Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rudy Sutad; Pembimbing: Supriyanto Rijadi; Penguji: Adang Bachtiar, Ede Suryadarmawan, Anwarul Amin, Supriyanto
B-865
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arfan Awaloeddin; Pembimbing: Amila Megraini; Penguji: Purnawan Junadi, Adang BAchtir, Astuty, Anwarul Amin
Abstrak:

Rurnah sakit sebagai mata rantai sistern kesehatan diharapkan dapat mencapai pelayanan yang bermutu, berdaya guna, serta didirikan dan dijalankan dengan tujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang diperlukan oleh masing-masing penderita dalam batas kemampuan teknologi dan sarana yang tersedia di rumah sakit. Salah satunya adalah instalasi farmasi yang merupakan sarana penting dalam proses penyembuhan dan merupakan salah satu komponen biaya operasional yang besar dari seluruh biaya operasional rumah sakit. Anggaran yang dibelanjakan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Awal Bros untuk obat dan alkes sebanyak 46.65 % (Rp 5.155.680.986) dari total pengeluaran rumah sakit, dari jumlah tersebut 37.88% (1.952.881.880) adalah investasi untuk obat antibiotika. Penelitian dilakukan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Awal Bros pada pemakaian obat-obatan antibiotika periode Januari hingga Juni tahun 2001, dengan tujuan mengidentifikasi tingkat persediaan obat antibiotika di instalasi farmasi, merencanakan dan mengendalikan jumlah pemesanan obat yang efisien dan efektif. Perencanaan yang tepat diharapkan dapat menghasilkan suatu jumlah dan jenis persediaan perbekalan di instalasi farmasi, dalam hal ini khusus obat antibiotika. Persediaan obat-obatan antibiotika dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kelompok berdasarkan nilai pemakaian, nilai investasi dan nilai indeks kritis dengan memakai analisis ABC. Pengelompokkan ini merupakan salah satu cara untuk mengendalikan persediaan, dengan demikian dapat diketahui jenis obat mana yang perlu diperhatikan karena mempunyai investasi yang tinggi dengan nilai kritis yang tinggi pula. Indeks kritis dapat diketahui melalui pendapat dari para dokter full timer yang berada di Rumah Sakit Awal Bros yang memakai obat tersebut. Hasil analisis indeks kritis ABC didapatkan basil bahwa kelompok A untuk 75-20-5 yang memerlukan investasi paling tinggi (66.51 % dari seluruh biaya) terdiri dari 32 item obat (9.33 %), kelompok B menelan biaya 28.99% terdiri dari 126 item obat dan kelompok C menelan biaya 4.50% dari seluruh biaya. Jenis obat antibiotika kelompok A 75-20-5 berdasarkan pemakaian, investasi dan indeks kritis berjumlah 74 item, jika dikelompokkan dengan kelompok nama generik akan dapat berkurang menjadi 60 item. Hal ini setidaknya rumah sakit Awal Bros dapat melakukan efisiensi sehingga biaya yang hares diinvestasikan akan berkurang.


 

Hospital is the part of health system chain which might be expected to provides quality services, efficient, and was established, operated to achieve various level of health services including promotion, prevention, curative and rehabilitation to meet patient needs in accordance to both technologies and facilities availabilities in the respective hospital. In particularly, pharmaceutical department is one of the important facilities in patient care that consume the biggest part of operational cost. In Awal Bros hospital, drugs and consumable goods spent 46.65% of total hospital expenditure. (Rp 5.155.680.986.-). In addition the hospital spent 37.88% of their total drugs expenditure for antibiotic (1.952.881.880 rupiahs). This study took place in Pharmaceutical Department of Awal Bros hospital during January 2001 thorough June 2001 period that aimed to identify the availability of antibiotic, and to develop the most economical procurement plan as well as to manage the availability. By doing so it was expected the hospital could manage the availability of antibiotic in terms of amount and type. The availability of antibiotic was grouped into different categories according to level of utilization, investment as well as critical index by using ABC analysis. This approach aimed to control level of antibiotic availability, an effort to identify priority in next procurement by considering its investment level and critical index. Information on critical index was gathered from selected residence physicians that had been known as frequent users. The ABC critical index analysis revealed that group A (75- 20-5) represented the highest investment totaling 66.51% of total expenditure, consisted of 32 item of antibiotic (9.33%); group B represent 28.99% of total expenditure (126 items) and group C represent 4.50% of total expenses. The total group A 75-20-5 with categories according to level of utilization, investment as well as critical index consisted 74 items, if grouped to generic drugs the least would decrease to 60 items. This approach which aimed to control level of antibiotic availability, can be utilized to identify priority in next procurement by considering its investment level.

Read More
B-500
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Niken Tri Utami; Pembimbing: Suprijadi Rijadi; Penguji: Ronnie Rivany, Anwarul Amin, Heru Kusumanto
Abstrak:
Dalam menghadapi era global, rumah sakit di Indonesia menghadapi tantangan untuk bersaing dengan rumah sakit lain, antara lain persaingan dalam menjaga dan meningkatkan mutu pelayanannya. Untuk mengevaluasi kualitas pelayanan, diperlukan adanya indikator yang dapat dikelompokkan kedalam indikator klinis dan indikator organisasi. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Untuk pengumpulan data, khususnya yang berhubungan dengan indikator klinis dan indikator organisasi, menggunakan instrumen penelitian, wawancara dengan pihak yang terkait di RSUD, dan melakukan studi dokumentasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis indikator klinis dan indikator organisasi yang dapat dipakai untuk mengevaluasi kualitas pelayanan RSUD. Dari wawancara dengan pihak yang terkait yaitu Direktur, Kepala Tata Usaha, Kepala Subbag Kesekretariatan, Kepala Subbag Keuangan, Komite medik, Kepala Rung Rawat Inap Kebidanan dan Anak/Perinatologi, didapatkan unsur-unsur yang dapat dikelompokkan kedalam indikator klinis dan indikator organisasi. Dari hasil penelitian diperoleh indikator klinis yang dapat dipergunakan pada kelompok pelayanan ibu melahirkan dan bayi neonatal (AKIP, AKIE, AK3 baru lahir dengan BB<=2000 gram), dan indikator organisasi yang dapat dipergunakan untuk mengukur produktivitas RSUD (BOR, kunjungan optimal pasien), efisiensi dengan mengadakan pengukuran terhadap ALOS, mutu layanan dengan pengamatan terhadap pengelolaan keluhan/kepuasan pasien RSUD dan NDR. Kesimpulannya, dengan adanya indikator klinis dan indikator organisasi, dapat dipakai untuk mengevaluasi kualitas pelayanan RSUD sebagai upaya koreksi dan peningkatan kualitas pelayanan RSUD di Propinsi Sumatera Barat. Daftar Pustaka : 31 buku (1986-2001)

Evaluating of the General District Hospital's Service Quality in West Sumatera Province In facing the globalization era, hospitals in Indonesia are facing challenges in competing with other hospitals, such as competition in maintaining and improving the service quality. To evaluate the service quality, clinical and organization indicators are needed. This research is using qualitative and exploration approaches. To collect the data, specifically which refers to clinical and organization indicators, the writer uses research instrument, interview the resource persons of the General District Hospital, and applies documentation studies. The purpose of this research is to analyze clinical and organization indicators that can be used to evaluate the service quality of General District Hospital. The writer is able to get some elements that can be put in clinical and organization indicator from the interviews with the management of the hospital; they are the Director, Head of Administration, Head Department of Secretarial, Head Department of Finance, Medical committee, and chief of Perinatology word. From the result of the research, the writer is able to get clinical indicator that can be used in the group of giving birth mother and neonatal baby services (AKIP, ANTE, AKB newborn BB <= 2000 gram), and organization indicator that can be used to measure the productivity of General District Hospital (BOR, patients optimum Visits), efficiency by measuring ALOS, service quality by observing the management of the hospital patients complaints/satisfaction and NDR. The conclusion is, if there are clinical and organization indicators, they can be used to evaluate the service quality of general District Hospital as a correction and an improvement of the General District Hospital in West Sumatera Province. Reference: 31 (1986 - 2001)
Read More
B-503
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anak Agung Ayu Yuli Indriani; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Dian Ayubi, Anwarul Amin, Iwan Turniawan
Abstrak:

ABSTRAK Pemerintah saat ini telah melakukan berbagai upaya kesehatan dalarn rangka penyediaan pelayanan keszhatan yang merata, bermmu, dan tezjangkau oleh seluruh Iapisan masyarakat. Namxm upaya kesehatan tersebut belum diselenggarakan secara menyeluruh, sehingga kumng dapat menunjang peningkalan demjat kesehatan masyarakat. Harapan masyamkat agar pelayaman rumah sakit dapat memberikan pelayanan yang efektif dan kcpuasan yang optimal bagi setiap orang yang memanfaatkannya, untuk itu dibumhkan sumberdaya manusia yang handal. Mengelola Sumber daya manusia bukanlah sesuatu ha] yang mudah, karena menyangkut banyak faktor panting yang- harus diperhatikan, salah satunya adalah faktor kepuasan kerja. Kepuasan kelja ini akan berpengaruh pada kinerja, dan rendahnya kepuasan kezja merupakan satu tanda rusaknya kondisi suatu organisasi. Peuelitian ini bcrtujuan untuk mendapatkan gambaran tentang kepuasan kezja pegawai di rumah sakit dr A K Gani Palcmhang, melalui pengisian lcuesioner untuk mengetahui persepsi, dan kepuasan kexja yang dinilai dengan melihat harapan dan kcnyataan dari kepemimpinan, pekcljaan, komunikasi dan penghargaan. Wawancara mendalam serta focus group discussion yang dilaksanakan pada kepala ruangan, kepala polikiinik, anggota pelaksana, bcxtujuan mendapwn penegasan pada hasil data kuantitatiii Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April sampai Mei 2007. Desain penelidan yang dipilih adalah analitik kuantitatif rancangan cross sectional dengan responden yaitu SCIUIUII militer yang ada sesuai dengan kriteria inklusi sebanyak 50 orang, dan Pegawai Negeri Sipii diambil secana acak sebanyak 100 orang. Hasil penelitian didapatkan adanya perbedaan nilai rata-rata tingkat kepuasan pegawai Militer dan Pegawai Ncgcri Sipil, yaitu mia-rata tingkat kepuasan Pegawai Negeri Militer sebcsar 59,24% yang bervariasi antara 45%-8l,82%, sedangkan Pegawai Negeri Sipil lata-rata tingkat kepuasan kexja sebesar 54,58% yang bervariasi antara 44,87%- 67,l2%, hasil penelitian ini juga membuktikan bahwa pada responden militer terdapat beberapa vasiabel yang mempunyai hubxmgan signiiikan yaitu, jenis pekeljaan, motivasi, konflik, dan prosedur kelja. Sedangk/an pada responden Sipil didapatkan vmiabel yang bedxubungan signiikan dengan kepuasan kczja adalahz mam ke1ja,pendidikan, peluang promosi dan konflik. Variabel yang paling dominan berpengaruh ten-hadap kepuasan kelja pada pegawai Negeri Militer adalah jenis pekexjaan, dan pada Pegawai Negeri Sipil adalah evaluasi kelja. Selain im ada bebempa hal yang menjadi prioritas mama dalam hubungannya dengan kepuasan kexja bagi Militer, yaitu atasan diharapkan melibatkan bawahan dalam memncanakan Sualll pekeljaan (faktor kepemimpinan), perasaan suka akan suatu pekeljaan dibutuhkan untuk mendapatkan hasil yang memuaskan (P??kClj38I1), dalam menyelesaikan permasalahan dibuhuhkan komunikasi yang. baik_ Sedangkan pada PNS yang menjadi prioritas utama adalah : atasan harus melibatkan bawahanda1ammerencanakm\suampekmjaan,atasanharusmembanmkenaikan P=1l1£J


ABSTRACT There are so many e&`orts have been done by the govemment in order to provide a thorough, high quality, and aEordable health services to any level of community in Indonesia. However, the effort has not yet been accomplished comprehensively and can not be optimal to enforce the increasing of the level of community?s health. People?s expectation on the hospital services is that hospital can provide an e&`ective and a satisfaction services to everyone who visit and utilizing the hospital. Therefore, outstanding human resources are needed. To organize and manage the human resource in the institution is not a simply as turning the palm ofthe hand, as there are so many important factors are related that need to consider. One of the factors is the working mtisfaction. It is known that working satisfaction will influence the working performance, and a low working satisfaction can be a sign of organization devastation The study has aim on exploring the description on working satisfaction of employees at the DR. A. K. Gani Hospital (AKGH) of Palemhang, using self-filling questionnaire in order to know the perception, and working satisfaction that assessed by looking at the expected and facts of leadership, task, communication and reward. In- depth interview and focused group discussion (FGD) are carried out toward head of section, head of poiiclinic, and member of implementer, in order to get continuation on the result of quantitative data. The study is carried out between April and May 2007. The design of the study is a cross sectional with quantitative approach. All military employees are included as respondents, but only 100 civil employees are selected randomly. The study result showed that there is a different score on the average of the satisfaction level between military and civil employees. The average of satislaction level among military employees is 59.24% with range between 45-8l.82%. While among civil employees, the average is 54.58% with range between 44.87-67.l2%. Variables that significantly related with working satisfaction among military employees are: type of work, motivation, conflict, and working procedures. But, among civil employees, the variables are: length of working, education, opportunity for increasing level of working rank (promotion), and conflict. The most dominant variable at the military employees is type of work, but in the civil employees is working evaluation. For military employees, the main priorities in relation to working satisfaction are namely: suppose the chief should involving the employees for planning the work (leadership factor), sense of liking the job/work is needed in order to give a satisfactory on working (work factor), good conununication is needed to solve the problem. In the civil employees, the main priorities are: the chief should involve the employees for planning the work and should facilitate the employees to raise their rank based on their performance (leadership factor), good communication is needed to solve the problem and working evaluation should be disseminated (communication factor), sense of liking the job/work is needed in order to give a satisfactory on working, a working rotation can be use to prevent the working boringness, conformity between task and skill is an important thing (work factor). To conclude, the managers should provide a kind of communication pathway, especially hom down imder to top manager, such as: suggestion box, and independent small team, team evaluator, to consider a reward system with minimal cost, and enforcing motivation towards employee for increasing the work performance.

Read More
T-2568
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive