Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Padang telah berkarya melayani masyarakat sejak 30 tahun yang lalu. Secara umum ada dua macam pelayanan perawatan yang diberikan rumah sakit yaitu rawat jalan (out patient) dan rawat inap (in patient). Dalam memberikan pelayanannya rumah sakit berusaha untuk mengacu kepada standar mutu pelayanan yang telah ditetapkan oleh Depkes, sehingga diharapkan dapat memberikan kepuasan kepada konsumen. Salah satu indikator yang dapat dilihat untuk melihat kepuasan pasien di rumah sakit adalah jumlah kunjungan pasien secara umum ke rumah sakit. Berdasarkan data tiga tahun terakhir (1998-2000), diketahui terjadi kecenderungan adanya penurunan pertumbuhan rata-rata jumlah kunjungan rawat jalan secara keseluruhan. Penurunan yang mencolok terjadi di poll mats yang mencapai pertumbuhan sebesar -53%, diikuti jumlah kunjungan di poli umum yaitu sebesar -13%. Apabila data jumlah kunjungan dibandingkan satu tahun sebelumnya, maka proporsi terbesar penurunan terjadi pada poli umum yaitu mencapai 46%. Unit rawat jalan dari rumah sakit merupakan bagian terpenting dari rumah sakit, jadi (1998). Karena unit rawat jalan berfungsi sebgai profit center dan pintu gerbang masuk pasien, maka secara tidak langsung unit rawat jalan akan menampakkan citra dari rumah sakit tersebut. Mengingat pentingnya peran unit rawat jalan, mengharuskan pengelolaannya dilakukan secara serius. Adanya penurunan jumlah kunjungan di unit rawat jalan khususynya poli umum di RSI Ibnu Sina, mengindikasikan adanya permasalahan dalam pengelolaan pelayanan di bagian tersebut. Penelitian ini bermaksud untuk mengkaji faktor-faktor yang kemungkinan terkait dengan terjadinya penurunan jumlah kunjungan pasien di poli umum unit rawat jalan RSI Ibnu Sina. Sebagai variabel penelitian diambil tiga aspek yaitu : Sumber Daya Manusia, Standar Operating Procedure (SOP) dan pendapatan karyawan. Penelitian ini bersifat eksploratif dengan pendekatan kualitatif. Informan pada penelitian adalah petugas yang bekerja di bagian poli umum terdiri dari dokter (3 orang), perawat (1 orang), dan pembantu perawat sebanyak 4 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari segi jumlah ternyata Sumber Daya Manusia sudah cukup memadai, namun tidak terlatih dan kurang mempunyai motivasi yang cukup dalam bekerja. SOP dan Protap rawat jalan pada RSI Ibnu Sina Padang tidak ada sehingga menimbulkan kesulitan bagi informan untuk menerjemahkan perintah pimpinan. Jumlah pendapatan yang diterima informan dirasakan relatif tidak mencukupi bahkan kurang sesuai dengan beban kerja tambahan. Untuk peningkatan kinerja dimasa yang akan datang, penulis menyarankan hendaknya SDM yang ada perlu diberikan pelatihan-pelatihan teknis guna peningkatan pengetahuan dan kemampuan karyawan. Dalam melaksanakan pekerjaan perlu tersedia SOP dan Protap yang jelas sehingga target dan aktivitas yang dilakukan dapat sesuai dengan apa yang diharapkan. Pihak Yayasan atau rumah sakit perlu melakukan peninjauan atas sistem pendapatan/penggajian karyawan, serta perlu menyediakan imbalan terhadap prestasi untuk meningkatkan motivasi karyawan. Daftar bacaan : 21 (1984 -- 2000)
Analysis Internal Factors of Decreasing Ambulatory Care Performance in Ibnu Sina Islamic Hospital Padang in 2000.Ibnu Sina Islamic Hospital Padang had operated for 30 years. 2000's data described a decline in ambulatory care patient till 46%. This is not a good performance for the hospital. Variables seek from three aspects: Human Resources, Standard Operating Procedure and staff's income. This study is an exploratory study with qualitative approach. Informant consist of three physicians, two nurses and four nurse's assistants. Results of this study shows that the staffs are not enough, not trained well, and have no motivation. There is no SOP that makes difficulty to translate the manager's order. Income is not compatible with duty. For better future need intensive courses and technical trainings to increased staff's skill. They should provide with SOP (Operational Standard Procedure) or protap to do better service for peoples. And the foundation should have much attention about their staff's income (take home pay). Bibliography: 21 (19842000).
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan yang dihadapi PT Erha Dennato Center dalam menerapkan sistem waralaba sebagai upaya menambah saluran distribusinya. Sistem waralaba dipilih karena dinilai paling sesuai dengan situasi, kondisi dan kebutuhan perusahaan. PT Erha Dermato Center adalah sebuah perusahaan swasta yang bergerak di bidang dermataceurical, mempunyai produk perawatan kulit erha2l medicated skin care dan klinik perawatan kulit erha2l Skin Clinic.Permasalahan yang dihadapi oleh PT Erha Dermato Center disebabkan karena minimnya referensi mengenai aplikasi sistem waralaba di bidang pelayanan kesehatan. Karena itu penelitian ini bertujuan untuk memperoleh deskripsi atau gambaran tentang upaya penerapan sistem waralaba di PT Erha Dermato Center.Penelitian ini merupakan studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Data-data dan informasi diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan, studi dokumen dan observasi secara langsung.Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel-variabel yang berpengaruh dalam penerapan sistem waralaba di PT Erha Dermato Center adalah Merek Dagang; Keuangan; Standar; Marketing; Pelatihan, Bantuan dan Bimbingan; serta Hukum.Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diambil kesimpulan bahwa pengembangan jaringan distribusi yang dilakukan oleh PT.EDC belum dapat dikatakan sebagai sistem waralaba, melainkan Peluang Bisnis, yang merupakan embrio waralaba. Kesimpulan berikutnya adalah, tiap variabel mempunyai beberapa sub-variabel yang terpenting. Sub-variabel merupakan satu atau dua hal yang terpenting dalam setiap variabel. Variabel Merek Dagang mempunyai sub-variabel registrasi merek dagang dan hak paten. Variabel Keuangan memiliki sub-variabel investasi dan biaya waralaba. Variabel Standar sub-variabelnya yaitu mutu dan kepuasan pelanggan. Variabel Marketing mempunyai sub-variabel jaringan distribusi. Variabel Pelatihan, Bantuan dan Bimbingan mengandung sub-variabel hubungan jangka panjang antara pemilik waralaba dengan pembeli waralaba. Sedangkan sub-variabel untuk variabel Hukum adalah perjanjian kerjasama. Diantara variabel-variabel tersebut, yang terpenting adalah variabel Merek Dagang dan Standar.Sebagai saran dikemukakan agar merek dagang erha2l dipelihara sebagai aset, aspek keuangan dalam sistem waralaba di PT Erha Dermato Center dikaji secara berkala dan dibakukan, standar perlu dievaluasi supaya lebih lengkap namun mudah dimengerti, proses seleksi pembeli waralaba disempurnakan. Perlu dibentuk tim khusus untuk memberikan pelatihan, bantuan dan bimbingan secara terus menerus, dan perjanjian kerjasama perlu disempurnakan dan dibakukan. Untuk aplikasi sistem waralaba di rumah sakit, disarankan hanya untuk jenis pelayanan tertentu saja yang sifatnya perawatan dengan tetap mempertahankan adanya ketergantungan pembeli waralaba kepada rurnah sakit pemilik waralaba.
Analysis of the Application of Franchising System of PT Erha Dermato Center Year of 2002This study was derived from the problem facing by PT Erha Dennato Center in its effort to apply a franchising system in order to increase its distribution channels. The franchising system was chosen because it was considered to be in line with the situation, condition and the needs of the company. PT Erha Dermato Center is a private company in the field of dermatoceutical. Its products are the erha2l medicated skin care line and the skin care clinic ; erha2l Skin Clinic.The problem facing PT Erha Dermato Center was due to the minimal number of references specific for the application of franchising in the health services industry. Therefore this study is targeted to dig up the relevant variables which will effect the application of the franchising system for PT Erha Dermato Center and the dynamics of said variables.This is a case study utilizing a qualitative approach. The data and information collected through in-depth interview with informants, documents study and direct observations.The result of the study shows that the variables effecting the application of a franchising system for PT Erha Dermato Center are; Trade Mark, Finance, Standard, Marketing, Training, Operational Assistance and Consultation, and Law.Based on the study and analysis, it was concluded that every variable had several important sub-variables. The said variables manifested itself as one or two main importance within each variable. The "Trade Mark" variable has the sub-variables Trade Mark Registration and Patent Right. The "Finance" variable has the sub-variables Investment and Franchising Fee. The "Standard" variable has the sub-variables quality and customer satisfaction. The "Marketing" variable has the sub-variable distribution channels. The "Training, Operational Assistance and Consultation" variable has the sub variable long range relationship between the franchisee and its franchisor. And the "Law" variable has the sub-variable Co operational Contract. Concerning the variables above the most important ones are Trade Mark and Standard.It is recommended that the trade mark erha2l be treated as an asset, the financial aspect of the franchise should be evaluated from time to lime, the standards should be routinely evaluated and revamped to make it even more complete but easier to comprehend, the process of franchisee selection needs to be improved, there is a need for a specific team to handle the training, assistance and consultation on an on-going basis, and the legal cooperation contract needs to be perfected and standardized. For the application of franchising for general hospital, it is recommended to be applied for certain specific service only in the field of health care while still maintaining the dependency of the franchisee to its franchisor.
Biaya pelayanan kesehatan setiap tahun selalu meningkat, dengan porsi pembiayaan obat yang cukup tinggi. Efisiensi dalam bidang pelayanan obat diharapkan dapat mengurangi peningkatan biaya pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Didalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan bagi peserta asuransi kesehatan, obat menyerap dana lebih kurang 49% dan berdasarkan data tiga tahun terakhir biaya obat cenderung meningkat setiap tahun. Khusus untuk obat rawat inap di rumah sakit efisiensi biaya obat. mungkin dapat dilaksanakan dengan penerapan sistem unit dose dispensing Rumah Sakit Umum Prof. Dr. M.A. Hanafiah S.M. Batusangkar sudah melaksanakan sistem distribusi obat rawat inap dengan sistem unit dose dispensing. Untuk mengetahui apakah sistem distribusi obat rawat inap dengan sistem unit dose dispensing dapat menghemat biaya obat, maka dilakukan studi evaluasi terhadap penerapan sistem unit dose dispensing di rumah sakit tersebut. Data penelitian ini diperoleh dart pengamatan biaya obat pasien rawat inap sebelum dan sesudah dilaksanakannya sistem unit dose dispensing. Dan basil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan sistem distribusi unit dose (unit dose dispensing) dapat menghemat biaya obat rawat inap dan disarankan bahwa sistem distribusi obat dosis unit layak untuk diteruskan dan untuk mendapatkan basil yang optimal perlu disertai adanya pengomatan yang rasional. Daftar bacaan : 18 (1989 - 200p )
Implementing a Unit Dose Dispensing System to Inpatient with Health Insurance in Prof. Dr. M.A. Hanafiah S .M. Hospital, Batusangkar. Health services cost with a high proportion of drug cost increases every years. An efficiency in drug services may reduce the totality health services cost raising. Drug inpatient cost with health insurance is about 49 % and according to the last three years data, drug cost inclined increasing each years. Efficiency in drug cost can be done by implementing the unit dose dispensing system especially for inpatient drugs in hospital. Prof. Dr.M.A. Hanafiah S.M. Hospital in Batusangkar has implemented the unit dose dispensing system for distribution inpatient drug system. An evaluation study has been conducted to find out whether distribution inpatient drugs system with unit dose dispensing can thrifty the drug cost, in that hospital. The data was collected from observing the inpatient drug cost before and after the unit dose dispensing system was implement. The conclusion of this study is that implementing unit dose dispensing can thrifty inpatient drug cost and it is suggested to continue this system. More ever, rational drug use has to be followed to get the optimum result. Bibliography : 18 (1989 - 2000)
