Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rooswidiawati Dewi; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Ahmad Syafiq, Muhammad Nasir
S-7061
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Noer Widyanti Nurdin; Pembimbing: Engkus Kusdinar Achmad; Penguji: Ahmad Syafiq, Muhammad Nasir
S-7241
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Umi Kulsum; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Haryoto Kusnoputranto, Muhammad Nasir
S-4604
Depok : FKM UI, 2006
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Flore Severine Febriana; Pembimbing: Ridwan Zahdi Syaaf; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Muhammad Nasir
S-8025
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitri; Pembimbing: Kusharisupeni; Penguji: Trini Sudiarti, Kusdinar Achmad, Iip Syaiful, Muhammad Nasir
Abstrak:

Abstrak

Stunting merupakan keadaan tubuh yang pendek dan sangat pendek hingga melampaui defisit -2 SD dibawah median panjang atau tinggi badan. Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat karena berhubungan dengan meningkatnya risiko terjadinya kesakitan dan kematian, perkembangan motorik terlambat, dan terhambatnya pertumbuhan mental. Tujuan umum dari penelitian adalah diketahuinya faktor yang paling dominan berhubungan dengan stunting pada balita (12 ? 59 Bulan) di Sumatera tahun 2010. Penelitian ini bersifat kuantitatif menggunakan desain penelitian cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 3126 balita.

Penelitian ini dilakukan dengan mengolah data Riskesdas 2010 pada bulan September ? Desember 2011, sedangkan Riskesdas 2010 dilaksanakan pada bulan Mei ? Agustus 2010. Variabel yang digunakan antara lain stunting, berat lahir, asupan energi, asupan protein, umur, jenis kelamin balita, pendidikan ibu, jumlah anggota rumah tangga, wilayah tempat tinggal dan status ekonomi keluarga yang telah dikumpulkan oleh tim Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010. Pengolahan dan analisis data menggunakan uji chi square (bivariat) dan regresi logistik ganda (multivariat).

Hasil analisis menunjukkan bahwa berdasarkan indeks TB/U maka balita yang stunting sebanyak 37.5% dan normal sebanyak 62.5%. Hasil uji chi square menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara stunting dengan berat lahir, asupan energi, asupan protein, jenis kelamin, pendidikan ibu, wilayah tempat tinggal dan status ekonomi keluarga. Hasil analisis multivariat menunjukkan variabel berat lahir merupakan faktor dominan berhubungan dengan stunting setelah dikontrol variabel jenis kelamin, wilayah tempat tinggal dan status ekonomi keluarga.


Stunting is very short state of body so that the deficit exceeded -2 SD below the median length or height. Stunting is a public health issue because it deals with an increased risk of morbidity and mortality, delayed motor development, and mental growth retardation. The general objective of research is to know the dominant factor related with stunting in infants (12-59 months) in Sumatra in 2010. This study uses cross sectional research design and quantitative method with 3126 toddlers sample.

The research was carried out by processing the Riskesdas 2010 data in September - December 2011, while Riskesdas 2010 was held in May-August 2010. Variables are used i.e. stunting, birth weight, energy intake, protein intake, age, sex toddler, maternal education, number of household members, area residence and economic status of families that have been collected by a team of Basic Health Research (Riskesdas) in 2010. Processing and analyzing data using chi square test (bivariate) and multiple logistic regression (multivariate). The analysis showed that based on the index TB/U, stunting toddlers as much as 37.5% and 62.5% of normal.

The results of chi square test showed significant relationship between stunting with birth weight, energy intake, protein intake, sex, maternal education, area of residence and economic status of families. The results of multivariate analysis showed the birth weight variable is the most dominant factor associated with stunting after being controlled with sex, area of residence and economic status of families variables.

Read More
T-3502
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farihah Sulasiah; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Soekidjo Notoatmodjo, Farida Mutiarawati Tri Agustina, Kusnandar, Muhammad Nasir
Abstrak:
ABSTRAK Informasi tentang kesehatan sebagai usaha preventif dapat diperoleh melalui jalur pendidikan. Sekolah sebagai sarana pendidikan tidak hanya terbatas memberikan pengetahuan dan informasi tetapi juga memberikan bimbingan dan konseling kepada siswa yang diwujudkan dengan keberadaan guru BK. Guru BK memiliki 4 fimgsi dalam kesehatan reproduksi yaitu fungsi pemahaman, pencegahan, pcrbaikan dan pengembangan pribadi. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran tentang peran gum bimbingan konseling dalam kesehatan reproduksi remaja pada dua SMP di Kecamatan Jagakarsa Jakarta Selatan. Pengumpulan data melalui WM, FGD, observasi dan telaah dokumen pada bulan Mei 2007 di SMP Negeri X dan SMP swasta Y. Guru BK yang bermgas scbagai informan utama dan kepala sekolah, guru, siswa dan pejabat diknas sebagai informan pendukung. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa masalah kespro di SMP Ncgeri X lebih beragam dibandingkan dengan masalah kespro di SMP Swasta Y. Sementara im persepsi dan sikap guru BK di kedua sekolah terhadap kesehatan reproduksi memiliki persamaan, sehingga gum BK merasa perlu meiaksanakan perannya sebagai fasilitator maupun konselor dalam kesehatan reproduksi remaja. Namun karena keterbatasan pengetahuan tentang hal ini maka guru BK di kedua sekolah melaksanakan perannya sebatas pengetahuan dan pengalaman yang dimi|iki_ Gum BK di SMP Swasta Y lebih menunjukkan peranannya dibandingkan dcngan gum BK SMP Ncgeri X. Hal ini ditunjukkan dengan pelaksanaan tugas guru BK baik sebagai fasilitator dan konseior yang aktif berinteraksi dengan siswa dan mendapatkan kesan positifdari siswa_ Kenyataan ini didukung oleh keterlibatan kepala sekolah di SMP Swasta Y dalam mensosialisikan keberadaan layanan BK kepada siswa dan pelaksanaan bentuk kerjasama clengan instansi lain dalam memberikan pengeiahuan kespro kcpada siswa. Peran guru BK di SMP Ncgeri X belum dapat berjalan optimal, hal ini lebih diakibatkan karena kurangnya pendelcatan guru BK terhadap siswa, kesan negatif siswa terhadap keberadaan guru BK serta kurangnya kcyakinan guru dan siswa terhadap kemampuan BK dalam memberikan jaminan kcrahasiaan. Gum BK di SMP Negeri X juga merasakan kurang optimalnya peran guru BK sebagai akibat dari besarnya jumlah siswa yang ditangani dan tidak adanya insentif yang diberikan jika beban kerja melebihi ketentuan mengakibatkan menurunnya motivasi gum BK dalam pelaksanaan tugasnya. Hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan peran guru BK tidal: hanya dipengamhi oleh faktor individu tetapi juga ada faktor lain dalam hal ini keberadaan dukungan organisasi. Pada akhirnya agar pelaksanaan peran guru BK dalam kesehatan reproduksi remaja dapat berjalan optimal, maka perlu dilakukan berbagai usaha yang menjadi tanggung jawab bersama antara sekolah dan instansi yang terkait dalam hal ini Depdil-:nas dan Depkes. Pihak sekolah disarankan Iebih mensosialisasikan keberadaan guru BK seperti yang dilaksanakan di SMP Swasta Y, mempenimbangkan sumberdaya yang dapat mendukung pelaksanaan peran gum BK, melakulcan monitoring dan evaluasi terhadap kinerja guru BK dan mempertimbangkan pemberian insentif sesuai ketentuan yang berlaku sebagai reward atau salahsatu bentuk upaya memotivasi gum BK. Depdiknas dan Depkes sebaiknya mempenimbangkan strategi dalarn usahanya menangani masalah kespro remaja melalui keberadaan guru BK di sekolah balk berupa pelaksanaan pelatihan dan penyediaan buku atau media penunjang yang dapat dimanfaatkan gum BK dalam melaksanakan perannya.

ABSTRACT Reproduction health campaign can be considered as a preventive action in education process. School as education institute shall perform not only in knowledge transfer, but also in giving guidance to student, which carried out by counselling teacher. Counselling teacher has four functions in reproduction health education; those are understanding, prevention, upgrading, and personality improvement. Research was conducted to get description about the role of counselling teacher in giving guidance for reproduction health. This research conduct on 2 Junior High School in District Jagakarsa, Jakarta Selatan. Data collection through Indepth Interview, Focus Group Discussion, observation, and documentation studies were held on May 2007 in Public Junior High School X and Private Junior High School Y. Counselling teachers provide main infomation source while headmaster and teachers provide additional information. Result has shown that reproduction eases in Public Junior High School X are varied than Private Junior High School Y. Meanwhile, counselling teachers in those schools have similarity in perception and action. Nevertheless, because of limitation of knowledge, those counselling teacher only perform as far as their knowledge and experience. Counselling teachers in Private Junior High School Y perform their role better than counselling teachers in Public Junior High School X. This shown in their action as facilitator and actively interact with student with good responses from student as result. ln Private Junior High School Y, They also supported by headmaster in socializing counselling function to student and creating cooperation with other institute in reproduction education. The Role of counselling teacher in Public Junior High School X could not perform optimal, mostly caused by minimum eITort by counselling teacher in approaching the student, negative opinion of student to their counselling teacher and confidentially aspect. Counselling teacher in Public Junior High School X already realize regarding their role but the ratio between students and counselling teachers are wide and no such given incentive. These affect their motivation in perform their role. This condition can show that results are affected not only by individual manner but also by organization manner. ln the end, rolc of counselling teacher in health reproduction could be perform well as if there is integrated effort between Department of National Education and Department of Health. School shall be strongly socialized their counselling, Private Junior High School Y as an example. School shall support to counselling?s role with monitoring and evaluating to their performance. A reward system shall be applied to motivate them, Department of Health and Department of National Education can consider to develop strategy to handle teenager reproduction health matter by utilize counselling in school and provide training and media to improve counselling teacher to perform their role.
Read More
T-2566
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive