Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Dengan dikukuhkannya industri Jasa Konstuksi sebagai bidang yang menyumbang cukup banyak kecelakaan (Tahun 2005 Bereau Labor Statistics: terjadi 200,000 luka-luka serius dan kematian 1,200 setiap tahun di Amerika. Dengan komposisi 7% dari tenaga kerja keseluruhan menyumbang 21% kematian kerja) sedangkan di Indonesia: Jasa Konstruksi menyumbang 31,9% kecelakaan kerja. Dalam kurun waktu bulan Januari hingga Agustus 2008 telah terjadi kecelakaan di Jasa Konstruksi: sebanyak 6 kali di daerah Porvinsi Jakarta. Tenaga kerja yang terlibat dalam Sektor Jasa Konstruksi beragam: dari tingkat Direktur hingga Subkon. Dalam kerja pelaksana dikenal dengan jenjang General Superintendent, Manajer Proyek, Mandor, Pelaksana. Tingkatan Mandor hingga pelaksana dalam keseharian pekerjaannya dijalankan oleh subkon. Tingkat subkon tersebut mempunyai pendidikan, pengalaman, pelatihan dan keahlian belum sesuai persyaratan K3. Meningkat dan pesatnya kebutuhan percepatan pembangunan konstruksi berhubungan dengan kompetensi pelaksana pekerjaan, sehingga perlu ada kebijakan pengamanan kerja serta bimbingan perilaku K3 pada pekerja subkon di lapangan. Seiiringnya pesatnya pembangunan konstruksi sesuai dengan percepatan dari kebijakan pemerintah, akan memicu perusahaan untuk berhati-hati dalam menjalankan sesuai dengan kompetensi pekerjanya, antara lain dengan pemahaman akan perilaku K3 pekerja pelaksana di subkon, maka perlu diadakan kajian pemahaman perilaku K3 pekerja subkontraktor di Jasa konstruksi untuk mendukung tenaga kerja dengan menggunakan Knowledge-Based Error dalam pembangunan konstruksi hingga meredam kecelakaan kerja seminim mungkin. Setelah dianalisa dari isi knowledge based error berdasarkan kepada perilaku pekerja yang terbesar adalah Tendency to haste (24,23%), Selective focusing (20,09%), Disregarding contradictory evidence (18,66%). Dari keseluruhan hasil penelitian tersebut maka human error yang paling dominan dipilih untuk kajian adalah knowledge based error. Program error prevention sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kasus human error secara berulang.
As reported recently of accident and injury in the construction sector gain significant numbers. (In teh year of 2005 United States Bereau Labor Statistics: recorded 200,000 seriously injured and fatality amount 1,200 every year, composition 7% from all worker submit fatality 21%). Compared in Indonesia: construction sector gain 31,9% of accident and incident during January to August 2008: accidents performed more than 6 times fatality in the Jakarta province only. The worker in construction varies from directors to sub contractors worker. Named such as: General superintendent, Project Manager, Site Manager, Engineer, Foreman (Mandor), and Worker. Classification differ from Foreman (mandor) to site worker supplied by sub contractors (vendor). Level of education varies from elementary school to senior high school, many of the workers did not have special ability as construction worker in regards of safety health and environment. In fast growing construction project nowadays as boost and recommended by government, soon will be triggered safety implication in regards of construction worker competences. Specially for sub contractors worker should aware of safety at work, hazard at the worksite, safety sign and symbols. The main contractors should established daily safety briefing, short briefing and safety patrols. To cope the meaning of human error on safety behavior at sub contractors worker, need more study to avoid and minimalize accident and incident at constructions worker. The study based on Human Error. After analysing worker human error based on knowledge based error, the main result are Tendency to haste (24,23%), Selective focusing (20,09%), Disregarding contradictory evidence (18,66%). In Conclusion of the study held, human error is chosen as dominant cause to trigger knowledge based error. To avoid and prevent continous case of human error should need error prevention programme.
Pada aktivitas pekerjaan kasir terdapat beberapa faktor risiko ergonomi yangbersumber pada aspek disain kerja dan tampa! kerja yang digunakan. Hal tersebui memberikan kontribusi penting pada tirnbulnya risiko ergonomi seperti: ketidaksesuaian dalam hal reach, ciearance, POS”-lr, beban barang yang diangkat secara manual, repetitive task, sena peran campuran antara pekerja kasir dan konsumen. Kondisi di atas berakibat timbulnya dampak dalam rnuskuloskeletal (low back pain), efisiensi kelja, dan kenyamanan. Penelitian ini merupakan analisis terhadap disain ketja dan tempat kerja kasir, yang diharapkan dapat membantu perbaikan yang rasional dan feasible, yang menunjang kinerja pekelja kasir MAKRO. Hal ini dimaksudkan agar terwpainya rislko dan dampak seminimal mungkin temadap: gangguan muskuloske!eta| (Pow back pain), efisiensi dan produktifitas kerja, serta kenyamanan pada pekerja kasir dan pelanggan. Hasil penelitian mengungkapkan adanya beberapa faktor fisiko ergonomi yang terdapat pada pekerjaan kasir, yaitu berupa: postur membungkuk, twisting, leher menunduk, fatique, dan potensi eror. Ditemukan bahwa task yang paling dominan dari kesefuruhan pekerjaan kasir adalah pada saat menginput data. Faktor risiko pada task menginput data ini paling banyak ditemukan pada saat kasir melakukan scanning. Berdasarkan temuan yang dlperoleh, terlihat bahwa postur membungkuk dan twisting adalah faktor risiko yang dominan pada saat melakukan scanning. Postur membungkuk teljadl karena disain tinggi trolley tempat dilakukannya scanning barang, terlalu rendah. Pmsedur yang mengharuskan kasir mengeoek hasil scanning di monitor, menyebabkan faktor risiko lainnya yaitu twlkting, karena kasir harus bergerak darl trolley menuju keyboard dan monitor. Selain itu alat scanner yang digunakan sering kali tidak berfungsi baik (terganggu sensitivitasnya), sehlngga dapat menlmbulkan fatique atau terjadinya eror dalam menginput data. Dengan demikian, solusi yang diusulkan untuk mengendalikan rislko-risiko pada task ini adalah berupa re-disain alat scanner yang berfun si ganda. re-disain meja kenja kasir. sefta lrolley yang acfustable.
There are some ergonomic factors coming from working design andthe work place uhitty on job activities as cashier This kind of activities was giving a significant contribution to ergonomic risks appearance such as: reach. clearance, posture, manuar handling timing and carrying), repetitive task and mhrture role between cashier and consumer. The above conditions could cause a low beck pain, efficiency of work and comfort. This research was anawng work design and cashier workpiece which expected to assist a ratabnai and feasible improvement that will support the working performance of MAKROLS cashiers. This research taken in order to reach a minimum risk and rrnpact on: tow back pain, efficiency of work, productivity and comfort for cashier and customer The result of the research revealed some ergonomic factors that appeared on cashiers job ie. bending, twistrhg, casting down, fatigue and potential error: it was found that the dominant task of the overaii cashiers job was data input. The risk factor on data input process is when they do the scanning task. Based on the research Hnding, it was visibte that the bending and twisting posture was the dominant risk factor while scanning task taken. The bending posture occurred because of the height of trolley design white the scanning spot are too tow. The procedure that obliged the cashier to check the scanning result on the monitor couid cause another risk factor i.e. twisting, as the resuit of the movement hom trolley into the keyboard and monitor: Besides, the scanner was frequently non-functional (disturbed sensitivity) with the result of fatigue or input data enor. Thereby, the proposed solutions to contra! the risks of such task are to re- design the scanner tools with dual function, re-design the cashier work table and also the aoyustable tmiley.
ABSTRAK Nama : Alfina Hapsari Program Studi : Keselamatan dan Kesehatan Kerja Judul : Analisis Safety Leadership Pada Posisi Unit Pelaksana, Unit Pengelolaan Konstruksi, Pimpinan Proyek, Pimpinan Divisi, dan Pimpinan Departemen Operasi Proyek Infrastruktur di PT.X (Kontraktor Konstruksi) Tahun 2018 Pembimbing : Dadan Erwandi, S.Psi., M.Psi Industri jasa konstruksi memiliki resiko kecelakaan kerja yang tinggi. Sepanjang Agustus 2017 hingga Februari 2018, telah terjadi tiga belas kecelakaan konstruksi dengan tiga kasus fatality accident pada proyek pekerjaan jalan tol dan jalan rel di Indonesia. Safety leadership merupakan salah satu komponen penting dalam meningkatkan kinerja Kesehatan, Keselamatan, Keamanan dan Lingkungan (K3L). Penelitian ini mengkaji safety leadership model pada posisi pimpinan di proyek dan departemen operasi proyek infrastruktur PT X yang bergerak di bidang kontraktor konstruksi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode kuantitatif berdasarkan dua variabel utama dari safety leadership, yaitu leadership style (transformational leadership) dan best practices. Data penelitian didapatkan dari kuesioner dan wawancara pada subyek penelitian serta observasi mengenai penerapan K3L di lokasi proyek PT X pada bulan April – Mei 2018. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa safety leadership masih kurang menonjol kecuali pada posisi General Manager. Hal ini dikarenakan kurangnya pemahaman mengenai kebijakan K3L, kurangnya komunikasi, lemahnya konsistensi dan komitmen penerapan K3L, serta kurangnya tindakan proaktif dan inisiatif saat menghadapi masalah K3L. Hal yang dapat diterapkan untuk meningkatkan safety leadership tersebut antara lain dengan menyusun dan melaksanakan program pelatihan safety leadership bagi semua level pimpinan serta menjaga monitoring pelaksanaan program K3L di tempat kerja. Kata kunci: Safety Leadership, Transformational Leadership, Best Practices, K3L
ABSTRACT Name : Alfina Hapsari Study Program : Occupational Health and Safety Title : Safety Leadership Analysis in The Position of Implementation Unit, Construction Management Unit, Project Manager, Division Manager, and Operation Department Manager of Infrastructure Project at PT.X (Construction Contractor) in 2018 Consellor : Dadan Erwandi, S.Psi., M.Psi. The construction industry has a high risk of occupational injury. Throughout August 2017 to February 2018, there had been thirteen construction accidents with three cases of fatality accidents in toll road and rail road projects in Indonesia. Safety Leadership is one of the important components in improving Safety, Health and Environment (SHE) performance. This study examines Safety Leadership Model at the lead position in the project and the operations department of the infrastructure project at PT X as a Construction Contractor Company. This study was a descriptive research with quantitative method based on two main variables of Safety Leadership, those are Leadership Style and Best Practice. Research data obtained from questionnaires, interviews, and observations on the application of SHE at PT X’s project location in April - May 2018. This research obtained that Safety Leadership is still weak except The General Manager. This is due to lacks of understanding of SHE policies, communication, consistency and commitment to the implementation of SHE, proactive and initiative action when facing SHE issues. This suggests that company should improve by preparing and implementing Safety Leadership training program for all manager levels as well as maintaining the monitoring of SHE program implementation in the workplace. Keywords: Safety Leadership, Transformational Leadership, Best Practices, SHE
