Ditemukan 17 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Ketut Surya Negara
ARSI Vol.1, No.1
Depok : Pusat Kajian AKK FKM UI, 2014
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Elizabeth Simamora; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Yunis Tri Miko Wahyono, M. Arifin Nawas
S-6798
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Silvia Gozali Surono; Pembimbing: Wiku B. Adisasmito; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Ede Surya Dermawan, Antonius Konseng, Mohamad Firas Bahwal
Abstrak:
Masalah kesehatan yang terjadi secara global saat ini adalah resistensi antimikroba. Resistensi ini menyebabkan meningkatnya mortalitas penyakit, memanjangnya lama hari rawat dan meningkatkan biaya perawatan. Salah satu strategi yang diusung untuk menanggulangi resistensi ini adalah dengan menerapkan pola kuman sebagai acuan dalam perumusan panduan penggunaan antibiotika yang rasional. Pola kuman berguna bagi para klinisi untuk membantu memberikan petunjuk dalam pemberian terapi empiris. Pola kuman juga berfungsi untuk menunjukkan tren sensitivitas jenis kuman terhadap suatu jenis antibiotika. Indonesia menunjukkan kepeduliaannya dengan membuat suatu peraturan tentang Program Pengendalian Resistensi Antibiotika (PPRA). Rumah sakit Santa Maria merupakan rumah sakit swsata yang sudah menerapkan pola kuman dalam panduan penggunaan antibiotika. Penelitian yang dilakukan terhadap kasus infeks jaringan lunak di RS Santa Maria mendapatkan bahwa Staphylococcus aureus merupakan jenis kuman yang paling banyak ditemukan di kasus infeksi jaringan lunak dan pada uji sensitivitas antibiotika masih mempunyai derajat sensitivitas yang cukup baik terhadap golongan cephalosporin generasi ketiga. Pola kuman ini juga mendorong para klinisi agar memberi pengobatan sesuai dengan panduan antibiotika yang diberlakukan di RS Santa Maria. Hasil penelitian ini mendapatkan bahwa dengan penerapan pola kuman terhadap panduan penggunaan antibiotika, pasien mempunyai outcome sembuh dengan lama hari rawat yang lebih pendek (5.45 hari vs 4.3 hari dengan P<0.001), biaya belanja obat antibiotika berkuurang (Rp.79.982.730 vs Rp.41.020.622) dan rata-rata total biaya yang lebih efisien (Rp.13.854.266 vs Rp.11.930.250). Hal ini dikarenakan jumlah penggunaan antibiotika yang berkurang setelah PPRA. Beberapa hal yang perlu ditingkatkan dalam ere PPRA di RS Santa Maria adalah mengoptimalkan pemakaian penggunaan jenis antibiotika spektrum sempit dan peningkata kualitas pengumpulan data pola kuman dengan teknik yang benar, alat yang menunjang dan sumber daya manusia yang berkompetensi di bidangnya . Beberapa hal yang harus diperhitungkan oleh rumah sakit terkait pola kuman ini adalah manfaat yang didapat haruslah lebih besar nilainya daripada biaya investasi, biaya operasional, dan biaya pemeliharaan yang harus dikeluarkan baik terhadap pasien, klinisi dan rumah sakit.
Read More
B-2088
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ketut Surya Negara; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Vetty Yulianty Permanasari, Ken Wirasandy
B-1578
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yulia Windya Santy; Pembimbing: Asri C Adisasmita; Peguji: Ratna Djuwita, Erni Juwita Nelwan
T-4485
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hotman Sinaga ... [et al.]
CDK No.127
Jakarta : Kalbe Farma, 2000
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Vestia Prilie Rosemarie Kindangen; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Jaslis Ilyas, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Sri Dyah Indherawati, Mario Abet Nego
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Resistensi Antimikroba merupakan ancaman global yang berdampak pada peningkatan morbiditas, mortalitas, serta biaya perawatan Kesehatan. RS Hermina Jatinegara adalah RS swasta yang ditetapkan tepe B dengan layanan Umum sebagai RS pelayanan rujukan memiliki peran penting dalam mencegah resistensi melalui Implementasi Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA). RS Hermina Jatinegara telah memiliki komponen utama PPRA seperti Kebijakan PPRA, Pedoman penggunaan antibiotic, Tim PPRA, Kebijakan pengelompokan antibiotic AWaRe, serta system persetujuan antibiotic melalui E-RASPRO. Tujuan penelitian: secara umum Adalah Menganalisis implementasi PPRA, mengoptimalkan peran manajemen rumah sakit dalam mendukung penggunaan antibiotik secara bijak, dan strategi pengelolaan di Rumah Sakit Hermina Jatinegara, secara khusus adalah menganalisis penerapan pedoman dan kebijakan penggunaan antibiotik, tingkat kepatuhan tenaga medis terhadap pedoman penggunaan antibiotik, evaluasi efektivitas sistem monitoring dan evaluasi penggunaan antibiotik, peran manajemen rumah sakit dalam mendukung pelaksanaan PPRA, dan strategi perbaikan untuk meningkatkan efektivitas PPRA dan mutu pelayanan rumah sakit. Metode penelitian: Penelitian ini menggunakan desain kualitatif melalui wawancan mendalam dengan manajemen RS, dokter, perawat, apoteker, dan Tim PPRA, FGD, serta telaah dokumen. Penelitian ini juga menggunakan data sekunder berupa data farmasi data peresepan, Laporan monitoring evaluasi PPRA yang didalamnya terdapat kepatuhan terhadap PPAB dan data resistensi kuman dari data mikrobiologi. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa regulasi PPRA di RS Hermina Jatinegara telah lengkap, termasuk PPAB, SK Tim PPRA, AWaRe, dan mekanisme persetujuan antibiotik melalui E-RASPRO. Namun implementasinya belum seragam di seluruh unit. Ketidaksesuaian penggunaan antibiotik ditemukan pada aspek durasi, indikasi, dan dokumentasi. Audit belum rutin dilakukan dan belum mencakup seluruh kasus prioritas. Integrasi data kultur ke dalam E-RASPRO belum optimal. Ketersediaan antibiogram belum representatif karena keterbatasan sampel kultur dan SDM mikrobiologi. Laporan PPRA telah dibuat secara berkala per triwulan, tetapi belum memuat indikator lengkap seperti Days Of Therapy (DOT), IV-to-PO, dan audit umpan balik. Kesimpulan: Implementasi PPRA di RS Hermina Jatinegara sudah berjalan namun belum optimal. Penguatan pembiayaan, kapasitas sampel mikrobiologi, kajian/audit rutin, integrasi data, serta pelatihan semua profesi diperlukan untuk meningkatkan konsistensi dan keberhasilan implementasi PPRA.
Background: Antimicrobial resistance is a global threat that has an impact on increased morbidity, mortality, and healthcare costs. Hermina Jatinegara Hospital is a private hospital designated as a type B hospital with general services as a referral hospital that plays an important role in preventing resistance through the implementation of the Antimicrobial Resistance Control Program (PPRA). Hermina Jatinegara Hospital has established key components of the PPRA, including PPRA policies, antibiotic usage guidelines, PPRA team, antibiotic grouping policies under the AWaRe framework, and an antibiotic approval system via E-RASPRO. Research Objectives: To analyze the implementation of the AMCP, optimize the role of hospital management in supporting prudent antibiotic use, and management strategies at Hermina Jatinegara Hospital. Specifically, it aims to analyze the implementation of guidelines and policies on antibiotic use, the level of compliance of medical personnel with antibiotic use guidelines, evaluate the effectiveness of the antibiotic use monitoring and evaluation system, the role of hospital management in supporting the implementation of PPRA, and improvement strategies to increase the effectiveness of PPRA and the quality of hospital services. Research method: This study used a qualitative design through in-depth interviews with hospital management, doctors, nurses, pharmacists, and the PPRA Team, FGDs, and document reviews. This study also used secondary data in the form of pharmacy prescription data, PPRA monitoring and evaluation reports containing compliance with PPAB, and germ resistance data from microbiology data. Research results: The results showed that PPRA regulations at Hermina Jatinegara Hospital were complete, including PPAB, PPRA Team Decree, AWaRe, and the antibiotic approval mechanism through E- RASPRO. However, implementation was not uniform across all units. Inappropriate antibiotic use was found in terms of duration, indication, and documentation. Audits have not been conducted routinely and do not cover all priority cases. The integration of culture data into E-RASPRO is not yet optimal. The availability of antibiograms is not representative due to limitations in culture samples and microbiology human resources. PPRA reports have been prepared quarterly, but do not yet include complete indicators such as Days Of Therapy (DOT), IV-to-PO, and feedback audits. Conclusion: The implementation of PPRA at Hermina Jatinegara Hospital is underway but is not yet optimal. Strengthening of funding, microbiology sample capacity, routine reviews/audits, data integration, and training for all professions are needed to improve the consistency and success of PPRA implementation.
B-2561
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mohamad Rizaldi; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, Alvin Kosasih, Tavip Triyono
Abstrak:
Kabupaten Bogor merupakan daerah prioritas utama penanggulangan TB di Indonesia dengan jumlah kasus TB ditemukan tahun 2020-2021 sebanyak 22.189 kasus dengan 728 kasus (3,3%) terkonfirmasi sebagai TB-RO. Angka kesembuhan TB-RO semakin menurun sedangkan angka kematiannya meningkat. Tujuan penelitian ini untuk menghitung mortality rate dan perbedaan probabilitas survival antara kelompok terpapar dan tidak terpapar faktor risiko serta mengetahui hubungan antara co-infeksi HIV, DM dan pola resistensi dengan ketahanan hidup TB-RO. Studi cohort retrospektive dan analisis survival dilakukan dengan memanfaatkan data TB.03 dan TB.01 SITB Kab. Bogor, SITB RSUD Cibinong dan SITB RSPG Cisarua. Hasil penelitian didapatkan mortality rate kumulatif sebesar 31,9/1000 orang-bulan dengan probabilitas survival 62,3%. Mortality rate pada kelompok HIV positif:131/1000 orang-bulan dengan probabilitas survival 37,5% (log-rank test 0,004). Pada kelompok DM:53,3/1000 orang-bulan dengan probabilitas survival 40,4%. (log-rank test 0,002). Pada pola Pre-XDR/XDR sebesar 42,4/1000 orang-bulan dengan probabilitas survival 55,4%. Sedangkan pola poliresisten/MDR:34,8/1000 orang-bulan dengan probabilitas survival 56,2% (log-rank test 0,023). HIV (HR:7,32;95%CI:2,7019,81;p-value:0,001), DM T*≥ 2 bulan (HR:2,03;95%CI: 1,05-3,92;p-value:0,31). Pola Pre-XDR/XDR (HR:3,98;95%CI:1,59-9,9;p-value:0,003) serta pola poliresisten/MDR (HR:2,84;95%CI:1,23-6,58;p-value:0,014) berhubungan dengan ketahanan hidup penderita TB-RO. Diharapkan RS rujukan TB-RO memaksimalkan tatalaksana, jejaring internal, sinkronisasi data SITB.. Bagi Dinkes Kab. Bogor dapat memaksimalkan kegiatan MICA dan meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait pencegahan TB-RO
Read More
T-6385
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ester Suryawati; Pembimbing: Kemal Nazaruddin Siregar; Penguji: Besral, Tri Yunis Miko Wahyono, Sulistyo
Abstrak:
Proporsi kematian karena MDR TB di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung 12,73%. Penelitian ini bertujuan untuk melihat factor factor yang mempengaruhi ketahanan hidup pasien MDR TB di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Desain penelitian yang digunakan adalah kohort retrospektif dengan jumlah sampel 216 di mana 80 sebagai event dan sisanya sebagai sensor. Hasil analisis dengan Survival dengan Spss memperlihatkan predictor utama dari ketahanan hidup pasien MDR TB di RSHS adalah pola resistensi(HR 0,3 ; 95% CI 0,2-0,5; P value 0,000), efek samping obat berhubungan dengan waktu(HR 1,12; 95% CI 1,02-1,22; P value 0,013)dan BMI kurang (HR 1,8; 95%CI 1,02-3,3; P value 0,04). Efek samping obat sebelum terapi bulan kedelapan efeknya proteksi, sedangkan sesudah itu meningkatkan resiko kematian. Konfoundingnya adalah riwayat merokok, jenis kelamin, umur dan pekerjaan. Probabilitas ketahanan hidup pasien MDR TB 0,56. Oleh sebab itu peningkatan kepatuhan minum obat, konsistennya pengukuran tinggi badan dan berat badan pasien MDR TB dan efektivitas manajemen efek samping OAT dapat meningkatkan ketahanan hidup pasien MDR TB di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Kata kunci: MDR TB, Ketahanan Hidup, Pola Resistensi, BMI, Efek samping Obat, merokok, jenis kelamin, pekerjaan
Read More
T-4358
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dora Handyka; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Purnawan Junadi, Pujiyanto, Dettie Yulianti, Sonny Hermawati
Abstrak:
Faktor yang berhubungan dengan pasien berkontribusi terhadap meningkatnya prevalensi resistensi antibiotik. Hal tersebut menuntut dilakukan suatu upaya peringatan akan bahaya resistensi antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap respon penerimaan pesan gambar peringatan bahaya resistensi antibiotik yang dikembangkan dari Extended Parallel Process Model (EPPM). 3 buah gambar peringatan yang berisi tentang resistensi antibiotik dapat menyebabkan kematian, makin lamanya penyembuhan luka operasi, dan hari perawatan di rumah sakit yang bertambah lama dipilih untuk diteliti, dan dengan desain potong lintang yang digunakan untuk melihat pengaruh faktor usia, jenis kelamin, pendidikan dan pekerjaan terhadap respon penerimaan pesan dari ketiga gambar tersebut pada 402 orang responden. Hasil yang diperoleh adalah ketiga gambar tersebut menghasilkan komponen ancaman yang tinggi dan komponen efikasi yang tinggi pula. Respon penerimaan pesan yang dihasilkan adalah baik, sehingga dianggap efektif menyampaikan informasi mengenai bahaya resistensi antibiotik kepada masyarakat. Gambar peringatan mengenai bahaya resistensi antibiotik dapat mengakibatkan makin lamanya penyembuhan luka operasi menjadi gambar yang paling efektif dibanding gambar peringatan lainnya. Faktor yang meningkatkan respon penerimaan pesan yang baik mengenai bahaya resistensi antibiotik adalah kelompok usia dewasa awal, jenis kelamin perempuan, pendidikan tinggi dan yang tidak bekerja. Kata Kunci: gambar peringatan, resistensi antibiotik, EPPM, ancaman, efikasi. Patient-related factors contribute to the increased prevalence of antibiotic resistance. It requires an attempt to warn of the dangers of antibiotic resistance. This study aims to analyze the factors that influence the response of receiving the antibiotic resistance warning picture message developed from the Extended Parallel Process Model (EPPM). 3 warning images containing antibiotic resistance can cause death, increasing length of wound healing, and lengthy hospitalization days selected for study, and with cross-sectional design used to examine the effect of age, sex, education and work on the response of receiving messages from these three images on 402 respondents. The results obtained are the three images produce high threat components and high efficacy components as well. The response of received messages generated is good, so it is considered effective to convey information about the danger of antibiotic resistance to the community. A warning picture of the dangers of antibiotic resistance may result in the longer duration of surgical wound healing being the most effective image than any other warning image. Factors that improve the response of good messages about the dangers of antibiotic resistance are the early adult age group, female gender, college education and non-working. Keywords: pictorial warning, antibiotic resistance, EPPM, threat, efficacy
Read More
T-4908
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
