Ditemukan 13 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Devi Felicia, Felix Chikita Fredy, William Jayadi Iskandar
JIMKI Vol.1, No.1
Jakarta : SM-IKM FK-UI, 2010
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mohammad Zen Rahfiludin, Siti Fatimah Pradigdo
MGMI Vol.5, No.1
Magelang : Balitbang GAKI Kemenkes RI, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Chuzaemah; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Endang Laksminingsih, Fatmah, Itje Aisah, Eti Rohati
Abstrak:
Anemia merupakan salah satu masalah gizi, yang perlu mendapat perhatian khusus. Remaja putri termasuk golongan yang rawan menderita anemia karena mengalami mensturasi setiap bulan dan sedang dalam masa petumbuhan. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan efektifitas suplementasi TTD program lama dan baru Kemenkes terhadap perubahan kadar hemoglobin siswi anemia di Kabupaten Bengkulu Utara. Rancangan penelitian randomized control group pretest dan postest. Subyek penelitian dikelompokkan menjadi 2 kelompok perlakuan yaitu kelompok A (19 siswi) diberi suplementasi program lama (satu tablet per minggu dan satu tablet selama haid) dan kelompok B (19 siswi) diberi suplementasi program baru (satu tablet per minggu). Pemberian suplementasi TTD diminum di depan peneliti diberikan selama 8 minggu. Data asupan zat gizi diperoleh dengan kuesioner food recall, lama haid, lama menarche, kebiasaan minum teh atau kopi, pengetahuan tentang anemia dan TTD diperoleh melalui kuesioner berstruktur, kadar Hb awal dan akhir dengan cyanmethemoglobin. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan efektifitas perubahan kadar Hb pada kedua kelompok intervensi (p=0.402) dan tidak ada hubungan bermakna antara variabel internal dan eksternal terhadap perubahan kadar hemoglobin siswi kecuali Hb awal (p=0.001) dengan rata-rata perubahan Hb siswi kelompok A sebesar 1.77 g/dl sedangkan kelompok B sebesar 1.44 g/dl. Kata kunci : zat besi , suplementasi, perubahan hemoglobin, anemia, remaja putri Anemia is one of the nutritional problems, which needs to be highly concerned. Adolescent girls are included to a group which is susceptible to anaemia because of their monthly menstruation and gowth periods. This study aims to investigate difference effectiveness between old and new programs of the ministry iron supplementation in changes hemoglobin level among anemic students in Kabupaten Bengkulu Utara. Design of this study is randomized control group pretest dan posttest.Subjects were randomized into two groups, group A (19 subjects) old program supplementation ( once per week and once per day in menstrual period) and group (B) new program supplementation (once per week). Supplementation of iron tablet was given for a consecutive 8 weeks. Nutrient intake obtained with the food recall questionnaire, days menstruation, menarche, drinking tea or kopi , knowledge anemia and iron tablet through structured questionnaire and level of hemoglobin by cymenthemoglobin. The study shows no difference found in the change of hemoglobin level of the two groups (p=0.402) and internal and external variable were not significantly in the change of hemoglobin level except early hemoglobin with mean hemoglobin change in old program supplementation was 1.77 g/dl while in new program supplementation the change was 1.44 g/dl. Keyword : iron, supplementation, change of hemoglobin level, anemia, adolescent girls
Read More
T-5039
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hidayati Agustiani; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Yosnelli
S-6556
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nurmala Selly Saputri; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Soedarto Ronoatmodjo, Christiana R. Titaley
Abstrak:
Pendahuluan: Data lima tahun terakhir menunjukkan peningkatan cakupan pemeriksaan antenatal di Indonesia. Selain itu lebih dari 75 persen ibu telahmenerima tablet besi selama kehamilan. Namun, tren penurunan kematian neonatal di Indonesia justru mengalami perlambatan bahkan cenderung tetap. Tujuan: Mempelajari pengaruh suplementasi tablet besi dan pemeriksaan antenatal dengan kejadian kematian neonatal di Indonesia. Metode: Analisis multivariabel dengan regresi logistik ganda pada semua responden dengan riwayat kelahiran anak terakhir yang terjadi dalam kurun waktu lima tahun sebelum survei. Didapatkan 198 kematian neonatal pada 15.126 kelahiran hidup tunggal. Hasil: Suplementasi tablet besi pada ibu hamil memberikan proteksi pada kejadian kematian neonatal. Ternyata, ada beda pengaruh suplementasi tablet besipada ibu yang melakukan pemeriksaan antenatal dan tidak melakukan pemeriksaan antenatal. Pengaruh yang tidak mengonsumsi tablet besi dapat meningkatkan odds kematian neonatal 1,4 lebih besar pada ibu yang melakukan pemeriksaan antenatal sedangkan pengaruh tidak dapat suplementasi tablet besipada ibu hamil meningkatkan odds kematian neonatal 13,4lebih besar pada ibuyang tidak melakukan pemeriksaan antenatal. Interaksi tersebut menunjukkan pengaruh yang sangat kuat dari suplementasi tablet besi pada ibu hamil di Indonesia terhadap kematian neonatal. Simpulan & Saran: Suplementasi tablet besi pada ibu hamil sangat pentingdalam menurunkan kematian neonatal di Indonesia. Diperlukan upaya khusus agar setiap wanita hamil di Indonesia mengosumsi tablet besi selama kehamilannya. Prioritas lain adalah program yang mampu mengurangi kejadian anemia pada wanita sejak remaja.
Kata kunci: Kematian neonatal, pemeriksaan antenatal, suplementasi tablet besi
Background: Data in the last five years shows an increase in antenatal carecoverage in Indonesia. In addition, more than 75 percent mothers had receivediron tablets during pregnancy. However, the neonatal mortality trend in Indonesiaexperienced a slowdown even stagnant. Moreover, coverage of neonatal mortalityin infant mortality has increased over time.Objective: The objective of this study is to determine influenceof iron tabletssupplementation and antenatal care with neonatal mortality in Indonesia.Methods: Multivariable analysis with logistic regression is used to analyze themost recently born infant in five years. The analysis finds 198 neonatal deaths in15.126 single live births.Result: Iron tablets supplementation on pregnant women reduce risk on neonatalmortality. Apparently, there are different influences of iron tabletssupplementation in mothers who perform and not perform antenatal care. Theodds ratio of not taking iron tablets increase the risk of neonatal death 1.4 timeshigher for mothers with antenatal care while the influence not taking iron tabletsupplementation in pregnant women increases the risk of neonatal mortality of13.4 times higher for mothers with no antenatal care. The interaction shows a verystrong influence of iron tablets supplementation to pregnant women againstneonatal mortality in Indonesia.Conclusion & suggestion: Iron tablets supplementation gives important role topregnant women in reducing neonatal mortality in Indonesia. Special efforts areneeded so that every pregnant woman in Indonesia takes iron tablets duringpregnancy. Another priority is a program that is able to reduce anemia in womenas a teenager.Suggestion: Need a special effort to reduce anemia in pregnant women with irontablets supplementations since girls start adolescence.
Keywords: Neonatal mortality, antenatal care, iron tablets supplementation
Read More
Kata kunci: Kematian neonatal, pemeriksaan antenatal, suplementasi tablet besi
Background: Data in the last five years shows an increase in antenatal carecoverage in Indonesia. In addition, more than 75 percent mothers had receivediron tablets during pregnancy. However, the neonatal mortality trend in Indonesiaexperienced a slowdown even stagnant. Moreover, coverage of neonatal mortalityin infant mortality has increased over time.Objective: The objective of this study is to determine influenceof iron tabletssupplementation and antenatal care with neonatal mortality in Indonesia.Methods: Multivariable analysis with logistic regression is used to analyze themost recently born infant in five years. The analysis finds 198 neonatal deaths in15.126 single live births.Result: Iron tablets supplementation on pregnant women reduce risk on neonatalmortality. Apparently, there are different influences of iron tabletssupplementation in mothers who perform and not perform antenatal care. Theodds ratio of not taking iron tablets increase the risk of neonatal death 1.4 timeshigher for mothers with antenatal care while the influence not taking iron tabletsupplementation in pregnant women increases the risk of neonatal mortality of13.4 times higher for mothers with no antenatal care. The interaction shows a verystrong influence of iron tablets supplementation to pregnant women againstneonatal mortality in Indonesia.Conclusion & suggestion: Iron tablets supplementation gives important role topregnant women in reducing neonatal mortality in Indonesia. Special efforts areneeded so that every pregnant woman in Indonesia takes iron tablets duringpregnancy. Another priority is a program that is able to reduce anemia in womenas a teenager.Suggestion: Need a special effort to reduce anemia in pregnant women with irontablets supplementations since girls start adolescence.
Keywords: Neonatal mortality, antenatal care, iron tablets supplementation
S-8203
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Willy Wildan Saputra; Pembimbing: Endang L. Achadi; Penguji: Sandra Fikawati, Rahmawati
S-9462
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Gabriela Sanjaya; Pembimbing: Endang Laksminingsih Achadi; Penguji: Trini Sudiarti, Rahmawati
Abstrak:
Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak yangterjadi sebagai akibat dari buruknya asupan makan anak, kejadian infeksi yangberulang, dan tidak adekuatnya stimulasi psikosoial. Tujuan dari penelitian iniadalah untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan kejadianstunting pada anak usia 6-23 bulan di Jakarta Barat tahun 2017. Penelitiandilakukan dengan desain cross sectional, menggunakan data primer denganjumlah sampel sebanyak 210 anak yang diambil dengan teknik multistage randomsampling dari 12 Posyandu pada 6 kelurahan dari 3 kecamatan di Jakarta Barat.Pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan pengukuran panjang badananak dan melakukan wawancara dengan responden. Hasil penelitianmemperlihatkan bahwa sebanyak 16,2% anak usia 6-23 bulan di Jakarta Baratmengalami stunting. Hasil analisis bivariat dengan uji chi-square menemukanbahwa faktor-faktor yang berhubungan secara bermakna dengan kejadian stuntingpada anak usia 6-23 bulan di Jakarta Barat adalah suplementasi vitamin A(OR=3,62; 90% CI 1,144-8,939) dan tingkat pendidikan ibu (OR=2,40; 90% CI1,167-4,885). Hasil analisis multivariat dengan analisis regresi logistik gandamenemukan bahwa suplementasi vitamin A merupakan faktor dominan darikejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Jakarta Barat tahun 2017 setelahdikontrol oleh variabel capaian MAD, praktik pemberian kolostrum, dan tingkatpendidikan ibu (OR=4,00; 90% CI 1,402-11,436). Berdasarkan hasil penelitian,saran untuk pihak Suku Dinas Kota Administrasi Jakarta Barat adalah perludilakukan assessment untuk mengetahui mengapa anak yang masih berusia kurangdari 6 bulan sudah diberikan susu formula, cakupan mendapatkan suplementasivitamin A harus ditingkatkan hingga mencapai 100%, perlu dilakukan penyediaanalat antropometri panjang badan yang baku untuk setiap Puskesmas danPosyandu, dan perlu dilakukan pelatihan mengenai prosedur yang baik dan benardalam mengukur panjang badan anak; saran untuk pihak Puskesmas dan Posyanduadalah perlu dilakukan pemantauan status gizi berdasarkan indeks PB/U setiap 3bulan sekali, perlu dilakukan pelatihan prosedur panjang badan kepada kader,perlu dilakukan edukasi kepada masyarakat mengenai praktik pemberian makanyang tepat dan pemanfaatan pelayanan kesehatan bagi anak; saran untuk penelitilain adalah penelitian perlu dilakukan pada skala yang lebih besar (baik dari sisijumlah sampel maupun wilayah), penggunaan variabel capaian minimum dietarydiversity, minimum meal frequency, dan minimum acceptable diet sebaiknyadigunakan secara berhati-hati dan pengukurannya dilakukan 2-3 kali pada hariyang berbeda, serta perlu dilakukan 24-hour dietary recall untuk mengetahuikeadekuatan asupan makan anak.Kata kunci: stunting, suplementasi vitamin A, usia 6-23 bulan.
Read More
S-9444
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Apit Novianti; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Kusharisupeni Djokusojono, Rivani Noor
S-9468
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Suplementasi zat besi dan kejadian malaria pada ibu hamil di wilayah endemis di kabupaten Pandeglang
Ritanugraini; Promotor: Nasrin Kodim; Kopromotor: Ratu Ayu Dewi Sartika, Syafruddin; Penguji: Inge Sutanto, Lukman Hakim, Abas Basuni Jahari, Kholis Ernawati
D-337
Depok : FKM-UI, 2016
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rizqi Firdiana Lubis; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Sandra Fikawati, Dhora Yufita N
Abstrak:
Read More
Penelitian ini dilatar belakangi oleh perbedaan proporsi kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) berdasarkan tingkat konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD). Kejadian BBLR diketahui lebih tinggi pada ibu hamil yang tidak mengkonsumsi TTD sesuai anjuran, sehingga menimbulkan dugaan adanya hubungan antara konsumsi TTD dengan berat badan lahir bayi. Namun, sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan hasil yang tidak konsisten terkait hubungan ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara konsumsi TTD selama kehamilan dengan berat badan bayi saat lahir. Desain studi yang digunakan adalah cross-sectional dengan pendekatan analisis data sekunder yang bersumber dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Sampel penelitian mencakup 51.797 ibu yang dalam lima tahun terakhir melahirkan bayi hidup dan tercatat pernah menerima atau membeli TTD selama kehamilan. Rata-rata berat badan lahir bayi adalah 3.101 gram, sedangkan rata-rata konsumsi TTD oleh ibu hamil sebanyak 70 tablet, masih di bawah rekomendasi pemerintah. Hasil analisis menunjukkan nilai korelasi (r) sebesar 0,007 dan p-value 0,126, yang menandakan tidak adanya hubungan signifikan antara konsumsi TTD dengan berat badan lahir bayi. Variabel lain seperti kepemilikan jaminan kesehatan dan paparan asap rokok juga tidak menunjukkan hubungan signifikan. Namun, faktor seperti pendidikan ibu, paritas, tempat tinggal, risiko kehamilan, kunjungan ANC, dan usia kehamilan saat pertama kali mendapat TTD menunjukkan hubungan yang signifikan.Kata kunci: Informasi, information literacy, information skills
This study was motivated by differences in the proportion of Low Birth Weight (LBW) cases based on the level of iron supplementation consumption. LBW incidence was found to be higher among pregnant women who did not consume iron supplementation according to recommendations, raising the assumption that there may be a relationship between supplementation consumption and infant birth weight. However, several previous studies have shown inconsistent results regarding this association. The aim of this study was to analyze the relationship between iron supplementation consumption during pregnancy and infant birth weight. The study used a cross-sectional design with a secondary data analysis approach, utilizing data from the 2023 Indonesia Health Survey. The sample included 51,797 mothers who had delivered a live baby in the past five years and were recorded as having received or purchased iron supplementation during pregnancy. The average birth weight of the infants was 3,101 grams, while the average TTD consumption among pregnant women was 70 tablets, still below the government's recommended amount. The analysis results showed a correlation coefficient (r) of 0.007 and a p-value of 0.126, indicating no significant relationship between iron supplementation consumption and infant birth weight. Other variables such as health insurance ownership and exposure to cigarette smoke also showed no significant relationship. However, factors such as maternal education, parity, place of residence, pregnancy risk, ANC visits, and gestational age at first TTD intake showed significant associations.
This study was motivated by differences in the proportion of Low Birth Weight (LBW) cases based on the level of iron supplementation consumption. LBW incidence was found to be higher among pregnant women who did not consume iron supplementation according to recommendations, raising the assumption that there may be a relationship between supplementation consumption and infant birth weight. However, several previous studies have shown inconsistent results regarding this association. The aim of this study was to analyze the relationship between iron supplementation consumption during pregnancy and infant birth weight. The study used a cross-sectional design with a secondary data analysis approach, utilizing data from the 2023 Indonesia Health Survey. The sample included 51,797 mothers who had delivered a live baby in the past five years and were recorded as having received or purchased iron supplementation during pregnancy. The average birth weight of the infants was 3,101 grams, while the average TTD consumption among pregnant women was 70 tablets, still below the government's recommended amount. The analysis results showed a correlation coefficient (r) of 0.007 and a p-value of 0.126, indicating no significant relationship between iron supplementation consumption and infant birth weight. Other variables such as health insurance ownership and exposure to cigarette smoke also showed no significant relationship. However, factors such as maternal education, parity, place of residence, pregnancy risk, ANC visits, and gestational age at first TTD intake showed significant associations.
S-12070
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
