability unit, and the school principal; and observation of educational practices, facilities, and related regulations. The results indicated that dental and oral health educational practices at SLBN 9 Jakarta have been routinely implemented through the Self-Development (Bina Diri) program, utilizing various interactive learning methods, demonstrations, and periodic evaluations. Homeroom teachers demonstrated adequate knowledge with positive attitudes and perceptions toward the program. However, limited instructional time and heavy academic demands remain major obstacles to its implementation. Teachers also emphasized the importance of parental involvement in reinforcing oral health practices. Educational facilities were limited, relying mainly on general school facilities and personal equipment provided by teachers and students’ family. No specific school program or policy on oral health education for children was identified. Nevertheless, the curriculum provided flexibility for teachers to adapt learning methods to each students’ needs. Overall, the program was implemented effectively, although improvements in facilities accommodation, parental collaboration, and external partnerships are needed to enhance its sustainability and impact.
Read More
S-12308
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wendy Eszwara; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Adang Bachtiar, Jaslis Ilyas, Novalino, Rahmi Syaflida Dalimunthe
Abstrak:
Kesehatan gigi dan mulut merupakan permasalahan kesehatan masyarakat yang merata di Indonesia, memengaruhi individu dari berbagai kelompok usia. Kesehatan gigi yang buruk tidak hanya mengurangi kualitas hidup tetapi juga meningkatkan risiko penyakit sistemik seperti penyakit kardiovaskular dan diabetes. Tingginya prevalensi masalah gigi seperti karies, kehilangan gigi, dan penyakit gusi menunjukkan perlunya strategi promosi kesehatan yang efektif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak berbagai metode edukasi dalam meningkatkan pengetahuan pasien tentang kesehatan gigi dan mulut di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Dengan menilai efektivitas pendekatan ini, penelitian ini bertujuan memberikan wawasan dalam meningkatkan praktik kebersihan gigi dan kesehatan umum pasien.

Oral health is a pervasive public health issue in Indonesia, affecting individuals across all demographics. Poor oral health not only diminishes quality of life but also exacerbates risks for systemic diseases such as cardiovascular conditions and diabetes. The prevalence of dental problems like cavities, tooth loss, and gum disease underscores the urgent need for effective health promotion strategies. This study focuses on evaluating the impact of various educational methods on enhancing patients' knowledge of dental and oral health at the Faculty of Dentistry, Universitas Indonesia Dental Hospital. By assessing the effectiveness of these approaches, the research aims to contribute insights into improving oral hygiene practices and overall health outcomes among patients.
Read More
T-7114
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Dwitasari; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Rico Kurniawan, Indra Rachmad Dharmawan, Rudy Kurniawan
Abstrak:
Tempat Praktik Mandiri Dokter Gigi (TPMDG) merupakan salah satu jenis FKTP sektor swasta di Indonesia yang dalam perawatannya memberikan pelayanan kesehatan primer dengan kontak pertama pada individu, keluarga, dan masyarakat. Permasalahan yang timbul pada TPMDG seperti seringnya menawarkan perawatan gigi mulut secara tidak terstruktur, kurangnya pemeriksaan yang mendetail pada kunjungan pertama. Model pemeriksaan komprehensif pada pelayanan gigi digambarkan sebagai perawatan yang berorientasi pada pasien dengan melakukan edukasi kesehatan, menerapkan perawatan berbasis preventif-promosi, merangkum perawatan dan mencapai promosi kesehatan. Sehubungan dengan belum terdapatnya sistem informasi yang dapat digunakan sebagai alat bantu pelayanan gigi dan mulut, maka perlu dibuat rencangan sistem informasi perencanaan kesehatan gigi dan mulut komprehensif. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif dan perancangan sistem dengan metode System Development Life Cycle (SDLC) dengan pendekatan prototipe, untuk mendapatkan kebutuhan pengembangan sistem. Dalam sistem ini akan diperoleh data terkait pemeriksaan dan status kesehatan gigi dan mulut. Penggunaan sistem ini dapat mendukung fungsi pengawasan dan evaluasi kesehatan gigi dan mulut pasien, selain itu sistem informasi ini dapat mengefisiensikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di TPMDG dalam penjadwalan pasien, pemeriksaan pasien, konsultasi pasien, penyusunan laporan, dan mendapatkan informasi untuk digunakan dalam perencanaan program kesehatan gigi dan mulut.

Primary Dental Healthcare (TPMDG) is one type of private sector FKTP in Indonesia which in its care provides primary health services with first contact to individuals, families, and communities. Problems that arise in TPMDG such as frequent offers of unstructured oral dental care, lack of detailed examination at the first visit. The comprehensive examination model in dental services is described as patient-oriented care by conducting health education, implementing preventive-promotion-based care, summarizing care and achieving health promotion. Due to the lack of an information system that can be used as a dental and oral service aid, it is necessary to design a comprehensive dental and oral health planning information system. The research was conducted by qualitative methods and system design with the System Development Life Cycle (SDLC) method with a prototype approach, to obtain system development needs. In this system, data related to dental and oral health examinations and status will be obtained. The use of this system can support the function of monitoring and evaluating the patient's dental and oral health, in addition this information system can streamline dental and oral health services at TPMDG in patient scheduling, patient examination, patient consultation, report preparation, and obtaining information for use in dental and oral health program planning.
Read More
T-6867
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Claudia Shafira Dewi; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Yoslien Sopamena, Scheila Askhim Sira
Abstrak:

Latar belakang: Perilaku pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut tidak hanya dipengaruhi oleh keyakinan dan sikap yang terbentuk dalam diri individu. Pemeriksaan gigi pada mahasiswa/I PTDI-STTD didapatkan hasil rata-rata DMF-T adalah 2,7 termasuk dalam kategori sedang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku kesehatan gigi dan mulut pada mahasiswa/i PTDI-STTD ditinjau dari teori Health Belief Model (HBM). Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan potong lintang (cross-sectional). Terdapat 245 sampel penelitian mahasiswa /i PTDI-STTD yang dipilih secara acak dengan teknik stratified random sampling. Analisis data dilakukan dengan univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil: Skor rata-rata perilaku kesehatan gigi dan mulut sebesar 74,7 dari skala 100. Penelitian menunjukkan terdapat hubungan persepsi manfaat, persepsi hambatan, isyarat untuk bertindak, dan efikasi diri dengan perilaku kesehatan gigi dan mulut (p-value = 0,001), tidak terdapat hubungan yang signifikan persepsi keparahan (p = 0,580 ) dan persepsi kerentanan p = 0,685) dengan perilaku kesehatan gigi dan mulut. Pekerjaan ibu (p = 0,019) memiliki hubungan dengan perilaku kesehatan gigi dan mulut, jenis kelamin (p = 0,264), pendidikan ibu (p = 0,174), pendidikan ayah (p = 0,998), dan pekerjaan ayah (p = 0,369) tidak terdapat hubungan yang signifikan dengan perilaku kesehatan gigi dan mulut. Kesimpulan: Persepsi hambatan, isyarat untuk bertindak, dan efikasi diri merupakan determinan utama perilaku kesehatan gigi dan mulut. Upaya yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan dan edukasi terkait pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut.


Background: Oral health maintenance behaviour is not only influenced by beliefs and attitudes formed within individuals. Dental examinations of PTDI-STTD students showed an average DMF-T score of 2.7, which is classified as moderate. This study aims to determine the determinants of dental and oral health behaviour among PTDI-STTD students based on the Health Belief Model (HBM) theory. Methods: This study used a quantitative cross-sectional design. There were 245 PTDI-STTD student samples selected randomly using stratified random sampling. Data analysis was performed using univariate and bivariate analysis with the chi-square test. Results: The average oral health behaviour score was 74.7 out of 100. The study showed that there was a relationship between perceived benefits, perceived barriers, cues to action, and self-efficacy with oral health behaviour (p-value = 0.001). There was no significant relationship between perceived severity (p = 0.580) and perceived susceptibility (p = 0.685) with oral health behaviour. The mother's occupation (p = 0.019) was associated with oral health behaviour, while gender (p = 0.264), the mother's education (p = 0.174), the father's education (p = 0.998), and the father's occupation (p = 0.369) were not significantly associated with oral health behaviour. Conclusion: Perceived barriers, cues to action, and self-efficacy are the main determinants of oral health behaviour. Efforts that can be made include examinations and education related to oral health maintenance.

Read More
S-12213
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive