Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Salah satu kebijakan pemerintah untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI) adalah dengan meluncurkan Program Jaminan Persalinan (Jampersal). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan Jampersal oleh Ibu Bersalin di Wilayah Kerja Puskesmas Sungai Duren Kabupaten Muaro Jambi Tahun 2013. Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan teknik pengambilan sampel secara proportional random sampling dilanjutkan dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam kepada 9 informan dan telaah dokumen.
Hasil penelitian kuantitatif menunjukkan 31,1 % yang memanfaatkan Jampersal. Terdapat hubungan signifikan antara variabel umur, pendidikan, pengetahuan, sikap, kepercayaan, pendapatan, aksesibilitas, peran petugas kesehatan dan kebutuhan terhadap pemanfaatan Jampersal. Variabel yang paling dominan berhubungan adalah pendapatan setelah dikontrol oleh pendidikan, pengetahuan, pendapatan dan aksesibilitas. Untuk itu disarankan kepada bidan agar memberikan informasi yang lebih intensif, jelas dan lengkap kepada masyarakat serta selalu berupaya meningkatkan mutu layanan Jampersal.
One of the government's policy to reduce the maternal mortality rate (MMR) is to launch Jampersal Program. This study purpose to describe the factors associated with utilization Maternity Insurance service (Jampersal) by maternal in Public Health Center Sungai Duren, Muaro Jambi Regency in 2013. The research method used a cross sectional sampling technique with proportional random sampling, after that followed by a qualitative approach through in-depth interviews and document review 9 informants.
Quantitative research results showed that 31.1% Jampersal utilize. There is a significant relationship between the variables of age, education, knowledge, attitudes, beliefs, income, accessibility, the role of health workers and the need to use Jampersal. The most dominant variable is income after controlled by education, knowledge, income and accessibility. This study recommended midwives to give more intensive information, clear and complete to the community and always working to improve the quality of service Jampersal.
Tesis ini membahas hubungan antara persepsi dimensi kualitas pelayanan kesehatan dengan kepuasan pasien Askes di Puskesmas Sukasari di Kota Tangerang. Penelitian ini dilakukan karena peneliti melihat adanya penurunan kunjungan pasien Askes pada tahun 2012. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain longitudinal. Teori yang digunakan untuk melihat dimensi kualitas adalah teori Cronin and Taylor (1992) yang terdiri dari lima variabel yaitu tangible, reliability, responsiveness, assurance, dan emphaty. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi kualitas yang signifikan berhubungan dengan kepuasan adalah tangible, reliability, responsiveness, assurance, dan emphaty dimana tangible adalah variabel dimensi kualitas yang paling kuat hubungannya dengan kepuasan.
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyarankan agar puskesmas meningkatkan kenyamanan pasien dengan meningkatkan fasilitas yang ada, meningkatkan kedisiplinan jadwal pelayanan, meningkatkan kesigapan dokter dan perawat, serta meningkatkan keterampilan perawat. Dinas Kesehatan perlu upaya peningkatan pembinaan kedisiplinan dan meningkatkan pelayanan puskesmas Sukasari menjadi rawat inap serta PT Askes perlu upaya peningkatan pelayanan dengan memberikan informasi hak dan kewajiban peserta Askes dan memfasilitasi program-program pencegahan di puskesmas lain di Kota Tangerang.
This thesis explores the relationship between perceptions of the dimensions of quality of health care at the health center patient satisfaction Askes Sukasari Tangerang City. This research was conducted because researchers saw a decrease in patient visits in 2012 Askes. This study is an observational study with a longitudinal design. Theory that used to see the dimensions of quality is the theory of Cronin and Taylor (1992) which consists of five variables: tangible, reliability, responsiveness, assurance, and empathy. The results showed that the quality dimension significantly related to satisfaction is tangible, reliability, responsiveness, assurance, empathy and tangible is the variable dimension quality where the most powerful relationship with satisfaction.
Based on this study, the researcher suggests the health center to improve their Askes patients? satisfaction through their Public Health Care Services by improving their facility, improving discipline in their service schedule, improving the responsiveness of the doctors and nurses, and improving the skills of their nurses. Based on this study, the researcher suggests the health center to improve their Askes patients? satisfaction through their Public Health Care Services by improving their facility, improving discipline in their service schedule, improving the responsiveness of the doctors and nurses, and improving the skills of their nurses. Health Department needs to increase efforts to prove service discipline and coaching clinic Sukasari be hospitalized. PT Askes need to improve services by providing information rights and obligations of participants and facilitate prevention programs in other health centers in the city of Tangerang.
Kota Tangerang adalah salah satu daerab yang berbatasan langsung dengan Jakarta dengan laju pertumbuban penduduk yang cukup tingg; mempunyai potensi kerentanan terhadap transmisi penyakit HIV / AIDS, mengingat potensi dan daya tarik Kota Tangerang sebagai daerah penyangga Ibu Kota Negara RJ dan sebagai; daerah Industri. Kasus peredaran dan pemakaian narkotika di wilayah Tangerang meningkat tajam, rata~rata meningkat hampir 100 persen per tahun. Penelitian ini melihat faktor yang berhubungan dengan perilaku berisiko tertular HIV/AIDS pada remaja peduli HlV/AIDS di Kecamatan Ciledug Kota Tangerang yang sebagian anggotanya adalah pengguna/mantan pengguna narkoba dan terdapat juga penderita HIVIAIDS positif yang tergabung di bawah pembinaan Yayasan Pelita Ilmu bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota Tangerang. Perilaku konsumsi narkoba berisiko adalah remaja yang mengkonsurnsi narkoba dengan menggunakan jarum suntik (injecting drug user) secara berganti pakai. Disain penetitian cross sectional pada 206 responden remaja berusia 15-24 tahun yang berperilaku menggunakan narkoba suntik melalui wawancara langsung dengan berpedoman pada kuesioner, Karakterisitk remaja yang dimaksud adalah meliputi karakteristik pribadi (pengetahuan tentang HIV/AIDS,jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, status ekonomi~ posisi urutan dalam keluarga, status orang tua, dengan siapa tinggal), lingkungan sosial (keterpaparan pargaulan dengan pengguna narkoba, pola asuh orang tua, lingkungan tempat tinggal) dan karakteristik budaya. (masyarakat fanatisme .gama, daerah pendatang/campur, kegiatan di luar rumah). Hasil analisis bivanat dengan chi square menunjukkan ada 8 (delapan) vanabel yang berhubungan erat (p < O.05) dengan perilaku pengguna narkoba berisiko yaitu tingkat pengetahuan, umur~ tingkat pendidikan, status ekonomi, status orang tua, pola asub orang tua, lingkungan tempat tinggal dan kegiatan di luar rumah. Hasil uji multivariat menunjukkan bahwa model terbentuk oleh variabel tingkat pengetahan, sosial ekonomi dan pola asuh. Hasil penelitian menunjukkan 55.3 %berisiko tertular H1VlAIDS. Remaja pengguna narkoba suntik yang mempunyai tingkat pengetahuan kurang, mempunyal risiko 6,9 kali dibandingkan yang mempunyai tingkat pengetahuan baik, Remaja pengguna narkoba suntik yang mempunyai tingkat pendidikan tinggi (SMU) rnempunyai risiko 5 kali dibandingkan yang mempunyal tingkat pendidikan rnenengah (5 SMU). Remaja pengguna narkoba suntik yang mendapalkan pola asuh damokrasi mempunyai risiko 5,3 kali dibandingkan mendapatkan pola asuh otoriter. Variabel yang paling dominan berhubungan dengan perilaku pengguna narkoba suntik berisiko adalah tingkat pengetahuan. Dari hasil penelitian ini perlu ditingkatkan program surveilans perilaku kesehatan atau Risk Behavioral Surveillance Survey (BSS) pada remaja pengguna narkoba suntik yang komunitasnya udah jelas, misalnya di Iingkungan Lembaga Permasyarakatan (LP) Pemuda dan komunltas remaj. penYalahguna narkoba yang bergabung dalam Yayasan Pedull AIDS. Bagi Pemerintah Daerah Kota Tangerang berkoordinasi dengan KPAD (Komisi Penanggulangan AIDS Daerah) membuat regulasi kewajiban bagi seko1ah-sekolah tingkat meneogah (SLTP ke alas) untuk melakukan tes bebas narkoba secara periodik, misalnya setiap 6 (enam) bulan. Sedangkan bagi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) selaln melakukan penyuluhan Secara periodik tentang bahaya penyalahgunaan narkoba.
Tangerang city is one of area bordered with Jakarta. With a high rapid growth of citizen, Tangerang is potential place as epidemic transmission of HIV/AlDS. It is because Tangerang has a potential and function as a support city of Jakarta and as industrial area. The drug dealer and drug user cases in Tangerang is sharply increasing, on average a hundred percent a year. This research is conducted to view the: connecting factor with risky behavior infected AIDS among young people who concerns with AIDS at Ciledug Tangerang. Those members are not only users and ex user but also an HIV positive. They are under Yayasan Pelita llmu which cooperated with health department. The risky drug user behavior is the Injected Drug User (IOU) young people who use drugs in turns. The cross sectional research design with 206 young people respondents on age range 15~24 years old with behavior IDU is conducted by the writer. The writer uses direct interview with the respondent along with questioner. The risky drug user behaviour infected by AIDS meant covers: personal characteristic (their knowledge about HlV/AlDS, gender, age, educational level, economic status, position in family, parents status, whom he or she lived with), social environment (friendship with drug users, parenting models, neighborhood) and cultural characteristic (religious fanatism society, creole area, outdoor activity). The result of bivariat analysis with chi-square shows there are eight close connected variables (p < 0.05) with the risky drug user behavior those are level of knowledge. age, educational level, economic status, parenting status, parenting model, social environment and outdoor activity. Multivariate test result shows that the models are formed by knowledge level. economic social. and parenting model. It shows that 55,3 percent are risked infected by HIV/AIDS The young people by Injected drugs users with low knowledge of HlV/AIDS have risk 6,9 times than young people who have better knowledge. The young people by Injected drugs users with high education level (high school) have five time risk than they who have lower education (:5 high school). The young people injected drugs users with democratic parenting model have risk 5,3 times than with otoriter parenting model the most dominant variable of injected drugs users behavior with risk is knowledge level. This research result with the surveillance health behavior program or risk behavior surveillance survei (BSS) among injected young people which a1ready known community is needed to be increased, the 'example among young people prisoner. young people drugs users community that united in AlDS care foundation. For Tangerang city government need to coordinate the local comission of AIDS tackling to make strick regulation for junior and high sehool to hold free drugs: test periodically~ for example every six months. While for institution of independence society (LSM) always do health promotion about the dangerous of drugs users periodically.
ABSTRAK
Tuberkulosis (TB) menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling serius,masalah kesehatan di dunia dan penyebab utama kematian di negara berkembang.Indonesia merupakan negara dengan pasien TB terbanyak ke-3 di dunia setelah Indiadan Cina. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan bahwapenyakit TB penyebab kematian nomor 5 setelah penyakit kardiovaskular danpenyakit saluran napas pada semua kelompok usia dan nomor 1 dari golonganpenyakit infeksi. Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis danmenyerang organ pernapasan walaupun dapat mengenai organ lain. Sejak meluaspenyakit human immunodeficiency virus (HIV) dan pertambahan kasus TB kebal obat(MDR-TB), masalah TB yang sebelumnya telah teratasi kembali mencuat, sehinggapengawasan dan pemberantasan penyakit ini menjadi bertambah rumit.Angka kesalahan (error rate) pemeriksaan laboratorium pada Mycobacteriumtuberculosis sangat mempengaruhi penemuan penderita dan pengobatan penyakittuberkulosis. Error rate pemeriksaan laboratorium yang tinggi berarti kemampuanmendeteksi kurang, pemeriksaan belum dapat dipercaya hasil pelaporannya, akanberdampak masalah penyakit tuberkulosis di masyarakat tidak terdeteksi dengan baikdan benar, obat anti tuberkulosis tidak berhasil guna penyembuhan. Sehinggapenularan penyakit TBC tidak dapat ditanggulangi dengan baik di masyarakat.Berdasarkan hasil laporan cross check pemeriksaan BTA triwulan I sampai IVdi Kota Tangerang tahun 2012 terjadi error rate 5,26% sampai 36,36%. Nilai errorrate yang ditoleransi dari Kementerian Kesehatan maksimal 5%.Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kinerja petugas pemeriksa BTA dandeterminannya. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desaincross sectional. Sampel pada penelitian ini 26 petugas laboratorium puskesmas yangmelakukan pemeriksaan BTA. Dari 26 petugas pemeriksa BTA terdapat 15 petugasdengan error rate rendah dan 11 petugas dengan error rate tinggi. Pengumpulan datadilakukan menggunakan kuisioner dan wawancara. Dari hasil penelitian diketahuifaktor yang berhubungan dengan error rate BTA adalah sistem dan beban kerja.Hasil analisis multivariat menunjukkan variabel sistem (nilai p=0,030, OR=16,0)berhubungan bermakna dan faktor dominan berhubungan dengan kinerja petugaspemeriksa BTA. Disarankan kepada petugas pemeriksa BTA sistem yang ada (pmi,menerapkan SOP) dan Dinas Kesehatan memberi pelatihan dan bimbingan intensif,serta melengkapi kebutuhan laboratorium terutama untuk pemeriksaan BTA.
ABSTRACT
Tuberculosis (TB) has become one of the most seriuos health problem, healthproblem in the world, and the leading cause of death in developing countries.Indonesia is the country with the highest number of TB patients to the 3rd in theworld after India and China. Household Health Survei showed the TB diseases 5causes of death after cardiovascular disease and respiratory disease in all age groupand the number 1 of infectious disease group. Tuberculosis is caused byMycobacterium tuberculosis and can attack the respiratory organs, although otherorgans. Since the widespread disease of human immunodeficiency virus (HIV) andan increase of drug resistance case of TB (MDR-TB), TB issues that previously havrbeen resolved back sticking out, of control and eradication of this disease becomemore complicated.Error rate of laboratory test on Mycobacterium tuberculosis greatly affect thedetection and treatment of tuberculosis. Laboratory error rate is high means the abilityto detect less, yet reliable inspection result reporting, will impact the problem oftuberculosis in the community are not detected properly, anti tuberculosis failed tocure. So that transmission of TB disease cannot be addressed properly in society.Based on the results of smear examination report cross check until the fourthquarter in the city of Tangerang in 2012 there is an error rate of 5.26% to 36.36%.Value of the tolerable error rate of 5% maximum Health Ministry.The purpose of this study was to determine the error rate of smear examination and itsdeterminant. This study is an observational study with cross-sectional design. Thesamples of the study 26 laboratory workers who perform both smear clinic. Of 26inspectors smear contained 15 inspectors smear with a low error rate and 11 with ahigh error rate. The data was collected using interviews and questionnaires. Thesurvey results revealed that factors related to the error rate and the BTA is a systemtool and workload. Multivariate analysis showed system variabel (p value = 0.003,OR = 16) correlated significantly and significantly associated dominant factor relatedto the performance of the examiners BTA. Suggested to the examiners BTA existingsystem (pmi, implement the SOP) and the Department of Health provide intensivetraining ang guidance, as well as complete laboratory requitments, especially forsmearexamination.
