Ditemukan 7 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Dewi Utami N; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Dian Ayubi, Didin Aliyudin
S-5207
Depok : FKM UI, 2007
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nurjanah; Pemb. Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Didin. Aliyudin
S-5013
Depok : FKM UI, 2007
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Siti Nur Ramdaniati; Pembimbing: Anwar Hasan; Penguji: Besral, Dian Ayubi, Didin Aliyudin, Upi Meikawati
Abstrak:
Hingga saat ini Tuberkulosis (TB) masih merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi permasalahan di dunia kesehatan. Menurut data WHO pada tahun 2014 Indonesia merupakan peringkat ke-2 penyumbang kasus TB terbesar di dunia dengan jumlah 9,6 juta kasus. Menurut data Riskesdas 2013 prevalensi TB di Provinsi Banten yaitu 0,4% dari jumlah penduduk. Upaya pengendalian TB memerlukan peran serta masyaraat dan pasien yang perlu diberdayakan melalui paguyuban TB. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat kepatuhan pengobatan pasien TB terkonfirmasi bakteriologis di Puskesmas Unyur yang melaksanakan paguyuban TB dan Puskesmas Kilasah yang tidak melaksanakan paguyuban TB, Kota Serang tahun 2016. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi crosssectional yang dilakukan selama bulan November 2016. Sampel penelitian ini berjumlah 79 pasien baru TB terkonfirmasi bakteriologis yang sedang menjalani pengobatan minimal 1 bulan di Puskesmas Unyur dan Puskesmas Kilasah. Hasil analisis univariat menunjukkan tingkat kepatuhan pengobatan pasien TB di Puskesmas Unyur lebih tinggi dari Puskesmas Kilasah. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan pengobatan pasien TB (p = 0,024; OR = 10,3; 95% CI = 1,4 to 77,8). Variabel lainnya yang bermakna yaitu dukungan keluarga (p = 0,023; OR = 7,7; 95% CI = 1,3 to 44,5). Selain itu juga didapat hasil bahwa dukungan keluarga merupakan faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap kepatuhan pengobatan TB setelah dikontrol oleh variabel sikap, jarak, penyuluhan dan dukungan sosial. Kepatuhan Pengobatan merupakan kunci keberhasilan pengobatan TB yang menjadi tujuan utama dalam program pengendalian penyakit Tuberkulosis. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan peran serta masyarakat agar program pengendalian TB dapat lebih optimal. Kata kunci: tuberkulosis, pengetahuan, dukungan keluarga, kepatuhan, paguyuban Until now Tuberculosis (TB) is one of the infectious diseases that has become problems in the health world. According to WHO (2014), Indonesia was ranked as the second largest contributor of TB cases in the world with 9,6 million cases. According to Riskesdas (2013), the prevalence of TB in Banten Province at 0,4% of the population. TB control efforts required participation of communities and patients through TB support groups (paguyuban). This study aimed to determine the factors aasociates the treatment compliance level for new patients of TB confirmed bacteriological in Community Health Center (Puskesmas) in Unyur(TB support group) and Kilasah (Non-TB support group), both in Serang City, 2016. This research used quantitative methods with cross-sectional study design, conducted in November 2016. The research sample was 79 confirmed bacteriological TB patients who are under treatment minimum 1 month in Puskesmas Unyur and Kilasah. As the result, treatment compliance of TB patients in Puskesmas Unyur was higher than in Kilasah. The analysis showed that there was a significant relationship between the level of knowledge with compliance treatment of TB patients (p = 0,024; OR = 10,3; 95% CI = 1,4 to 77,8). Other significant variable was family support (p = 0,023; OR = 7,7; 95% CI = 1,3 to 44,5). In addition, the result was that the family support was the most dominant factor influencing TB treatment compliance after being controlled by variables, i.e. attitude, distance, counseling and social support. Treatment compliance was key for successful treatment of TB and became a major goal in Tuberculosis control programs. Therefore it is necessary for increase community participation to optimize the TB control programs. Keywords: tuberculosis, knowledge, family support, compliance, support group
Read More
T-4804
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rahayu Sukamto; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Mieke Savitri, Wahyu Sulistiadi, Didin Aliyudin, Upi Meikawati
Abstrak:
Latar belakang: Tuberkulosis merupakan masalah kesehatan global dan menjadipenyebab pertama dari dua kematian akibat penyakit menular di dunia. Pasien yangmenghentikan pengobatan sebelum sembuh mengakibatkan penyakitnya bertambahparah, menularkan penyakit bahkan meninggal. Pemanfaatan pelayanan kesehatanturut berperan dalam kasus TB, karena pemanfaatan pelayanan dapat mencegahterjadinya kasus putus berobat. Sekitar 50% pasien TB tanpa pengobatan akanmeninggal. Salah satu faktor risiko kematian karena TB adalah pengobatan yangtidak adekuat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor pendukung danpenghambat pasien TB paru dewasa putus berobat di wilayah Kota Serang tahun2016.
Metode : Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dankualitatif. Penelitian kuantitatif menggunakan desain cross-sectional dengansampel 13 penderita TB. Sedangkan, penelitian kualitatif menggunakan wawancaramendalam.
Hasil : Hasil penelitian menemukan faktor pendukung pasien TB Paruputus berobat untuk memulai kembali pengobatannya adalah pengetahuan, sikappengobatan, jarak ke Puskesmas, kunjungan petugas TB, pendorong pengobatankembali, kebutuhan pengobatan, dukungan keluarga dan petugas TB Puskesmas.Sedangkan faktor penghambat pasien TB putus berobat adalah efek samping OATdan upaya pencarian pengobatan lain.
Kesimpulan : Pengobatan TB merupakansalah satu upaya paling efisien untuk mencegah penyebaran kuman TB. Maka, perludilakukan kerja sama lintas program terkait untuk mengoptimalkan pengobatan TBsekaligus mengatasi masalah pasien TB putus berobat di wilayah Kota Serang.
Kata kunci: Tuberkulosis, Putus Berobat, Faktor Pendukung, FaktorPenghambat, Pengobatan Kembali.
Background : Tuberculosis (TB) is a major global health problem, the first causeof two deaths of infectious diseases in worldwide. Some patients discontinuedtreatment before cured resulting the disease became severe, transmit diseases andeven death. Utilization of health services also have a role in the cases of TB, this isdue to prevent lost to follow-up cases. As many as 50% TB patients withouttreatment will die. One of death risk factor of TB are inadequate treatment. The aimof this study is to find out the supported and inhibited factors of lost to follow-upadult TB patients at Serang City in 2016.
Method : This study used quantitativeand qualitative research methods. In quantitative research, conducted by usingcross-sectional design with 13 patients TB as sample. Meanwhile, a qualitativestudy using in-depth interviews.
Result : The study found the factors supported lostto follow-up TB patients for restarting the treatment were knowledge, attitudes oftreatment, distance to reach public health center, health officers home visit,retreatment stimulus, needs of treatment, then the support of family and healthcenter officers. While the factors inhibited lost to follow-up patient to get theretreatment were the side effects of treatment and the search for another treatment.
Conclusion : TB Treatment is one of the most efficient efforts to prevent the furtherspread of Tuberculosis. Therefore, that is necessary to cooperate with variousprograms related to optimizing the treatment of TB as well as to overcome theproblem of lost to follow-up TB patients in the city of Serang.
Keywords: Tuberculosis, Lost to Follow-Up, Supported Factors, InhibitedFactors, Retreatment.
Read More
Metode : Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dankualitatif. Penelitian kuantitatif menggunakan desain cross-sectional dengansampel 13 penderita TB. Sedangkan, penelitian kualitatif menggunakan wawancaramendalam.
Hasil : Hasil penelitian menemukan faktor pendukung pasien TB Paruputus berobat untuk memulai kembali pengobatannya adalah pengetahuan, sikappengobatan, jarak ke Puskesmas, kunjungan petugas TB, pendorong pengobatankembali, kebutuhan pengobatan, dukungan keluarga dan petugas TB Puskesmas.Sedangkan faktor penghambat pasien TB putus berobat adalah efek samping OATdan upaya pencarian pengobatan lain.
Kesimpulan : Pengobatan TB merupakansalah satu upaya paling efisien untuk mencegah penyebaran kuman TB. Maka, perludilakukan kerja sama lintas program terkait untuk mengoptimalkan pengobatan TBsekaligus mengatasi masalah pasien TB putus berobat di wilayah Kota Serang.
Kata kunci: Tuberkulosis, Putus Berobat, Faktor Pendukung, FaktorPenghambat, Pengobatan Kembali.
Background : Tuberculosis (TB) is a major global health problem, the first causeof two deaths of infectious diseases in worldwide. Some patients discontinuedtreatment before cured resulting the disease became severe, transmit diseases andeven death. Utilization of health services also have a role in the cases of TB, this isdue to prevent lost to follow-up cases. As many as 50% TB patients withouttreatment will die. One of death risk factor of TB are inadequate treatment. The aimof this study is to find out the supported and inhibited factors of lost to follow-upadult TB patients at Serang City in 2016.
Method : This study used quantitativeand qualitative research methods. In quantitative research, conducted by usingcross-sectional design with 13 patients TB as sample. Meanwhile, a qualitativestudy using in-depth interviews.
Result : The study found the factors supported lostto follow-up TB patients for restarting the treatment were knowledge, attitudes oftreatment, distance to reach public health center, health officers home visit,retreatment stimulus, needs of treatment, then the support of family and healthcenter officers. While the factors inhibited lost to follow-up patient to get theretreatment were the side effects of treatment and the search for another treatment.
Conclusion : TB Treatment is one of the most efficient efforts to prevent the furtherspread of Tuberculosis. Therefore, that is necessary to cooperate with variousprograms related to optimizing the treatment of TB as well as to overcome theproblem of lost to follow-up TB patients in the city of Serang.
Keywords: Tuberculosis, Lost to Follow-Up, Supported Factors, InhibitedFactors, Retreatment.
T-4622
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Meithyra Melviana Simatupang; Pembimbing: Sri Tjahjani Budi Utami; Penguji: Ema Hermawati, Laila Fitri, Didin Aliyudin, Upi Meikawati
Abstrak:
Mycobacterium tuberculosis dilepaskan oleh penderita saat batuk, bersin bahkan ketika berbicara. Durasi dan lamanya paparan kuman TB merupakan faktor penting dalam penularan, terutama pada ruangan tertutup. Maka, orang yang paling rentan tertular adalah kontak serumah penderita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perilaku dan kondisi lingkungan rumah terhadap adanya gejala TB pada kontak serumah penderita. Penelitian cross-sectional ini dilakukan dengan mewawancarai 73 penderita TB serta kontak serumahnya dan mengobservasi kondisi lingkungan rumahnya. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya gejala TB pada kontak serumah dipengaruhi oleh penderita yang tidak menutup mulut saat batuk/bersin, membuang dahak sembarangan dan kontak serumah yang tidur di ruangan yang sama dengan penderita. Adapun kondisi rumah yang berpengaruh meliputi pencahayaan dan ventilasi yang tidak memenuhi syarat serta kepadatan hunian yang tinggi. Kesimpulannya, perilaku dan kondisi lingkungan rumah berkaitan dengan adanya gejala tuberkulosis pada kontak serumah. Agar tidak terjadi penularan pada kontak serumah, penderita dianjurkan untuk menggunakan masker, kontak serumah tidak boleh tidur bersama penderita. Pencahayaaan dan ventilasi rumah juga harus sesuai syarat rumah sehat untuk mencegah perkembangbiakan mikroorganisme di dalam rumah.
Kata kunci: tuberkulosis, perilaku, lingkungan rumah, kontak serumah
Mycobacterium tuberculosis bacteria exhaled by patients when coughing, sneezing, even speaking. Duration and frequency of exposure is important factor of TB transmission, especially in closed room. Therefore, household contact of TB patient is susceptible. This research aimed to find out the influence of behavior and house environment condition to tuberculosis symptoms existence at household contact of TB patient. This cross-sectional research collected data by interviewed 73 TB patients and their household contact. Then, observation the house environment conditions. Results showed that TB symptoms at household contact was affected by patient behavior to covered mouth when coughing/sneezing, disposed sputum carelessly and household contact behavior who slept in the same room with the patient. While, house condition that affect was not-eligible lighting and ventilation, then high population density. In conclusion, behavior and house environment condition was influenced the existence of TB symptoms at household contact. To avoid tuberculosis transmission, patients is suggested to wear mask and their household contacts should not sleep with them in the same room. Lighting and ventilation also have to comply healthy house requirement to prevent the proliferation of microorganisms in the house.
Keywords: tuberculosis, behavior, house environment, household contact
Read More
Kata kunci: tuberkulosis, perilaku, lingkungan rumah, kontak serumah
Mycobacterium tuberculosis bacteria exhaled by patients when coughing, sneezing, even speaking. Duration and frequency of exposure is important factor of TB transmission, especially in closed room. Therefore, household contact of TB patient is susceptible. This research aimed to find out the influence of behavior and house environment condition to tuberculosis symptoms existence at household contact of TB patient. This cross-sectional research collected data by interviewed 73 TB patients and their household contact. Then, observation the house environment conditions. Results showed that TB symptoms at household contact was affected by patient behavior to covered mouth when coughing/sneezing, disposed sputum carelessly and household contact behavior who slept in the same room with the patient. While, house condition that affect was not-eligible lighting and ventilation, then high population density. In conclusion, behavior and house environment condition was influenced the existence of TB symptoms at household contact. To avoid tuberculosis transmission, patients is suggested to wear mask and their household contacts should not sleep with them in the same room. Lighting and ventilation also have to comply healthy house requirement to prevent the proliferation of microorganisms in the house.
Keywords: tuberculosis, behavior, house environment, household contact
T-4811
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Arovian Yuliardi; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Sandi Iljanto, Ede Surya Darmawan, Didin Aliyudin, Lia Susanti
T-4346
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Reny Setiowati; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Anhari Achadi, Puput Oktamianti, Didin Aliyudin, Upi Meikawati
Abstrak:
Indonesia menempati urutan kesembilan dari dua puluh tujuh negara yangmemiliki beban MDR (Multi Drug Resistan) TB (Tuberkulosis) di dunia.Kegagalan konversi pada pasien TB paru merupakan salah satu penyebabterjadinya resisten OAT (Obat Anti Tuberkulosis). Pasien TB paru BTA (BasilTahan Asam) positif kategori I yang mengalami kegagalan konversi di puskesmaswilayah Kota Serang tahun 2014 sebanyak 49 pasien dari 602 pasien TB yangdiobati. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berhubungandengan kegagalan konversi pasien TB paru BTA positif kategori I denganmenggunakan studi cross sectional. Uji statistik yang digunakan adalah regresilogistik terhadap 168 orang pasien TB paru BTA positif kategori I tahun 2014.Hasil penelitian diperoleh bahwa pasien TB paru BTA positif kategori I yangmengalami kegagalan konversi sebanyak 28%. Ada hubungan antara tingkatpendapatan, pengetahuan tentang TB, sikap pasien terhadap pengalaman terkaitTB, jarak dan akses ke puskesmas, kondisi lingkungan tempat tinggal, informasikesehatan dari petugas TB dan efek samping obat terhadap kegagalan konversipasien TB paru BTA positif kategori I. Faktor yang paling dominan berhubunganadalah informasi kesehatan dari petugas TB (nilai p value = 0,002, OR 33,217,95% CI 3,600-306,497). Disimpulkan bahwa peran petugas kesehatan sangatberpengaruh terhadap keberhasilan pengobatan pasien TB paru. Diperlukankomitmen petugas dalam menjalankan fungsi kesehatan masyarakat di antaranyameningkatkan kemampuan petugas dalam memberikan informasi kesehatan sertamenjalin kerjasama dengan pasien dan keluarganya untuk terus memberikanpendampingan dan pemberian motivasi selama pengobatan sehingga mencegahterjadinya kegagalan konversi yang dapat berpengaruh terhadap keberhasilanpengobatan.Kata kunci: TB, kegagalan konversi, BTA positif, kategori I.
Read More
T-4591
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
