Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Melvin Ezekiel; Pembimbing: Rizka Maulida; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Nia Reviani
Abstrak:

Latar belakang: Inisiasi seksual adalah indikator utama dari kesehatan dan kesejahteraan seksual remaja. Sebagai kejadian transisi pada hidup individu, inisiasi seksual idealnya terjadi secara terencana atas persetujuan seluruh pihak yang melakukannya dengan relasi yang setara. Namun, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa terdapat berbagai risiko yang menyertai inisiasi seksual, terutama apabila dilakukan pada usia yang lebih awal.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan menemukan gambaran dan mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan inisiasi seksual pada remaja laki-laki dan remaja perempuan di Indonesia.
Metode: Dengan menggunakan desain potong lintang, penelitian ini melakukan analisis chi square dan regresi logistik terhadap 6.005 sampel remaja berusia 13 s.d. 17 tahun yang diperoleh dari Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja Tahun 2024. Terdapat tiga belas variabel yang diteliti dalam penelitian ini, yaitu inisiasi seksual sebagai variabel dependen; gender sebagai variabel penstratifikasi; serta status pendidikan, status pekerjaan, pengetahuan terkait HIV, konsumsi alkohol, konsumsi NAPZA, struktur keluarga, dukungan keluarga, status sosial ekonomi, status perkawinan, riwayat berpacaran, dan dukungan teman sebagai variabel independen. Adapun inisiasi seksual dalam penelitian ini didefinisikan sebagai pengalaman hubungan seksual pertama kali.
Hasil: Sebanyak 1,0% remaja berusia 13 s.d. 17 tahun di Indonesia pernah mengalami inisiasi seksual dengan rincian 0,7% pada remaja laki-laki dan 1,4% pada remaja perempuan. Penelitian ini juga menemukan bahwa determinan dari inisiasi seksual pada remaja meliputi status bekerja pada remaja laki-laki (aOR: 5,30; 95% CI: 1,75—16,09); pernah mengonsumsi alkohol seumur hidup pada remaja secara gabungan (aOR: 7,30; 95% CI: 3,71—14,33), remaja laki-laki (aOR: 9,17; 95% CI: 3,06—27,44), dan remaja perempuan (aOR: 5,71; 95% CI: 1,59—20,54); status telah menikah pada remaja secara gabungan (aOR: 1.059,50; 95% CI: 226,60—4.953,98) dan remaja perempuan (aOR: 451,08; 95% CI: 76,84—2.648,17); dan riwayat pernah berpacaran pada remaja secara gabungan (aOR: 9,51; 95% CI: 4,21—21,45), remaja laki-laki (aOR: 6,81; 95% CI: 1,68—27,70), dan remaja perempuan (aOR: 8,67; 95% CI: 3,13—24,06). Adapun status sosial ekonomi rendah-sedang memiliki hubungan negatif dengan inisiasi seksual pada remaja secara keseluruhan (aOR: 0,44; 95% CI: 0,21—0,93; P value = 0,030) dan remaja laki-laki (aOR: 0,15; 95% CI: 0,06—0,43; P value < 0,001).
Kesimpulan: Faktor individu, situasional, keluarga, dan relasi berkaitan dengan inisiasi seksual. Faktor-faktor ini perlu dipertimbangkan dalam intervensi yang meliputi pendidikan seksualitas yang komprehensif, pemberian layanan kesehatan reproduksi remaja, dan penegakan hukum. Penelitian dengan desain longitudinal diperlukan untuk memastikan ada/tidaknya hubungan kausalitas antarvariabel.


Background: Sexual initiation is the core indicator for adolescent sexual health and well-being. As a transition event on adolescents’ life, sexual initiation is ideally performed with plan and consent from each of the parties involved and within an equal relation. However, previous studies have shown that there are increased risks that follow sexual initiation, especially if it happens early. Aim: This study aimed to describe and identify factors related to sexual initiation on male and female adolescents in Indonesia. Methods: Using cross-sectional design, this study was analyzed using chi square and logistic regression analysis on 6.005 samples of adolescents ranging from 13 to 17 years old accessed from National Survey of Life Experiences of Children and Adolescents 2024. This study focuses on sexual initiation as dependent variable; gender as stratifying variable; educational status, working status, knowledge about HIV, alcohol use, drug use, family structure, family support, socioeconomic status, marital status, dating history and peer support as indendent variables. Sexual initiation, in this study, is defined as the experience of first sexual intercourse.  Results: One percent (1,0%) of adolescents in Indonesia have had their first sexual intercourse. The percentage is ranging from 0,7% on male adolescents and 1,4% on female adolescents. This research also finds that the determinants of sexual initiation on adolescents are male adolescents who are currently working (aOR: 5,30; 95% CI: 1,75—16,09); have consumed alcohol in lifetime on both adolescents (aOR: 7,30; 95% CI: 3,71—14,33), male adolescents (aOR: 9,17; 95% CI: 3,06—27,44), and female adolescents (aOR: 5,71; 95% CI: 1,59—20,54) who have consumed alcohol in lifetime; being married on adolescents cumulatively (aOR: 1.059,50; 95% CI: 226,60—4.953,98) and female adolescents (aOR: 451,08; 95% CI: 76,84—2.648,17); and ever dated someone on both adolescents(aOR: 9,51; 95% CI: 4,21—21,45), male adolescents (aOR: 6,81; 95% CI: 1,68—27,70), and female adolescents (aOR: 8,67; 95% CI: 3,13—24,06). Low-middle socioeconomic status is negatively associated with sexual initiation on both adolescents (aOR: 0,44; 95% CI: 0,21—0,93) and male adolescents (aOR: 0,15; 95% CI: 0,06—0,43; P value < 0,001). Conclusion: Individual, situasional, family and relational factors are related to sexual initiation. These factors should be considered during interventions that include comprehensive sexuality education, adolescent reproductive health service and law enforcement. Researches with longitudinal nature are required to identify the presence of causal associations between variables.

Read More
S-12140
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Stella Tracylia; Pembimbing: Rizka Maulida; Penguji: Trisari Anggondowati, Budi Setiawan
Abstrak:
Studi terkait mortalitas akibat kanker, khususnya di tingkat lokal, seperti provinsi, masih terbatas dan sebagian besar berfokus pada morbiditas atau prevalensi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tren mortalitas akibat kanker di Jakarta pada tahun 2017, 2019, 2021, dan 2023 menggunakan desain potong lintang dengan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta. Analisis univariat dilakukan untuk mengevaluasi tren mortalitas berdasarkan tahun, kelompok usia, jenis kelamin, wilayah, dan sumber pelaporan fasilitas kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan perubahan peringkat kanker utama, di mana kanker trakea, bronkus, dan paru-paru, yang menjadi penyebab kematian tertinggi pada 2017, digantikan oleh kanker payudara mulai 2019. CSDR (Cause Specific Death Rate) kanker utama meningkat sejak 2017, menurun pada 2021, lalu mencapai puncaknya pada 2023. Mortalitas tertinggi terjadi pada kelompok lansia (43,9% – 44,6%) dan dewasa paruh baya (42,8% – 44,7%), dengan perempuan (52,0% – 57,7%) lebih banyak terdampak dibandingkan laki-laki (42,3% – 48%). Jakarta Timur melaporkan mortalitas tertinggi (27,9% – 30,8%), diikuti Jakarta Barat (20,9% – 26,7%), dengan rumah sakit sebagai sumber pelaporan utama (66,2% – 83,7%). Kasus-kasus tereksklusi dalam penelitian ini mencerminkan tantangan dalam pengumpulan dan pencatatan data yang akurat. Penelitian ini menekankan pentingnya peningkatan kualitas data untuk mendukung kebijakan dan intervensi yang lebih efektif dalam mengurangi beban mortalitas akibat kanker.

Studies related to cancer mortality, especially at the local level, such as provinces, are still limited and mostly focus on morbidity or prevalence. This study aims to analyze cancer mortality trends in Jakarta in 2017, 2019, 2021, and 2023 using a cross-sectional design with data from the Jakarta Provincial Health Office. Univariate analysis was conducted to evaluate mortality trends based on year, age group, gender, region, and the reporting source from healthcare facilities. The results show a change in the ranking of major cancers, where tracheal, bronchial, and lung cancer, which was the leading cause of death in 2017, was replaced by breast cancer starting in 2019. The Cause-Specific Death Rate (CSDR) for major cancers increased since 2017, decreased in 2021, and then peaked in 2023. The highest mortality occurred in the elderly group (43.9% – 44.6%) and middle-aged adults (42.8% – 44.7%), with women (52.0% – 57.7%) being more affected than men (42.3% – 48%). East Jakarta reported the highest mortality (27.9% – 30.8%), followed by West Jakarta (20.9% – 26.7%), with hospitals as the primary reporting source (66.2% – 83.7%). Cases excluded from this study reflect challenges in the collection and recording of accurate data. This study emphasizes the importance of improving data quality to support policies and interventions that are more effective in reducing the cancer mortality burden.
Read More
S-11861
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Intan Permatasari; Pembimbing: Rizka Maulida; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Diah Satyani Saminarsih
Abstrak:
Latar Belakang: Penelitian ini menganalisis hubungan pola konsumsi dan gaya hidup dengan kejadian DM tipe 2 pada penduduk usia ≥25 tahun di Indonesia, mengingat tren peningkatan kasus dari 6,9% pada 2013 menjadi 8,5% pada 2018. Metode: Penelitian ini menggunakan data Riset Dasar Kesehatan (Riskesdas) 2018 menggunakan desain studi cross sectional. Sampel penelitian adalah penduduk usia ≥ 25 tahun dari data Riskesdas tahun 2018 yang berjumlah 26.850 responden. Analisis data menggunakan analisis univariat dengan distribusi frekuensi, analisis bivariat dengan uji chi-square, dan analisis multivariat dengan menggunakan regresi logistik ganda. Variabel dependennya adalah diabetes melitus tipe 2 dan variabel independennya adalah pola konsumsi dan gaya hidup (konsumsi makanan manis, konsumsi minuman manis, konsumsi minuman berkarbonisasi, konsumsi minuman berenergi, konsumsi makanan olahan berpengawet, konsumsi makanan instan, konsumsi sayur dan buah, aktivitas fisik, perilaku merokok, konsumsi minuman beralkohol). Hasil: Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat hubungan antara faktor pola konsumsi dan gaya hidup, antara lain konsumsi makanan manis (AOR: 1,24; 95%: CI: 1,13-1,37), konsumsi minuman manis (AOR: 1,64; 95% CI: 1,47-1,82), konsumsi makanan instan (AOR: 1,20; 95% CI: 1,11-1,29), dan perilaku merokok (AOR: 1,68; 95% CI: 1,54-1,83). Selain itu, pada variabel aktivitas fisik memiliki efek protektif dengan kejadian DM tipe 2 (AOR: 0,76; 95% CI: 0,70-0,83). Kesimpulan: Konsumsi makanan manis, konsumsi minuman manis, konsumsi makanan instan, aktivitas fisik, dan perilaku merokok berasosiasi dengan kejadian diabetes melitus tipe 2 pada penduduk ≥25 tahun di Indonesia. Demikian, perlu adanya kebijakan mengenai pembatasan konsumsi makanan dan minuman manis, makanan instan, serta pengendalian perilaku merokok.

Background: This study analyzed the association of consumption patterns and lifestyle with the incidence of type 2 DM in Indonesia's population aged ≥25 given the increasing trend of cases from 6.9% in 2013 to 8.5% in 2018. Methods: Using a cross-sectional study design, this study used data from Riset Dasar Kesehatan (Riskesdas) 2018. The study sample was the population aged ≥25 years from the Riskesdas 2018 data totaling 26,850 respondents. Data analysis included univariate analysis with frequency distribution, bivariate analysis with chi-square test, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The dependent variable was type 2 diabetes mellitus, and the independent variables were consumption patterns and lifestyle (consumption of sweet foods, sweet drinks, carbonized drinks, energy drinks, preserved processed foods, instant foods, vegetables and fruits, physical activity, smoking behavior, and alcoholic beverages). Results: The results found associations between consumption patterns and lifestyle factors, including sweet foods (AOR: 1.24; 95% CI: 1.13-1.37), sweet drinks (AOR: 1.64; 95% CI: 1.82), instant foods (AOR: 1.20; 95% CI: 1.11-1.29), and smoking behavior (AOR: 1.68; 95% CI: 1.54-1.83). Additionally, physical activity had a protective effect against type 2 DM (AOR: 0.76; 95% CI: 0.70-0.83). Conclusion: Sugary food and drink consumption, instant food consumption, physical activity, and smoking behavior are associated with the incidence of type 2 diabetes mellitus in the population aged ≥25 years in Indonesia. Therefore, policies are needed to restrict the consumption of sugary foods and drinks, instant foods, and to control smoking behavior
Read More
S-11797
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anastasha Cassandra Ko; Pembimbing: Rizka Maulida; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Diah Satyani Saminarsih
Abstrak:
Penyakit tidak menular (PTM) menyebabkan 71% kematian global, dengan kasus hipertensi diproyeksikan meningkat dari 639 juta pada 2000 menjadi 1,5 miliar pada 2025. Di Indonesia, prevalensi hipertensi meningkat dan menjadi penyebab kematian utama ketiga, namun hanya kurang dari 10% penderita yang memiliki kontrol tekanan darah baik. Penelitian ini menganalisis hubungan karakteristik pasien hipertensi dengan konsumsi obat antihipertensi pada responden Riskesdas 2018. Desain penelitian cross-sectional ini menggunakan data Riskesdas 2018 dengan responden berusia 18 tahun ke atas. Survei oleh Kementerian Kesehatan RI menggunakan stratified multistage random sampling untuk representasi nasional. Karakteristik pasien yang dianalisis meliputi jenis kelamin, kelompok umur, pendidikan, pekerjaan, dan tempat tinggal. Analisis statistik chi-square bivariat dengan signifikansi p < 0.05 digunakan untuk menentukan hubungan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik pasien hipertensi yang signifikan terkait konsumsi obat antihipertensi guna merancang intervensi pengendalian hipertensi yang lebih efektif. Hasil analisis menunjukkan bahwa responden perempuan (OR = 0,78; 95%CI= 0,75-0,81), kelompok umur berisiko (≥31 tahun) (OR = 0,32; 95%CI= 0,30-0,35), individu dengan pendidikan rendah (OR = 1,27; 95%CI=1,22-1,33), tidak bekerja (OR = 1,30; 95%CI= 1,26-1,35), dan tinggal di perdesaan (OR = 0,95; 95%CI= 0,92-0,99) berhubungan dengan konsumsi obat antihipertensi. Temuan ini menekankan perlunya peningkatan kesadaran dan kepatuhan terhadap pengobatan antihipertensi terutama di kalangan kelompok berisiko tinggi, untuk mengurangi beban hipertensi di Indonesia.

Non-communicable diseases (NCDs) account for 71% of global deaths, with hypertension cases projected to increase from 639 million in 2000 to 1.5 billion by 2025. In Indonesia, the prevalence of hypertension is rising and is the third leading cause of death, but less than 10% of patients have good blood pressure control. This study analyzes the relationship between the characteristics of hypertensive patients and the consumption of antihypertensive drugs among respondents of the 2018 Riskesdas. This cross-sectional study design uses data from the 2018 Riskesdas with respondents aged 18 years and older. The survey by the Indonesian Ministry of Health used stratified multistage random sampling for national representation. The analyzed patient characteristics include gender, age group, education, occupation, and place of residence. Bivariate chi-square statistical analysis with significance set at p < 0.05 was used to determine these relationships. The aim of this study is to identify significant characteristics of hypertensive patients related to the consumption of antihypertensive drugs to design more effective hypertension control interventions. The analysis results show that female respondents (OR = 0.78; 95%CI = 0.75-0.81), at-risk age group (≥31 years) (OR = 0.32; 95%CI = 0.30-0.35), individuals with low education (OR = 1.27; 95%CI = 1.22-1.33), unemployed (OR = 1.30; 95%CI = 1.26-1.35), and living in rural areas (OR = 0.95; 95%CI = 0.92-0.99) are associated with the consumption of antihypertensive drugs. These findings highlight the need to increase awareness and adherence to antihypertensive treatment, especially among high-risk groups, to reduce the burden of hypertension in Indonesia.
Read More
S-11782
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tasya Nabila Purwaningtyas; Pembimbing: Rizka Maulida; Penguji: Trisari Anggondowati, Rakhmat Ari Wibowo
Abstrak:

Kurangnya aktivitas fisik merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit tidak menular (PTM) yang sering kali tidak disadari. Data WHO menunjukkan bahwa lebih dari 85% remaja Indonesia kurang melakukan aktivitas fisik. Masa remaja penting sebagai tahap awal pembentukan kebiasaan aktivitas fisik agar kebiasaan ini dapat terbawa hingga dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat aktivitas fisik serta faktor-faktor yang berhubungan dengan aktivitas fisik kurang pada remaja dan dewasa muda di Indonesia berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Data berasal dari SKI 2023, dengan sampel sebanyak 164.061 individu usia 10–24 tahun. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji regresi logistik sederhana, serta multivariat menggunakan regresi logistik ganda untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan aktivitas fisik. Sebanyak 40,4% responden beraktivitas fisik kurang. Aktivitas fisik kurang berasosiasi dengan usia muda 10-17 tahun (PR = 1,54; 95%CI = 1,5156 – 1,5595), jenis kelamin perempuan (PR = 1,12; 95%CI = 1,1060 – 1,1330), tidak bekerja/bersekolah (PR = 1,13; 95%CI = 1,1340 – 1,1650), dan IMT underweight (PR = 1,09; 95%CI = 1,0642 – 1,1081). Tidak ditemukan hubungan signifikan antara status ekonomi dengan aktivitas fisik dalam model akhir pada penelitian ini. Aktivitas fisik kurang masih menjadi masalah signifikan pada remaja dan dewasa muda di Indonesia. Faktor usia, jenis kelamin, status pekerjaan/sekolah, dan IMT berperan penting dalam mempengaruhi tingkat aktivitas fisik. Diperlukan intervensi yang disesuaikan dengan karakteristik demografis untuk meningkatkan aktivitas fisik kelompok usia muda.


Physical inactivity is one of the main risk factors for non-communicable diseases (NCDs), yet it often goes unnoticed. WHO data indicate that more than 85% of Indonesian adolescents engage in insufficient physical activity. Adolescence is a critical period for establishing physical activity habits that may carry into adulthood. This study aims to analyze physical activity levels and associated factors contributing to physical inactivity among adolescents and young adults in Indonesia, based on the 2023 Indonesia Health Survey (SKI). A cross-sectional study design with a quantitative approach was employed. Data were drawn from SKI 2023, comprising a sample of 164,061 individuals aged 10–24 years. Data analysis included univariate analysis, bivariate analysis using simple logistic regression, and multivariate analysis using multiple logistic regression to identify associated factors. A total of 40.4% of respondents were classified as having physical inactivity. Insufficient activity was associated with younger age (10–17 years) (PR = 1.54; 95%CI = 1.5156 – 1.5595), female gender (PR = 1.12; 95%CI = 1.1060 – 1.1330), being unemployed or not in school (PR = 1.13; 95%CI = 1.1340 – 1.1650), and underweight BMI (PR = 1.09; 95%CI = 1.0642 – 1.1081). No significant association was found between economic status and physical activity in the final model of this study. Physical inactivity remains a significant issue among adolescents and young adults in Indonesia. Age, gender, occupational/school status, and nutritional status (BMI) play a key role in influencing physical activity levels. Targeted interventions tailored to demographic characteristics are needed to improve physical activity in younger age groups.

Read More
S-12149
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hana Humaira; Pembimbing: Rizka Maulida; Penguji: Dwi Gayatri, Samuel Josafat Olam
Abstrak:
Latar belakang: Kejadian perundungan pada remaja di Indonesia terutama pada pelajar menempati urutan kelima tertinggi diantara 78 negara pada tahun 2018. Dampak dari perundungan yakni terkait dengan aspek fisik, mental, sosial serta memungkinkan perilaku berisiko yang dapat memengaruhi kualitas hidup remaja. Perundungan yang terjadi pada remaja disebabkan berbagai faktor diantaranya faktor individu dan faktor sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor-faktor sosial dan faktor individu dengan kejadian perundungan pada remaja di Indonesia berdasarkan data GSHS 2015. Metode: Penelitian ini menggunakan data sekunder Global School-Based Student Health Survey (GSHS) 2015 dengan desain studi cross-sectional. Sampel penelitian adalah remaja umur 10-19 tahun yang menjawab variabel penelitian secara lengkap (n=9.500). Analisis univariat dilakukan dengan menampilkan frekuensi dan presentase, sedangkan analisis bivariat menggunakan uji chi square dan menghitung odds ratio (OR). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 20,1% remaja di Indonesia mengalami kejadian perundungan selama 30 hari terakhir. Diketahui bahwa remaja yang tidak memiliki teman dekat (POR: 1,59; CI:1,20-2,10), tidak mendapat dukungan teman sebaya (POR: 1,51; CI:1,35-1,67), orang tua yang tidak peduli (POR: 1,12; CI: 1,00-1,24), dan orang tua yang tidak mengawasi (POR: 1,38; CI: 1,25-1,54), untuk memiliki odds yang lebih tinggi mengalami kejadian perundungan. Remaja laki-laki (POR: 1,43; CI: 1,30-1,59), berusia 14 tahun kebawah (POR: 1,12; CI: 1,01-1,24) dan memiliki status kerawanan pangan (POR: 2,37; CI: 1,91-2,94) memiliki odds yang lebih tinggi mengalami perundungan. Kesimpulan: Faktor sosial orang tua dan teman serta faktor individu menunjukkan hubungan signifikan dengan kejadian perundungan. Diharapkan penelitian selanjutnya melakukan analisis multivariat untuk melihat besar pengaruh tiap variabel

Background: The incidence of bullying among adolescents in Indonesia, particularly among students, fifth highest among 78 countries in 2018. The impacts of bullying are related to physical, mental, and social aspects, and it can lead to risky behaviors that affect the quality of life of adolescents. Bullying among adolescents is caused by various factors, including individual and social factors. This study aims to determine the relationship between social factors and individual factors with the incidence of bullying among adolescents in Indonesia based on data from the GSHS 2015. Methods: This study uses secondary data from the 2015 Global School-Based Student Health Survey (GSHS) with a cross-sectional study design. The research sample consists of adolescents aged 10-19 years who completed the survey variables (n=9,500). Univariate analysis was performed by presenting frequencies and percentages, while bivariate analysis used the chi-square test and calculated the odds ratio (OR). Results: The study results showed that 20.1% of adolescents in Indonesia experienced bullying in the past 30 days. It was found that adolescents who did not have close friends (POR: 1.59; CI: 1.20-2.10), did not receive peer support (POR: 1.51; CI: 1.35-1.67), had indifferent parents (POR: 1.12; CI: 1.00-1.24), and had unsupervised parents (POR: 1.38; CI: 1.25-1.54) had higher odds of experiencing bullying. Male adolescents (POR: 1.43; CI: 1.30-1.59), those aged 14 years or younger (POR: 1.12; CI: 1.01-1.24), and those with food insecurity (POR: 2.37; CI: 1.91-2.94) also had higher odds of experiencing bullying. Conclusion: Parental and peer social factors as well as individual factors show a significant relationship with the incidence of bullying. Future research is expected to conduct multivariate analysis to determine the influence of each variable
Read More
S-11751
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive