Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Fadlia Fardhana; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Sjaaf, Amal Chalik; Iin Dewi Astuty
Abstrak: Clinical pathway merupakan sebuah alat untuk menjaga kualitas pelayanan dan efisiensi biaya dengan cara menstandarkan pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak dari implementasi clinical pathway terhadap peningkatan kualitas pelayanan dan pengeluaran biaya yang lebih efisien. Analisis dampak dari implementasi clinical pathway dilakukan dengan cara membandingkan lama hari rawat, pelayanan, dan tagihan antara kelompok sebelum dan setelah implementasi clinical pathway dengan standar pelayanan. Tidak ada perbedaan rata-rata yang signifikan antara sebelum dan setelah clinical pathway pada lama hari rawat yaitu sebesar 5,9 hari, namun pada setelah clinical pathway terjadi penurunan variasi dan lebih mengikuti standar dalam clinical pathway. Variasi laboratorium dan radiologi mengalami penurunan pada kelompok setelah clinical pathway namun pada obat terjadi peningkatan jumlah variasi. Tagihan pasien mengalami kenaikan yang signifikan yaitu sebesar 19,66%. Peningkatan tagihan disebabkan oleh lama hari rawat yang cenderung lebih panjang pada kelompok setelah clinical pathway sehingga meningkatkan biaya akomodasi dan tindakan. Rumah sakit perlu melibatkan seluruh tenaga kesehatan terkait mulai dari proses pembuatan clinical pathway hingga implementasinya agar proses implementasi menjadi lebih maksimal. Selain itu, diperlukan peninjauan dan sosialisasi perihal peraturan terkait Pedoman Nasional Pelayanan Kesehatan, Panduan Praktik Klinis, dan clinical pathway oleh Kementerian Kesehatan, serta diperlukan kerja sama antara rumah sakit, Kementerian Kesehatan, dan BPJS dalam penyusunan hospital base rate untuk perbaikan tarif INACBG.
Read More
T-5740
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mohammad Asif Alokozai; Advisor: Tri Krianto, Co-advisor: Dian Ayubi; Examiner: Hafni Rochman, Judhi Astuty Februhartanty
T-3499
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arfan Awaloeddin; Pembimbing: Amila Megraini; Penguji: Purnawan Junadi, Adang BAchtir, Astuty, Anwarul Amin
Abstrak:

Rurnah sakit sebagai mata rantai sistern kesehatan diharapkan dapat mencapai pelayanan yang bermutu, berdaya guna, serta didirikan dan dijalankan dengan tujuan untuk memberikan pelayanan kesehatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif yang diperlukan oleh masing-masing penderita dalam batas kemampuan teknologi dan sarana yang tersedia di rumah sakit. Salah satunya adalah instalasi farmasi yang merupakan sarana penting dalam proses penyembuhan dan merupakan salah satu komponen biaya operasional yang besar dari seluruh biaya operasional rumah sakit. Anggaran yang dibelanjakan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Awal Bros untuk obat dan alkes sebanyak 46.65 % (Rp 5.155.680.986) dari total pengeluaran rumah sakit, dari jumlah tersebut 37.88% (1.952.881.880) adalah investasi untuk obat antibiotika. Penelitian dilakukan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Awal Bros pada pemakaian obat-obatan antibiotika periode Januari hingga Juni tahun 2001, dengan tujuan mengidentifikasi tingkat persediaan obat antibiotika di instalasi farmasi, merencanakan dan mengendalikan jumlah pemesanan obat yang efisien dan efektif. Perencanaan yang tepat diharapkan dapat menghasilkan suatu jumlah dan jenis persediaan perbekalan di instalasi farmasi, dalam hal ini khusus obat antibiotika. Persediaan obat-obatan antibiotika dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kelompok berdasarkan nilai pemakaian, nilai investasi dan nilai indeks kritis dengan memakai analisis ABC. Pengelompokkan ini merupakan salah satu cara untuk mengendalikan persediaan, dengan demikian dapat diketahui jenis obat mana yang perlu diperhatikan karena mempunyai investasi yang tinggi dengan nilai kritis yang tinggi pula. Indeks kritis dapat diketahui melalui pendapat dari para dokter full timer yang berada di Rumah Sakit Awal Bros yang memakai obat tersebut. Hasil analisis indeks kritis ABC didapatkan basil bahwa kelompok A untuk 75-20-5 yang memerlukan investasi paling tinggi (66.51 % dari seluruh biaya) terdiri dari 32 item obat (9.33 %), kelompok B menelan biaya 28.99% terdiri dari 126 item obat dan kelompok C menelan biaya 4.50% dari seluruh biaya. Jenis obat antibiotika kelompok A 75-20-5 berdasarkan pemakaian, investasi dan indeks kritis berjumlah 74 item, jika dikelompokkan dengan kelompok nama generik akan dapat berkurang menjadi 60 item. Hal ini setidaknya rumah sakit Awal Bros dapat melakukan efisiensi sehingga biaya yang hares diinvestasikan akan berkurang.


 

Hospital is the part of health system chain which might be expected to provides quality services, efficient, and was established, operated to achieve various level of health services including promotion, prevention, curative and rehabilitation to meet patient needs in accordance to both technologies and facilities availabilities in the respective hospital. In particularly, pharmaceutical department is one of the important facilities in patient care that consume the biggest part of operational cost. In Awal Bros hospital, drugs and consumable goods spent 46.65% of total hospital expenditure. (Rp 5.155.680.986.-). In addition the hospital spent 37.88% of their total drugs expenditure for antibiotic (1.952.881.880 rupiahs). This study took place in Pharmaceutical Department of Awal Bros hospital during January 2001 thorough June 2001 period that aimed to identify the availability of antibiotic, and to develop the most economical procurement plan as well as to manage the availability. By doing so it was expected the hospital could manage the availability of antibiotic in terms of amount and type. The availability of antibiotic was grouped into different categories according to level of utilization, investment as well as critical index by using ABC analysis. This approach aimed to control level of antibiotic availability, an effort to identify priority in next procurement by considering its investment level and critical index. Information on critical index was gathered from selected residence physicians that had been known as frequent users. The ABC critical index analysis revealed that group A (75- 20-5) represented the highest investment totaling 66.51% of total expenditure, consisted of 32 item of antibiotic (9.33%); group B represent 28.99% of total expenditure (126 items) and group C represent 4.50% of total expenses. The total group A 75-20-5 with categories according to level of utilization, investment as well as critical index consisted 74 items, if grouped to generic drugs the least would decrease to 60 items. This approach which aimed to control level of antibiotic availability, can be utilized to identify priority in next procurement by considering its investment level.

Read More
B-500
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vika Wahyudi Anggiri; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Ede Surya Darmawan, Septiara Putri, Iin Dewi Astuty, Hadijah Tahir
Abstrak: Resep elektronik merupakan salah satu sistem informasi berpusat kepada pelayanan dengan menghubungkan antara dokter dan apoteker yang bertujuan untuk meningkatkan keselamatan pasien, mengurangi ketidakefisienan dan mengurangi kesalahan pemberian obat. Penyelenggaraan resep elektronik bertujuan untuk memudahkan pengguna dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari. Namun, faktor kegunaan dan manfaat dari teknologi ini akan bergantung dari penerimaan pengguna dalam memanfaatkan teknologi yang ada. Tujuan penelitian untuk mengetahui dan menganalisa pengaruh penerimaan penggunaan terhadap resep elektronik dengan pendekatan Technology Acceptance Model di RS PON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono. Penelitian dilakukan pada bulan Juni sampai Juli tahun 2020 menggunakan desain penelitian studi cross sectional dengan pendekatan metode kuantitatif. Uji hipotesis menggunakan analisis Partial Least Square dengan probabilitas dua arah dimana nilai T-statistik lebih besar dari 1,96 maka hasil signifikan dengan memiliki pengaruh yang bermakna. Penerimaan teknologi resep elektronik di RS PON Prof. Dr. dr. Mahar Marjono dikategorikan cukup dengan nilai 69,6%. Hasil penelitian menunjukan bahwa persepsi kemudahan penggunaan dipengaruhi oleh desain layar, terminologi dan pelatihan serta sikap terhadap penggunaan dan kecenderungan penggunaan dipengaruhi oleh persepsi kegunaan. Kondisi nyata penggunaan sistem terjadi penurunan jumlah penggunaan resep elektronik dan didapatkan nilai rata-rata penggunaan resep manual sebesar 5,4%. Implementasi resep elektronik di RS PON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono sudah berjalan cukup baik dan diperlukan peningkatan kemampuan sistem dengan tujuan meningkatkan kinerja dan kualitas layanan rumah sakit.
Electronic prescribing is one of the information systems focusing on automated service that connects doctors and pharmacists, which potentially improves safety care, reduces inefficiencies and prescription errors. Electronic prescribing assists users in delivering their daily works. However, the usefulness factor and benefits of electronic prescribing relies on the user acceptance to optimize the advantages of this technology. This research aims to find and to analyze the effect of user acceptance towards electronic prescribing by using Technology Acceptance Model approach at National Brain Center Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Hospital. The research was conducted in June to July 2020 by employing cross sectional research design and quantitative method approach. The hypothesis testing is developed by using Partial Least Square analysis with a twoway probability where if the value of T-Statistics is higher than 1,96, the effect is significant and meaningful. User acceptance towards electronic prescribing at National Brain Center Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Hospital is categorized as sufficient with a value of 69,6%. The research finds that perceived ease of use was influenced by screen design, terminology and training, while attitude towards using and behavioral intention were influenced by perceived usefulness. The actual system use signifies a decline in electronic prescribing usage and the average value of using manual prescribing was 5,4%. Implementation of electronic prescribing at National Brain Center Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Hospital has been running quite well and it is necessary to increase system capabilities with the aim of improving the performance and quality of hospital services.
Read More
B-2160
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lili Marliani; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Wahyu Sulistiadi, Kevin Gilbert, Iin Dewi Astuty
Abstrak: Semakin bertambahnya rumah sakit di Indonesia menyebabkan perlunya strategi marketing dari pihak manajemen rumah sakit, termasuk promosi dokter. Pada era Milenial sekarang ini, dimana terjadi pergeseran dari marketing tradisional ke digital, promosi melalui media sosial menjadi pilihan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh promosi dokter spesialis obstetri dan ginekologi melalui media sosial terhadap kunjungan pasien di RSIA Bunda Citra Ananda Ciputat periode 2016- 2019.
Metode penelitian adalah observasi data SIRS terhadap perbedaan kunjungan dokter yang mendapat promosi media sosial dan yang tidak mendapatkan, serta trend kunjungan dokter-dokter yang mendapatkan promosi. Juga dilakukan survei pendapat pasien dengan pendekatan kuantitatif tentang promosi media sosial RSIA Bunda Citra Ananda yang dilanjutkan dengan survei terhadap dokter obsgin dengan pendekatan kualitatif.
Hasil penelitian didapatkan perbedaan jumlah kunjungan dokter yang mendapatkan promosi melalui media sosial dan yang tidak, dimana dokter yang mendapat promosi meperoleh kunjungan pasien yang meningkat sebesar 385,2 % sedangkan dokter yang tidak mendapatkan promosi mempunyai kunjungan pasien yang menurun sebesar 2,8 %. Terdapat perbedaan trend kunjungan pasien pada keempat dokter yang mendapatkan promosi melalui media sosial. Respon yang tertinggi dari survei terhadap pasien terdapat pada variabel ask dan advocate yang menandakan tingginya rasa keingintahuan dari follower terhadap informasi yang didapatkan dalam akun Instagram RSIA Bunda Citra Ananda dan tingginya kesetiaan atau penganjuran dari pelanggan atau pasien RSIA Bunda Citra Ananda. Terdapat faktor lain yang mempengaruhi kunjungan pasien di RSIA Bunda Citra Ananda selain promosi melalui media sosial.
Kesimpulan dari penelitian adalah terdapat pengaruh positif antara promosi dokter melalui media sosial terhadap kunjungan pasien di RSIA Bunda Citra Ananda yang juga dipengaruhi oleh faktor dari dokter dan dari rumah sakit. Promosi di RSIA Bunda Citra Ananda menurut persepsi pasien sudah efektif yang ditandai dengan nilai Aware, Appeal,Ask, Act dan Advocate (5A) yang cukup tinggi

The increasing number of hospitals in Indonesia has led to the need for marketing
strategies on the part of hospital management, including the promotion of doctors. In this
Millennial era, where there is a shift from traditional marketing to digital, promotion
through social media is a choice. The purpose of this study was to determine the effect of
the promotion of obstetric and gynecology specialists through social media on patient
visits at RSIA Bunda Citra Ananda Ciputat for the period of 2016-2019.
The research method was observing SIRS data on differences in doctor visits that received
social media promotions and those who did not get them, as well as trends in doctor visits
that received promotions. A survey of patients' opinions was also carried out with a
quantitative approach to the promotion of RSIA Bunda Citra Ananda’s social media,
followed by a survey of obstetricians with a qualitative approach.
The results showed differences in the number of visits to doctors who get promotions
through social media and those who don't, where doctors who get promotions get patient
visits which increases by 385.2% while doctors who don't get promotions have patient
visits decrease by 2.8%. There is a difference in the trend of patient visits among the four
doctors who get promotions through social media. The highest response from the survey
of patients lies in the ask and advocate variable which indicates the high curiosity of
followers towards the information obtained in the Instagram account of RSIA Bunda Citra
Ananda and the high loyalty or encouragement from customers or patients of RSIA Bunda
Citra Ananda. There are other factors that influence patient visits at RSIA Bunda Citra
Ananda besides promotion through social media.
The conclusion of the study is that there is a positive influence between the promotion of
doctors through social media on patient visits at RSIA Bunda Citra Ananda which is also
Universitas Indonesia
influenced by factors from doctors and from hospitals. Promotion in RSIA Bunda Citra
Ananda according to the patient's perception has been effective which is marked by the
high Aware, Appeal, Ask, Act and Advocate (5A) values.
Read More
B-2140
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Stevani Dharma Yanti; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Prastuti Soewondo, Iin Dewi Astuty, Aldrin Neilwan P.
Abstrak:
Electronic Medical Record (EMR) sebagai salah satu upaya pengelolaan satu data kesehatan berbasis individu masih belum terlaksana berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan 24/2022. Peraturan mewajibkan seluruh fasyankes menyelenggarakan rekam medis berbasis digital dan terintegrasi maksimal tanggal 31 Desember 2023. Hingga saat ini terdapat 2.000 dari 3.000 RS yang belum menyelenggarakan EMR sesuai peraturan. Salah satu penyebab adalah kurangnya kesiapan sumber daya manusia (SDM). Padahal EMR memudahkan beberapa kegiatan pelayanan hingga meningkatkan kualitas dan organisasi pelayanan kesehatan. Penelitian menggunakan teori FITT Framework dan manajemen perubahan oleh Kotter untuk menganalisis kesiapan SDM dan strategi untuk mempercepat implementasi EMR. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan jenis studi kasus. Informan penelitian ditentukan dengan metode purposive sampling terdiri dari manajemen rumah sakit, tenaga medis, tenaga kesehatan, dan pihak mitra penyelenggara EMR. Data yang dikumpulkan berupa data primer yaitu hasil pengumpulan data dan data sekunder melalui telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SDM di lokasi penelitian tidak siap terhadap kebutuhan, keterlibatan, penyediaan teknologi, dan ketersediaan kebijakan penyelenggaraan EMR. Ketidaksiapan SDM disebabkan kurang jelasnya regulasi, kurangnya dukungan dan komitmen manajemen terhadap perannya, dan kurangnya motivasi, komunikasi, koordinasi antar SDM. Kesimpulan penelitian adalah dibutuhkan penerapan manajemen perubahan secara bertahap bagi pihak terlibat untuk mempercepat implementasi EMR di lokasi penelitian.

Electronic Medical Record (EMR) as an effort to manage the entire individual-based health data is still not implemented based on The Regulation of Minister of Health 24/2022. Regulation requires all of health facilities to organize digital-based and integrated medical record by December 31st 2023. However, 2.000 out of 3.000 hospitals have not implemented EMR according to the regulation yet. One of the causes is a lack of human resources (HR) readiness. In fact, EMR can facilitate several service activities and improve the organizations and quality of health service. The study used the FITT Framework theory and Kotter’s change management to analyze the HR readiness and the strategies needed to accelerate the implementation. This study used a qualitative method with case study design. The informants of the study were determined using the purposive sampling method consisted of hospital management, medical personnel, health workers, and the organizing partner. The data collected is primary data from data collection and secondary data through document review. The study results showed that the HR at the research location is not ready for needs, engagement, providing technology and policy for impelementing EMR. The unreadiness of the HR is caused by the lack of clarity in the regulation, the lack of management support dan commitment to their role, and lack of motivation, communication, and coordination between the HR. The research conclusion is that implementing change management gradually is needed for the parties involved to accelerate the EMR implementation at the research location.
Read More
T-6863
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive