Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 5 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Agus Triwinarto; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Kusharisupeni, Tatang S. Falah, Heryudarini Harahap
T-2478
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Etty Agustijani; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Purnawan junadi, Kusharisupeni, Tatang S. Falah, Sunarko
Abstrak:

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah sarana kesehatan terdepan yang memberi pelayanan kesehatan termasuk gizi kepada masyarakat. Upaya perbaikan gizi melalui puskesmas bertujuan untuk menangulangi masalah gizi dan meningkatkan status gizi masyarakat. Di Puskesmas Kecamatan upaya perbaikan gizi dilaksanakan oleh Ahli Gizi, namun di Puskesmas Kelurahan upaya perbaikan gizi dilaksanakan oleh beberapa macam tenaga gizi puskesmas seperti Ahli Gizi, Pembantu Ahli Gizi, bidan, perawat, atau tenaga kesehatan lainnya. Upaya perbaikan gizi melalui Puskesmas Kelurahan, belum dapat dilaksanakan secara efektif karena belum semua Puskesmas Kelurahan memiliki tenaga gizi yang professional dalam bidang gizi, kemampuan terbatas, dan masalah gizi yang dihadapi sangat luas. Mengingat bahwa di Propinsi DKI Jakarta belum pernah dilakukan penelitian terhadap kinerja petugas gizi puskesmas kelurahan dalam kegiatan gizi posyandu, serta mengacu kepada penelitian sebelumnya di tempat lain, maka perlu dilakukan penelitian agar diperoleh informasi bagaimana gambaran kinerja petugas gizi puskesmas kelurahan dalam kegiatan gizi posyandu dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Cross sectional dengan pendekatan pengukuran kuantitatif dan kualitatif. Sampel penelitian adalah seluruh petugas gizi puskesmas kelurahan di Propinsi DK.1 Jakarta yang berjumlah 274 orang petugas gizi puskesmas kelurahan. Hasil penelitian menunjukkan 48,9 % kinerja petugas gizi puskesmas kelurahan balk dan 51,1 % kinerja buruk. Sebanyak 46,4 % petugas gizi puskesmas kelurahan melakukan kegiatan gizi posyandu dengan balk dan 53,6 % melakukan kegiatan gizi posyandu tidak balk. Berdasarkan analisis multivariat dengan uji Regresi Logistik Ganda, didapat adanya hubungan yang bermakna dengan kinerja petugas gizi puskesmas kelurahan adalah kegiatan gizi posyandu, pendidikan petugas, lama kerja petugas, supervisi petugas gizi puskesmas kecamatan, dan pembinaan Kepala Puskesmas Kelurahan. Sedangkan yang berhubungan secara statistik dengan kegiatan gizi posyandu adalah usia petugas, sarana transportasi, sarana kegiatan, beban tugas dan pembinaan Kepala Puskesmas Kelurahan. Penelitian ini menyarankan bahwa untuk meningkatkan kinerja petugas gizi puskesmas kelurahan dalam kegiatan gizi posyandu perlu dilakukan pengaturan pegawai di puskesmas kelurahan dimana petugas yang berusia < 44 tahun ditugaskan sebagai petugas gizi dan untuk meningkatkan kinerjanya dapat ditingkatkan pendidikannya sampai jenjang D3 atau S1 gizi. Disamping itu untuk menunjang dalam pelaksanaan kegiatan gizi di posyandu perlu didukung dengan sarana transportasi berupa sepeda motor atau dana transportasi. Peranan pembinaan Kepala Puskesmas Kelurahan sangat mendukung terhadap peningkatan kinerja petugas gizi puskesmas kelurahan. Untuk menyampaikan informasi dari tingkat Sudinkes atau Dinas Kesehatan maka supervisi Petugas Gizi Puskesmas Kecamatan sangat membantu dalam rangka pembinaan untuk meningkatkan kinerja petugas gizi Puskesmas Kelurahan.


 

Primary Health Centres (Puskesmas) is the frontier of health care services including nutrition services. The nutrition program through Puskesmas is aimed to overcome nutrition problem and improve nutritional status of the population. In sub-district Puskemas, the nutrition program is conducted by a nutritionist. However, in Puskesmas kelurahan, the program is conducted by various staff qualifications, such as nutritionist, assistant nutritionist, midwives, nurses, or other health care professionals. Nutrition program in Puskesmas has not been properly conducted as not all Puskesmas Kelurahan have the appropriate nutritionist, or have limited skill, while the nutrition problem is very wide. As there has been no known studies in the performance of the nutrition staff in the Posyandu activities in DKI Jakarta, it is thought that such studies is important to be conducted. The design used in this study is a Cross Sectional study with quantitative and qualitative approach. Samples were drawn from a population of 274 nutrition staff in Puskesmas kelurahan. The result was that 48.9% of respondents showed good performance and 46.4% conducted good nutrition activities in the Posyandu. Multivariate analysis with double logistic regression showed significant relationship between performance of nutrition staff with (I) nutrition activities in Posyandu, (2) education level, (3) length of services, (4) supervision from Puskesmas Kecamatan, and (5) guidance from head of the Puskesmas. Statistically significant relationships were found between Posyandu nutrition activities and (1) age of staff, (2) availability of transportation means, (3) equipments availability, (4) workload, and (5) guidance from head of the Puskesmas. The study suggested that to improve nutrition staff performance in Posyandu nutrition activities it is necessary to manage the staff so that appointed nutrition staff would be less than 44 years in age. To improve the performance it is suggested to increase education level of the staff to at least diploma level or a degree in nutrition. Availability of transportation vehicles or sufficient find for transportation is also recommended to improve the Posyandu activities. Guidance from head of the Puskesmas is also necessary to improve the performance of the staff. Supervision from the Puskesmas Kecamatan nutritionist is also important to communicate information from district health office in order to improve performance of the star.

Read More
T-1334
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sugeng Wiyono; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Ratna Djuwita, Endang Laksminingsih Achadi, Idrus Jus'at, Tatang S. Falah
Abstrak:

Saat ini Indonesia tengah mengalami transisi demografi dan transisi epidemiologi. Beberapa cirinya antara lain di satu sisi terjadi penurunan angka kematian bayi dan anak karena penyakit infeksi, namun dipihak lain karena kemajuan bidang ekonomi dan meningkatnya pelayanan kesehatan maka terjadi peningkatan jumlah populasi penduduk tua.Hasil studi indeks massa tubuh di dua belas kota besar di Indonesia (1996) bahwa prevalensi overweight mencapai 16-22.5% dan 4% diantaranya menderita obesitas. Obesitas mencerminkan kandungan lemak tubuh. Lemak tubuh yang berhubungan dengan penyakit jantung koroner adalah lemak tubuh yang spesifik terdapat didalam rongga perut. Selain obesitas, untuk deteksi penyakit jantung- koroner sering diukur melalui kadar kolesterol. Gambaran kadar kolesterol dapat dilihat dari beberapa temuan, antara lain oleh penelitian Tim Monica Jawa Tengah (1996) yakni rata-rata Kolesterol Total sebesar 204.0 mg/dl. Sementara penelitian di Yogyakarta (1996) diperoleh rata-rata kadar Kolesterol Total sebesar 201.9 mg/dl, rata-rata kadar Kolesteol LDL sebesar 128.1 mg/dl dan rata-rata kadar Kolesterol HDL sebesar 52.6 mg/dl.Untuk mengetahui kandungan lemak secara spesifik yang terdapat didalam rongga perut dapat dilihat dari nilai rasio lingkar pinggang-lingkar pinggul/waist to hip ratio. Selanjutnya oleh penulis berasumsi bahwa lemak yang terkandung didalam rongga perut berhubungan dengan kadar kolesterol.Dalam penelitian ini diperoleh nilai rata-rata rasio lingkar pinggang-pinggul (RLPP) sebesar 0.86 dengan standar deviasi 0.06. Jika dikelompokkan berdasarkan Bray, maka 8.5% responden laki-laki termasuk kategori RLPP risiko (>0.95) dan 64.3% responden perempuan termasuk kategori RLPP risiko (0.80).Responden memiliki rata rata Kolesterol Total sebesar 208.37 mg/dl, dan rata-rata Kolesterol LDL sebesar 136.48 mg/dl dengan standar deviasi sebesar 37.52 mg/dl, serta rata-rata Kolesterol HDL sebesar 44.80 dengan standar deviasi 10.42 mg/dl.Rasio lingkar pinggang pinggul secara bermakna berhubungan dengan Kolesterol Total. Kadar Kolesterol Total meningkat sejalan dengan meningkatnya nilai RLPP setelah dikontrol oleh IMT dan Umur. RLPP, IMT dan Umur secara bermakna berkontribusi sebesar 11.00% tehadap kadar Kolesterol Total. Kontribusi RLPP sebagai variabel independen utama dalam persamaan terhadap Kolesterol Total sebesar 29.0%.Rasio lingkar pinggang pinggul secara bermakna berhubungan dengan Kolesterol LDL. Kadar Kolesterol LDL meningkat sejalan dengan meningkatnya nilai RLPP setelah dikontrol oleh IMT dan Umur. RLPP, IMT dan Umur secara bermakna berkontribusi sebesar 6.10% tehadap kadar Kolesterol LDL. Kontribusi RLPP sebagai variabel independen utama dalam persamaan terhadap Kolesterol LDL sebesar 26.2%.Rasio lingkar pinggang pinggul secara bermakna berhubungan dengan Kolesterol HDL. Kadar Kolesterol HDL menurun sejalan dengan meningkatnya nilai RLPP setelah dikontrol oleh umur dan merokok . RLPP, umur dan merokok secara bermakna berkontribusi sebesar 11.00% tehadap kadar Kolesterol HDL. Kontribusi RLPP sebagai variabel independen utama dalam persamaan terhadap Kolesterol HDL sebesar 46.0%.Peningkatan 1 unit RLPP meningkatkan 51.0 mg/dl Kolesterol Total, peningkatan 1 unit IMT meningkatkan 2.49 mg/dl Kolesterol Total, peningkatan 1 unit Umur meningkatkan 0.72 mg/dl Kolesterol Total. Peningkatan 1 unit RLPP meningkatkan 16.95 mg/dl Kolesterol LDL, peningkatan 1 unit IMT meningkatkan 1.65 mg/dl Kolesterol LDL, peningkatan 1 unit Umur meingkatkan 0.61 mg/dl Kolesterol LDL. Peningkatan 1 unit RLPP menurunkan 17.75 mg/dl Kolesterol HDL, dan merokok dapat menurunkan 5.80 mg/dl Kolesterol HDL.Berdasarkan temuan tersebut selanjutnya direkomendasikan untuk dilakukan pemasaran sosial sebagai wahana kampanye untuk skrining lemak dalam rongga perut melalui pengukuran lingkar pinggang dan lingkar pinggul. Penyuluhan menurunkan berat badan bagi individu yang mengalami kegemukan dan penyuluhan berhenti merokok serta mencegah merokok. Juga perlu dilakukan penelitian lanjutan secara analitik dengan rancangan kasus kontrol khusus bagi penderita kegemukan.


 

The Relationship between Waist to Hip Ratio and Cholesterol Levels among Adult Population in Surakarta City 1996Now days, Indonesia has been in transition period both in demography and epidemiology. Several signs are identified, for example in one hand, among children, the infant mortality rate and infections diseases decrease but in another hand the prospect to have a long life in the old population improve because of better economics and health services.The results of body mass index studies from twelve big cities in Indonesia (1996) show that the prevalence of overweight was ranged 16-22.5% and 4% for obesity. Obesity reflects the body fat contained in the body. The body fat that related to coronary heart diseases is body fat, specifically found in stomach hollow. Besides obesity, the blood cholesterol level is commonly used for early detecting of coronary heart diseases.The study in cholesterol levels has been reported in several areas, e.g. MONICA research team 1996 found that the average total cholesterol in Central lava was 204.0 mg/dl and in Yogjakarta (1996) was 201.9 mg/dl whereas the average of LDL cholesterol and HDL cholesterol were 128.1 mg/dl and 52.6 mg/dl, respectively in Yogjakarta area.The ratio of waist to hip specifically describes the fat level in stomach hollow. This study is aimed to evaluate the relationship between fat in stomach hallow and the level of cholesterol using total cholesterol, LDL cholesterol and HDL cholesterol.This study found that the average of waist and hip ratio (RLPP) among the population aged 25-64 years was 0.86 ± 0.06. The result also shows that based on Bray's classification, 8.5% was categorized as population at risk in man (more than 0.95) and for women was 64.3% (more than 0.80). In addition, the total cholesterol level was208.37 ± 40.67mg/dl, LDL cholesterol was 136.48 + 37.52 mg/dl and HDL cholesterol was 44.80 ± 10.42mg/dl.The relationship between RLPP and Total cholesterol is statistically significant. Increasing total cholesterol is likely increases RLPP controlled by BMI and age. The contribution of RLPP, BMI and age to total cholesterol are 11.0%.  Independently, RLPP as a main variable contributes 29.0% to total cholesterol.RLPP is significant correlated to the LDL cholesterol. Increasing LDL cholesterol is likely increases RLPP controlled by BMI and age. The contribution of RLPP, BMI and age to LDL cholesterol are 6.1%. RLPP as a main variable contributes 25.2% to LDL cholesterol, independently.In HDL cholesterol found that HDL is statistically significant to RLPP. Increasing LDL is likely increases RLPP controlled by age and smoking status. The contribution of RLPP, age, and smoking status to HDL cholesterol are 11.0%. RLPP as a main variable contributes 46.0% to HDL cholesterol, independently.Interestingly, this study suggested that the increase of 1 unit RLPP would increase 51.0 mg/dl of total cholesterol. The increase of 1 unit of IMT would increase 2.49 mg/dl of total cholesterol and the improvement of 1 unit of age would increase 0.72 mg/dl of total cholesterol. For LDL cholesterol, 1 unit RLPP would increase 16.95 mg/dl of LDL cholesterol. The increase of 1 unit of IMT would increase 1.65 mg/dl of LDL cholesterol and the improvement of 1 unit of age would increase 0.61 mg/dl of LDL cholesterol. For HDL, 1 unit RLPP would decrease 17.75 mg/dl of HDL cholesterol. The increase of 1 unit of smoking status would decrease 5.8mg/d1 of HDL Cholesterol.In conclusion, maintaining an ideal body weight, decreasing the rate of fat stomach hollow development and not smoking are the best way for preventing the increase of LDL cholesterol and the- decrease of HDL cholesterol. It can be recommended that routine assessment of waist and hip in normal population may be socialized as indices to control fat stomach hollow levels. In addition, non-formal education in relation to normal body weight and stop smoking as well as prevent smoking would be prioritized. Furthermore, it is recommended for further investigation using case-control with the same topic in regard to RLPP and cholesterol.

Read More
T-1497
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nany Syuryati Rasyid; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Yayuk Hartriyanti, Diah Mulyawati Utari, Minarto, Tatang S. Falah
Abstrak:
Terjadinya krisis ekonomi yang berkepanjangan sejak pertengahan tahun 1997 yang lalu, berpengaruh buruk terhadap kesehatan dan status Gizi masyarakat, terutama keluarga miskin. Salah satu kelompok yang rentan adalah balita yang dengan keadaan ini menjadi Kurang Energi Protein (KEP). Untuk mencegah meluasnya kasus KEP, maka pemerintah Propinsi Sumatera Barat bekerja sama dengan swasta memberikan bantuan berupa makanan tambahan untuk pemulihan (PMT-P). Pemberian PMT-P telah diteliti di beberapa daerah, namun sampai saat ini di kota Padang sendiri belum pernah dilaksanakan penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan peningkatan status Gizi balita KEP keluarga miskin. Penelitian dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Kuranji dan Puskesmas Belimbing, Kecamatan Kuranji, kota Padang terhadap balita KEP keluarga miskin yang mendapatkan PMT-P.Desain penelitian ini adalah cross sectional. Sampel terdiri dari 93 orang balita KEP keluarga miskin yang merupakan total sampling dengan responden ibu balita KEP. Pengolahan data menggunakan analisis -univariat, bivariat dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan keberhasilan peningkatan status gizi balita KEP setelah PMT pemulihan selama 3 bulan hanya 43%. Ada hubungan yang bermakna antara jumlah dan jenis PMT-P, berat ringan infeksi serta pelayanan kesehatan (p < 0.05). Variabel balita KEP dengan infeksi berat mempunyai hubungan yang paling kuat untuk tetap/kurang status gizinya dibandingkan dengan balita KEP yang menderita infeksi ringan. Pada pelaksanaan PMT-P, agar tegadi peningkatan status gizi balita KEP yang lebih baik, maka disarankan adanya pengobatan dan perawatan khusus di Rumah Sakit pada kasus-kasus balita KEP berat dan KEP dengan infeksi berat. Disamping itu perlu adanya pengawasan dalam mengkonsumsi makanan, sehingga PMT-P yang diberikan benar-benar hanya diberikan pada sasaran. Walaupun dari hasil penelitian tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara pengetahuan, penyuluhan dan pemantauan oleh petugas dengan peningkatan status gizi, yang kemungkinan oleh karena sebagian besar ibu berpendidikan rendah, untuk itu penyuluhan praktis yang informatif perlu ditingkatkan, sehingga hal ini dapat meningkatkan pengetahuan ibu tentang gizi dan KEP pada balita. Penelitian ini juga menyarankan agar PMT-P diteruskan terutama pada kasus-kasus KEP berat dan sedang serta adanya penelitian yang lebih lanjut dengan desain khusus yang menggunakan indeks BBITB.

Factors Related with the Increase of the Nutrition Status of PEM at the Under Five Year, on Poverty Community in Distric of Kuranji, PadangThe long economic crisis since 1997, cause bad effects to the community, specially community's health and nutrition's on poverty community. One of the most vulnerable group to get protein - energy malnutrition (PEM) is children under five year with this condition can get PEM. To prevent the protein - energy malnutrition from spreading further, the regional government on West Sumatra and some privates commits donated to the community, such supplementary feeding program. The supplementary feeding program was researched some regions, but until now the research never done in Padang. The purpose of the research is to knowing the factors which related with the increase of the nutrition status of PEM at the children under five year, on poverty community. The research is done on Community Health Center on Kuranji and Belimbing region, distric, Kuranji, Padang; to the children under five year, with PEM on poverty community who got supplementary feeding. The research design was Cross Sectional. The sample's are 93 children's under five year on poverty community; they were total sampling, using their mother as respondents. The data processing is using Univariat, Bivariat and Multivariat analysis. The result of research shows that only 43% success on increasing Nutrition's status at the children's under five year with PEM on poverty community after 3 months giving supplementary feeding. Kind and number of supplementary feeding, severe and mild infection and the health services have significant relation (p < O, 05). PEM at children under five year variable with the severe infection have a strong relation to statis or less of nutrition status compared with PEM at the children under, five year who got mild infection. To increase the good children under five year nutrition status, suggested to handle seriously severe protein - energy malnutrition and severe infection with the intensive care. Beside that, need to giving supplementary feeding with the adequate number. It necessary to observe more intensively so that kind and number of the supplementary feeding given used by the PEM at children under five year only. Although from the research did not found significant relationship beetwen knowledge. give of information and supervision of health providers with the rise of nutrition status that may be most of mather have low education, that's need to increase giving of information with informatif practice in order it can increase knowledge of mather about nutrition and PEM at the children under five year, and also the supervision that done of health providers need to be repair in quality and adequacy. The research also recommended to be continuing supplementary feeding program, especially for moderate and severe PEM. And the further researchs with special design like body weight and body height indecs.
Read More
T-928
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nitta Isdiany; Pembimbing: Lukman Hakim Tarigan; Penguji: Lukman Hakim Tarigan, Ratna Djuwita, Kusdinar Achmad, Tatang Sahibul Falah, Djoko Kartono
Abstrak:

Prevalensi gizi kurang pada anak usia kurang dari 36 bulan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah keluarga miskin di Indonesia. Untuk mencegah semakin memburuknya status gizi dan kesehatan masyarakat, pemerintah telah melaksanakan program Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPS-BK). Salah satu pelayanannya adalah intervensi gizi berupa pemberian makanan tambahan (PMT) bagi anak keluarga miskin.Penelitian ini menganalisis data sekunder dari penelitian "Studi Dampak PMT terhadap Status Gizi dan Kesehatan Bayi dan Anak". Tujuan penelitian ini untuk memperoleh informasi kekuatan hubungan PMT dengan status gizi anak usia 12 - 36 bulan. Lokasi penelitian di Propinsi Jawa Tengah yang merupakan salah satu wilayah sasaran program PMT JPS-BK. Faktor lain meliputi umur anak, jenis kelamin, lama pemberian ASI, penyakit infeksi, konsumsi energi, umur ibu, dan pendidikan ibu diduga mempengaruhi hubungan PMT dengan status gizi anak.Desain yang digunakan adalah Case Control. Kelompok kasus adalah anak yang memiliki status gizi kurang dengan indeks BBIU (Z-skor <-2 SD). Sedangkan kelompok kontrol adalah anak dengan status gizi baik (Z-skor > -2 SD). Besar sampel 214 anak, terdiri dari 107 sampel kasus dan 107 sampel kontrol. Evaluasi dari PMT yang diterima anak merupakan komposit dari kandungan energi PMT dan lama mendapat PMT.Hasil penelitian menunjukkan, dari seluruh sampel, sebagian anak ternyata menerima PMT dengan kualitas kurang. Penyelenggaraan PMT dengan model paket dibawa pulang ke rumah, ternyata hanya sebagian anak yang mengkonsumsi sendiri PMT tersebut. Proporsi anak yang menerima PMT kualitas kurang, lebih banyak ditemukan di kelompok kasus dibandingkan kontrol. Kesimpulan dari studi ini adalah tidak terbukti adanya hubungan yang bermakna antara PMT kualitas kurang dan cukup dengan status gizi anak. Diketahui pula faktor konsumsi energi ternyata berperan sebagai confounder, atau mempunyai pengaruh terhadap hubungan PMT dengan status gizi anak. Adanya bias misklasifikasi dalam pengukuran PMT.Saran yang diajukan adalah program PMT akan lebih efektif dengan model feedings centers. Selain itu, perlu adanya kerjasama lintas sektor, seperti "dana bergulir" untuk meningkatkan pendapatan keluarga, atau pemanfaatan pekarangan rumah, yang dapat digunakan oleh anggota keluarga itu sendiri. Dengan demikian, konsumsi energi anak dapat meningkat dan berdampak terhadap status gizinya. Untuk meminimalkan bias misklasifikasi, perlu penelitian lebih lanjut dengan populasi terdiri dari anak yang mendapat PMT dan tidak mendapat PMT.


 

The relationship between supplementary feeding program (PMT) and nutritional status of children 12-36 months of age at Central Java Province(secondary data analysis)The prevalence of underweight on children under 36 months of age increasingly with increment of poor families in Indonesia. To prevent more badly nutritional status and public health, the government has launched Social Safety Net Program in Health (JPS-BK). One of the services is nutritional intervention such as supplementary feeding program (PMT) for children from poor families.The study was analyzed the secondary data "impact study supplementary feeding program on nutritional status and health on baby and children". The aim of the study to get information strength of relationship between supplementary feeding program and nutritional status on children 12 - 36 months of age. Location's study at Central Java Province, one of the target area JPS-BK supplementary feeding programs. Several factors such as age, sex, length of breastfeeding, infection, energy consumption, mother?s age, mother's education, was predicted influenced the relationship between PMT and nutritional status on children.The design was case control study. Cases group is children who underweight by weight for age index (Z-score < -2 SD). Control group is children with nutritional status was good (Z-score > -2 SD). Sample size was 214, that was 107 cases and 107 control. Evaluation of PMT was composite from energy of PMT and duration of feeding.Result of the study showed a half of the sample have gotten PMT as insufficient quality. All the supplement were delivered to the home, and showed a half of children who consumed PMT by himself/herself. Proportion of children who got PMT as insufficient quality, was more at cases group than control. The study concluded no significant relationship between insufficient quality and sufficient quality of PMT and nutritional status of children. Energy consumption was role as confounder. There was misclassification bias on measured PMT.It is suggested that supplementary feeding program were more effectively with feeding centers model. It's necessary cross sector program such as "rotation fund" to increase income families or using garden home for members of families. Consequently, energy consumption of children increased, and have given indirect impact on nutritional status on children. To minimize misclassification bias, it's necessary a further study with population on children who supplemented and non supplemented.

Read More
T-1256
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive