Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Anaka Irsa Santoso; Pembimbing: Fitri Kurniasari; Penguji: Laila Fitria, Raden Al Iman
Abstrak:
Kelelahan kerja (fatigue) merupakan kondisi yang dapat memengaruhi keselamatan dan kinerja operator alat berat di sektor pertambangan. Operator dump truck (DT) dan high dump truck (HD) bekerja dengan tuntutan fisik dan mental yang tinggi serta terpapar kondisi lingkungan kerja kabin. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor karakteristik individu dan lingkungan kerja kabin terhadap kejadian fatigue pada operator DT dan HD shift pagi di area tambang PT X, Kalimantan Utara. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan jumlah responden sebanyak 40 operator. Faktor karakteristik individu yang diteliti meliputi usia, masa kerja, durasi tidur, dan status hidrasi, sedangkan faktor lingkungan kerja kabin meliputi suhu, kelembapan, dan heat index. Tingkat kelelahan kerja diukur menggunakan kuesioner Subjective Self Rating Test (SSRT) dari Industrial Fatigue Research Committee (IFRC). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square, serta analisis Odds Ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelelahan kerja berada pada kategori rendah hingga sedang dengan rata-rata skor 43,6. Tidak terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara faktor karakteristik individu maupun lingkungan kerja kabin dengan kelelahan kerja (p > 0,05). Namun, durasi tidur (OR = 4,200) dan status hidrasi (OR = 1,320) menunjukkan kecenderungan risiko kelelahan kerja. Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan melalui pemeliharaan kebijakan fit to work dan penyediaan air minum di dalam kabin alat berat.

Work-related fatigue is a condition that can affect the safety and performance of heavy equipment operators in the mining sector. Dump truck (DT) and high dump truck (HD) operators perform tasks that require high physical and mental demands and are exposed to cabin working environment conditions. This study aimed to analyze the effect of individual characteristics and cabin working environment factors on fatigue among DT and HD operators during the morning shift at PT X mining area, North Kalimantan. This study employed a cross-sectional design involving 40 operators. Individual characteristics included age, length of employment, sleep duration, and hydration status, while cabin working environment factors consisted of temperature, humidity, and heat index. Fatigue level was measured using the Subjective Self Rating Test (SSRT) developed by the Industrial Fatigue Research Committee (IFRC). Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with the Chi-Square test, supported by Odds Ratio analysis. The results showed that fatigue levels among operators were classified as low to moderate, with a mean fatigue score of 43.6. No statistically significant association was found between individual characteristics or cabin working environment factors and fatigue (p > 0.05). However, sleep duration (OR = 4.200) and hydration status (OR = 1.320) showed a tendency toward increased fatigue risk. Therefore, maintaining the fit-to-work policy related to sleep duration and providing drinking water inside the cabin are recommended as preventive measures.
Read More
S-12206
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadya Putri Febriana; Pembimbing: Fitri Kurniasari; Penguji: Budi Hartono, Erik Suhendra
Abstrak:
Malaria masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Papua dan dipengaruhi oleh berbagai faktor kependudukan serta lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kepadatan penduduk, faktor iklim, dan deforestasi terhadap Annual Parasite Incidence (API) malaria di Papua tahun 2022–2024. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan pendekatan kuantitatif pada tingkat kabupaten/kota. Data yang digunakan merupakan data sekunder dari Kementerian Kesehatan RI, Kementerian Dalam Negeri RI, NASA POWER, dan Global Forest Watch. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji korelasi Spearman, serta analisis spasial dengan teknik overlay. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata API malaria mengalami fluktuasi, yaitu 78,82 per 1.000 penduduk pada tahun 2022, 71,21 per 1.000 penduduk pada tahun 2023, dan 91,73 per 1.000 penduduk pada tahun 2024. Kepadatan penduduk berhubungan signifikan dengan API malaria dengan arah negatif (p<0,001; r=-0,390), sedangkan suhu udara (p<0,001; r=0,345) dan deforestasi (p=0,003; r=0,274) berhubungan signifikan dengan arah positif. Kelembapan udara (p=0,740; r=0,030) dan curah hujan (p=0,803; r=-0,024) tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kepadatan penduduk, suhu udara, dan deforestasi berhubungan dengan API malaria di Papua tahun 2022–2024, sehingga faktor wilayah dan lingkungan perlu dipertimbangkan dalam upaya pengendalian malaria.

Malaria remains a public health problem in Papua and is influenced by various demographic and environmental factors. This study aimed to analyze the relationship between population density, climatic factors, deforestation, and Annual Parasite Incidence (API) of malaria in Papua from 2022 to 2024. This research used an ecological study design with a quantitative approach at the district/city level. Secondary data were obtained from the Ministry of Health of the Republic of Indonesia, the Ministry of Home Affairs of the Republic of Indonesia, NASA POWER, and Global Forest Watch. Data were analyzed using univariate analysis, bivariate analysis with Spearman correlation test, and spatial analysis using overlay techniques. The results showed that the average malaria API fluctuated from 78.82 per 1,000 population in 2022 to 71.21 per 1,000 population in 2023, and increased to 91.73 per 1,000 population in 2024. Population density was significantly associated with malaria API in a negative direction (p<0.001; r=-0.390), while air temperature (p<0.001; r=0.345) and deforestation (p=0.003; r=0.274) were significantly associated in a positive direction. Relative humidity (p=0.740; r=0.030) and rainfall (p=0.803; r=-0.024) showed no significant association with malaria API. This study concludes that population density, air temperature, and deforestation are associated with malaria API in Papua during 2022–2024; therefore, regional and environmental factors should be considered in malaria control efforts.
Read More
S-12234
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Laudita Syafa Kamila; Pembimbing: Fitri Kurniasari; Penguji: Ema Hermawati, Wahyu Pratama Putra
Abstrak:
Indeks kepadatan kecoa yang tinggi pada Tempat Pengelolaan Pangan (TPP) di Terminal Y Bandara X, khususnya pada September 2025, menunjukkan kondisi yang melebihi standar baku mutu kesehatan lingkungan (SBMKL) yaitu <2, sehingga dapat mengindikasikan adanya permasalahan sanitasi dan peningkatan risiko kesehatan masyarakat. Kecoa merupakan vektor mekanik berbagai patogen yang berpotensi mencemari pangan dan menularkan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kondisi lingkungan, meliputi faktor fisik lingkungan berupa suhu, kelembapan, dan pencahayaan, serta faktor sanitasi berupa saluran air limbah, dinding, lantai, tempat sampah, penyimpanan bahan pangan, non pangan, dan peralatan, serta langit-langit dengan indeks kepadatan kecoa di TPP Terminal Y Bandara X. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung kondisi sanitasi lingkungan, pengukuran faktor fisik lingkungan, serta pengukuran indeks kepadatan kecoa menggunakan sticky trap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu (p=0,002; OR=8,1), pencahayaan (p=0,000; OR=12,4), saluran air limbah (p=0,000; OR=12,0), tempat sampah (p=0,003; OR=5,712), serta penyimpanan bahan pangan, non pangan, dan peralatan (p=0,000; OR=25,2). Sementara itu, kelembapan, dinding, lantai, dan langit-langit tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik dengan indeks kepadatan kecoa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suhu, pencahayaan, saluran air limbah, tempat sampah, serta penyimpanan bahan pangan, non pangan, dan peralatan merupakan faktor penting yang perlu diperhatikan dalam pengendalian kecoa di TPP Terminal Y Bandara X melalui perbaikan sanitasi dan pengendalian kondisi lingkungan secara berkelanjutan.

High cockroach density in food handling facilities (TPPs) at Terminal Y, Airport X, particularly in September 2025, significantly exceeded the environmental health quality standard (SBMKL) of <2, indicating potential sanitation problems and increased public health risks. Cockroaches are mechanical vectors of various pathogens that may threaten food safety and contribute to disease transmission. This study aimed to analyze the relationship between environmental conditions, including physical environmental factors such as temperature, humidity, and lighting, as well as sanitation factors such as wastewater drainage, walls, floors, trash cans, food/non-food storage and equipment, and ceilings, with cockroach density in food handling facilities at Terminal Y, Airport X. This study used a quantitative observational design with a cross-sectional approach. Data were collected through direct observation of environmental sanitation, measurement of physical environmental factors, and assessment of cockroach density using sticky traps. The results showed a significant relationship between temperature (p=0.002; OR=8.1), lighting (p=0.000; OR=12.4), inadequate wastewater drainage (p=0.000; OR=12.0), improper food/non-food storage and equipment arrangement (p=0.000; OR=25.2), and poor trash management (p=0.003; OR=5.712). However, humidity, walls, floors, and ceilings did not show a statistically significant relationship with cockroach density. These findings indicate that temperature, lighting, wastewater drainage, trash management, and food/non-food storage and equipment arrangement are important factors in cockroach control in food handling facilities, and improvements in sanitation and environmental control are necessary to reduce environmental health risks at Airport X.
Read More
S-12235
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive