Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Reviono, Endang Sutisna Sulaeman, Bhisma Murti
KJKMN Vol.7, No.11
Depok : FKM UI, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Khodijah Parinduri; Promotor: Wachyu Sulistiadi; Kopromotor: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Ede Surya Darmawan, Sutanto Priyo Hastono, Soroy Lardo, Sumarjaya, Hermawan Saputra, Maryami Yuliana Kosim
Abstrak:
Kerentanan rumah sakit di Indonesia dalam menghadapi bencana terlihat dari rata-rata indeks Hospital Emergency Disaster Management yang rendah (0,408) dan kegagalan infrastruktur fisik (hard resilience) saat beban puncak (surge capacity), seperti pada pandemi COVID-19 dan gempa bumi. Modal sosial (social capital) berpotensi menjadi "infrastruktur organisasi non-fisik" (soft resilience) yang mampu mensubstitusi keterbatasan fiskal dan birokrasi, namun pengoptimalannya belum terformulasikan secara terstruktur dalam manajemen bencana rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis, menyintesis, dan merekonstruksi Model Social capital melalui integrasi perspektif strategis (makro) dan operasional (mikro) guna meningkatkan kesiapsiagaan dan ketahanan rumah sakit di wilayah berisiko bencana tinggi (Provinsi Jawa Barat). Penelitian ini menggunakan desain Exploratory Sequential Mixed Methods. Tahap kualitatif melibatkan 18 informan kunci (praktisi senior dan pakar manajemen bencana) untuk mengidentifikasi 78 indikator modal sosial. Tahap kuantitatif melibatkan 110 responden dari 5 tipologi rumah sakit di Jawa Barat (RS Vertikal, RSUD, dan RS Swasta) yang dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling (SEM-PLS). Kualitatif Tahap 2 pada 5 RS mewawancara 34 informan. Tahap akhir adalah rekonstruksi model melalui validasi konsensus ahli. Analisis SEM-PLS menunjukkan bahwa Modal Sosial berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kesiapsiagaan (0,872) dan Ketahanan (0,672), dengan nilai R-Square Ketahanan sebesar 85,2% (kategori sangat kuat). Penelitian ini memetakan tiga lapis kapital: 1) Bonding Capital (Internal RS) berbasis organizational trust dan nilai spiritual ("Employee of Allah"); 2) Bridging Capital (Horizontal) melalui jejaring lintas faskes/organisasi profesi berbasis resiprositas; dan 3) Linking Capital (Vertikal) melalui agile governance dengan otoritas (Kemenkes/BPBD). Temuan menunjukkan adaptasi kontekstual yang khas: RS Vertikal mengandalkan bridging untuk rujukan makro; RSUD memanfaatkan kearifan lokal "Saduluran" untuk substitusi fiskal daerah; dan RS Swasta Filantropi menggunakan kekuatan identitas sosial untuk pertahanan bottom-up yang lincah. Model Social capital merupakan strategi optimasi non-fiskal yang mentransformasikan jejaring manusia menjadi kapasitas resiliensi nyata. Model ini merekomendasikan integrasi elemen penilaian modal sosial dalam Standar Akreditasi Rumah Sakit (Bab MFK) dan penguatan kurikulum sosiologi kebencanaan pada pendidikan manajemen kesehatan untuk memutus siklus repitisi kesalahan manajemen krisis.

The vulnerability of hospitals in Indonesia in dealing with disasters can be seen from the low average Hospital Emergency Disaster Management index (0.408) and the failure of physical infrastructure (hard resilience) during peak loads (surge capacity), such as in the COVID-19 pandemic and earthquakes. Social capital has the potential to become a "non-physical organizational infrastructure" (soft resilience) that is able to substitute fiscal and bureaucratic limitations, but its optimization has not been formulated in a structured manner in hospital disaster management. This research aims to analyze, synthesize, and reconstruct the Social capital Model through the integration of strategic (macro) and operational (micro) perspectives to improve hospital preparedness and resilience in high-risk disaster areas (West Java Province). This study uses the design of Exploratory Sequential Mixed Methods. The qualitative stage involved 18 key informants (senior practitioners and disaster management experts) to identify 78 social capital indicators. The quantitative stage involved 110 respondents from 5 hospital typologies in West Java (Vertical Hospitals, Hospitals, and Private Hospitals) which were analyzed using Structural Equation Modeling (SEM-PLS). Qualitative Phase 2 at 5 hospitals interviewed 34 informants. The final stage is the reconstruction of the model through expert consensus validation. The SEM-PLS analysis shows that Social capital has a positive and significant effect on Preparedness (0.872) and Resilience (0.672), with an R-Square value of Resilience of 85.2% (very strong category). This study maps three layers of capital: 1) Bonding Capital (Internal RS) based on organizational trust and spiritual values ("Employee of Allah"); 2) Bridging Capital (Horizontal) through a network of reciprocity-based health facilities/professional organizations; and 3) Linking Capital (Vertical) through agile governance with authorities (Ministry of Health/BPBD). The findings show typical contextual adaptations: Vertical RS relies on bridging for macro references; The hospital utilizes the local wisdom of "Duluran" for regional fiscal substitution; and Philanthropy Private Hospitals use the power of social identity for nimble bottom-up defenses. The social capital model is a non-fiscal optimization strategy that transforms human networks into real resilience capacity. This model recommends the integration of social capital assessment elements in Hospital Accreditation Standards (MFK Chapter) and strengthening the disaster sociology curriculum in health management education to break the cycle of repetition of crisis management errors.
Read More
D-643
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Novita Lubis; Promotor: Sudarto Ronoatmodjo; Kopromotor: Besral, Evi Martha; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Ratna Djuwita, Isbandi Rukminto Adi, R. Kintoko Rochadi, Soewarta Kosen, Ajeng Tias Endarti
Abstrak:
Erupsi gunung berapi berdampak pada kualitas hidup kesehatan pada masyarakat yang tinggal di daerah bencana, khususnya remaja. Modal sosial merupakan sumber daya potensial dalam meningkatkan kualitas hidup kesehatan remaja. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan modal sosial dengan kualitas hidup kesehatan pada remaja yang terdampak bencana erupsi Gunung Sinabung Kabupaten Karo Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini merupakan penelitian mixed methods dengan embedded sequential design dimana penelitian kualitatif (tahap 1) memberikan peran pendukung sekunder dalam penelitian utama kuantitatif (tahap 2) yang kemudian dilanjutkan dengan penelitian kualitatif (tahap 3) untuk menjelaskan temuan-temuan pada penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif menggunakan desain cross sectional. Kualitas hidup kesehatan diukur menggunakan kuesioner Pediatric Quality of Life InventoryTM (PedsQLTM) versi 4.0 pada 318 responden berusia 10-18 tahun dengan menggunakan teknik simple random sampling. Data kuantitatif dianalisis menggunakan Regresi Cox. Penelitian kualitatif dengan desain Rapid Assessment Procedure (RAP). Pengumpulan data kualitatif dengan observasi, diskusi kelompok terarah (DKT) dan wawancara mendalam. Hasil penelitian diperoleh proporsi kualitas hidup kesehatan yang buruk sebesar 45,4%. Proporsi remaja dengan modal sosial individu yang rendah sebesar 69,4% dan modal sosial komunitas yang rendah sebesar 47,4%. Modal sosial individu berhubungan dengan kualitas hidup kesehatan (PR = 2,224; 95% CI 1,424-2,473), sedangkan modal sosial komunitas bukan faktor risiko terhadap kualitas hidup kesehatan (PR = 1,017; 95% CI 0,601-1,721). Temuan kuantitatif ini didukung oleh temuan kualitatif bahwa modal sosial pada level individu yang berperan pada kualitas hidup kesehatan yang buruk pada remaja meliputi belum terpenuhinya rasa aman dari erupsi Gunung Sinabung pada remaja yang tidak di relokasi dan remaja membutuhkan rasa aman dari tindak kejahatan; pengalaman yang kurang menyenangkan selama tinggal di pengungsian sementara; kurang akrabnya hubungan sesama anggota masyarakat semenjak tinggal di relokasi; partisipasi remaja rendah dalam organisasi karena rendahnya aksesibilitas transportasi; dan kewajiban yang menjadi beban bagi remaja terutama remaja yang tidak di relokasi. Meskipun modal sosial komunitas bukan faktor risiko kualitas hidup kesehatan remaja, namun secara kualitatif memiliki peran bagi kualitas hidup kesehatan remaja seperti orang tua memanfaatkan keanggotaan dalam organisasi ekonomi untuk biaya pendidikan remaja dan pemanfaatan ruang publik seperti lapangan olahraga dan jambur oleh remaja di relokasi pemerintah yang memberikan kesempatan kepada remaja untuk berinteraksi sosial dengan teman sebayanya dan masyarakat sekitar. Berdasarkan temuan penelitian ini, hendaknya pemerintah daerah dapat memanfaatkan dan melakukan penguatan modal sosial baik pada level individu dan komunitas untuk meningkatkan kualitas hidup kesehatan remaja yang terdampak bencana dengan mempertimbangkan jenis relokasi dan kelompok umur.

Volcanic eruptions impact the health and quality of life of people living in disaster areas, especially adolescents. Social capital is a potential resource for improving adolescents’s health-related quality of life. This study aimed to determine the relationship between social capital and health-related quality of life among adolescents affected by the eruption of Mount Sinabung, Karo Regency, North Sumatra Province. This study is a mixed-methods study with an embedded sequential design. A qualitative study (phase 1) provides a secondary supporting role in the main quantitative study (phase 2), which is then followed by a qualitative study (phase 3) to explain the findings in the main quantitative research. Quantitative research using a cross-sectional design. Health-related quality of life was measured using the Pediatric Quality of Life InventoryTM (PedsQLTM) version 4.0 questionnaire on 318 respondents aged 10-18 years using a simple random sampling technique. Quantitative data were analyzed using Cox Regression. Qualitative approach using a Rapid Assessment Procedure (RAP) design. Qualitative data were collected through observation, focus group discussions (FGDs), and in-depth interviews. The results showed that the proportion of poor health-related quality of life was 45.4%. The proportion of adolescents with low individual social capital was 69.4% and low community social capital was 47.4%. Individual social capital was associated with health-related quality of life (PR = 2,224; 95% CI 1,424-2,473), while community social capital was not a risk factor for adolescents' health-related quality of life (PR = 1,017; 95% CI 0,601-1,721). This quantitative finding is supported by the qualitative finding that individual-level social capital that contributes to poor quality of life in adolescents includes the unfulfilled sense of security from the eruption of Mount Sinabung in adolescents who are not relocated and adolescents need a sense of protection from crime; unpleasant experiences while living in temporary refugee camps; lack of familiarity with fellow community members since living in relocation; low participation of adolescents in organizations due to low transportation accessibility; and obligations that become a burden for adolescents, especially adolescents who are not relocated. Although community social capital is not a risk factor for adolescents' health quality of life, it qualitatively plays a role in adolescents' health quality of life, such as adolescents' parents utilizing membership in economic organizations for adolescents' education expenses and the use of public spaces such as sports fields and jambur by adolescents in government relocations that provide opportunities for adolescents to interact socially with their peers and the surrounding community. Based on this study's findings, local governments should be able to utilize and strengthen social capital at both the individual and community levels to improve the quality of life of disaster-affected adolescent health by considering the type of relocation and age group.
Read More
D-556
Depok : FKM UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive