Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 2 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Abdelrahman M S Alnweiri; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Helda, Hadianti Adlani
Abstrak:
Demam berdarah dengue (DBD) tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia, dengan komplikasi pada fungsi hati yang sering dijumpai. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara peningkatan enzim transaminase hati hati (SGOT/SGPT) dan lama hari rawat inap (LOS) pada pasien dewasa DBD di RS Ummi Bogor selama periode Januari 2021–Desember 2023. Penelitian ini menggunakan desain retrospektif analitik kasus-kontrol berdasarkan data rekam medis. Variabel utama meliputi status peningkatan kadar SGOT/SGPT, lama rawat inap, komorbiditas, dan penggunaan obat hepatoprotektor. Analisis statistik mencakup uji Chi-square bivariat dan regresi logistik multivariat. Dari 786 pasien DBD, 329 (41,9%) mengalami peningkatan enzim transaminase hati hati. Rata-rata lama rawat inap pada pasien dengan peningkatan enzim transaminase hati hati adalah sekitar 5 hari, sedangkan kelompok tanpa peningkatan sekitar 4 hari (p < 0,05). Analisis multivariat menunjukkan bahwa peningkatan enzim transaminase hati hati secara mandiri berhubungan signifikan dengan lama rawat inap lebih lama (adjusted odds ratio 1,42; 95% CI 1,05–1,94). Komorbiditas dan tidak menerima terapi hepatoprotektor juga terbukti berhubungan signifikan dengan perpanjangan lama rawat inap. Temuan ini mengindikasikan bahwa gangguan fungsi hati pada pasien DBD berkaitan dengan masa rawat inap yang lebih panjang. Diharapkan deteksi dini dan penatalaksanaan gangguan hati sejak awal dapat meningkatkan hasil perawatan pasien.

Dengue fever remains a significant public health problem in Indonesia, and hepatic complications are frequently observed. This study aimed to analyze the relationship between elevated liver enzymes (SGOT/SGPT) and length of hospital stay (LOS) in adult dengue patients at UMMI Bogor Hospital from January 2021 to December 2023. We conducted a retrospective case-control study using medical records. The main variables included elevated SGOT/SGPT levels, length of stay, comorbidities, and hepatoprotective therapy. Statistical analysis involved bivariate Chi-square tests and multivariate logistic regression. Of the 786 dengue patients, 329 (41.9%) had elevated liver enzymes. The mean LOS was about 5 days for patients with elevated enzymes, compared to about 4 days for those without elevation (p < 0.05). Multivariate analysis showed that elevated liver enzymes remained independently associated with longer hospital stays (adjusted OR 1.42; 95% CI 1.05–1.94). In addition, comorbidities and lack of hepatoprotective therapy were also significantly associated with longer LOS. These findings suggest that liver involvement in dengue is linked to extended hospital stays. Early detection and management of hepatic dysfunction upon admission may improve patient outcomes.
Read More
T-7462
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ivana Yulian Hendarsin; pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Putri Bungsu, Hadianti Adlani, Herman Kosasih
Abstrak:

Latar Belakang Indonesia merupakan daerah hyper-endemic dengue dengan siklus epidemik yang rutin terjadi. Kriteria klasifikasi WHO tahun 2009 mendefinisikan kumpulan gejala, tanda dan hasil laboratorium yang dapat mendeteksi mayoritas kasus dengue namun untuk konfirmasinya membutuhkan tambahan pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan NS1 maupun Immunoglobulin M.
Metode Penelitian Penelitian cross-sectional dengan data sekunder dari pasien demam akut di tiga lokasi Kabupaten Tangerang yaitu RSUD Kabupaten Tangerang, Puskesmas Kelapa Dua dan Puskesmas Bojong Nangka. Reference test berupa pemeriksaan RT-PCR, sedangkan index test adalah kriteria klasifikasi WHO tahun 2009 dan pemeriksaan RDT NS1. Analisis data dilakukan dengan uji diagnostik berupa uji reabilitas dan validitas.
Hasil Penelitian Kekuatan tingkat kesepakatan pada kriteria klasifikasi WHO tahun 2009 terhadap pemeriksaan RT-PCR maupun RDT NS1 adalah fair sedangkan pemeriksaan RDT NS1 terhadap RT-PCR didapatkan tingkat kesepakatan substantial. Sensitivitas kriteria klasifikasi WHO tahun 2009 didapatkan sebesar 72% (95%CI 65-78.2) lebih tinggi daripada pemeriksaan RDT NS1 65.6% (95%CI 58.4-72.4), namun spesifisitasnya sangat rendah (52.4% vs 97.6%). Kombinasi kriteria klasifikasi WHO tahun 2009 dan RDT NS1 secara serial memiliki sensitivitas 50.8% dan spesifisitas 98.1% dibandingkan kombinasi paralel menunjukkan hasil sensitivitas 86.8% dan spesifisitas 51.9%.
Kesimpulan Berdasarkan uji reabilitas hanya pemeriksaan RDT NS1 yang memiliki tingkat kesepakatan substantial. Berdasarkan uji validitas sensitivitas kriteria klasifikasi WHO tahun 2009 tidak cukup baik dalam skrining kasus dengue sehingga penggunaannya sebaiknya digantikan kombinasi paralel agar kasus dengue yang tidak terdiagnosis dapat berkurang.


Background Dengue is hyperendemic with frequent epidemic cycles in Indonesia. Tangerang district is among the regions with a high dengue burden. The 2009 WHO dengue case classification has a set of symptoms, signs, and laboratory findings that can identify most dengue cases; however, dengue cases need to be confirmed by additional laboratory diagnostic tests, such as NS1 and Immunoglobulin M testing. Method A cross-sectional study using secondary data from acute fever patients in three different locations in Tangerang District: Bojong Nangka PHC, Kelapa Dua PHC, and Tangerang District Hospital. The 2009 WHO dengue case classification and the NS1 RDT as index test, whereas the reference test is RT-PCR. Validity and reliability tests are used to analyze data. Results The observed agreement on the 2009 WHO dengue case classification for RT-PCR and NS1 RDT examinations was fair, although among NS1 RDT and RT-PCR was substantial. The sensitivity of the 2009 WHO dengue case classification was 72% (95%CI 65-78.2) higher than the NS1 RDT 65.6% (95%CI 58.4-72.4), but the specificity was considerably lower (52.4% vs 97.6%). The serial combination of the 2009 WHO dengue case classification and NS1 RDT in this study had a sensitivity of 50.8% and a specificity of 98.1%, while the parallel combination showed a sensitivity of 86.8% and a specificity of 51.9%. Conclusion Based on the reliability test, only the NS1 RDT has a substantial level of agreement. Based on the validity test, the sensitivity of the 2009 WHO dengue case classification is insufficient for screening dengue cases; therefore, a parallel combination can be used instead to lower the number of undiagnosed dengue cases.

Read More
T-7359
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive