Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Naila Fairuz Adivarie; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dian Ayubi, Wembi Syarif Chan
Abstrak:
Perilaku sedentari berhubungan dengan kebiasaan tidak banyak melakukan aktivitas fisik yang berdampak buruk pada kesehatan anak-anak dan remaja. Perilaku sedentari menyebabkan peningkatan lemak sehingga seseorang cenderung menjadi gemuk dan berujung pada obesitas. Individu dengan kondisi obesitas memiliki potensi lebih tinggi untuk terserang penyakit tidak menular. Lebih dari 80% populasi remaja dunia kurang melakukan aktivitas fisik. Secara global terdapat peningkatan perilaku sedentari pada anak-anak dan remaja. Proporsi aktivitas fisik kurang di Indonesia pada penduduk umur ≥10 tahun terdapat pada Provinsi Jawa barat sebesar 25,4% dan meningkat menjadi 37,5%. Prevalensi siswa SMP Daar el-Salam dengan obesitas tahun 2019 sebanyak 7,9%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku sedentari pada siswa SMP di SMP Daar el-Salam Kabupaten Bogor tahun 2023. Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 163 siswa SMP kelas VII, VIII dan IX. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang sudah diuji validitas dan reabilitasnya serta dianalisis menggunakan uji chi square. Hasil analisis menunjukkan prevalensi perilaku sedentari ≥ 2 jam per hari pada siswa SMP sebesar 39,9%. Determinan perilaku sedentari dalam penelitian ini adalah quality of life (OR= 3,19), peer influence (OR= 2,83), sikap siswa (OR= 2,65), dan sleeping time (OR= 2,77). Pencegahan perilaku sedentari pada siswa diperlukan sarana dan prasarana sekolah yang memadai seperti peran UKS (Unit Kesehatan Siswa) dan SHC (School Health Care) SMP Daar el-Salam dalam kegiatan edukasi kepada siswa dan orang tua sebagai bentuk dukungan sosial dalam pencegahan perilaku sedentari dan aktif melakukan aktivitas fisik. Selain itu juga dibutuhkan kebijakan dari dinas pendidikan yang berkoordinasi dengan dinas kesehatan terkait pembuatan kurikulum sekolah mengenai aktivitas fisik dan perilaku sedentari.

Sedentary behavior is related to habit of not doing much physical activity which has a negative impact on the health of children and adolescents. Sedentary behavior has the risk of causing an increase in fat so that a person leads to obesity. Individuals with obesity have a higher potential for developing non-communicable diseases. More than 80% of the world's adolescent population lacks physical activity. Globally there is an increase in sedentary behavior in children and adolescents. The proportion of less physical activity in Indonesia for people aged ≥10 years was found in West Java Province at 25,4% and increased to 37,5%. The prevalence of obese Daar el-Salam Middle School students in 2019 was 7,9%. This study aims to determine the determinants of sedentary behavior in junior high school students at Daar el-Salam Middle School, Bogor Regency in 2023. The study used a cross-sectional design with a sample size of 163 junior high school students of 7th, 8th, and 9th grade. Data were collected using a questionnaires that have been tested for validity and reliability and analyzed using the chi square test. The results of the analysis showed that the prevalence of sedentary behavior ≥ 2 hours per day in junior high school students was 39,9%. The determinants of sedentary behavior in this study were quality of life (OR= 3,19), peer influence (OR= 2,83), student attitudes (OR= 2,65), and sleeping time (OR= 2,77). Prevention of sedentary behavior in students requires adequate school facilities and infrastructure such as the role of student health care and SHC (School Health Care) of Daar el-Salam Junior High School in educational activities for students and parents as a form of social support in preventing sedentary behavior and being active in physical activity. Apart from that, a policy is also needed from the education office which coordinates with the health office regarding the creation of a school curriculum regarding physical activity and sedentary behavior.
Read More
S-11356
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sarah Keisya Budiargo; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Asih Setiarini, Dieta Nurrika
Abstrak:
Obesitas merupakan akumulasi lemak tubuh yang berlebihan dan meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular. Pengukuran obesitas menggunakan persen lemak tubuh dinilai lebih akurat dibandingkan Indeks Massa Tubuh (IMT). Prevalensi obesitas mahasiswa FKM UI berdasarkan data pemeriksaan kesehatan tahun 2022–2024 mencapai 13,6%, melebihi ambang batas masalah kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi ultra-processed food (UPF), asupan energi, lemak, karbohidrat, protein, serat, serta perilaku sedentary dengan kejadian obesitas berdasarkan persen lemak tubuh pada 147 mahasiswa FKM UI tahun 2025. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi obesitas berdasarkan persen lemak tubuh sebesar 12,9%. Terdapat hubungan signifikan antara frekuensi konsumsi UPF, konsumsi energi UPF, asupan energi; lemak; protein, dan perilaku sedentary dengan obesitas (p-value<0,05). Sedangkan asupan serat dan karbohidrat tidak menunjukkan hubungan signifikan (p-value>0,05) tetapi menunjukkan kecenderungan. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan lebih bijak dalam memilih makanan sehari-hari dan mengurangi aktivitas sedentary. FKM UI diharapkan menciptakan lingkungan kampus yang mendukung gaya hidup sehat serta program pemantauan status gizi. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan alat objektif untuk mengukur perilaku sedentary, serta menggunakan analisis multivariat untuk memahami hubungan mendalam antara konsumsi UPF, asupan gizi, dan perilaku sedentary terhadap kejadian obesitas

Obesity is the excessive accumulation of body fat that elevates the risk of non-communicable diseases. Compared to Body Mass Index (BMI), body fat percentage offers a more accurate measure of obesity. Based on health screening data from 2022 to 2024, the prevalence of obesity among FKM UI students reached 13.6%, surpassing the public health concern threshold. This study investigated the association between ultra-processed food (UPF) consumption, energy, fat, carbohydrate, protein, fiber intake, and sedentary behavior with obesity—measured by body fat percentage—among 147 FKM UI students in 2025. This quantitative study used a cross-sectional design. Findings revealed an obesity prevalence of 12.9%. Significant associations were observed between obesity and the frequency of UPF consumption, UPF-derived energy intake, total energy, fat and protein intake, and sedentary behavior (p-value<0.05). Although fiber and carbohydrate intake were not statistically significant (p-value>0.05), both showed trends. These results highlight the importance of making healthier dietary choices and reducing sedentary time. FKM UI encouraged to promote a supportive campus environment for healthy lifestyles and establish nutrition monitoring initiatives. Future studies should incorporate objective tools to assess sedentary behavior and utilize multivariate analysis to better understand the interactions between those risk factors and obesity
Read More
S-11984
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irfan Kurniawan; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Abdul Kadir, Puspita Tri Utami, Firman Fridono
Abstrak:
Sindrom metabolik merupakan kumpulan faktor risiko kardiometabolik yang meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes melitus tipe 2. Pegawai perkantoran, termasuk Aparatur Sipil Negara (ASN), berisiko mengalami sindrom metabolik karena pola kerja sedentary, keterbatasan aktivitas fisik, pola makan tidak sehat, dan perilaku berisiko lainnya. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor risiko sindrom metabolik pada pegawai ASN Lembaga X tahun 2026. Penelitian menggunakan desain mixed methods sequential explanatory. Tahap kuantitatif merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional pada 340 responden menggunakan data Medical Check-Up tahun 2025 dan kuesioner faktor risiko tahun 2026. Status sindrom metabolik ditentukan berdasarkan kriteria Joint Interim Statement 2009. Analisis meliputi univariat, bivariat, dan regresi logistik multivariat. Tahap kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam dengan informan kunci untuk menjelaskan hasil kuantitatif. Prevalensi sindrom metabolik sebesar 26,2%. Komponen yang paling banyak ditemukan adalah obesitas sentral (58,5%), diikuti trigliserida tinggi (32,4%), glukosa darah puasa tinggi (32,1%), HDL rendah (28,5%), dan hipertensi (18,2%). Model akhir menunjukkan bahwa IMT obesitas merupakan faktor paling dominan (AOR=23,347; 95% CI: 7,863–69,372; p<0,001), diikuti merokok (AOR=2,452; 95% CI: 1,235–4,868; p=0,010), pola makan tidak sering bergizi seimbang (AOR=2,430; 95% CI: 1,405–4,203; p=0,001), riwayat penyakit keluarga (AOR=2,135; 95% CI: 1,181–3,859; p=0,012), perilaku sedentary ≥6 jam/hari (AOR=2,182; 95% CI: 1,096–4,344; p=0,026), dan aktivitas fisik kurang aktif (AOR=1,829; 95% CI: 0,999–3,348; p=0,050). Hasil kualitatif menunjukkan bahwa pekerjaan duduk lama, konsumsi saat rapat atau lembur, hambatan aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan belum optimalnya tindak lanjut hasil MCU memperkuat risiko sindrom metabolik. Sindrom metabolik pada pegawai ASN Lembaga X dipengaruhi oleh interaksi faktor biologis, perilaku, dan lingkungan kerja. Diperlukan program kesehatan kerja terintegrasi berbasis hasil MCU yang memprioritaskan pengendalian obesitas, konsumsi sehat, peningkatan aktivitas fisik, pengurangan perilaku sedentary, serta program berhenti merokok.

Metabolic syndrome is a cluster of cardiometabolic risk factors that increases the risk of cardiovascular disease and type 2 diabetes mellitus. Office workers, including civil servants, are at risk because of sedentary work patterns, limited physical activity, unhealthy dietary habits, and other risk behaviors. This study aimed to analyze risk factors for metabolic syndrome among civil servants at Institution X in 2026. A sequential explanatory mixed-methods design was used. The quantitative phase was an analytical observational cross-sectional study involving 340 respondents, using 2025 Medical Check-Up data and a 2026 risk-factor questionnaire. Metabolic syndrome was defined according to the 2009 Joint Interim Statement criteria. Analyses included univariate, bivariate, and multivariable logistic regression. The qualitative phase involved in-depth interviews with key informants to explain the quantitative findings. The prevalence of metabolic syndrome was 26.2%. The most common component was central obesity (58.5%), followed by elevated triglycerides (32.4%), elevated fasting blood glucose (32.1%), low HDL cholesterol (28.5%), and hypertension (18.2%). In the final model, obesity based on body mass index was the strongest factor (AOR=23.347; 95% CI: 7.863–69.372; p<0.001), followed by smoking (AOR=2.452; 95% CI: 1.235–4.868; p=0.010), infrequent consumption of a balanced diet (AOR=2.430; 95% CI: 1.405–4.203; p=0.001), family history of disease (AOR=2.135; 95% CI: 1.181–3.859; p=0.012), sedentary behavior ≥6 hours/day (AOR=2.182; 95% CI: 1.096–4.344; p=0.026), and insufficient physical activity (AOR=1.829; 95% CI: 0.999–3.348; p=0.050). Qualitative findings indicated that prolonged sitting, food consumption during meetings or overtime, barriers to physical activity, smoking habits, and suboptimal follow-up of Medical Check-Up results reinforced metabolic syndrome risk. Metabolic syndrome among civil servants at Institution X is influenced by the interaction of biological, behavioral, and workplace environmental factors. An integrated occupational health program based on Medical Check-Up results is needed, prioritizing obesity control, healthy food policies, promotion of physical activity, reduction of sedentary behavior, and smoking cessation
Read More
T-7644
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ketty Amanda Putri; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Dien Anshari, Lindawati, Inani Puspitasari
Abstrak:
Proporsi perilaku sedenter pada orang dewasa usia produktif terus meningkat seiring perkembangan teknologi, perubahan pola kerja, dan gaya hidup modern. Pada karyawan kantor, perilaku sedenter yang dilakukan dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular, seperti penyakit kardiovaskular, diabetes melitus, obesitas, serta gangguan kesehatan mental. Perilaku sedenter tidak hanya dipengaruhi oleh karakteristik individu, tetapi juga terbentuk melalui interaksi individu dengan lingkungan sosial dan lingkungan tempat kerja. Pendekatan ekologi sosial memandang perilaku kesehatan sebagai hasil interaksi berbagai tingkat faktor, meliputi faktor individu, interpersonal, serta lingkungan atau organisasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku sedenter pada karyawan kantor di tiga perusahaan di wilayah BSD dan Alam Sutera tahun 2026 menggunakan pendekatan ekologi sosial. Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 115 karyawan kantor. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya serta dianalisis menggunakan analisis univariat, bivariat, dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 77,4% responden melakukan perilaku sedenter selama ≥6 jam per hari. Berdasarkan analisis bivariat, terdapat hubungan yang bermakna antara status pernikahan (p=0,005), dukungan rekan kerja (p=0,010), fasilitas kantor (p=0,035), dan peraturan kantor (p=0,010) dengan perilaku sedenter. Sementara itu, usia, jenis kelamin, pendidikan terakhir, jarak tempat tinggal, lama bekerja, divisi pekerjaan, pengetahuan, dan sikap tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa status pernikahan, dukungan rekan kerja, fasilitas kantor, dan peraturan kantor merupakan faktor yang berhubungan dengan perilaku sedenter, dengan dukungan rekan kerja sebagai salah satu faktor penting yang berperan dalam menurunkan kecenderungan perilaku sedenter. Responden yang memperoleh dukungan rekan kerja yang baik memiliki peluang lebih kecil untuk melakukan perilaku sedenter dibandingkan responden yang memperoleh dukungan rekan kerja yang kurang. Demikian pula, ketersediaan fasilitas kantor dan peraturan kantor yang memadai berperan sebagai faktor protektif terhadap perilaku sedenter. Oleh karena itu, upaya pencegahan perilaku sedenter pada karyawan kantor perlu dilakukan melalui pendekatan yang melibatkan berbagai tingkat ekologi sosial, terutama dengan memperkuat dukungan rekan kerja serta menyediakan fasilitas dan menerapkan kebijakan perusahaan yang mendorong aktivitas fisik, seperti pemberian waktu aktif secara berkala, penyediaan sarana pendukung aktivitas fisik, dan penciptaan budaya kerja yang lebih aktif.

The prevalence of sedentary behavior among working-age adults continues to increase alongside technological advances, changes in work patterns, and modern lifestyles. Among office workers, prolonged sedentary behavior may increase the risk of various non-communicable diseases, including cardiovascular disease, diabetes mellitus, obesity, and mental health disorders. Sedentary behavior is influenced not only by individual characteristics but also by interactions between individuals and their social and workplace environments. The social ecological approach views health behavior as the result of interactions among factors at multiple levels, including individual, interpersonal, and environmental or organizational factors. Therefore, this study aimed to determine the factors associated with sedentary behavior among office workers in three companies in the BSD and Alam Sutera areas in 2026 using a social ecological approach. This study employed a cross-sectional design involving 115 office workers. Data were collected using a questionnaire that had been tested for validity and reliability and were analyzed using univariate analysis, bivariate analysis, and multiple logistic regression.                       The results showed that 77.4% of respondents engaged in sedentary behavior for ≥6 hours per day. Based on the bivariate analysis, marital status (p=0.005), co-worker support (p=0.010), workplace facilities (p=0.035), and workplace regulations (p=0.010) were significantly associated with sedentary behavior. Meanwhile, age, sex, educational attainment, distance from home to workplace, length of employment, work division, knowledge, and attitude were not significantly associated with sedentary behavior. The multivariate analysis showed that marital status, co-worker support, workplace facilities, and workplace regulations were associated with sedentary behavior, with co-worker support identified as one of the important factors associated with a lower likelihood of sedentary behavior. Respondents who received good co-worker support had a lower likelihood of engaging in sedentary behavior than those who received less co-worker support. Similarly, adequate workplace facilities and regulations served as protective factors against sedentary behavior.                Therefore, efforts to prevent sedentary behavior among office workers should involve multiple levels of the social ecological approach, particularly by strengthening co-worker support, providing supportive workplace facilities, and implementing organizational policies that encourage physical activity, such as regular active breaks, provision of facilities that support physical activity, and the development of a more physically active workplace culture.
Read More
T-7727
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive