Ditemukan 29 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Syahrul Hamidi Nasution; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Helda, Ade Yonata, Iswandi Darwis
Abstrak:
Badan Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi adanya peningkatan jumlah penyandang diabetes melitus (DM) menjadi salah satu ancaman kesehatan global. Prediksi kenaikan jumlah penyandang DM di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Diabetes dan komplikasinya membawa kerugian ekonomi yang besar bagi penderita diabetes dan keluarga mereka, sistem kesehatan dan ekonomi nasional melalui biaya medis langsung, kehilangan pekerjaan dan penghasilan. Kepatuhan pengobatan yang rendah dapat mengakibatkan peningkatan resiko biaya perawatan, peningkatan penyakit komplikasi dan risiko rawat inap. Identifikasi faktorfaktor yang berhubungan dengan rendahnya kepatuhan pasien melakukan pengobatan DM merupakan tujuan dilakukannya penelitian ini sehingga penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi dan strategi untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder Riskesdas 2018 se-Provinsi Bali dengan analisis regresi logistik dan besar hubungan dinyatakan dalam prevalance odds ratio (POR) dengan α= 0,05. Pada analisis multivariat didapatkan model akhir yang berhubungan dengan kepatuhan pengobatan DM di Bali tahun 2018 secara statistik yaitu pekerjaan (POR 1,164 95% CI 1,019-1,329 p-value 0,002), tempat tinggal (POR 0,864 95% CI 0,764-0,978 p-value 0,021), jenis kelamin (POR 0,816 95% CI 0,717-0,929 p-value 0,002), dan usia (POR 0,779 95% CI 0,6650,912 p-value 0,002) sementara tingkat pendidikan tidak bermakna secara statistik
The World Health Organization (WHO) predicts an increase in the number of people with diabetes mellitus (DM) is one of the global health threats. The predicted increase in the number of people with diabetes in Indonesia from 8.4 million in 2000 to around 21.3 million in 2030.Diabetics and its complications bring huge economic losses to diabetics and their families, the national health system and economy through direct medical costs, lost work and income. Low adherence to medication can result in an increased risk of treatment costs, an increased risk of complications and the risk of hospitalization. Identification of the factors associated with low patient compliance with DM treatment is the aim of this study so that this study is expected to provide solutions and strategies to improve treatment adherence. This study was an observational analytic study with a cross sectional design. The data used in this study are secondary data from Riskesdas 2018 throughout Bali Province with logistic regression analysis and the size of the relationship is expressed in the prevalence odds ratio (POR) with α = 0.05. In the multivariate analysis, the final model that relates to adherence to DM treatment in Bali in 2018 is statistically namely work (POR 1.164 95% CI 1.019-1.329 p-value 0.002), residence (POR 0.864 95% CI 0.764-0.978 p-value 0.021 ), gender (POR 0.816 95% CI 0.717-0.929 p-value 0.002), and age (POR 0.779 95% CI 0.665-0.912 p-value 0.002) while the level of education was not statistically significant
Read More
The World Health Organization (WHO) predicts an increase in the number of people with diabetes mellitus (DM) is one of the global health threats. The predicted increase in the number of people with diabetes in Indonesia from 8.4 million in 2000 to around 21.3 million in 2030.Diabetics and its complications bring huge economic losses to diabetics and their families, the national health system and economy through direct medical costs, lost work and income. Low adherence to medication can result in an increased risk of treatment costs, an increased risk of complications and the risk of hospitalization. Identification of the factors associated with low patient compliance with DM treatment is the aim of this study so that this study is expected to provide solutions and strategies to improve treatment adherence. This study was an observational analytic study with a cross sectional design. The data used in this study are secondary data from Riskesdas 2018 throughout Bali Province with logistic regression analysis and the size of the relationship is expressed in the prevalence odds ratio (POR) with α = 0.05. In the multivariate analysis, the final model that relates to adherence to DM treatment in Bali in 2018 is statistically namely work (POR 1.164 95% CI 1.019-1.329 p-value 0.002), residence (POR 0.864 95% CI 0.764-0.978 p-value 0.021 ), gender (POR 0.816 95% CI 0.717-0.929 p-value 0.002), and age (POR 0.779 95% CI 0.665-0.912 p-value 0.002) while the level of education was not statistically significant
T-6084
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Duma; Promotor: Ascobat Gani; Kopromotor: Ali Ghufron Mukti, Yassir; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Sowarta Kosen, Andreasta Meliala, Gea Pandhita
Abstrak:
Read More
Latar belakang: Rasio klaim BPJS Kesehatan yang melampaui 100% pada tahun 2024 menunjukkan tekanan berat terhadap keberlanjutan finansial program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Salah satu kontributor utama kondisi ini adalah penyakit ginjal kronik (PGK), yang termasuk penyakit katastropik dengan beban biaya sangat tinggi. Data BPJS mencatat bahwa pengeluaran untuk PGK stadium 5 meningkat tajam, dari Rp6,7 triliun pada tahun 2023 menjadi Rp8,2 triliun pada tahun 2024. Mengingat PGK sangat berkaitan dengan faktor risiko yang dapat diprediksi, seperti usia ≥60 tahun, diabetes melitus, dan hipertensi, maka upaya deteksi dini dan pengobatan segera memiliki potensi besar untuk mencegah progresi penyakit dan secara signifikan menurunkan beban biaya nasional. Masalah Penelitian: Belum diketahui secara pasti besaran reduksi kasus gagal ginjal, penurunan kebutuhan hemodialisis, serta penghematan biaya yang dapat dicapai melalui penerapan skrining dan intervensi dini pada populasi usia ≥60 tahun dengan PGK yang memiliki ataupun tidak memiliki faktor komorbid Diabetes Mellitus dan hipertensi. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi reduksi biaya PGK melalui skrining dini menggunakan Cystatin C serta intervensi segera dengan terapi SGLT2i dan RASi, terutama pada populasi usia ≥60 tahun dengan atau tanpa PGK yang memiliki ataupun tidak memiliki faktor komorbid. Penelitian juga menilai dampaknya terhadap penurunan pasien hemodialisis dan beban pembiayaan BPJS. Metodologi: Penelitian ini merupakan studi non eksperimental dengan menggunakan desain studi cross sectional, berbasis data besar BPJS Kesehatan tahun 2023–2024. Populasi penelitian adalah peserta JKN usia ≥60 tahun dengan atau tanpa komorbid diabetes dan hipertensi. Analisis mencakup perhitungan prevalensi PGK, jumlah kasus PGK stadium 5, estimasi biaya skrining Cystatin C, biaya intervensi SGLT2i dan RASi, serta reduksi biaya hemodialisis. Algoritme penelitian mengikuti model reduksi biaya yang dikembangkan oleh Prof. Ascobat Gani. Hasil: Hasil analisis menunjukkan bahwa deteksi PGK pada stadium awal mampu mencegah sebagian besar pasien mengalami progresi menuju stadium 5 atau tahap gagal ginjal. Ketika progresi ini dapat dicegah, jumlah pasien yang memerlukan hemodialisis menurun secara signifikan. Selain itu, biaya yang dibutuhkan untuk melakukan skrining dan memberikan intervensi dini terbukti jauh lebih rendah dibandingkan biaya penatalaksanaan hemodialisis selama satu tahun. Upaya pencegahan progresi PGK melalui deteksi dan terapi dini memiliki potensi besar untuk menghasilkan penghematan biaya dalam skala nasional. Kesimpulan: Skrining dini dan pengobatan segera terbukti secara klinis dan ekonomis lebih efisien dibandingkan penanganan PGK stadium lanjut. Intervensi ini mampu menurunkan progresivitas PGK, mengurangi jumlah pasien hemodialisis, serta memberikan penghematan biaya yang signifikan bagi BPJS Kesehatan. Penerapan program skrining terarah dan intervensi farmakologis pada kelompok risiko tinggi perlu menjadi prioritas nasional untuk menjaga keberlanjutan finansial JKN.
Background: BPJS Kesehatan claims ratio exceeding 100% in 2024 indicates severe pressure on the financial sustainability of the National Health Insurance (JKN) program. One of the main contributors to this condition is chronic kidney disease (CKD), which is a catastrophic disease with a very high cost burden. BPJS data shows that spending on stage 5 CKD increased sharply, from IDR 6.7 trillion in 2023 to IDR 8.2 trillion in 2024. Given that CKD is closely related to predictable risk factors, such as age ≥60 years, diabetes mellitus, and hypertension, early detection and prompt treatment efforts have great potential to prevent disease progression and significantly reduce the national cost burden. Research Problem: The extent of reduction in kidney failure cases, reduction in hemodialysis needs, and cost savings that can be achieved through the implementation of screening and early intervention in the population aged ≥60 years with CKD who have or do not have comorbid factors of Diabetes Mellitus or and hypertension is not yet known. Research Objective: This study aims to analyze the potential for reducing CKD costs through early screening using Cystatin C and immediate intervention with SGLT2i and RASi therapy, especially in the population aged ≥60 years with or without CKD who have or without comorbid factors. The study also assesses its impact on reducing hemodialysis patients and the burden of BPJS financing. Methodology: This study is a non-experimental study using a cross-sectional study design, based on BPJS Kesehatan large data for 2023–2024. The study population is JKN participants aged ≥60 years with or without comorbid diabetes and hypertension. The analysis includes calculating the prevalence of CKD, the number of stage 5 CKD cases, estimated costs of Cystatin C screening, costs of SGLT2i and RASi interventions, and hemodialysis cost reduction. The research algorithm follows the cost reduction model developed by Prof. Ascobat Gani. Results: The analysis results show that early stage CKD detection can prevent most patients from progressing to stage 5 or kidney failure. When this progression can be prevented, the number of patients requiring hemodialysis decreases significantly. Furthermore, the costs of screening and early intervention have been shown to be significantly lower than the cost of one year of hemodialysis treatment. Preventing CKD progression through early detection and therapy has significant potential to generate cost savings nationally. Conclusion: Early screening and prompt treatment have been shown to be clinically and economically more efficient than managing advanced CKD. This intervention can reduce CKD progression, reduce the number of hemodialysis patients, and provide significant cost savings for the National Health Insurance (BPJS Kesehatan). Implementing targeted screening programs and pharmacological interventions in high-risk groups needs to be a national priority to maintain the financial sustainability of the National Health Insurance (JKN).
D-606
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rudi Dermawan, Faisal Yunus, Budhi Antariksa
JRI Vol.33, No.4
Jakarta : Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mumpuni, UunNurulhuda, Elsa Roselina
KJKMN Vol.8, No.6
Depok : FKM UI, 2014
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Heldi Dhimaspanji Kundalini; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Kurnia Sari, Nani Iriyanti
S-6544
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Riska Wulandari; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Sandra Fikawati, Dieta Nurrika
Abstrak:
Read More
Kejadian gizi lebih di mahasiswa menjadi isu kesehatan global akibat perubahan gaya hidup saat transisi ke perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan melihat hubungan antara asupan energi, asupan karbohidrat, asupan lemak, asupan protein, asupan serat, durasi tidur, aktivitas fisik, pengetahuan gizi, dan stres akademik dengan kejadian gizi lebih berdasarkan waist to height ratio (WHtR) pada 146 mahasiswa FKM UI Tahun 2025 yang dipilih menggunakan teknik proportional stratified random sampling. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross sectional. Data analisis penelitian ini menggunakan chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 32,2% mahasiswa FKM UI Tahun 2025 mengalami gizi lebih. Namun, tidak ditemukan hubungan signifikan antara seluruh variabel independen (asupan energi, asupan karbohidrat, asupan lemak, asupan protein, asupan serat, durasi tidur, aktivitas fisik, pengetahuan gizi, dan stres akademik) dengan kejadian gizi lebih (p-value > 0,05). Meskipun demikian, terdapat beberapa variabel yang memiliki kecenderungan gizi lebih pada mahasiswa dengan asupan serat rendah, durasi tidur kurang, pengetahuan gizi rendah, dan tingkat stres akademik tinggi. Oleh karena itu, diperlukan edukasi gizi kepada mahasiswa FKM UI Tahun 2025 melalui pihak fakultas maupun organisasi mahasiswa untuk mendorong penerapan gaya hidup sehat dalam upaya pencegahan kejadian gizi lebih di kalangan mahasiswa
Overnutrition among university students has become a global health issue due to lifestyle changes during the transition to college. This study aimed to examine the relationship between energy intake, carbohydrate intake, fat intake, protein intake, fiber intake, sleep duration, physical activity, nutrition knowledge, and academic stress with overnutrition based on waist-to-height ratio (WHtR) among 146 FKM UI students in 2025 selected using proportional stratified random sampling. This research used a quantitative method with a cross-sectional design. Data were analyzed using the chi-square test. The results showed that 32.2% of students experienced overnutrition. However, no significant association was found between the independent variables (energy intake, carbohydrate intake, fat intake, protein intake, fiber intake, sleep duration, physical activity, nutrition knowledge, and academic stress) and overnutrition (p-value > 0.05). Nonetheless, students with low fiber intake, short sleep duration, low nutrition knowledge, and high academic stress showed a tendency toward overnutrition. Therefore, nutrition education is needed for FKM UI students through faculty and student organizations to promote healthy lifestyles in preventing overnutrition.
S-11910
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Pita Aprilia; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Purnawan Junadi, Susan Oktiwidya Ananda, Dian Trisnawati
Abstrak:
Read More
Persediaan farmasi harus dikelola dengan baik untuk kelancaran operasional dan keuangan rumah sakit. Sistem informasi dibutuhkan untuk mengelola persediaan farmasi agar memudahkan pengambilan keputusan dengan data yang akurat pada waktu yang tepat. RS Premier Jatinegara mengembangkan sistem persediaan baru yaitu RSDI yang menggabungkan informasi data perencanaan hasil analisis metode ABC-VEN dan MMSL, serta informasi terkini status tahap pemesanan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur output dari penggunaan sistem RSDI yang ditinjau dari indikator efektivitas dan efisiensi. Penelitian dilakukan dengan operational research terhadap sampel obat hasil analisis ABC-VEN dan MMSL di Instalasi Farmasi RS Premier Jatinegara setelah dilakukan intervensi. Hasil analisis ABC diperoleh obat kategori A mewakili 70% dari total investasi. Jumlah non esensial mencapai 53% dari total obat secara keseluruhan. Obat kategori EA dan NA memiliki nilai investasi tertinggi yaitu 63%. Apabila obat kategori EA dan NA dikelola dengan baik maka sekitar 63% biaya investasi dapat dikendalikan. Hasil penelitian menunjukan angka kejadian kekosongan obat turun 57%. Kekosongan masih ada karena kondisi stok yang kosong di distributor yang tidak dapat dihindari oleh karena itu integrasi B2B dengan distributor perlu ditingkatkan. Namun nilai ITOR juga turun dari 7 kali menjadi 6 kali. Penyesuaian periode pengadaan, pengurangan lead time distributor dan pengurangan jumlah stok obat non esensial perlu dilakukan untuk meningkatkan efisiensi. Informan menyampaikan sistem RSDI membantu memprioritaskan pengadaan ketika obat vital, esensial atau kategori A kosong, mempercepat pengambilan keputusan, menghilangkan permintaan berulang, dan meningkatkan komunikasi antara Instalasi Farmasi-Gudang-Pengadaan. Penelitian diharapkan dapat dilanjutkan agar pencapaian efektivitas dan efisiensi persediaan semakin baik.
Pharmaceutical supplies must be managed well for smooth hospital operations and finances. Information systems are needed to manage pharmaceutical supplies to facilitate decision making with accurate data at the right time. Premier Jatinegara Hospital developed a new inventory system, namely RSDI. This research aims to measure the output from using the RSDI system in terms of indicators of effectiveness and efficiency. The research was carried out using operational research on drug samples resulting from ABC-VEN and MMSL analysis at the Pharmacy Department after the intervention. The results showed that total investment category A drugs is 70%. The number of non-essential drugs reaches 53%. EA and NA category drugs have the highest investment value 63%, if EA and NA category are managed well then around 63% of investment costs can be controlled. The research results showed that the incidence of stock out decreased by 57%. Stock out still exist due to unavailable stock at distributors which cannot be avoided, therefore B2B integration with distributors needs to be improved. However, the ITOR value also fell from 7 times to 6 times. Adjusting the procurement period, reducing distributor lead time, and reducing the amount of non-essential drug needs to be done to increase efficiency. Informants said that the RSDI system helps prioritize procurement when vital or category A drugs are out of stock, speeding up decision making, eliminating repetitive requests, and improving communication between the Pharmacy-Warehouse-Procurement. This research should be continued to achieve better inventory effectiveness and efficiency.
B-2424
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hima Liliani; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Purnawan Junadi, Anhari Achadi, R. Muharam, Pustika Amalia
Abstrak:
Darah merupakan sumber daya yang tidak tergantikan. Menurut Hall (2013), di University Hospitals of Leicester UK, dari 507 unit darah yang di-crossmatch hanya 283 unit darah yang ditransfusikan. Terdapat 25% darah terbuang pada Rumah Sakit Publik Guyana (Kurup, 2016). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode kualitatif. Berdasarkan analisis diperoleh hasil, yaitu 35.79% unit darah yang tidak ditransfusikan, capaian CT Ratio 2.12 (dari 3536 unit darah yang dicrossmatch, hanya 1670 unit darah yang ditransfusikan), Penyebab darah terbuang adalah kadaluarsa 98.4%, selang habis, kantong bocor, darah rusak dll. Penggunaan MSBOS dapat menurunkan angka ketidakterpakaian darah pada pasien operasi elektif sebesar 35.64%. Kata kunci : Darah Terbuang, CT Ratio, Transfusion Indeks, Penyebab Darah Terbuang, MSBOS Blood is an irreplaceable resource. According to Hall (2013), at University Hospitals of Leicester UK, from 507 units of crossmatched blood, only 283 units were used. There is 25% discharge blood at Guyana Public Hospital (Kurup, 2016). This research is a descriptive case study with qualitative method. Based on the analysis, 35.79% of the blood units were not transfused, the CT ratio was 2.12 (from 3536 unit of crossmatched blood, only 1670 unit were transfused). The cause of blood wastage is expired 98.4%, blood tube runs out, blood bag leak, blood damaged and unidentified causes. The use of MSBOS may decrease the rate of blood units wastage in elective surgery patients by 35.64%. Keywords: Blood Wastage, CT Ratio, Transfusion Indeks, Cause of blood wastage, MSBOS
Read More
B-1893
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Franciskus Hutasoit; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Robiana Modjo, Ellen Happy Forever
S-6755
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mirah Wijaya; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Purnawan Junadi, Jeffry Rustandi, Oriza Safrini
Abstrak:
Read More
Manajemen logistik dalam sektor kesehatan, khususnya dalam rumah sakit, memiliki peran krusial dalam menyediakan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Penelitian ini mengambil kasus Rumah Sakit Azra sebagai studi, dengan fokus pada perencanaan persediaan obat antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan metode ABC indeks kritis, safety stock, dan reorder point (ROP) yang efektif untuk meningkatkan efisiensi manajemen logistik obat di Instalasi Farmasi RS Azra. Penelitian ini melibatkan analisis ABC indeks kritis untuk mengkategorikan obat antibiotik menjadi tiga kelompok: A, B, dan C, serta menghitung safety stock dan ROP untuk setiap obat antibiotik. Hasil analisis akan diimplementasikan dalam manajemen logistik di RS Azra. Evaluasi dilakukan dengan memantau dampak implementasi metode tersebut terhadap kejadian backorder, frekuensi pembelian obat di luar jadwal pemesanan, nilai Inventory Turn Over Ratio (ITOR), dan fill rate di Instalasi Farmasi RS Azra. Hasil penelitian diharapkan akan memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang perencanaan obat dalam lingkungan rumah sakit, khususnya obat antibiotik. Selain itu, penelitian ini juga diharapkan akan membantu RS Azra dalam meningkatkan ketersediaan obat yang tepat waktu dan jumlah sesuai dengan kebutuhan pasien, serta mengoptimalkan anggaran pembelian obat. Penelitian ini juga memiliki potensi untuk memberikan manfaat bagi institusi pendidikan dengan menghasilkan penelitian yang relevan dan berkontribusi dalam pengembangan praktik perencanaan obat di rumah sakit, serta memfasilitasi kolaborasi antara institusi pendidikan dan rumah sakit dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
Logistics management in the healthcare sector, especially in hospitals, plays a crucial role in providing quality healthcare services. This research focuses on the case of Azra Hospital, with a specific emphasis on the inventory planning of antibiotic drugs. The aim of this study is to formulate effective methods for the ABC critical index, safety stock, and reorder point (ROP) to enhance the efficiency of drug logistics management in the Pharmacy Department of Azra Hospital. The research involves the analysis of the ABC critical index to categorize antibiotic drugs into three groups: A, B, and C, as well as calculating safety stock and ROP for each antibiotic drug. The results of the analysis will be implemented in the logistics management of Azra Hospital. Evaluation will be conducted by monitoring the impact of these methods on backorder incidents, the frequency of drug purchases outside the ordering schedule, Inventory Turn Over Ratio (ITOR) values, and fill rates in the Pharmacy Department of Azra Hospital. The research results are expected to provide a deeper understanding of drug planning in the hospital environment, particularly for antibiotic drugs. Furthermore, the study is anticipated to assist Azra Hospital in improving the timely availability and quantity of drugs according to patient needs, as well as optimizing drug procurement budgets. This research also has the potential to benefit educational institutions by generating relevant research and contributing to the development of drug planning practices in hospitals, facilitating collaboration between educational institutions and hospitals to enhance the quality of healthcare services.
B-2420
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
