Ditemukan 36 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Hartati Rivai; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Yayuk Hartriyanti
T-1558
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nailly Mohammad; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Yayuk Hartriyanti
Abstrak:
Read More
Masalah kesehatan utama yang dihadapi bangsa ini meliputi derajat kesehatan yang rendah, status gizi masyarakat yang masih memprihatinkan, serta problema double burden, yaitu munculnya penyakit menular baru (New Emerging Disease) yang dibarengi dengan adanya penyakit menular lama yang muncul kembali (Re Emerging Disease). Selain itu, permasalahan kesehatan juga diperburuk dengan semakin berkembangnya penyakit tidak menular. Sub Direktorat Surveilans Epidemiologi Depkes RI (Subdit SE), suatu organisasi publik non profit yang bertugas melakukan kegiatan analisis secara sistematis dan terus menerus terhadap penyakit dan masalah-masalah kesehatan. Subdit SE jugs bertugas melakukan tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan, dan penyebaran inforrnasi epidemiologi kepada penyelenggara program kesehatan. Subdit SE dapat berfungsi dua hal, yaitu memproduksi data dan informasi langsung atau membangun kerjasama dengan unit lain agar mempunyai kemampuan memadai untuk melaksanakan kegiatan surveilans. Kegiatan subdit terakhir ini, akan semakin besar, karena semakin kompleksnya permasalahan kesehatan, perubahan yang cepat, serta kebutuhan segera akan informasi dan data untuk menyusun program. Dalam menyongsong Indonesia Baru yang sehat, yang sejalan dengan semangat otonomi daerah, telah diberikan otonomi kepada kabupatenikota untuk berperan dan berwenang dalam pengambilan keputusan kesehatan. Tentu saja desentralisasi kebijakan kesehatan ini harus ditopang oleh kemampuan dan disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan setempat (Evidence Based Decision Making)mengingat permasalahan kesehatan yang makin rumit, kebutuhan program kesehatan yang rinci dan mendesak, serta tuntutan masyarakat akan kesehatan yang semakin tinggi, mendorong Subdit Surveilans untuk mengembangkan sistem jejaring dalam pelaksanaan surveilans epidemiologi dan meningkatkan manajemen organisasinya dengan melakukan pembuatan rencana strategis kedepan. Delphi Technique dengan Personal Judgment, yang beranggotakan 6 orang yang sebagian besar para pembuat keputusan di Subdit Surveilans, menetapkan beberapa strategi terbaik dengan menggunakan matrik SWOT clan QSPM sebagaimana yang diteliti dalam penelitian ini. Hasil penelitian berdasarkan matriks Intemal-Eksternal, memperlihatkan bahwa posisi Subdit Surveilans berada pada kuadran V. Posisi ini menuntun Subdit untuk mengembangkan kebijakan Hold and Maintain, dengan strategi yang sesuai yaitu strategi market penetration dan product development. Penelitian ini menyimpulan bahwa Subdit Surveilans memiliki peluang yang besar, walaupun is menghadapi berbagai kelemahan dan ancaman. Menghadapi kondisi ini, sebaiknya prioritas diarahkan untuk memperkuat organisasi sebelurn melakukan langkah-langkah penetrasi pasar. Sebagai saran dan tindak lanjut, strategi yang telah dipilih hendaknya dioperasikan dengan optimal melalui dukungan berbagai pihak. Daftar Bacaan : 36 (1982-2002)
Strategic Planning Of Epidemiology Surveilans Of Subdirec.Tory Health Departement In The Year 2003-2007 The main health problem, which is, faced this nation covering the low of health degree, mal nutrition, and the new and re emerging disease (double burdens phenomenon). In addition, the problem is going worse with no emerging diseases development. Sub-directorate of Surveillance and Epidemiological Health Department of Republic of Indonesia is a governmentally organization which responsible to do continuously and systematically analyze activities of diseases and health problems. The sub-directorate is also responsible to prevent effectively and efficiently those health problems through epidemiological data collecting process and distribution to all of health program organizer. The Sub-directorate has two functions: to produce epidemiological information and to build networking to others unit in order to have sufficiently competencies to undertake surveillance activities. Meanwhile, the health problem run into more complicated and changes rapidly. Therefore, the Sub-directorate has a lot of tasks and activities. Facing of the new healthy of Indonesia and the spirit of reformation, the authority of health policies has been decentralized to the districts. It means, the district government has to be able to handle and manage the health problem which is supported by capabilities and the policies have to be referred by local need and conditions (Evidence Based Decision Making) Considering the more complicated and urgently of health problem, it is driving the sub-directorate to develop network system in undertaking epidemiological surveillance and building organization management by making a strategic planning for 5 years forward Delphi Technique with Personal Judgment, which is six experts have made the best strategies used matrix SWOT and QSPM as a result of this study. The result of this study has shown that the Sub-directorate stands on quadrant V. It means the Sub-directorate in "hold and maintain" position, and should develop market penetration and product development. This study concludes that Sub-directorate has range opportunities, but on the other hand it faces a significant weakness and big threat. Encountering this condition, the sub directorate should put the priority on strengthening the organization before penetrating and the market. This study also suggests operating the best alternative strategies with all of support and seriousness. Bibliography: 36 (1982-2002)
T-1652
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fila Deviani Nur; Pembimbing: Endang L. Achadi; Penguji: Yayuk Hartriyanti
Abstrak:
Read More
Kanker kolon merupakan salah satu jenis penyakit kanker, yang termasuk dalam 10 jenis penyakit kanker yang terbanyak di Indonesia. Besarnya angka kejadian penyakit ini, yang dilihat berdasarkan masuknya penyakit ini ke dalam 10 jenis penyakit kanker terbanyak di Indonesia, menunjukkan kecenderungan pengaruh dari transisi epidemiologi yang terjadi di Indonesia. Namun sejauh ini, belum diketahui faktor risiko apa sajakah yang berhubungan dan seberapa besar faktor-faktor risiko tersebut dalam hubungannya terhadap penyakit ini. Maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tentang kanker kolon pada penderita kanker kolon dan faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit tersebut di RSKD pada tahun 2003. Disain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kasus kontrol. Penelitian dilakukan pada penderita kanker kolon (kasus) dan penderita kanker lainnya (kontrol), yang merupakan pasien di RSKD. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive, sedangkan pengambilan sampel dilakukan secara simple random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 128 sampel. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari s/d April 2003. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara faktor pola konsumsi daging merah, aktifitas olah raga, riwayat keluarga, usia, pendapatan keluarga dan tingkat pendidikan dengan terjadinya penyakit kanker kolon. Model akhir yang didapat dari penelitian ini menunjukkan bahwa, probabilitas seseorang untuk mengalami penyakit kanker kolon dipengaruhi oleh faktor pola konsumsi daging merah, aktifitas olah raga, riwayat keluarga, tingkat pendidikan dan usia. Diketahui pula bahwa, faktor pola konsumsi daging merah memiliki kekuatan hubungan yang paling dominan dibandingkan faktor lainnya, terhadap terjadinya penyakit kanker kolon. Dimasa yang akan datang diperkirakan penyakit kanker, khususnya penyakit kanker kolon ini, merupakan penyakit yang mempunyai kontribusi potensial terhadap penurunan derajat kesehatan masyarakat. Untuk itu disarankan agar sejak dini, diterapkan secara lebih terprogram dan meluas, pengenalan faktor-faktor risiko penyakit kanker kolon, kemudian cara pencegahan dan pengurangan penderitaan bagi yang sudah mengidap penyakit tersebut di segala lapisan masyarakat. Daftar bacaan : 139 (1976 - 2002)
The Relationship of Red Meat Consumption Pattern, Exercise Activity and Family History with the Happen of Colon Cancer Disease, (Control Case Study at Dharmais Cancer Hospital, Jakarta, 2003)Colon cancer is one of cancer diseases that categorized in 10 kinds of cancer diseases that the most available in Indonesia The number of happen to this disease, it was showed the tendency of influence in epidemiology transition that occur in Indonesia However, so far it unknown yet what the risk factor that influenced and how big the risk factor of that disease in Indonesian. The objective of this study is to determine the description of colon cancer to the sufferer and the factors that influence it in Dharmais Cancer Hospital, 2001 The design used in this study was control case. This study was applied to colon cancer sufferers (case) and other cancer sufferers (control) who are the patients of Dharmais Cancer Hospital on the period 1994 - 2003. The selection of research area is conducted by purposive sampling, while the sample is taken randomly, whereas the numbers of total sample are 128 samples (64 casus and 64 control). This study was conducted on February - April 2003. The result of this study showed that there was significant relationship between the factor of red meat consumption pattern, physic activity, family history, age, family income and education level and the happen of colon cancer disease. The recent model obtained of this study showed that the happen of colon cancer disease was influenced by red meat consumption pattern, exercise activity, education level and age. It was known that red meat consumption pattern factor has the highest relationship compared to other factors to the happen of colon cancer disease. In the future it is estimated that cancer disease, especially colon cancer disease has potential contribution to decrease the degree of community health. It is suggested age early to apply it by programmed and widely, introducing the risk factors on colon cancer disease. Then the ways to prevent it and reduce to whom already suffered the disease at all levels at the community. Reference: 139 (1976 - 2002)
T-1736
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Lianawati; Pembimbing: Engkus Kusdinar Achmad; Penguji: Yayuk Hartriyanti, Nanang Prayitno
S-4257
Depok : FKM UI, 2005
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Januar Rasid; Pembimbing: Endang L. Achadi; Penguji: Yayuk, Hartriyanti, Abdrurrahman
S-4159
Depok : FKM UI, 2005
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rosikin; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Yayuk Hartriyanti, Lucia Pardede
S-4166
Depok : FKM-UI, 2005
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sunarto; Pembimbing: Farida Mutiarawati Tri Agustina; Penguji: Yayuk Hartriyanti, Hario Tilatso, Surjadji
Abstrak:
Read More
Kesegaran jasmani merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap produktifitas kerja Hasil penelitian Pusat Kesegaran Jasmani dan Rekreasi (PKJR) Depdikbud (1993), tenaga kerja di dua perusahaan elektronik dan dua perusahaan tekstil diperoleh angka secara berturut-turut 58,42% dan 58,95% di Jakarta dan Bogor tergolong memiliki tingkat kesegaran jasmani dengan kategori lasrang. Memperhatikan pentingnya peranan kesegaran jasmani terhadap produktifitas, PT. Indomobil Suzuki International (IST) yang memproduksi mesin kendaraan bermotor jenis kendaraan Suzuki ingin mengetahui tingkat kesegaran jasmani tenaga kerja bagian produksi. Untuk itu dilakukan penelitian terhadap tenaga kerja bagian produksi PT. ISI yang bertujuan mengetahui gambaran tingkat kesegaran jasmani dan faktor-faktor yang mempengaruhinya dengan strategi pemodelan menggunakan data sekimder di Balai Keseharan Olahraga Masyarakat (BKOM) Depkes RI Rancangan penelitian yang digunakan adalah Cross-sectional, dengan sampel sejumlah 333 orang. Dalam melakukan strategi pemodelan digunakan uji regresi logistik ganda. Berdasarkan klasifikasi kesegaran jasmani yang digunakan oleh PKJR Depdikbud (1996), sebagian besar (41,4%) tenaga kerja bagian produksi PT. ISI memiliki kesegaran jasmani dengan kategori sedang namun bila kategori tersebut disederhanakan seperti yang digunakan oleh Sulistyowati (2000), sebagian besar (53,8%) tenaga kerja memiliki kesegaran jasmani dengan kategori baik Berdasarkan klasifikasi Persentase Lemak Tubuh (PLT) dan Indeks Massa Tubuh (IMT) yang digunakan oleh Depkes RI (1996), sebagian besar (40,2%) tenaga kerja memiliki PLT dengan kategori baik dan sebagian besar (76,6%) tenaga kerja memiliki IMT dengan kategori normal. Berdasarkan klasifikasi Tekanan Darah Diastolik (TDD) yang digunakan oleh Americans hnstitures of Medicine (1988), sebagian baser (45,0%) tenaga kerja memiliki TDD dengan kategori normal. Berdasarkan klasifikasi umur yang digunakan oleh PKJR Depdikbud (1995), sebagian besar (45,9%) tenaga kerja termasuk dalam golongan umur 40-49 tahun. Berdasarkan uji Pearson chi-Square pada derajat kepercayaan 95%, secara statistik menunjukkan hubungann yang bermakna antara kategori PLT dengan kesegaran jasmani (p = 0,000), kategon IMT dengan kesegaran jasmani (p = 0,001), kategori TTD dengan kesegaran jasmani (p = 0,000), dan tidak ada hubungan yang bermakna antara golongan umur dengan kesegaran jasmani (p= 0,486). Berdasarkan analisis regresi logistik ganda dengan strategi pemodelan, faktor-faktor yang berhubungan dengan kesegaran jasmani adalah kategori PLT, kategori IMT, kategori TDD, dan golongan umur. Tenaga kerja yang memiliki PLT dengan kategori lebih dan gemuk (PLT > 17%) mempunyai risiko 12,22 kali untuk memiliki kesegaran jasmani dengan kategori kurang bila dibandingkan dengan teman mereka yang mempunyai PLT baik sekali (PLT 5-10%); mereka yang memiliki IMT dengan kategori kurus (IMT<18,5) mempunyai risiko 6,42 kali untuk memiliki kesegaran jasmani dengan kategori kurang bila dibandingkan dengan teman mereka yang memiliki IMT dengan kategori normal (IMT 18,5-25,0); mereka yang memiliki TDD dengan kategori tinggi mempunyai risiko 3,41 kali untuk memiliki kesegaran jasmani dengan kategori kurang bila dibandingkan dengan teman mereka yang memiliki TDD dengan kategori normal; dan mereka yang berumur 50-59 tahun mempunyai risiko 1,45 kali untuk memiliki kesegaran dengan kategori kurang bila dibandingkan dengan teman mereka yang berumur 20-29 tahun, namun risiko umur tersebut secara statistik tidak bermakna. Berdasarkan hasil penelitian tersebut disarankan agar PT. LSI mengantisipasi kesegaran jasmani tenaga kerja dengan mega aktifitas fisik tenaga kerja melalui penggalakan program olahraga dan pengaturan menu makanan yang adekuat.
It is stated that physical fitness is one of the factors which influence productivity. Research result from Center of Physical Fitness and Recreation (CPFR), Departmont of Education and Culture (DEC) (1993), found that 58.42% of workers at two electronic companies and 58.95% of workers at two textile companies have low physical fitness. PT. ISI, the company that produces Suzuki machine, understand that physical fitness have influence to productivity. Therefore, the company wants to find out the physical fitness of company woken, especially those who works at the deparhnent of production. For this reason, study about physical fitness among workers at the department is conducted. The objective of the study is to know the degree of physical fitness and it influence factors by using modeling strategy. Data for this study was using secondary data from the IPHS. The design of the study is cross-sectional with 333 samples, and using multiple logistic regression test in its modeling strategy. The study found that, based on physical fitness clasification which used by CPFR, Departement of Education and Culture (DEC) (1996), most of workers at PT. ISI (41.4%) have physical fitness in mild category, but if the category is simplified as used by Sulistyowati (2000), most of workers (53.8%) have physical fitness in good category. Based on Proportion of Body Fat (PBF) which clasified by The Departement of Health of RI (DCHRI) (1994), most of workers (40.2%) have PBF in good category. Based on Body Mass Index (BMI) clasification used by DOHRI (1996), most of workers (76.6%) have BMI in normal category. Based on Diastolic Blood Pressure (DBP) clasification used by Americans Institutes of Medicine (AIM) (1988), most of workers (45.0%) have DBP in normal category. Based on age clasification used by CPFR Departement of Education and Culture (1996), most of workers (45.9%) have age in 40-49 years category. Based on chi-Square Pearson test with 95% CI, there are a significant relations between PBF and physical fitness (p.1.000), BMI and physical fitness (p=0.001), DBP and physical fitness (p~,000). However, there is no significant relations between age and physical fitness (p.486). Result from multiple logistic regression analysis with modeling strategy, found that physical fitness is influenced by PBF, BMI, DBP and age. Workers with PBF in overweight and obese category (PBF >17%) face a greater risk 12.22 times to have low physical fitness compared to those with PBF in very good category (PBF=5-10%). While those who have BMI in thin category (BMI<18.5) have risk 6.42 times to have low physical fitness, compared to those workers who have normal category (BMI 18.5-25.0). Those who have high diastolic blood pressure face a risk 3.41 times to have low physical fitness, compared to workers with normal diastolic blood pressure; and workers with age 50-59 years old have risk 1.45 times to have low physical fitness than workers with age 20-29 years old. However, based on statistic this age relationship is not significant Regarding to the result of the study, it is suggested that PT. ISI should make an action to anticipate the physical fitness of the workers in increasing their physical activities through sport and adequate nutrition program.
T-921
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Suparmanto; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Yauk Hartriyanti, Bambang Guntur, Hardiman
Abstrak:
Read More
Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tergolong tinggi (373 per 100.000 kelahiran hidup, SKRT 1995). Setelah melalui penelusuran oleh WHO melalui Prevention of Maternal Mortality Network diketahui ada 3 keterlambatan yang terjadi. Pertama terlambat membuat keputusan di tempat tinggal pasien, kedua terlambat merujuk ketempat yang lebih mampu untuk menangani dan ketiga terlambat memberi pertolongan setelah berada di rumah sakit. Dalam sebuah penelitian di Afrika didapati waktu tunggu penanganan kasus gawat darurat berkisar antara 2,6 jam hingga 15,5 jam. Untuk mengetahui keadaan di Pontianak dibuat sebuah penelitian mengenai waktu tunggu kasus gawat darurat kebidanan yang dirujuk atau datang sendiri ke rumah sakit. Penelitian dilangsungkan selama 8 minggu sejak 15 September hingga 15 Nopember 2000. Sampel diambil secara purposif sejumlah 35 kasus. Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi waktu tunggu persiapan operasi kasus gawat darurat kebidanan diteliti antara lain karakteristik pasien (pendidikan pasien, kadar Hb pasien, pendidikan suami, kehadiran suami, penghasilan keluarga) karakteristik sumber daya rumah sakit (kesibukan dokter jaga, bidan, dokter operator, staf kamar operasi) karakteristik fasilitas (kesibukan kamar operasi, waktu persiapan alat operasi) karakteristik administrasi (mendapatkan ijin operasi) dan karakteristik penunjang (tersedianya darah). Hasil penelitian memperlihatkan rerata waktu tunggu 8 jam 16 menit dengan nilai median 5 jam 45 menit. Waktu terpendek 30 menit dan terpanjang 25 jam 36 menit. Panjangnya waktu tunggu disebabkan oleh kondisi pasien. Sebagian variabel yang diteliti tidak ada hubungan bermakna kecuali kadar Hb dan waktu persiapan kamar operasi. Variabel waktu persiapan kamar operasi ternyata merupakan faktor paling dominan. Disarankan untuk meningkatkan mutu pelayanan secara keseluruhan dan memperpendek waktu tunggu agar menempatkan bank darah didalam rumah sakit dan persiapan kamar operasi lebih baik lagi. Bagi pasien yang akan dirujuk diupayakan agar tetap berada dalam kondisi terbaiknya. Selain itu juga dianjurkan membuat dan membina jaringan kerjasama antara rumah sakit dan Puskesmas serta mencoba mendapatkan cut off point waktu tunggu melalui organisasi profesi (POGI).
Waiting Time Analysis of Preparation Operation for Obstetric Emergency Cases in Hospitals in Pontianak in the Year 2000The Maternal Mortality Rate in Indonesia is still high with 373 deaths per 100.000 live birth(SK.RT 1995). WHO through Prevention of Maternal Mortality Network had found that there were 3 categories of late in helping the patients. The first is "late to decide" by the family, second is "late to refer" to the hospital and the third is "late to take care the patient inside the hospital by the health personnel". Former study in Africa for waiting time was found that it need between 2,6 to 15,5 hours for a patient to wait until she got a help. This study was trying to know the waiting time for an emergency case in obstetric begins when she arrived until she got medical interventions such as cesarean section or laparotomy. The study was carried out for about 8 weeks, from 15th of September until 15th of November 2000. The samples were taken by purposive method and a total of 35 cases were achieved during this study period. Many factors were correlated to the waiting time such as characteristics of the patients (education, hemoglobin value, education of her husband, husband present in the hospital) characteristics of personnel of the hospital (level of occupancy of the doctor in charge, the midwife, the obgyn and the staff of the operation room)characteristics of the facility of the operation room (readiness of the operation room, readiness of the equipment) characteristic of getting the letter of inform consent (time to get the agreement) characteristic of the other (readiness of the blood). The result of this study found that the waiting time's mean was 8 hours 16 minutes. The median was 5 hours 45 minutes and the range was 30 minutes to 25 hours 36 minutes. The causes of the length of the waiting time were patients? condition. There were no significant variables except hemoglobin value and preparation of the operation room's time. With the backward method of linear regression the time for preparation of the operation room was the most dominant variable. To improve the quality in health services and make the waiting time shorter, it is suggested to make preparation time faster, organized a blood bank inside the hospital and referred patient in her best condition. Also suggested to build and maintain good networking between hospital and health center and try to find the cut off point of waiting time through the Indonesian Society of Obstetric and Gynecologist (ISOG).
T-929
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mathilda Marpaung; Pembimbing: Adang Bachtiar, PAW Pattinama; Penguji: Wibowo B. Sukijat, Sontang Simamora, Yayuk Hartriyanti
Abstrak:
Latar Belakang: Balai Kesehatan masyarakat, sebagai salah satu penyelenggara kesehatan milik swasta yang dikelola oleh yayasan yang berbadan hukum. Tugas dan fungsinya seperti puskesmas, hanya wilayah kerjanya lebih kecil yaitu hanya satu kelurahan. Balkesmas TB saat ini dituntut lebih mandiri oleh Yayasan Kesehatan PGI Cikini sehingga perlu dilakukan evaluasi diri, yang dimulai dengan analisis situasi Balkesmas TB, melakukan segmentasi terhadap pengguna jasa dan pasar potensial Balkesmas TB. Tujuan : Survey segmentasi dilakukan untuk melihat aspek-aspek geografi, demografi dan psikografi terhadap pengguna jasa Balkesmas TB dan pasar potensial untuk menganalisis karateristiknya sebagai bahan untuk penetapan target atau pasar sasaran setelah digabung dengan analisis stakeholders dan kompetitor. Metode : Disain penelitian ini adalah kualitatif dan didukung kuantitatif. Tahap pertama analisis situasi Balkesmas TB melalui wawancara dengan tim manajemen Balkesmas TB dan analisis segmentasi terhadap pengguna jasa Balkesmas TB dan masyarakat sekitar, kedua, dilakukan wawancara mendalam kepada para stakeholders dan kompetitor serta ketiga, dilakukan rangkuman hasil analisis situasi, segmentasi, stakeholders dan kompetitor untuk penentuan target pasar Balkesmas TB. Hasil : Hasil segmentasi geografi dan demografi menunjukkan bahwa segmen pasar terbesar bagi Balkesmas TB adalah mereka yang tinggal di RW 5 Kelurahan TB dan Kelurahan Pejaten Timur dengan kelompok umur 20 –49 tahun, jenis kelamin perempuan, tingkat pendidikan SLTA/MA, pekerjaan adalah ibu rumah tangga dengan pendapatan per bulan diatas Rp.700.000 dan mengalokasikan biaya kesehatan antara Rp.50.000 – 100.000. Segmentasi psikografi diperoleh hasil bahwa persepsi pasien terhadap pelayanan di Balkesmas TB adalah baik, terhadap tarif mengatakan sedang dan citra yang dimiliki Balkesmas TB adalah baik. Alasan mereka memilih Balkesmas TB adalah faktor kedekatan, memanfaatkan pelayanan di Balkesmas TB sudah lebih dari 5 tahun dan memilih RS sebagai sarana kesehatan selain Balkesmas TB. Hasil ini tidak begitu jauh dengan hasil segmentasi yang dilakukan pada pasar potensial.Analisis pada stakeholders diperoleh bahwa Balkesmas TB masih dibutuhkan keberadaannya sekarang terutama karena belum adanya Puskesmas di Kelurahan TB dan masih mampu menjawab kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan. Pada analisis kompetitor dilakukan pada Puskesmas Pejaten Timur dan Klinik Restu Ibu, dimana posisi Balkesmas TB sebagai pengikut pasar (market follower). Kesimpulan : Segmen pasar Balkesmas TB adalah masyarakat Kelurahan Tanjung Barat, kelompok umur 20 – 49 tahun, pendidikan minimal menengah, pekerjaan ibu rumah tangga dengan penghasilan diatas Rp.700.000 dan kelas ekonomi menengah ke atas. Sedangkan target pasar Balkesmas TB adalah pola spesialisasi yang selektif (Selective Specialization). Penetapan target ini dilakukan melalui CGM dengan pihak manajemen Balkesmas TB. Kata kunci : Segmentasi, Stakeholders, Target Pasar
Background : Public Health Center, as one of the private health organizer runs by law corporation institution. Task and function like Puskesmas, but smaller working area, i.e. one district. At this moment, Balkesmas TB claimed to be more autonomous by PGI Cikini Health Institution so that conducted self-evaluation, started with Balkesmas TB situation analysis, conducting segmentation to service user and Balkesmas TB potential market. Objective : Segmentation survey conducted to observe geography, demography, and psychographic aspects toward Balkesmas TB service user and potential market to analyze the characteristic as a material for target determination or market target after joined with stakeholders and competitor analysis. Methods: This research design is qualitative and supported by quantitative, that consisted of three steps. First Balkesmas TB situation analysis through interview with Balkesmas TB management team and local community, face two, conducted an interview to stakeholders and competitor, and face three, conducted a summary from situation analysis result, segmentation, stakeholders and competitor to determine Balkesmas TB market target through Consensus Group Meeting (CGM). Results : Geography and demography segmentation result shows the biggest market segment for Balkesmas TB is they whom live in RW 5 TB district and East Pejaten district with 20-49 years old age group, female, SLTA/MA education, job as a housewife with monthly earnings up to Rp. 700.000 and allocating health cost between Rp. 50.000 – 100.000. From psychographic segmentation got a result that patient perception to service in Balkesmas TB is well, for the tariff, they said average and Balkesmas TB image is good. Their reason in choosing Balkesmas TB is contiguity factor, exploiting Balkesmas TB service over than 5 years, and need for specialist doctor service in Balkesmas TB and choose RS as health medium beside Balkesmas TB. This result is much the same to segmentation result done to potential market.In stakeholders analysis got that Balkesmas TB still needed right now especially because there is no Puskesmas in TB district and it still answer the peoples needs of health service. Competitor analysis is do to East Pejaten Puskesmas and Restu Ibu Clinic, where Balkesmas TB as market follower. Conclusions : Balkesmas TB market segment is West Tanjung district community, 20-49 years old age group, intermediate minimal education, job as a housewife with earning up to Rp. 700.000 and middle up economy status. This determination is fulfilling the responsive criteria, sale potential, adequate development and media scope and also measurability, substantial-ability, accessibility, and action-ability. While Balkesmas TB market target is Selective Specialization pattern. This targets determination done through CGM with Balkesmas TB management side. Keywords : Segmentation, Stakeholders, market of target
Read More
Background : Public Health Center, as one of the private health organizer runs by law corporation institution. Task and function like Puskesmas, but smaller working area, i.e. one district. At this moment, Balkesmas TB claimed to be more autonomous by PGI Cikini Health Institution so that conducted self-evaluation, started with Balkesmas TB situation analysis, conducting segmentation to service user and Balkesmas TB potential market. Objective : Segmentation survey conducted to observe geography, demography, and psychographic aspects toward Balkesmas TB service user and potential market to analyze the characteristic as a material for target determination or market target after joined with stakeholders and competitor analysis. Methods: This research design is qualitative and supported by quantitative, that consisted of three steps. First Balkesmas TB situation analysis through interview with Balkesmas TB management team and local community, face two, conducted an interview to stakeholders and competitor, and face three, conducted a summary from situation analysis result, segmentation, stakeholders and competitor to determine Balkesmas TB market target through Consensus Group Meeting (CGM). Results : Geography and demography segmentation result shows the biggest market segment for Balkesmas TB is they whom live in RW 5 TB district and East Pejaten district with 20-49 years old age group, female, SLTA/MA education, job as a housewife with monthly earnings up to Rp. 700.000 and allocating health cost between Rp. 50.000 – 100.000. From psychographic segmentation got a result that patient perception to service in Balkesmas TB is well, for the tariff, they said average and Balkesmas TB image is good. Their reason in choosing Balkesmas TB is contiguity factor, exploiting Balkesmas TB service over than 5 years, and need for specialist doctor service in Balkesmas TB and choose RS as health medium beside Balkesmas TB. This result is much the same to segmentation result done to potential market.In stakeholders analysis got that Balkesmas TB still needed right now especially because there is no Puskesmas in TB district and it still answer the peoples needs of health service. Competitor analysis is do to East Pejaten Puskesmas and Restu Ibu Clinic, where Balkesmas TB as market follower. Conclusions : Balkesmas TB market segment is West Tanjung district community, 20-49 years old age group, intermediate minimal education, job as a housewife with earning up to Rp. 700.000 and middle up economy status. This determination is fulfilling the responsive criteria, sale potential, adequate development and media scope and also measurability, substantial-ability, accessibility, and action-ability. While Balkesmas TB market target is Selective Specialization pattern. This targets determination done through CGM with Balkesmas TB management side. Keywords : Segmentation, Stakeholders, market of target
T-2135
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hetty Permatawati; Pembimbing: Adang Bachtiar, PAW. Pattinama; Penguji: Yayuk Hartriyanti, Theresia Ronny Andayani, Titien Irawati
T-2149
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
