Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 16 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Jakaria; Pembimbing: Tiara Amelia; Penguji: Anwar Hassan, Adang Mulyana
Abstrak: Tingginya angka TB di Puskesmas Dramaga menyebabkan di perlukannya penelitian kualitatif mengenai hal-hal dalam kepatuhan minum obat. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keberhasilan dan ketidak berhasilan pengobatan TB Paru. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang mengacu pada teori Health Belief Model (HBM). Pengambilan data dilakukan pada 11 orang dari pasien TB Paru, keluarga, dan petugas kesehatan dengan metode wawancara mendalam. Keberhasilan pengobatan TB dalam kepatuhan minum obat dipengaruhi oleh persepsi informan terhadap kerentanan, keparahan, manfaat dan hambatan yang dialami selama menjalani pengobataan TB. Selain itu juga pengaruh dari besarnya dukungan keluarga dan pemberian informasi TB yang lengkap kepada pasien dan keluarga. Kata kunci: TB Paru, kepatuhan minum obat TB, Health Belief Model The high rate of TB in Puskesmas Dramaga led to the need for qualitative research on matters in medication adherence. This study aims to see what factors influence the success and failure of pulmonary tuberculosis treatment. This research is a qualitative research that refers to the theory of Health Belief Model (HBM). Data were collected on 11 people from TB patients, family, and health care workers with in-depth interview method. The success of TB treatment in medication adherence is influenced by informants' perceptions of the susceptibility, severity, benefits and constraints experienced during TB treatment. It also influences the extent of family support and the provision of complete TB information to patients and families. Keywords: TB Lung, TB medication adherence, Health Belief Model.
Read More
S-9577
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Roni Trisnawan; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Tris Eryando, Adang Mulyana
Abstrak:

 Kortikosteroid adalah salah satu obat yang berpengaruh terhadap tekanan darah. Sementara di populasi umum masih terdapat jamu yang banyak mengandung bahan kimia obat (prednisone, dexametason, fenilbutazon) yang diyakini berpengaruh terhadap tekanan darah. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan konsumsi jamu berkandungan kortikosteroid dengan hipertensi sistolik pada penduduk usia ≥45 tahun di Area kerja Puskesmas Cigudeg. Metode penelitian menggunakan desain observasional dan rancang studi cross sectional. Penelitian ini menggunakan data primer yang didapatkan dengan teknik wawancara dan pengukuran serta data sekunder yang didapatkan dari data PIS-PK Puskesmas Cigudeg. Penelitian dilakukan pada Januari-Maret 2023 di Area kerja Puskesmas Cigudeg, Kabupaten Bogor. Teknik pengambilan sampel adalah simple random sampling, didapatkan 145 responden. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi hipertensi penduduk ≥45 tahun sebesar 44,8%, angka konsumsi jamu penduduk ≥45 tahun sebesar 37,2%, angka konsumsi kopi sebesar 45,5%, angka merokok 46,2%, dan 16,6% memiliki riwayat penyakit kronis. Konsumsi jamu yang mengandung kortikosteroid berdampak terhadap kejadian hipertensi pada penduduk ≥45 tahun.


 

Corticosteroids are one of the drugs that affect blood pressure. While in the general population there are still herbs that contain lots of medicinal chemicals (prednisone, dexamethasone, phenylbutazone) which are believed to have an effect on blood pressure. The purpose of this study was to determine the relationship between the consumption of herbal medicine and the content of corticosteroids on the incidence of systolic hypertension in the aged population≥45 years in the working area of the Cigudeg Health Center. The research method uses an observational design and a cross-sectional study design. This study used primary data obtained by interview and measurement techniques as well as secondary data obtained from the PIS-PK data at the Puskesmas Cigudeg. The research was conducted from January to March 2023 in the working area of the Puskesmas Cigudeg, Bogor Regency. The sampling technique is simple random sampling, obtained 145 respondents. The results showed the prevalence of hypertension in the population≥45 years is 44.8%, the population's consumption of herbs ≥45 years old was 37.2%, coffee consumption was 45.5%, smoking was 46.2%, and 16.6% had a history of chronic disease. Consumption of herbal medicine containing corticosteroids has an impact on the incidence of hypertension in the population ≥45 years.

Read More
T-6680
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Helmi; Pembimbing: Suprijanto Rijadi; Penguji: Pujiyanto, Adang Mulyana, Inggit Meliana
T-4498
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syamsul Ma`arif; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Evi Fatimah, Adang Mulyana
Abstrak: Stunting merupakan masalah serius, dampak nyata adalah menurunnya kualitas generasi muda di masa datang baik secara fisik maupun motorik yang mana akan berpengaruh pada perekonomian negara. Program stunting di Indonesia masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional dengan target penurunan dari (30,8%) 2018 menjadi (14%) 2024. Tujuan penelitian ini mengetahui faktor determinan stunting pada batita usia 12-36 bulan di kecamatan tamansari, kabupaten Bogor, Indonesia. Desain studi cross-sectional dari data primer dengan jumlah sampel 500 batita usia 12-36 bulan. Analisis faktor determinan stunting pada penelitian ini menggunakan analisis multivariat cox regresi dan besar pengaruh dinyatakan dalam prevalensi rasio (PR) dengan confident interval (CI) 95%. Penelitian kami menunjukkan prevalensi stunting pada batita usia 12- 36 bulan di Tamansari sebesar 39.2%. Hasil uji Multivariat menunjukkan faktor determinan stunting di Tamansari yaitu riwayat pemberian ASI (PR=1.32), diare (PR= 1.40), asupan energi (PR=1.35), pendidikan ibu (PR=1.54) dan usia ibu (PR=1.44). Hasil penelitian menyarankan bahwa pihak Puskesmas dan Dinas Kesehatan dapat mencegah stunting dengan meningkatkan cakupan asi eksklusif, pola hidup bersih dan sehat serta meningkatkan asupan energi dan protein seperti telur, tahu dan tempe. Bagi Dinas Pendidikan, meningkatkan pendidikan ibu dengan kejar paket A-C, dan bagi BKKBN bersama Kantor Urusan Agama setempat meningkatkan usia pernikahan sesuai UU perkawinan yaitu 19 tahun.

Stunting is a serious problem, the real impact is the decline in the quality of young people in the future both physically and motorically which potentially affect the country's economy. The purpose of this study is to assess the determinant factor of stunting in toddlers aged 12-36 months in Tamansari, Bogor District, Indonesia. A cross-sectional study design was employed, with primary data from a total sample of 500 toddlers in the District and applied multivariate Cox Regression analysis. Our study shows that the prevalence of stunting in toddlers aged 12-36 months in Tamansari is 39.2%. The Multivariat analysis test results show factors determinant of stunting in Tamansari such as the history of breast feeding (PR=1.32), diarrhoeal disease (PR=1.40), energi intake (PR=1.35), mother’s education (PR=1.54) and mother’s age (PR=1.44). The researcher suggest that The Health Center and the Department of Health prevent stunting by apply exclusive breast feeding, healthy lifestyles and increase energy and protein intake such as eggs, tofu and tempe. Department of Education increasing the minimum of mother’s education with “kejar paket A-C”. National Family Planning Coordinating Agency and Religious Affairs Office increasing the minimum marriage age in accordance with Indonesian marriage law limitations at age of 19 years.
Read More
T-5844
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khairunnisa Rina Fadli; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Suprijanto Rijadi, Kurnia Sari, Adang Mulyana, Sardi
T-4521
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hermadi; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Prastuti Soewondo, Adang Mulyana, Nugroho Soeharno
Abstrak:

Abstrak

Imunisasi dasar lengkap (IDL) merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular, khususnya pada bayi dan balita. Cakupan IDL yang tinggi menunjukkan kinerja pelayanan kesehatan yang baik, sementara ketimpangan cakupan mencerminkan adanya tantangan dalam sistem pelayanan. Di Kabupaten Bogor tahun 2022, tercatat perbedaan mencolok antara Puskesmas Bojong Nangka dengan cakupan IDL sebesar 187,5% dan Puskesmas Ciapus yang hanya mencapai 15,35%. Perbedaan ini mengindikasikan adanya faktor-faktor penting yang memengaruhi keberhasilan maupun kegagalan cakupan imunisasi.
Tujuan: Mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi cakupan imunisasi dasar lengkap di dua Puskesmas dengan cakupan kontras.
Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan dipilih secara purposive dan terdiri dari tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat, dan orang tua anak. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen. Data dianalisis menggunakan pendekatan Kualitatif.
Hasil: Faktor Supply meliputi jumlah dan kompetensi tenaga kesehatan, ketersediaan sarana prasarana, serta dukungan dana. Faktor Demand mencakup pengetahuan dan kesadaran masyarakat, sosiodemografi, serta kepercayaan terhadap vaksin. Di Ciapus, ditemukan keterbatasan sumber daya dan resistensi terhadap imunisasi. Sebaliknya, Bojong Nangka menunjukkan kolaborasi aktif antara petugas dan masyarakat.
Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan adanya ketimpangan signifikan dalam cakupan imunisasi dasar lengkap (IDL) antara Puskesmas Bojong Nangka dan Ciapus di Kabupaten Bogor tahun 2022. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh kesalahan pencatatan data, faktor sosiodemografi, keterbatasan tenaga kesehatan, sarana prasarana, pendanaan, serta tingkat pengetahuan dan kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi. Kolaborasi aktif antar petugas dan masyarakat serta dukungan lintas sektor terbukti efektif meningkatkan cakupan IDL. Strategi peningkatan cakupan perlu disesuaikan dengan karakteristik lokal guna mengatasi disparitas dan mencapai target kesehatan anak secara merata

Kata kunci: Imunisasi Dasar Lengkap, Cakupan Imunisasi, Ketimpangan Layanan, Tenaga Kesehatan, Sosiodemografi, Kepercayaan terhadap Vaksin


 

 Abstrak  Imunisasi dasar lengkap (IDL) merupakan salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular, khususnya pada bayi dan balita. Cakupan IDL yang tinggi menunjukkan kinerja pelayanan kesehatan yang baik, sementara ketimpangan cakupan mencerminkan adanya tantangan dalam sistem pelayanan. Di Kabupaten Bogor tahun 2022, tercatat perbedaan mencolok antara Puskesmas Bojong Nangka dengan cakupan IDL sebesar 187,5% dan Puskesmas Ciapus yang hanya mencapai 15,35%. Perbedaan ini mengindikasikan adanya faktor-faktor penting yang memengaruhi keberhasilan maupun kegagalan cakupan imunisasi. Tujuan: Mengetahui dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi cakupan imunisasi dasar lengkap di dua Puskesmas dengan cakupan kontras. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan dipilih secara purposive dan terdiri dari tenaga kesehatan, kader, tokoh masyarakat, dan orang tua anak. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen. Data dianalisis menggunakan pendekatan Kualitatif. Hasil: Faktor Supply meliputi jumlah dan kompetensi tenaga kesehatan, ketersediaan sarana prasarana, serta dukungan dana. Faktor Demand mencakup pengetahuan dan kesadaran masyarakat, sosiodemografi, serta kepercayaan terhadap vaksin. Di Ciapus, ditemukan keterbatasan sumber daya dan resistensi terhadap imunisasi. Sebaliknya, Bojong Nangka menunjukkan kolaborasi aktif antara petugas dan masyarakat. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan adanya ketimpangan signifikan dalam cakupan imunisasi dasar lengkap (IDL) antara Puskesmas Bojong Nangka dan Ciapus di Kabupaten Bogor tahun 2022. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh kesalahan pencatatan data, faktor sosiodemografi, keterbatasan tenaga kesehatan, sarana prasarana, pendanaan, serta tingkat pengetahuan dan kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi. Kolaborasi aktif antar petugas dan masyarakat serta dukungan lintas sektor terbukti efektif meningkatkan cakupan IDL. Strategi peningkatan cakupan perlu disesuaikan dengan karakteristik lokal guna mengatasi disparitas dan mencapai target kesehatan anak secara merata  Kata kunci: Imunisasi Dasar Lengkap, Cakupan Imunisasi, Ketimpangan Layanan, Tenaga Kesehatan, Sosiodemografi, Kepercayaan terhadap Vaksin

Read More
T-7382
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendi Hoer Apandi; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Adang Mulyana, Sulistyo
Abstrak:
Di Kabupaten Bogor tahun 2022 estimasi kasus TBC adalah 17.684. angka kematian TBC diestimasikan 2.367 kasus setara dengan 1 sampai 2 orang dari 100 penderita TBC meninggal. Tujuan penelitian ini untuk melihat bagaimana gambaran karakteristik pasien TB-SO, menghitung probabilitas survival kumulatif penderita TB-SO yang distratifikasi berdasarkan status DM, menganalisis hubungan DM dengan risiko kematian selama masa pengobatan pada penderita TB-SO setelah dikontrol variabel kovariat (demografi, klasifikasi TBC, dan riwayat pengobatan DM). analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analilsis deskriptif, survival dengan menggunakan Kaplan Meier, dan multivariat menggunakan cox regression. Dari 35.660 pasien terdaftar pada SITB Kabupaten Bogor dari bulan Januari 2022 sampai 31 Oktober 20223 populasi eligible 14.422 memenuhi kriteria inklusi dan eklusi yang analisis. Gambaran demografi penderita TB-SO tahun 2022 sampai 2023 umur < 45 tahun (60,84%), jenis kelamin laki laki (55,12%) Distribusi pasien TB-SO dengan DM pada usia

n Bogor Regency in 2022 the estimated TB cases will be 17,684. The TB death rate is estimated at 2,367 cases, equivalent to 1 to 2 people out of 100 TB sufferers dying. The aim of this study is to see how the characteristics of TB-SO patients are described, calculate the cumulative survival probability of TB-SO sufferers stratified by DM status, analyze the relationship between DM and the risk of death during the treatment period in TB-SO sufferers after controlling for covariate variables (demographics, TB classification , and history of DM treatment). The analysis used in this research is descriptive analysis, survival using Kaplan Meier, and multivariate using Cox regression. Of the 35,660 patients registered at the Bogor Regency SITB from January 2022 to October 31 2022, the eligible population of 14,422 met the inclusion and exclusion criteria for analysis. TB-SO sufferers from 2022 to 2023 were 38 (3.3%) TB-SO patients with DM who died, 75 (3.7%) aged ≤ 60 years, 193 (2.4%) men, 123 (2, 2%) were working, 24 (2.9%) were classified as extra pulmonary TB, 25 (11.9%) were HIV positive and 5 (3.8%) were receiving DM treatment with insulin. The mortality rate for TB-SO sufferers is 3.8 per 1000 person-months with a cumulative survival of 97.52%. The mortality rate for TB-SO patients with DM is higher compared to TB-SO without DM, namely 5.8 per 1000 person-months. Meanwhile, in TB-SO sufferers without DM, it was 3.7 per 1000 person-months with a survival probability of 97.73%. Bivariate test results found that TB-SO patients with positive DM had an HR value of 1.2 (95% CI 0.87-1.83). Multivariate analysis results in the final model of TB-SO patients with DM had a risk of 1.2 (95%CI 0.87-1.83) times greater risk of death compared to TB-SO without DM, and there was no evidence of convounding that influenced the relationship. DM on the risk of death in TB-SO patients.
Read More
T-7023
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fondariesta Wulandini; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Al Asyary, Budi Hartono, Suryana, Adang Mulyana
Abstrak:
Usaha peternakan merupakan usaha yang memberikan peranan penting bagi kehidupan pokok manusia. Menurut data BPS Jawa Barat tahun 2023, memiliki populasi ternak ayam petelur sejumlah 9.496.122. Peternakan menjadi salah satu sumber pencemaran udara melalui bau yang mengandung amonia. Pajanan amonia dapat menyebabkan gangguan pernapasan bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat risiko pajanan NH3 dengan gangguan pernapasan pada masyarakat sekitar peternakan ayam di wilayah kerja Puskesmas Sukamakmur, Kabupaten Bogor tahun 2025. Metode yang digunakan dengan pendekatan ARKL dan EKL (mixed methods) dengan desain studi cross sectional dan jumlah sampel sebanyak 96 orang. Hasil penelitian ini didapatkan tingkat risiko pajanan NH3 pada efek non karsinogenik pada 4 titik (RQ <1) yang artinya tidak memiliki risiko terhadap kesehatan. Perhitungan RQ dengan konsentrasi 0,021 mg/m3 ≈ 0,03 ppm, pada masyarakat dengan berat badan 58,31 kg dan bermukim di rumahnya selama 24 jam/hari dalam 365 hari selama 38,48 tahun dengan nilai RQ (RQ= 0,014) menunjukkan dalam batas aman. Skor dari gambaran gangguan pernapasan menunjukkan bahwa adanya gangguan pernapasan sedang pada responden (20,50). Analisis bivariat menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara intake dengan gangguan pernapasan (p= 0,490) dengan arah dan kekuatan yang lemah dan berpola searah (r= 0,071).

Livestock business is an effort that plays an important role in human life. According to BPS data from West Java in 2023, it has a population of 9,496,122 laying hens. Farms are one of the sources of air pollution through odors containing ammonia. Ammonia exposure can cause respiratory distress for the community. This study aims to analyze the relationship between the level of risk of NH3 exposure and respiratory disorders in the community around chicken farms in the working area of the Sukamakmur Health Center, Bogor Regency in 2025. The method used was with the ARKL and EKL approaches (mixed methods) with a cross sectional study design  and a sample of 96 people. The results of this study obtained the level of risk of NH3 exposure to non-carcinogenic effects at 4 points (RQ <1) which means that there is no risk to health. The calculation of RQ with a concentration of 0.021 mg/m3 ≈ 0.03 ppm, in people with a body weight of 58.31 kg and living in their homes for 24 hours/day in 365 days for 38.48 years with an RQ value (RQ = 0.014) showed within safe limits. The score from the description of respiratory distress showed that there was moderate respiratory distress in the respondents (20.50). Bivariate analysis showed no significant association between intake and respiratory distress (p= 0.490) and weak and unidirectional direction and strength (r= 0.071). 
Read More
T-7471
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marlynda Happy Nurmalita Sari; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Dian Ayubi, Meike Savitri, Adang Mulyana, Wayan Sri Agustini
Abstrak: Kecamatan Sukamakmur termasuk wilayah Kabupaten Bogor yang masih rendah pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yaitu 55,2% pada tahun 2014. Tujuan penelitian mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan penolong persalinan di Kecamatan Sukamakmur. Desain penelitian cross sectional, sampel 146 menggunakan probability proportionate to size sampling. Hasil penelitian ibu bersalin di tenaga kesehatan 52,1% dan non tenaga kesehatan 47,9%. Terdapat hubungan variabel pendidikan ibu, pendidikan suami, pendapatan keluarga, kunjungan antenatal care, akses pelayanan kesehatan dan kepercayaan terhadap tenaga kesehatan, dengan penolong persalinan. Variabel kepercayaan terhadap tenaga kesehatan (pvalue= <0,001) merupakan faktor paling dominan (OR 4,55 95% CI 2,11-9,83).
Kata kunci : penolong persalinan, tenaga kesehatan, non tenaga kesehatan
Read More
T-4344
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Fitri Arestria; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Puput Oktamianti, Wahyu Sulistiadi, Lily S. Sulistyowati, Adang Mulyana
Abstrak: Puskesmas Muara Labuh mempunyai persentase TMDR relatif tinggi (71,1%) dan Puskesmas Talunan mempunyai persentase TMDR yang relatif rendah (15,1%). Berfokus pada dua puskesmas ini, penelitian ini mengevaluasi promkes TMDR dengan teori CDC dan Bowen dengan menganalisis stakeholder, uraian program, disain evaluasi, pengumpulan bukti yang kredibel, kesimpulan yang diambil dari evaluasi, serta sharing pembelajaran dari temuan evaluasi. Desain penelitian ini adalah kuantitatif dengan kuesioner kader dan pelaksana promkes di puskesmas dan wawancara mendalam kepada stakeholders. Temuan penelitian ini adalah: 1. Keterlibatan wali nagari dan tokoh masyarakat ternyata berperan penting dalam keberhasilan TMDR, 2. Belum semua stakeholder terlibat dalam promkes TMDR, 3. Sumber daya belum memadai untuk promkes TMDR, 4. Belum ada perencanaan khusus untuk kegiatan promkes TMDR, 5. Advokasi dan kemitraan terkait promkes TMDR belum pernah dilakukan, dan 6. Teori CDC dan Bowen (Canadian Institute of Health Research) dapat digunakan untuk mengevaluasi program kesehatan. Disarankan agar disusun peran yang jelas dari wali nagari dan tokoh masyarakat untuk promkes TMDR, dibentuknya kebijakan lokal TMDR, dan menyususn indikator strategi promkes untuk TMDR.
Kata kunci: Evaluasi, Promosi Kesehatan, Tidak Merokok dalam Rumah

Puskesmas Muara Labuh shows high NSH percentage (71,1%) and Puskesmas Talunan has low NSH percentage (15,1%). Focusing on these two Puskesmas, this study evaluated the health promotion program using on theories of CDC and Bowen (analysis of stakeholder, program implementation, evaluation design, evidence based data, highlights of evaluation and sharing of the evaluation findings). The study used quantitative and qualitative approach. The findings were: 1. The involvement of wali nagari and community leaders play high role in the success of the activities of health promotion NSH, 2. Not yet all relevant stakeholders were involved, 3. Low resources, 4. Not specific plan for health promotion NSH, 5. Lack of advocacy on health promotion NSH, and 6. The theories of CDC and Bowen (Canadian Institute Of Health Research) could be used for evaluating health program. It is recommended to create clear role of the wali nagari and community leaders, the need for local regulation on NSH and to create indicators to measure the achievements of the activities on NSH.
Keywords: Evaluation, Health Promotion, Health Promotion on NSH.
Read More
T-4348
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive