Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Mahdi Mahidin; Pembimbing: Ridwan Zahdi Sjaaf; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Triovva Elsy A.
Abstrak:
Dalam melaksanakan transportasi darat terutama transportasi kereta api tidak terlepas dari kecelakaan, data terakhir tentang kecelakaan kereta khusus di daerah operasi I Jakarta kereta KRL jalur Jakarta-Bogor tahun 2003 tercatat 53 orang luka ringan, 125 orang luka berat dan 100 orang meninggal dunia. Jeffs kecelakaan adalah jatuh dari kereta, terbentur peron, terkena lemparan batu, tersengat arus listrik, terjepit pintu kereta, terjepit di sambungan kereta, tertabrak pada perlintasan kereta. Kondisi dan tindakan tidak aman kereta api salah satu penyebabnya adalah kurang pengetahuan keselamatan. Disan penelitian merupakan penelitian deskriptif dengan metoda survei. Survei dimaksud adalah mengambil sampel dari suatu populasi dengan menggunakan angket, deskriptif dimaksudkan untuk menggambarkan pengetahuan KRL yang berstatus mahasiswa terhadap bahaya dalam menggunakan jasa KRL; prosedur menggunakan kereta KRL, peralatan keselamatan dalam keadaan darurat dan lingkungan (keadaan). Pengetahuan keselamatan tentang prosedur menggunakan kereta KRL (SOP), FKM sebesar 79% (baik) dan Non-FKM 76% (baik), K3 sebesar 91% (sangat baik) dan Non-K3 67% (baik); Pengetahuan tentang peralatan keselamatan dalam kedaan darurat, FKM sebesar 35% (buruk) dan Non-FKM 30% (buruk), K3 sebesar 51% (cukup) dan Non-K3 18% (sangat buruk); Pengetahuan tentang keadaan, FKM sebasar 94% (sangat bail() dan Non-FKM 94% (sangat baik), K3 sebesar 96% (sangat baik) dan Non-K3 93% (sangat baik). Perusahaan sebaiknya melakukan perbaikan peningkatan pengetahuan keselamatan yaitu dengan cara membuat iklan layanan masyarakat di media cetak maupun elektronik dan atau pemberitahuan dapat berupa pemberian informasi melalui microphone, tulisan, papan pengumuman, ballyhoo, dll. Divisi Hyperkes & Keselamatan Kerja diberdayakan semaksimal mungkin dan pada akhirnya tingkat kecelakaan dapat ditekan. Pihak manajemen PT. Kereta Api sebaiknya meningkatkan frekuensi kereta KRL, jadwal keberangkatan tersusun rapi dan atau menambah rangakaian gerbong untuk mengurangi kepadatan yang berlebihan.

on implementation transportation land especially train transportation is not quit of accident, last data about accident of specially area operate for commuter (KRL) I Jakarta class of Jakarta-Bogor year 2003 noted 53 people lightly injured, 125 people hardly injured and 100 people die. Accident type are falling from cart, catch by pet-on, hit by stone hurl, stung by electrics current, jam in cart door, jam in cart extension, bumped cart trajectory. Condition and action is not peaceful passenger of train one of its cause is less knowledge of safety. Research design is descriptive research with survey method. Such survey to take sample from a population by using unquote, meant descriptive to depict knowledge of passenger of commuter (KRL) which have student status to danger in using service of KRL; procedure use cart of KRL, equipments of safety of emergency and environment ( situation). Safe knowledge about procedure use cart of KRL (SOP), FKM equal to 79% (goodness) of Non-FKM 76% (goodness), K3 equal to 91% (very good) and Non-K3 67% (goodness); Knowledge about equipments of safety of emergency, FKM equal to 35% (ugly) of Non-FKM 30% (ugly), K3 equal to 51% (enough)of Non-K3 18 % ( so ugly); Knowledge about environment is FKM 94% (very good) and Non-FKM 94% (very good), K3 equal to 96% (very good) and Non-K3 93% (very good). Company better do repair of make-up of knowledge of safety that is by making society service advertisement media print and also electronic and or notification can in the form of giving of information through microphone, article, pasteboard, ballyhoo, etc. Division of Hyperkes & Keselamatan Kerja as maximum and in the end mount accident of passenger can be depressed. Management from PT. Kereta Api improves cart frequency of KRL, departure schedule lapped over natty and or add wagon to lessen density of abundant passenger.
Read More
T-1865
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Neny Herawati; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Ridwan Z. Sjaaf, Triovva Elsy
Abstrak:

Distribusi pasien yang tidak merata menyebabkan beberapa poliklinik jumlah kunjungan pasiennya sangat banyak (Rata - rata 150 orang per hari), sedangkan ada poliklinik yang jumlah pasiennya sangat sedikit (< 20 orang per hari). Besar gaji dan insentif yang diterima dokter setiap bulannya sama tidak mempertimbangkan jumlah pasien yang dilayani oleh dokter, serta absensi dokter pada poliklinik tertentu yang cukup tinggi menunjukkan terdapat masalah dalam lingkungan poliklinik, karena dokter mempunyai tanggung jawab yang cukup kompleks selain beban kerja, tuntutan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang balk kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik pekerja dan faktor risiko psikososial yang mempengaruhi tingkat stres kerja para dokter di poliklink. Disain penelitian ini dalam bentuk survei anaiitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah seluruh populasi dokter poliklinik PT X yang bertugas menangani pasien. Pengukuran data menggunakan kuesioner berdasarkan Life Event Scale, dalam menentukan tingkat bahaya psikososial dan tingkat stres kerja, jumlah skor dari seluruh indikator dihitung, kemudian menghasilkan suatu nilai yang menentukan tingkat kategori. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat, terdapat pengelompokan distribusi frekuensi pads salah satu kategori sehingga dilakukan analisis bivariat antara kategori di bawah atau sama dengan nilai rata - rata skor dan di atas nilai rata - rata skor, kemudian dilakukan uji korelasi. Hasil penelitian didapatkan 95,6% responden berpendapat tingkat bahaya psikososial termasuk kategori sedang, hanya 4,4 % responden yang berpendapat tingkat bahaya psikososial termasuk kategori berat. Sebagian besar responden yaitu 53,7% merasakan tingkat stres kerja yang lebih berat dibandingkan responden yang merasakan tingkat stres kerja lebih ringan (46,7%). Faktor psikosoial yang mempunyai hubungan bermakna mempengaruhi tingkat stres kerja secara uji satatistik yaitu, manajemen perusahaan dan perkembangan karir. Namun ada kecenderungan faktor risiko psikososial lainnya, seperti beban kerja, rutinitas kerja, peranan organisasi dan lainnya yang mempengaruhi tingkat stres kerja responden. Perlu adanya upaya pencegahan untuk menurunkan faktor risiko bahaya psikososial kerja di lingkungan poliklinik, dengan melakukan pendekatan organizational change, sehingga dapat diidentifiikasikan aspek yang dapat menimbulkan stres kerja sehingga stresor dapat dieliminasi. Diperlukannya peneiitian lebih lanjut secara terpadu dengan menggunakan metode jenis Life Event Scale, diikuti biological measurement atau physiological measurement dengan cut of point penilaian kategori yang lebih sensitif serta dilakukan analisis secara multivariat.


 

Unbalanced patient distribution has caused increasing numbers of patients visitors (average 150 patients per day) in some policlinics, while in contrary there are some policlinics that have least patients (less than 20 patients per day). However, doctors' salary and incentives in every policlinic are the same without concerning their patients' number. Moreover, in some policlinics, there is a rise in the number of doctors' absence which indicates problems among doctors. This is due to the reality that doctors have complex responsibilities; not only a high work load but also expectations to give the best service to patients. This study aims to describe the employees' characteristics and psychosocial risk factor that influences the level of stress among doctors in policlinics. This study applies the analytical survey through cross sectional approach. The sample is all population of doctors in policlinics PT X. The data is collected through questionnaires which based on Life Event Scale in determining the psychosocial risk and working stress level. The level is based on the sum of indicator's score. The analysis of this study applies the univariate and bivariate approach. Bivariat analysis is based on distribution frequency grouping within one of the categories and is tested using the correlation test method. This research found that 95.6% of the respondent is in the medium level of psychosocial risk, whilst only 4.4% of the respondent is in the high level. However, in terms of work stress level, 53.7% of the respondents are in the high level, whereas 46.3% are in the low level. Psychosocial factor that has a significant influence are company's management and career development. Nevertheless there are other psychosocial risk factor such as work load, work routines, organization role, and other factors that may influence work stress level. it is crucial to make a preventive action to reduce the psychosocial factor risk in the policlinic environment through organizational change approach thus the stress factors can be eliminated. Further research using Life Scale Event is needed and to be followed with the Biological Measurement or Physiological Measurement with a more sensitive cut of point using multivariate analysis

Read More
T-2469
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tati Ruslin Yanuarti; Pembimbing: Sabarinah B. Prasetyo; Penguji: Tris Eryando, R Sutiawan, Triovva Elsy A, Puthut Tri Prasetyo
Abstrak:

ABSTRAK Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) merupakan rumah sakit swasta yang memberikan pelayanan kesehatan bagi pegawai pertamina maupun pasien umum dan merupakan pusat rujukan dari seluruh rumah sakit yang berada di bawah PT PERTAMEDIKA, sehingga diharapkan mampu memberikan pelayanan yang lebih sempurna dibanding rumah sakit asal rujukan. Karena itu memerlukan kesiapan SDM yang berkualitas dan bertangung jawab dalam memberikan pelayanan, dalam hal ini kesehatan adalah modal utama. Salah satu upaya perusahaan untuk memenuhi kriteria sehat tersebut adalah perlunya menyelenggarakan upaya kesehatan kerja bagi seluruh pekerja rumah sakit tanpa terkecuali. Program kesehatan kerja di RSPP berada di bawah tanggungjawab Unit LK3, yang salah satu kegiatannya adalah menyelenggarakan kegitan pemeriksaan kesehatan atau medical check-up (MCU) secara rutin tiap tahun untuk semua pekerja. Namun dalam kenyataannya cakupan MCU pekerja RSPP masih terbilang rendah, yaitu tahun 2003 sebesar 55,8%, tahun 2004 menurun menjadi 47,6%. Di tahun 2003 tersebut dari yang melaksanakan MCU ditemukan sekitar 18% pekerja mempunyai keluhan atau gejala penyakit yang diduga berhubungan dengan pekerjaan. Diantaranya Carpal Tunnel Syndrome, Cervical Syndrom, Iritasi Radix, Hernia Nucleo Plasmyd, Low Back Pain, Varices, Tremor, Abortus, Vertigo, Migrain, Neuropaty dan masih banyak yang lainnya. Sistem lnformasi Kesehatan Kerja RSPP dikelola oleh Unit LK3 khususnya Bagian Kesehatan Kerja, dimana sistem ini merupakan salah satu bagian dari Sistem Informasi Rumah Sakit. Bagian Kesehatan kerja sebagai pengelola program wajib membuat laporan kesehatan kerja baik intern maupun ekstem. Berdasarkan wawancara dengan Kepala Bagian Kesehatan Kerja RSPP diketahui belum adanya efisiensi pada sistem informasi kesehatan kerja dimana prosesnya belum memaksimalkan komputer dan jaringan yang sudah tersedia, karena itu perlu pengembangan sistem informasi yang mampu menghasilkan informasi :kesehatan kerja yang berkualitas, akurat dan efisien. Pengembangan Sistem lnformasi Kesehatan Kerja bertujuan selain untuk memudahkan dalam hal pencatatan dan pelaporan juga diharapkan dapat menghasilkan informasi yang dibutuhkan secara lengkap, akurat dan cepat, kemudian dapat digunakan pihak manajemen dalam upaya memonitor dan mengevaluasi kesehatan pekerja. Metodologi yang digunakan adalah Siklus Hidup Pengembangan Sistem, melalui tahap identiftkasi masalah; peluang dan tujuan; penentuan syarat dan analisis kebutuhan, merancang sistem yang direkomendasikan; mengembzmgkan dan mendokumentasikan perangkat lunak dan uji coba prototipe. Pengujian sistem dilakukan di lab. Departemen Biostatistika UI menggunakan data kesehatan pekerja tahun 2005. Pengumpulan data dan infomasi melalui wawancara mendalam, telaah dokumen dan observasi. Hasil penelitian adalah suatu otomasi pengolahan data berupa prototipe Sistem Informasi Kesehatan Kerja (SIKK) yang akan di terapkan di RSPP. Analisis sistem yang dilakukan terhadap sistem kesehatan kerja yang berjalan saat ini adalah: analisis masukan, analisis basis data dan analisis keluaran, sehingga dapat ditetapkan kebutuhan sistem dan informasi. Kebutuhan sistem adalah sistem yang terintegrasi dengan menggunakan sharing basis data dengan unit-unit terkait sebagai sumber data yaitu Unit Medical Check Up, Unit Medical Record dan SDM melalui jaringan lokal yang tersedia (LAN) yang dapat melakukan otomasi dalam pengolahan data sehingga menghasilkan suatu keluaran yang diinginkan. Keluaran dari sistem ini menghasilkan informasi yang lebih informatif dengan adanya tabel dan grafik berupa Laporan Kesehatan Kerja yaitu Laporan Bulanan, Tahunan dan Indikator Kesehatan Kerja. Selanjutnya informasi ini dapat digunakan rumah sakit dalam rangka monitoring dan evaluasi kesehatan pekerjaa.

Read More
T-2438
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive