Ditemukan 47 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Roselinda, Vivi Setiawaty
HSJI Vol. 6, No. 2
Jakarta : Lembaga Penerbit Balitbangkes NIHRD, 2015
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Tuti Nuraini, Madarina Julia, Djaswadi Dasuki
KJKMN Vol.7, No.12
Depok : FKM UI, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hubungan Kosentrasi PM 2,5 di Lingkungan Kerja Pengasapan Ikan Bandarharjo, Kota Semarang Tahun 2019
Luthfia Andayani; Pembimbing: Suyud; Penguji: Umar Fahmi Achmadi, Laila Fitria, Sulistiono; Tugiyo
Abstrak:
Tesis ini membahas tentang hubungan konsentrasi PM 2,5 di lingkungan kerja Pengasapan Ikan Bandarharjo, Kota Semarang. Sampel pada penelitian ini adalah pekerja pengasapan ikan Bandarharjo, pengumpulan data terkait fungsi paru dilakukan pengukuran terhadap kapasitas fungsi paru, dan karakteristik pekerja dilakukan dengan wawancara. Sementara pemeriksaan konsentrasi PM 2,5 di lingkungan kerja pengasapan ikan dilakukan pengukuran sampel udara. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Hasil penelitian menyebutkan bahwa secara statistik tidak ada hubungan yang signifikan antara konsentrasi PM 2,5 dengan gangguan fungsi paru pekerja pengasapan ikan Bandarharjo, namun secara substantsi disebutkan bahwa terdapat hubungan antara jenis kelamin, status gizi, riwayat penyakit dan status merokok. Kata kunci: PM 2,5, pengasapan ikan, fungsi paru pekerja
Read More
T-5701
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Raras Sekar Karyaningtyas; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Tiara Amelia, Rias Nur Wulandari
Abstrak:
Read More
Hipertensi merupakan masalah kesehatan global yang sangat signifikan terjadi terutama di kalangan pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan hipertensi pada karyawan PT Hutama Karya (Persero) Divisi Sipil Umum tahun 2024. Penelitian ini bersifat survey analitik dengan menggunakan metode cross sectional, dilaksanakan pada bulan Desember 2024 dengan sampel karyawan sebanyak 140 orang. Pengumpulan data menggunakan self administered questionnaire dengan google form meliputi variabel dependen yaitu perilaku pencegahan hipertensi dan variabel independen dari penelitian ini yaitu faktor predisposisi (usia, jenis kelamin, pendidikan, riwayat hipertensi keluarga, pengetahuan hipertensi), faktor pemungkin (pemanfaatan fasilitas kesehatan perusahaan) dan faktor penguat (dukungan keluarga). Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada hubungan faktor predisposis, faktor pemungkin dan faktor penguat terhadap perilaku pencegahan hipertensi pada karyawan PT Hutama Karya (Persero) Divisi Sipil Umum dengan nilai p-value >0,05. Perilaku pencegahan hipertensi pada karyawan dengan hasil sebanyak 120 orang responden (85,7%) cenderung kurang dalam berperilaku pencegahan hipertensi. Perlunya Pengembangkan strategi promosi kesehatan yang berkesinambungan dengan pemanfaatan teknologi serta membentuk komunitas kesehatan untuk saling mendukung dan bertukar informasi menjadi hal penting untuk meningkatkan perilaku pencegahan hipertensi di kalangan pekerja.
Hypertension is a very significant global health problem that occurs especially among workers. This study aims to determine the factors associated with hypertension prevention behavior in employees of PT Hutama Karya (Persero) General Civil Division in 2024. This study is an analytical survey using a cross sectional method, conducted in December 2024 with a sample of 140 employees. Data collection using a self-administered questionnaire with google form includes the dependent variable, namely hypertension prevention behavior and the independent variables of this study, namely predisposing factors (age, gender, education, family history of hypertension, knowledge of hypertension), enabling factors (utilization of company health facilities) and reinforcing factors (family support). The results of this study indicate that there is no relationship between predisposing factors, enabling factors and reinforcing factors on hypertension prevention behavior in employees of PT Hutama Karya (Persero) General Civil Division with a p-value> 0.05. Hypertension prevention behavior in employees with the results of 120 respondents (85.7%) tended to be lacking in hypertension prevention behavior. The study highlights the need for continuous health promotion strategies utilizing technology and the formation of health communities to foster mutual support and information exchange. These measures are essential for improving hypertension prevention behaviors among employees.
S-11818
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Krisna Murti Tri Putranto; Pembimbing: Ridwan Zahdi Syaaf; Penguji: Chandra Sartya, Dadan Erwandi, Bama Herdiana Gusmara, Hasbullah
Abstrak:
Kecelakaan kerja seringkali disebabkan oleh perilaku tidak aman. Program Behavior Based Safety memiliki peranan penting dalam menciptakan zero accidents. Implementasi dari program BBS memfokuskan pada observasi dimana dari observasi tersebut akan membentuk suatu kewaspadaan terhadap perilaku tidak aman dan meningkatkan perilaku aman. PT X sudah menerapkan program BBS dari tahun 2008-2016 dan didapatkan hasil evaluasi internal yang cukup baik, akan tetapi setelah ditanyakan secara langsung terhadap observer (karyawan), ditemukan praktik observasi yang tidak sesuai dengan kaidah BBS yang sudah disepakati yang mana hal ini dapat mempengaruhi hasil evaluasi internal PT X, dimana hal ini ditunjukkan ketika reinforcement ditiadakan, jumlah observer mengalami penurunan sebesar 68,2%. Tujuan penelitian ini mengevaluasi program BBS yang ada di PT X. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Evaluasi yang dilakukan menggunakan 3 parameter besar, dengan total 8 sub parameter dengan penyebaran kuesioner terhadap divisi operasional, perawatan, tim pendukung ( Field Engineering Support, Laboratory, Medical dan Facility Management). Hasil analisis data menyebutkan bahwa evaluasi internal yang dilakukan oleh PT X masih kurang dimana terdapat unsur-unsur yang belum dimasukkan dalam evaluasi tersebut, antara lain keterlibatan pekerja dalam penentuan baseline, goal setting dan komitmen pekerja dan manajemen dalam pemberian feedback. Dan ditemukan bahwa reinforcement merupakan faktor penting dalam menjalankan program BBS ini. Key words: BBS, involvement, worker and management commitment, consistency program plays an important role to create zero accidents. The implementation of behavior-based safety program is focused to observe the behavior which is in observation will create unsafe behavior awareness and improve safe behavior. PT X has implemented BBS program from 2008-2016 and got good internal evaluation results, but after crosscheck directly to observer (employee), found observation practice which is not in accordance with BBS rules which it can influence the results of internal evaluation PT X, indicated when reinforcement is eliminated, the number of observers decreased by 68.2%. The purpose of this study is to evaluate the BBS program in PT X. This research is a descriptive research with quantitative approach. The evaluation was conducted using 3 large parameters, with a total of 8 subparameters with questionnaires distributed to the operational, maintenance, support gorup (Field Engineering Support, Laboratory, Medical and Facility Management) divisions. The results of the data analysis indicate that the internal evaluation conducted by PT X is still lacking where there are elements that have not been included in the evaluation, including the involvement of workers in determining the baseline, goal setting and commitment of workers and management in giving feedback. And found that reinforcement is an important factor in implementing BBS program. Key words: BBS, involvement, worker and management commitment, consistency
Read More
T-5064
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Jorunn Kirkeleit, Trond Riise, Tone Bjørge, David C. Christiani
Abstrak:
Use of the general population as a reference might cause serious underestimation of the risk of cancer in working populations because of the healthy worker effect. Using incidence rates, we studied how this underestimation varied according to subtypes of cancer by comparing a large cohort of randomly selected Norwegian workers hired between 1981 and 2003 (n = 366,114) with the general Norwegian population. The cohort was linked to the Cancer Registry of Norway, including all new cancer cases (n = 11,271) reported up to 2003. We found marked potential for the healthy worker effect for overall cancer incidence in male workers (standardized incidence ratio (SIR) = 0.91, 95% confidence interval: 0.89, 0.93) but not in female workers (SIR = 0.99, 95% confidence interval: 0.95, 1.03). A statistically significantly lower incidence was found among men for cancers of the head and neck (SIR = 0.78), lung (SIR = 0.81), prostate (SIR = 0.93), kidney (SIR = 0.83), and bladder (SIR = 0.77) and for leukemia (SIR = 0.80), whereas an increased incidence was found for malignant melanoma among both men (SIR = 1.09) and women (SIR = 1.29) and for ovarian cancer in women (SIR = 1.32). Depending on the type of cancer being studied, marked potential exists for both underestimation and overestimation of cancer risk when the general population is used as the reference for studies of worker populations.
Read More
AJE Vol.177, No.11
Oxford : Oxford University Press, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Stephen R. Cole, David B. Richardson, Haitao Chu, Ashley I. Naimi
Abstrak:
We employed the parametric G formula to analyze lung cancer mortality in a cohort of textile manufacturing workers who were occupationally exposed to asbestos in South Carolina. A total of 3,002 adults with a median age of 24 years at enrollment (58% male, 81% Caucasian) were followed for 117,471 person-years between 1940 and 2001, and 195 lung cancer deaths were observed. Chrysotile asbestos exposure was measured in fiber-years per milliliter of air, and annual occupational exposures were estimated on the basis of detailed work histories. Sixteen percent of person-years involved exposure to asbestos, with a median exposure of 3.30 fiber-years/mL among those exposed. Lung cancer mortality by age 90 years under the observed asbestos exposure was 9.44%. In comparison with observed asbestos exposure, if the facility had operated under the current Occupational Safety and Health Administration asbestos exposure standard of < 0.1 fibers/mL, we estimate that the cohort would have experienced 24% less lung cancer mortality by age 90 years (mortality ratio = 0.76, 95% confidence interval: 0.62, 0.94). A further reduction in asbestos exposure to a standard of < 0.05 fibers/mL was estimated to have resulted in a minimal additional reduction in lung cancer mortality by age 90 years (mortality ratio = 0.75, 95% confidence interval: 0.61, 0.92).
Read More
AJE Vol.177, No.9
Oxford : Oxford University Press, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sita Amalia; Pembimbing: Ridwan Zahdi Sjaaf; Penguji: Dadan Erwandi, Baiduri Widanarko, Bama Herdiana Gusmara, Putu Grahita Teja
T-4933
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Indra Kusuma; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi
Abstrak:
Pemakaian Alat Pelindung Pendengaran (APD telinga) merupakan tahap akhir dari hirarki pengendalian kebisingan apabila pengendalian secara tehnik dan administrasi tidak berhasil dijalankan, karena susahnya untuk memantau perilaku pekerja dalam menggunakan APD telinga. Pada kenyataannya di PT.X dengan tingkat kebisingannya tinggi masih banyak pekerja yang tidak disiplin menggunakan APD telinga. Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku pekerja sehingga tidak menggunakan APD telinga tersebut.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari faktor-faktor yang berhubungan dengan Perilaku Penggunaan alat pelindung pendengaran (Hearing Protektor) pada pekerja di bagian Die Casting PT.X. tahun 2004, dan merupakan studi yang bersifat kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan. Rancangan penelitiannya adalah cross sectional, dengan sample penelitian berjumlah 66 orang pekerja, pengambilan data dilakukan dengan melakukan wawancara Sian observasi langsung, serta mengkaji data sekunder. Analisis data menggunakan analisis statistik yaitu analisis univariat, dilanjutkan analisis bivariat menggunakan uji chi-square, kemudian analisis multivariate menggunakan uji regresi logistik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 54,5% pekerja yang berperilaku tidak baik dalam penggunaan APD telinga dan 45,5 % pekerja yang berperilaku baik dalam penggunaan APD telinga. Berdasarkan hasil analisis bivariat diketahui terdapat hubungan yang bermakna antara variabel, pengetahuan tentang APD telinga, kebijakan dan pelatihan terhadap penggunaan APD telinga. Sedangkan variabel persepsi terhadap resiko, pengawasan dan ketersediaan fasilitas tidak berhubungan dengan penggunaan APD telinga. Begitu juga dari model regresi logistik diketahui bahwa variabel yang dominan menentukan adalah variabel pelatihan yang merupakan faktor eksternal.
Sebagai saran untuk tindak lanjut maka upaya yang dilakukan oleh pihak manajemen adalah dengan meningkatkan Pendidikan dan latihan secara rutin dan berkesinambungan kepada pekerja agar dapat menambah pengetahuan dan menumbuhkan sikap positif pekerja. Selain itu agar lebih tegas dalam memberikan sanksi apabila pekerja tidak menggunakan APD telinga dan diupayakan memberikan hadiah/penghargaan.
The Use of Hearing Protector is the last stage of noise control if technical control and Administration control cannot run well because it's difficult to supervise workers behavior in using hearing protector. Infact, in Die casting Unit PT.X with it's high level of noise, there are still many workers do not use the hearing protector.
The purpose of this research is to investigative factors related to workers behavior in using hearing protector at Die casting unit of PT.X Year 2004, and constitute of qualitative study then made it quantitative .The research use cross sectional design, with 66 workers as samples. Data are collected by using interview and direct observation beside secondary data. Data analyzed statically by using Chi-Square and logistic regression.
The result of the research showed that there were 54,5 % of workers did not use hearing protector appropriately. Based on bivariate analysis it is known that there is significant relation between variable : knowledge of hearing protector, policy, and training of using hearing protector. Onthe other side, variable : risk perception, supervising and facility of hearing protector didn't have significant relation with the use of hearing protector. Through logistic regression, it is known that the determinant variable in the workers behavior in using hearing protector is training variable representing factor of external.
Referring to the result of this research, I advise that management should intensify the information, improving Education and practice routinely and continual to worker so that can add knowledge and grow positive attitude of worker about using hearing protector as well as giving sanction to those without hearing protection. Worker should be rewarded or giving such appreciation especially to the workers who are discipline in using hearing protector.
Read More
Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari faktor-faktor yang berhubungan dengan Perilaku Penggunaan alat pelindung pendengaran (Hearing Protektor) pada pekerja di bagian Die Casting PT.X. tahun 2004, dan merupakan studi yang bersifat kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan. Rancangan penelitiannya adalah cross sectional, dengan sample penelitian berjumlah 66 orang pekerja, pengambilan data dilakukan dengan melakukan wawancara Sian observasi langsung, serta mengkaji data sekunder. Analisis data menggunakan analisis statistik yaitu analisis univariat, dilanjutkan analisis bivariat menggunakan uji chi-square, kemudian analisis multivariate menggunakan uji regresi logistik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 54,5% pekerja yang berperilaku tidak baik dalam penggunaan APD telinga dan 45,5 % pekerja yang berperilaku baik dalam penggunaan APD telinga. Berdasarkan hasil analisis bivariat diketahui terdapat hubungan yang bermakna antara variabel, pengetahuan tentang APD telinga, kebijakan dan pelatihan terhadap penggunaan APD telinga. Sedangkan variabel persepsi terhadap resiko, pengawasan dan ketersediaan fasilitas tidak berhubungan dengan penggunaan APD telinga. Begitu juga dari model regresi logistik diketahui bahwa variabel yang dominan menentukan adalah variabel pelatihan yang merupakan faktor eksternal.
Sebagai saran untuk tindak lanjut maka upaya yang dilakukan oleh pihak manajemen adalah dengan meningkatkan Pendidikan dan latihan secara rutin dan berkesinambungan kepada pekerja agar dapat menambah pengetahuan dan menumbuhkan sikap positif pekerja. Selain itu agar lebih tegas dalam memberikan sanksi apabila pekerja tidak menggunakan APD telinga dan diupayakan memberikan hadiah/penghargaan.
The Use of Hearing Protector is the last stage of noise control if technical control and Administration control cannot run well because it's difficult to supervise workers behavior in using hearing protector. Infact, in Die casting Unit PT.X with it's high level of noise, there are still many workers do not use the hearing protector.
The purpose of this research is to investigative factors related to workers behavior in using hearing protector at Die casting unit of PT.X Year 2004, and constitute of qualitative study then made it quantitative .The research use cross sectional design, with 66 workers as samples. Data are collected by using interview and direct observation beside secondary data. Data analyzed statically by using Chi-Square and logistic regression.
The result of the research showed that there were 54,5 % of workers did not use hearing protector appropriately. Based on bivariate analysis it is known that there is significant relation between variable : knowledge of hearing protector, policy, and training of using hearing protector. Onthe other side, variable : risk perception, supervising and facility of hearing protector didn't have significant relation with the use of hearing protector. Through logistic regression, it is known that the determinant variable in the workers behavior in using hearing protector is training variable representing factor of external.
Referring to the result of this research, I advise that management should intensify the information, improving Education and practice routinely and continual to worker so that can add knowledge and grow positive attitude of worker about using hearing protector as well as giving sanction to those without hearing protection. Worker should be rewarded or giving such appreciation especially to the workers who are discipline in using hearing protector.
T-1885
Depok : FKM UI, 2004
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fransisca May Henita; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji; Hendra, Gunawan Widjaja, Suparlan Hadi
Abstrak:
Keselamatan pasien merupakan prinsip dasar dari pelayanan kesehatan yangmemandang bahwa keselamatan merupakan hak bagi setiap pasien dalammenerima pelayanan kesehatan. Penelitian ini menggunakan disain penelitian cross sectional yang menggunakan pendekatan kuantitatif dengan sample 100 tenaga kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja tenaga kesehatan dalam upaya pelaksanaan program keselamatan pasien(patient safety). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja tenaga kesehatan dalam pelaksanaan program keselamatan pasien (patient safety) antara lain ketepatan identifikasi pasien, peningkatan komunikasi yang efektif, peningkatankeamanan obat yang perlu diwaspadai, kepastian tepat-lokasi, tepat-prosedur,tepat-pasien operasi, pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan dan pengurangan risiko pasien jatuh sudah tercapai secara optimal. Kata kunci : Kinerja Tenaga Kesehatan, Keselamatan pasien.
Read More
T-4177
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
