Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Gazala Savana Putra; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Fitri Kurniasari, Fajar Nugraha
Abstrak:
Pada tahun 2023, Provinsi Daerah Khusus Jakarta mencatat prevalensi diabetes tertinggi di Indonesia berdasarkan data Survei Kesehatan Nasional, yaitu sebesar 3,9%. Di sisi lain, konsentrasi rata-rata PM2.5 di Jakarta pada tahun yang sama mencapai 43,8 µg/m³, menjadikannya salah satu wilayah dengan tingkat polusi udara tertinggi di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan data sekunder, mencakup 42 kecamatan di wilayah administratif DKI Jakarta (tidak termasuk Kabupaten Kepulauan Seribu) sebagai unit analisis. Analisis dilakukan menggunakan uji korelasi dan analisis spasial untuk mengevaluasi hubungan antara konsentrasi PM2.5 pada udara ambien serta faktor sosiodemografi dengan prevalensi diabetes di tahun 2024. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari seluruh variabel sosiodemografi, hanya proporsi penduduk dengan usia berisiko yang memiliki hubungan signifikan dengan prevalensi diabetes (p < 0,001). Sementara itu, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara konsentrasi PM2.5 dan prevalensi diabetes. Namun demikian, rata-rata konsentrasi PM2.5 di Jakarta pada tahun 2024 tercatat sebesar 37,45 µg/m³, yang melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) yang ditetapkan oleh pemerintah. Oleh karena itu, perlunya pemantauan kualitas udara secara berkelanjutan serta pendekatan preventif berbasis usia dalam pengendalian diabetes di wilayah perkotaan.

In 2023, Jakarta recorded the highest diabetes prevalence in Indonesia based on the National Health Survey, with a rate of 3.9%. Concurrently, the average concentration of PM2.5 in Jakarta reached 43.8 µg/m³, classifying the city as one of the most polluted urban areas in the country. This study employed an ecological study design utilizing secondary data, with 42 sub-districts in Jakarta, excluding Kepulauan Seribu Regency, as the units of analysis. Data analysis comprised correlation tests and spatial analysis to examine the association between ambient PM2.5 concentrations and sociodemographic factors with the prevalence of diabetes in Jakarta in 2024. The statistical analysis indicated that among the sociodemographic variables, only the proportion of the population within the at-risk age group demonstrated a statistically significant association with diabetes prevalence (p < 0.001). In contrast, ambient PM2.5 concentrations were not significantly associated with diabetes prevalence in the region during the study period. Nonetheless, the average PM2.5 concentration in Jakarta in 2024 was 37.45 µg/m³, exceeding the national ambient air quality standard set by the government.
Read More
S-11884
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aliani Safitri; PembimbingL Budi Hartono; Penguji: Laila Fitria, Fajar Nugraha
Abstrak:
Kampung Muka, terletak di Kelurahan Ancol, Jakarta Utara, menjadi lokasi penelitian karena adanya dugaan risiko kesehatan akibat pajanan PM2,5, seperti yang juga ditemukan di wilayah lain di DKI Jakarta. Studi sebelumnya di Kepulauan Seribu, Jalan Daan Mogot, dan Terminal Kampung Rambutan menunjukkan nilai RQ>1, menandakan potensi bahaya kesehatan akibat polusi udara. Penelitian ini bertujuan mengestimasi risiko kesehatan pada balita yang tinggal di Kampung Muka akibat pajanan PM2,5. Penelitian dilakukan menggunakan desain Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan dengan pengukuran di empat titik sampling dan melibatkan 81 responden. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa konsentrasi PM2,5 di Kampung Muka, setelah dikonversi menjadi pajanan 24 jam dengan metode Canter, masih di bawah baku mutu yang merujuk pada PP No. 22 Tahun 2021 (≤55 µg/m³), dengan nilai tertinggi sebesar 44,4 µg/m³. Karakterisasi risiko rata-rata realtime dan lifetime menunjukkan RQ1 pada penghitungan pajanan realtime individu, berkisar antara 1,010 hingga 2,257 di beberapa titik. Hasil ini mengindikasikan adanya potensi risiko kesehatan pada kelompok balita meskipun rata-rata konsentrasi PM2,5masih memenuhi standar, sehingga diperlukan pemantauan lanjutan.


Kampung Muka, located in Ancol Sub-district, North Jakarta, was chosen as the study site due to suspected health risks from PM2.5 exposure, similar to findings in other areas of DKI Jakarta. Previous studies conducted in Kepulauan Seribu, Daan Mogot Road, and Kampung Rambutan Terminal reported RQ values greater than 1, indicating potential health hazards from air pollution. This study aimed to estimate health risks among toddlers living in Kampung Muka due to PM2.5 exposure. The research used an Environmental Health Risk Assessment design, with PM2.5 measurements taken at four sampling points and involving 81 respondents. The results showed that PM2.5 concentrations in Kampung Muka, after conversion to 24-hour exposure using the Canter method, remained below the quality standard set by Government Regulation No. 22 of 2021 (≤55 µg/m³), with the highest value recorded at 44.4 µg/m³. Risk characterization for average realtime and lifetime exposure indicated RQ values below 1. However, eight toddlers were found to have individual realtime RQ values greater than 1, ranging from 1.010 to 2.257 at various points. These findings suggest potential health risks among toddlers, even though the average PM2.5 concentration still meets regulatory standards, highlighting the need for continued monitoring.
Read More
S-12018
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Renata Philipa Plate; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Martya Rahmaniati M., R. Sutiawan, Teti Tejayanti, Fajar Nugraha
Abstrak:
Di Jawa Timur, terdapat disparitas prevalensi hipertensi antarkabupaten/kota yang disebabkan oleh perbedaan determinan prevalensi hipertensi di setiap wilayah. Sejalan dengan itu, keterikatan sosial dan ekonomi antarwilayah dapat menyebabkan saling pengaruh mekanisme determinan hipertensi. Kondisi ini menimbulkan kendala dalam pelaksanaan program kesehatan dan alokasi sumber daya kesehatan, termasuk pengalokasian Dana Alokasi Khusus (DAK) sebagai salah satu sumber dana program pencegahan dan pengendalian hipertensi. Di Jawa Timur, terdapat lima Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) yang bertugas membuat rekomendasi usulan DAK untuk kabupaten/kota dalam wilayah kerja masing-masing Bakorwil. Penelitian ini bertujuan untuk melihat keterkaitan spasial prevalensi hipertensi dan variasi determinan prevalensi hipertensi antarkabupaten/kota di Jawa Timur. Analisis spasial dengan menggunakan indeks Moran dan Geographically Weighted Regression (GWR) dilakukan terhadap 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Hasil analisis menunjukan bahwa prevalensi hipertensi di suatu kabupaten/kota dipengaruhi oleh kabupaten/kota tetangganya. Selain itu, 38 kabupaten/kota tersebut memiliki variasi determinan prevalensi hipertensi berupa proporsi bekerja, proporsi pengeluaran untuk minyak dan lemak, proporsi perokok, serta prevalensi diabetes. Adanya efek kewilayahan pada nilai prevalensi hipertensi dan determinannya menunjukan bahwa pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian hipertensi di tingkat daerah memerlukan koordinasi antardinas kabupaten/kota. Lebih lanjut, rekomendasi usulan DAK bidang kesehatan juga memerlukan koordinasi antar Bakorwil.

In East Java, there is a disparity in the prevalence of hypertension among districts/cities caused by differences in the determinants of hypertension prevalence in each region. Moreover, social and economic relationship between regions can lead to the mutual influence of the determinant mechanisms of hypertension. This condition creates obstacles in the implementation of health programs and the allocation of health resources, including the allocation of the Special Allocation Fund (Dana Alokasi Khusus or DAK) as a source of funds for the hypertension prevention and control program. In East Java, there are five Regional Coordinating Bodies (Badan Koordinasi Wilayah or Bakorwil) whose task is to make recommendations on DAK proposals for districts/cities within the working areas of each Bakorwil. This study aims to look at the spatial relationship between the prevalence of hypertension and the variation in the determinants of hypertension prevalence between districts/cities in East Java. Spatial analysis using the Moran index and Geographically Weighted Regression (GWR) was carried out for 38 districts/cities in East Java. The results of the analysis show that the prevalence of hypertension in a district/city is influenced by neighboring districts/cities. In addition, the 38 regencies/cities have variations in the determinants of the prevalence of hypertension, namely the proportion of working, the proportion of spending on oils and fats, the proportion of smokers, and the prevalence of diabetes. The existence of a spatial effect on the prevalence of hypertension and its determinants indicates that the implementation of hypertension prevention and control programs at the regional level requires coordination between district/city offices. Furthermore, DAK recommendations for the health sector also require coordination between Bakorwil.
Read More
T-6819
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Deny Yudhistira; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Kemal Nazaruddin Siregar, Tris Eryando, Tiopan Sipahutar, Fajar Nugraha
Abstrak:
Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat global yang sampai saat ini masih perlu memperoleh perhatian penting terutama di negara-negara berkembang. Indonesia perlu menurunkan prevalensi stunting menjadi 14% pada tahun 2024. Sebanyak 108 kabupaten/kota di Provinsi Banten, Jawa Barat, jawa Tengah dan Jawa Timur termasuk lokasi fokus intervensi percepatan penurunan stunting terintegrasi tahun 2023 dengan skema percepatan khusus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui visualisasi dashboard data wilayah berisiko stunting dikaitkan dengan pola asuh, faktor lingkungan, faktor akses pelayanan kesehatan, penyakit infeksi dan BBLR di Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur tahun 2021. Penelitian ini merupakan studi ekologi dengan unit analisis di tingkat kabupaten/kota dan menggunakan data sekunder berupa data agregat hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2021 yang diperoleh dari BKPK Kemenkes RI. Hasilnya dashboard yang dibuat dapat menyajikan data pemetaan sebaran risiko stunting dikaitkan dengan pola asuh, faktor lingkungan, faktor pelayanan kesehatan, penyakit infeksi dan BBLR. Selain itu juga menyajikan data dan grafik variabel di tingkat kabupaten/kota yang interaktif, serta menyajikan simulasi prevalensi stunting yang dihubungkan dengan variabel yang signifikan berhubungan dengan stunting pada penelitian ini.

Stunting is one of the global public health problems that still needs important attention, especially in developing countries. Indonesia needs to reduce the prevalence of stunting to 14% by 2024. A total of 108 districts/cities in the provinces of Banten, West Java, Central Java and East Java are included in the focus locations of the integrated stunting reduction acceleration intervention in 2023 with a special acceleration scheme. This study aims to describe the dashboard visualization of data on areas at risk of stunting associated with parenting, environmental factors, health service access factors, infectious diseases and LBW in Banten, West Java, Central Java and East Java Provinces in 2021. This research is an ecological study with a unit of analysis at the district / city level and used secondary aggregated data of the 2021 Indonesian Nutrition Status Study (SSGI) obtained from the BKPK Kemenkes RI. As a result, the dashboard created can present data mapping the distribution of stunting risk associated with parenting, environmental factors, health service factors, infectious diseases and LBW. In addition, it also presented data and graphs of variables at the interactive district / city level, and presented a simulation of the prevalence of stunting associated with variables that were significantly associated with stunting in this study.
Read More
T-6666
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maham Gul; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Kemal Nazaruddin Siregar, Retno Mardhiati, Hilmansyah Panji Utama
Abstrak:
Gangguan kesehatan mental seperti stres, depresi, dan penurunan kesejahteraan psikologis memengaruhi lebih dari 970 juta orang di seluruh dunia dan semakin dikaitkan dengan penggunaan perangkat digital yang berlebihan, di mana studi ini menemukan bahwa 49% partisipan mengalami tingkat stres sedang hingga tinggi dan 42% melaporkan gejala depresi, menunjukkan beban signifikan yang terkait dengan perilaku berbasis layar modern. Indonesia dan Pakistan dipilih sebagai lokasi penelitian karena digitalisasi yang cepat, tingginya prevalensi waktu layar di kalangan pemuda, dan meningkatnya kekhawatiran terkait kesehatan mental di negara-negara berkembang ini. Tujuan utama penelitian ini adalah menyelidiki bagaimana strategi koping—baik adaptif maupun maladaptif—memoderasi hubungan antara paparan radiasi perangkat elektronik, yang diukur melalui rata-rata waktu layar harian, dengan hasil kesehatan mental. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan mengumpulkan data dari 200 partisipan berusia 15 tahun ke atas melalui survei daring yang dilakukan antara Desember 2024 hingga Februari 2025, menggunakan instrumen terstandar seperti Perceived Stress Scale (PSS), Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9), Mental Health Inventory (MHI), dan Brief COPE Inventory, serta dianalisis menggunakan statistik deskriptif, analisis korelasi, ANOVA, dan model regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 54,5% partisipan melaporkan penggunaan layar harian selama 6–9 jam, dengan analisis bivariat menunjukkan korelasi positif antara durasi waktu layar yang lebih panjang dengan tingkat stres dan depresi yang lebih tinggi, serta hubungan negatif dengan kesejahteraan psikologis secara keseluruhan. Analisis multivariat mengonfirmasi bahwa strategi koping secara signifikan memoderasi hubungan tersebut, di mana koping adaptif mampu mengurangi, sementara koping maladaptif justru meningkatkan risiko masalah kesehatan mental yang terkait dengan penggunaan layar yang berlebihan. Temuan ini menekankan perlunya strategi kesehatan masyarakat yang mendorong kebersihan digital, literasi kesehatan mental, dan keterampilan koping adaptif, khususnya di kalangan pengguna perangkat digital yang muda dan berfrekuensi tinggi.

Mental health disorders such as stress, depression, and reduced psychological well-being affect over 970 million people worldwide and are increasingly linked to excessive use of digital devices, with this study finding that 49% of participants experienced moderate to high perceived stress and 42% reported depressive symptoms, indicating a significant burden tied to modern screen-based behaviors. Indonesia and Pakistan were chosen as study sites due to their rapid digitalization, high screen-time prevalence among youth, and rising concerns about mental health in these emerging economies. The primary objective of this research was to investigate how coping strategies—both adaptive and maladaptive—moderate the relationship between electronic device radiation exposure, measured via average daily screen time, and mental health outcomes. A cross-sectional design was employed, collecting data from 200 participants aged 15 years and older through an online survey conducted between December 2024 and February 2025, utilizing standardized instruments such as the Perceived Stress Scale (PSS), Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9), Mental Health Inventory (MHI), and Brief COPE Inventory, with analyses performed using descriptive statistics, correlation analysis, ANOVA, and multiple regression modeling. Results revealed that 54.5% of participants reported daily screen use of 6–9 hours, with bivariate analysis indicating positive correlations between longer screen time and higher levels of stress and depression, alongside lower overall psychological well-being. Multivariate analysis confirmed that coping strategies significantly moderated these relationships, where adaptive coping mitigated, and maladaptive coping exacerbated, mental health risks associated with extensive screen exposure. These findings emphasize the urgent need for public health strategies promoting digital hygiene, mental health literacy, and adaptive coping skills, particularly among young, high-frequency digital users.
Read More
T-7386
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Faraz Ali; Pembkimbing: Budi Hartono; Penguji: Laila Fitria, Ema Hermawati, Fajar Nugraha, Rindu Rachmiaty
Abstrak:
Asap rokok di rumah (SHS) telah menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama di daerah dengan prevalensi merokok yang tinggi seperti Indonesia. Paparan SHS telah dikaitkan dengan gejala pernapasan seperti sesak napas dan batuk. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan korelasi antara paparan SHS di rumah dengan gejala pernapasan pada orang dewasa yang tidak merokok di Depok, Indonesia. Sebanyak 108 orang dewasa yang tidak merokok berusia 18–30 tahun, yang terpapar SHS di rumah, direkrut menggunakan teknik sampling kenyamanan untuk penelitian potong lintang. Kuesioner terstruktur yang diisi oleh pewawancara digunakan untuk mengumpulkan data mengenai gejala pernapasan batuk dan sesak napas. Statistik deskriptif digunakan dalam deskripsi karakteristik peserta, dan hubungan antara paparan asap rokok pasif (SHS) dan gejala pernapasan ditentukan menggunakan uji Chi-square. Menurut temuan dari penelitian tersebut, hubungan signifikan secara statistik dari prevalensi gejala pernapasan dengan usia (p = 0,046; OR = 2,63, 95% CI: 1,05–6,55), pekerjaan (p = 0,050; OR = 2,61, 95% CI: 1,04–6,53), frekuensi paparan (p = 0,001; OR = 4,86, 95% CI: 1,84–12,83), dan waktu paparan SHS (p = 0,007; OR = 3,76, 95% CI: 1,43–9,87) ditetapkan. Hasil ini menunjukkan bahwa pria, individu yang terpapar SHS dalam durasi yang lebih lama, terutama yang terpapar lebih dari lima jam, dan individu yang tidak bekerja, memiliki prevalensi gejala yang lebih tinggi. Temuan ini menunjukkan adanya risiko kesehatan dari paparan SHS jangka panjang di rumah bagi orang dewasa yang tidak merokok. Hal ini menekankan pentingnya penerapan undang-undang rumah bebas rokok dan kesadaran bahaya SHS di masyarakat.

Secondhand smoke (SHS) home exposures have come to represent a public health concern, especially where there is high prevalence of smoking such as Indonesia. SHS exposures have been linked to respiratory manifestations such as shortness of breath and cough. This study set out to determine the correlation of SHS home exposures with respiratory symptoms among nonsmoking adults in Depok, Indonesia. A total of 108 nonsmoking adults aged 18–30 years old, exposed to SHS at home, were recruited using convenience sampling for the cross-sectional study. A structured interviewer-administered questionnaire was filled to gather data for measurement of respiratory symptoms of cough and shortness of breath. Descriptive statistics were utilized in the description of the participants' characteristics, and the association between second-hand smoke (SHS) exposure and respiratory symptoms was determined using the Chi-square test. According to the findings from the study, statistically significant associations of the prevalence of respiratory symptoms with age (p = 0.046; OR = 2.63, 95% CI: 1.05–6.55), occupation (p = 0.050; OR = 2.61, 95% CI: 1.04–6.53), the frequency of exposure (p = 0.001; OR = 4.86, 95% CI: 1.84–12.83), and the time of SHS exposure (p = 0.007; OR = 3.76, 95% CI: 1.43–9.87) were established These results indicate that male, individuals exposed to SHS for longer durations. Significantly, SHS-exposed subjects for longer than five hours and unemployed subjects showed prevalence of symptoms. It is the study findings with implications of health risks of long SHS home exposures among nonsmoking adults. It vouches for the importance of implementing legislation of smoke-free houses and SHS hazards awareness in the community.
Read More
T-7332
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive