Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 16 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Miftahul Zannah; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Al Asyary; Agus Handito
Abstrak: Gangguan otot rangka merupakan suatu cedera atau gangguan pada otot, saraf, tendon, sendi, tulang rawan, dan cakram tulang belakang yang dapat mempengaruhi gerakan tubuh manusia atau sistem muskuloskeletal. Pekerja pada industri konstruksi memiliki risiko tinggi untuk mengalami keluhan gangguan otot rangka karena aktivitas pekerjaanya banyak melibatkan postur yang tidak alamiah, manual handling, dan pekerjaan berulang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor risiko fisik, individu, dan psikososial yang berkaitan dengan keluhan gejala gangguan otot rangka. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari ? Juli 2022 yang melibatkan 55 pekerja struktur dan finishing Proyek Pembangunan Gedung Perkantoran X di Bekasi Tahun 2022. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional. Instrumen yang digunakan untuk pengambilan data diantaranya adalah Rapid Entire Body Assessment (REBA), kombinasi kuesioner psikososial, dan Nordic Musculockeletal Questionnaire (NMQ). Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan signifikan antara; faktor risiko fisik dengan keluhan pada bahu, leher dan punggung bawah dalam 12 bulan dan 7 hari terakhir, tuntutan kerja dengan keluhan pada punggung bawah dalam 7 hari terakhir, dan kendali terhadap kerja dengan keluhan pada leher dalam 12 bulan terakhir. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengendalian dan intervensi lebih lanjut untuk mengurangi risiko keluhan gejala gangguan otot rangka pada pekerja struktur dan finishing.
Musculosceletal Disorders (MSDs) are injuries of the muscles, nerves, tendons, joints, cartilage, and spinal discs that can affect the movement of the human body or the musculoskeletal system. Workers in the construction industry have a high risk of MSDs because their work activities involve many unnatural postures, manual handling, and repetitive work. The purpose of this study was to analyze the physical, individual, and psychosocial risk factors associated with complaints of musculoskeletal symptoms. This research was conducted in February ? July 2022 involving 55 structural and finishing workers in the X Office Building Construction Project in Bekasi in 2022. This study used a cross sectional study design. The instruments for collected data are Rapid Entire Body Assessment (REBA), a combination of psychosocial questionnaires, and the Nordic Musculockeletal Questionnaire (NMQ). The results of this study indicate a significant relationship between; physical risk factors with complaints on the shoulders, neck and lower back in the last 12 months and 7 days, work demands with complaints on the lower back in the last 7 days, and control of work with complaints on the neck in the last 12 months. Therefore, it is necessary to carry out further control and intervention to reduce the risk of complaints of s musculoskeletal symptoms in structural and finishing workers.
Read More
S-11022
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pratono; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Putri Bungsu, Agus Handito
Abstrak: Pendahuluan: Penyakit hepatitis B merupakan masalah kesehatan utama, baik di dunia maupun di Indonesia. Secara global, pada tahun 2015, diperkirakan 257 juta orang hidup dengan infeksi HBV kronis (WHO, 2015). Dan selanjutnya menyebabkan (720.000 kematian karena sirosis) dan kanker hati primer (470.000 kematian karena karsinoma hepatoseluler) ( WHO, 2015). Prevalensi Hepatitis B wilayah Asia Tenggara adalah 2,0%. Untuk prevalensi Hepatitis B pada ibu hamil di Indonesia tahun 2017 adalah sebesar 2,7% (Berita Subdit HISP 2017). Hal ini didapatkan dari kegiatan program deteksi dini Hepatitis B yang dilakukan sejak tahun 2016 yang baru dilaksanakan di beberapa propinsi (Berita Subdit HISP, 2017). Metode: Penelitian ini adalah analitik observasional yang menggunakan rancangan penelitian cross-sectional. Sampel untuk penelitian ini sebanyak 12.475 ibu hamil yang melakukan pemeriksaan kehamilan di puskesmas-puskesmas di wilayah Jakarta Utara. Data diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dan dianalisis menggunakan Uji Regresi Logistik. Hasil: Prevalensi Hepatitis B pada ibu hamil pada penelitian ini sebesar 2,3%, Risiko ibu hamil yang serumah dengan penderita Hepatitis B 6,46 kali (95% CI 3,68-11,35) untuk terinfeksi Hepatitis B dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak pernah serumah dengan penderita Hepatitis B setelah dikontrol dengan status pekerjaan, umur kehamilan, riwayat transfusi, riwayat penasun. Kesimpulan: Serumah dengan penderita Hepatitis B merupakan faktor risiko terhadap penularan Hepatitis pada Ibu Hamil. Sehingga kegiatan Deteksi Dini Hepatitis Ibu Hamil tetap dilanjutkan dengan diintegrasikan dengan program vaksinasi Hepatitis B pada ibu hamil hepatitis B negatif dan program pengobatan Hepatitis B bagi yang sudah terinfeksi.
Read More
T-5643
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurina Vidya Ayuningtyas; Pembimbing: Rachmadhi Purwana; Penguji: Agustin Kusumawati, Agus Handito
S-7167
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ani Sumarni; Pembimbing: I Made Djaja; Penguji: Zakianis, Agus Handito
S-5588
Depok : FKM UI, 2008
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Rizki Amelia; Pembimbing: R. Budi Haryanto; Penguji: Dewi Susanna, Agus Handito
Abstrak:
Latar Belakang: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit endemik di seluruh wilayah tropis dan sebagian wilayah subtropic yang disebabkan oleh virus dengue. Penyakit DBD juga merupakan salah satu masalah utama kesehatan masyarakat di Indonesia dan Jakarta barat memiliki jumlah kasus tertinggi pertama dan kedua di Provinsi DKI Jakarta pada beberapa tahun terakhir. Tujuan: Menganalisis hubungan faktor iklim (curah hujan, suhu udara, dan kelembaban udara), kepadatan penduduk, dan angka bebas jentik dengan incidence rate DBD di Kota Administrasi Jakarta Barat tahun 2013-2022. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan analisis korelasi untuk melihat hubungan antara faktor iklim yang meliputi curah hujan, suhu udara, kelembaban udara pada time lag 1 dan time lag 2 serta kepadatan penduduk dengan Incidence Rate DBD. Hasil: Hasil analisis bivariat dengan uji korelasi menunjukkan bahwa hubungan yang signifikan lebih berpengaruh pada curah hujan time lag 2, suhu udara time lag 2 dan kelembaban time lag 2. Variabel lainnya yaitu kepadatan penduduk memiliki hubungan signifikan pada tahun 2014, 2015, 2017, 2019, 2020, dan 2021. Hasil uji regresi linear ganda menghasilkan bentuk model prediksi dengan persamaan IR DBD = -160,665 + 3,763 (suhu) + 1, 033 (kelembaman) - 0,102 (curah hujan) - 0,001 (kepadatan penduduk). jika disimulasikan dengan kombinasi suhu sebesar 26,1°C, kelembaman 82,9%, curah hujan 14,9 mm, dan kepadatan penduduk sebesar 20.000 maka kejadian IR DBD akan muncul sebanyak 2,39 kasus per 100.000 penduduk.

Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an endemic disease throughout the tropics and parts of the subtropics caused by the dengue virus. Dengue fever is also one of the main public health problems in Indonesia and West Jakarta has the first and second highest number of cases in DKI Jakarta Province in recent years. Objective: Analyzing the relationship between climate factors (rainfall, air temperature, and humidity), population density, and larvae-free rates with DHF incidence rates in West Jakarta Administrative City in 2013-2022 Methods: This study uses an ecological study design with correlation analysis to see the relationship between climatic factors which include rainfall, air temperature, air humidity in time lag 1 and time lag 2 and population density with DHF Incidence Rate Results: The results of the bivariate analysis with the correlation test show that a significant relationship has more influence on rainfall time lag 2, air temperature time lag 2 and humidity time lag 2. Another variable, namely population density, has a significant relationship in 2014, 2015, 2017, 2019, 2020, and 2021. The results of the multiple linear regression test produce a predictive model with the DHF IR equation = -160.665 + 3.763 (temperature) + 1.033 (inertia) - 0.102 (rainfall) - 0.001 (population density). if simulated with a combination of temperature of 26.1°C, humidity of 82.9%, rainfall of 14.9 mm, and a population density of 20,000, the incidence of IR DHF will occur as many as 2.39 cases per 100,000 population.
Read More
S-11309
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maharani Karina Setiawan; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Agus Handito
Abstrak:
Penyakit dengue adalah penyakit tular vektor yang endemik di Indonesia dengan risiko tinggi pada anak usia sekolah. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi dengue pada anak usia sekolah di Indonesia sebesar 0,65%, tertinggi diantara kelompok usia lain. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor kejadian dengue pada anak usia sekolah, yang terdiri dari faktor individu, faktor rumah tangga, dan faktor perilaku pengendalian lingkungan. Desain studi penelitian dengan cross-sectional melibatkan sampel 143.946 anak di Indonesia. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji Chi-square, dan multivariat dengan uji regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kejadian dengue pada anak usia sekolah dengan status ekonomi (aPOR=0,724; CI 95%=0,575–0,911), lokasi tempat tinggal (aOR=1,467; CI 95%=1,267–1,699), pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3M Plus (aPOR=0,656; CI 95%=0,539–0,797), dan perilaku pencegahan gigitan nyamuk (aPOR=0,755; CI 95%=0,655–0,871). Faktor dominan yang paling berpengaruh adalah lokasi tempat tinggal, tepatnya di perkotaan. Penguatan surveilans dengue dan upaya eliminasi sarang nyamuk berbasis komunitas diperlukan untuk mengurangi risiko penularan dengue, khususnya di wilayah perkotaan.

Dengue is a vector-borne disease endemic in Indonesia with a high risk for school-aged children. Based on the 2023 Indonesian Health Survey (IHS) data, the dengue prevalence among school-aged children in Indonesia was 0.65%, which is the highest among other age groups. This study aims to analyze factors contributing to dengue incidence in school-age children, consisting of individual factors, household factors, and environmental control behavior. The study design was cross-sectional involving samples of 143,946 children in Indonesia. Analysis was conducted using univariate analysis, Chi-square test, and multiple logistic regression. The results showed a significant relationship between the incidence of dengue in school-aged children and economic status (aPOR=0.724; 95% CI=0.575–0.911), location of residence (aOR=1.467; 95% CI=1.267–1.699), practice of mosquito nest eradication 3M Plus (aPOR=0.656; 95% CI=0.539–0.797), and mosquito bite prevention behavior (aPOR=0.755; 95% CI=0.655–0.871). The most dominant factor was location of residence, specifically in urban areas. Strengthening dengue surveillance and community-based mosquito nest elimination efforts are needed to reduce the risk of dengue transmission, especially in urban areas.
Read More
S-12251
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Riza Farina Fitri; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Agus Handito, Inggariwati
Abstrak:
Angka kesakitan demam berdarah dengue terus meningkat setiap tahunnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran epidemiologi kejadian demam berdarah dan faktor – faktor yang mempengaruhi nya. Variabel yang diukur adalah kepadatan penduduk, curah hujan, suhu udara, kelembaban udara, penyelidikan epidemiologi dan fogging focus. Studi ini merupakan studi ekologi/ studi korelasi, menggunakan data sekunder, yang unit analisisnya populasi. Analisis multivariat menggunakan multiple regresi linear, Faktor yang dominan berhubungan dengan kejadian demam berdarah dengue antara lain variabel curah hujan dengan p-value=0,000, variabel kepadatan penduduk dengan p-value=0,024, variabel kelembaban udaran dengan p-value= 0.004 dan variabel kecepatan angin dengan p value = 0.000.

The morbidity rate of dengue hemorrhagic fever continues to increase every year. The purpose of this research is to find out the epidemiological description of the incidence of dengue fever and the factors that influence it. The variables measured were population density, rainfall, air temperature, air humidity, epidemiological investigations and fogging focus. This study is an ecological study/correlation study, using secondary data, whose unit of analysis is population. Multivariate analysis using multiple linear regression. The dominant factors related to the incidence of dengue hemorrhagic fever include rainfall variable with p-value = 0.000, population density variable with p-value = 0.024, air humidity variable with p-value = 0.004 and speed variable. wind with p value = 0.000.
Read More
T-6634
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sely Anggraini; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Renti Mahkota, Agus Handito, Depit Kurniawan
Abstrak:
Insiden demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia meningkat tajam dari 41,4 menjadi 91,9 per 100.000 penduduk pada tahun 2024 dan masih jauh dari target nasional ≤10 per 100.000 penduduk. Di Provinsi Sumatera Selatan, tren serupa juga terjadi dengan peningkatan IR lebih dari dua kali lipat. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan praktik PSN 3M dan PSN 3M Plus dengan kejadian DBD. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional berbasis data SKI 2023 dengan sampel 11.444 rumah tangga. Analisis dilakukan menggunakan regresi logistik untuk memperoleh Prevalence Odds Ratio (POR) dengan interval kepercayaan 95%. Hasil analisis interaksi menunjukkan bahwa rumah tangga yang tidak melaksanakan PSN 3M di wilayah perkotaan tidak meningkatkan risiko DBD (POR = 0,61; 95% CI: 0,18–1,99). Sedangkan di wilayah pedesaan, rumah tangga yang tidak melaksanakan PSN 3M memiliki risiko 7,77 kali lebih besar mengalami DBD dibandingkan dengan yang melaksanakan PSN 3M (POR = 7,77; 95% CI: 1,83–32,93). Berdasarkan variabel PSN 3M Plus, hasil analisis interaksi menunjukkan bahwa rumah tangga yang tidak melaksanakan PSN 3M Plus di wilayah perkotaan tidak meningkatan risiko DBD (POR = 0,75; 95% CI: 0,19–2,97). Sedangkan di wilayah pedesaan, rumah tangga yang tidak melaksanakan PSN 3M Plus memiliki risiko 6,75 kali lebih besar mengalami DBD dibandingkan dengan yang melaksanakan PSN 3M Plus (POR = 6,75; 95% CI: 1,60–28,45). Oleh karena itu, diperlukan penguatan implementasi PSN 3M Plus dengan pendekatan berbasis wilayah, melalui pemberdayaan masyarakat di pedesaan serta optimalisasi intervensi proteksi dan sanitasi lingkungan di wilayah perkotaan guna menurunkan risiko kejadian DBD. Kata kunci: Demam Berdarah Dengue, PSN 3M, PSN 3M Plus, Sumatera Selatan, SKI 2023

The incidence of dengue fever (DF) in Indonesia sharply increased from 41.4 to 91.9 per 100,000 in 2024 and remains far above the national target of ≤10 per 100,000. A similar trend was observed in South Sumatra Province, where the incidence rate more than doubled. This study aimed to analyze the association between the implementation of 3M and 3M Plus mosquito nest eradication (PSN) practices and the incidence of dengue fever. This study employed a cross-sectional design using data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI) involving 11,444 households. Logistic regression analysis was performed to estimate the Prevalence Odds Ratio (POR) and 95% confidence intervals (CI). Interaction analysis showed that households not implementing 3M PSN in urban areas were not significantly associated with dengue fever incidence (POR = 0.61; 95% CI: 0.18–1.99). In contrast, in rural areas, households not implementing 3M PSN had a 7.77-fold higher risk of dengue fever compared with households implementing 3M PSN (POR = 7.77; 95% CI: 1.83–32.93). Similarly, households not implementing 3M Plus PSN in urban areas were not significantly associated with dengue fever incidence (POR = 0.75; 95% CI: 0.19–2.97). However, in rural areas, households not implementing 3M Plus PSN had a 6.75-fold higher risk of dengue fever compared with households implementing 3M Plus PSN (POR = 6.75; 95% CI: 1.60–28.45).Therefore, strengthening the implementation of PSN through an area-based approach is necessary, particularly through community empowerment in rural areas and optimization of personal protection and environmental sanitation interventions in urban areas to reduce the risk of dengue fever.
Read More
T-7503
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Desfalina Aryani; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Trisari Anggondowati, Agus Handito, Nindya Savitri
Abstrak:
Disabilitas serta keterbatasan aktivitas dasar dan instrumental kehidupan sehari-hari pada lansia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang berdampak pada penurunan kualitas hidup, meningkatnya ketergantungan, serta beban pelayanan kesehatan dan sosial. Penelitian ini bertujuan menganalisis determinan disabilitas serta keterbatasan aktivitas dasar dan instrumental kehidupan sehari-hari pada lansia di Indonesia. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan data sekunder Indonesia Longitudinal Aging Survey (ILAS) tahun 2023 pada 1.743 lansia usia ≥60 tahun yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel dependen meliputi disabilitas, keterbatasan aktivitas dasar, dan keterbatasan aktivitas instrumental kehidupan sehari-hari, sedangkan variabel independen mencakup faktor sosiodemografi, kesehatan, perilaku kesehatan, akses layanan kesehatan, dan sosial. Analisis dilakukan secara deskriptif, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik dengan tingkat kemaknaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi disabilitas sebesar 29,6%, keterbatasan aktivitas dasar kehidupan sehari-hari sebesar 17,3%, dan keterbatasan aktivitas instrumental kehidupan sehari-hari sebesar 81,4%. Sekitar tiga dari sepuluh lansia mengalami disabilitas pada setidaknya satu domain, dengan pola keterbatasan aktivitas instrumental yang lebih tinggi dibanding aktivitas dasar. Determinan disabilitas meliputi faktor sosiodemografi, kesehatan, dan sosial, di mana lansia usia ≥80 tahun memiliki peluang mengalami disabilitas 3,25 kali dibandingkan usia 60–69 tahun (aOR=3,25; 95%CI: 2,10–5,00), sedangkan partisipasi sosial rendah meningkatkan peluang sebesar 1,97 kali (aOR=1,97; 95%CI: 1,50–2,58). Keterbatasan aktivitas dasar berhubungan dengan faktor sosiodemografi, kesehatan, dan sosial, sementara keterbatasan aktivitas instrumental juga dipengaruhi pendidikan, pendapatan, status gizi, dan jenis kelamin. Hasil ini menunjukkan perlunya penguatan upaya promotif dan preventif melalui deteksi dini penurunan fungsi, pengendalian penyakit kronis, peningkatan partisipasi sosial, serta pemeliharaan fungsi fisik dan kognitif untuk mempertahankan kemandirian lansia.

Disability and limitations in basic and instrumental activities of daily living among older adults are public health concerns associated with reduced quality of life, increased dependency, and greater health and social care burden. This study aimed to analyze the determinants of disability and limitations in basic and instrumental activities of daily living among older adults in Indonesia. A cross-sectional study was conducted using secondary data from the Indonesia Longitudinal Aging Survey (ILAS) 2023 involving 1,743 older adults aged ≥60 years who met the inclusion criteria. The dependent variables included disability, limitations in basic activities of daily living, and limitations in instrumental activities of daily living, while the independent variables comprised sociodemographic, health, health behavior, healthcare access, and social factors. Data were analyzed descriptively, bivariately using the chi-square test, and multivariately using logistic regression with a 95% confidence level. The results showed a prevalence of disability of 29.6%, limitations in basic activities of daily living of 17.3%, and limitations in instrumental activities of daily living of 81.4%. Approximately three in ten older adults experienced disability in at least one domain, with a higher pattern of limitations in instrumental activities compared with basic activities. Determinants of disability included sociodemographic, health, and social factors, in which older adults aged ≥80 years had 3.25 times higher odds of disability than those aged 60–69 years (adjusted Odds Ratio [aOR]=3.25; 95%CI: 2.10–5.00), while low social participation increased the odds by 1.97 times (aOR=1.97; 95%CI: 1.50–2.58). Limitations in basic activities of daily living were associated with sociodemographic, health, and social factors, whereas limitations in instrumental activities of daily living were additionally influenced by education, income, nutritional status, and sex. These findings highlight the need to strengthen promotive and preventive efforts through early detection of functional decline, chronic disease management, increased social participation, and maintenance of physical and cognitive function to preserve independence among older adults.
Read More
T-7520
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vivin Desy Kurniawati; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Trisari Anggondowati, Agus Handito, Sri Ridha Hasanah
Abstrak:
Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat dengan prevalensi yang tinggi di Kota Palembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan kejadian hipertensi berdasarkan jenis kelamin pada penduduk usia ≥18 tahun di wilayah dengan prevalensi tinggi. Penelitian ini menggunakan desain observasional kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan data sekunder skrining Penyakit Tidak Menular dari Aplikasi Sehat IndonesiaKu (ASIK) tahun 2025. Sampel penelitian adalah seluruh populasi eligible sebanyak 27.464 responden. Analisis data dilakukan secara deskriptif, bivariat, dan multivariat menggunakan Stata. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi hipertensi lebih tinggi pada laki-laki (43,85%) dibandingkan perempuan (42,28%). Pada analisis multivariat, faktor yang berhubungan secara independen dengan kejadian hipertensi pada laki-laki adalah usia, status gizi, konsumsi garam, aktivitas fisik, konsumsi buah dan sayur, dan status pernah merokok. Sementara pada perempuan, determinan yang berhubungan adalah usia, status gizi, konsumsi garam, dan aktivitas fisik. Usia merupakan determinan paling kuat pada kedua kelompok, dengan risiko meningkat seiring bertambahnya usia. Status gizi di luar batas normal dan konsumsi garam berlebih juga konsisten meningkatkan prevalensi hipertensi. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa determinan hipertensi relatif konsisten antara laki-laki dan perempuan, dengan variasi pada beberapa faktor perilaku. Intervensi pencegahan hipertensi perlu difokuskan pada pengendalian faktor risiko utama, terutama usia lanjut, status gizi, dan konsumsi garam.

Hypertension is a major public health problem with a high prevalence in Palembang City. This study aimed to identify the determinants of hypertension by sex among individuals aged ≥18 years in high-prevalence areas. This study employed a quantitative observational design with a cross-sectional approach using secondary data from Non-Communicable Disease screening in the Sehat IndonesiaKu (ASIK) application in 2025. The sample included all eligible populations, totaling 27.464 respondents. Data were analyzed using descriptive, bivariate, and multivariate methods with Stata.         The results showed that the prevalence of hypertension was higher in males (43,85%) than in females (42,28%). Multivariate analysis indicated that the determinants independently associated with hypertension in males were age, nutritional status, salt consumption, physical activity, fruit and vegetable consumption, and ever smoking status. In females, the associated determinants were age, nutritional status, salt consumption, and physical activity. Age was the strongest determinant in both groups, with increasing risk observed with advancing age. Non-normal nutritional status and excessive salt consumption consistently increased the prevalence of hypertension.          In conclusion, the determinants of hypertension were relatively consistent between males and females, with variations in certain behavioral factors. Hypertension prevention efforts should focus on controlling key risk factors, particularly older age, nutritional status, and salt consumption.
Read More
T-7549
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive