Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Salah satu penyakit yang dijadikan sebagai patokan penggunaan obat rasional adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut), jika penyakit ini tidak mendapatkan pengobatan tidak benar dan tidak tepat, kemungkinan ISPA akan berlanjut menjadi pnemoni. Banyak penelitian menyatakan bahwa antibiotik diberikan dengan tidak benar pada penderita ISPA non pnemoni. Evaluasi Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka melaporkan, tabun 2006 tingkat penggunaan antibiotik di puskesmas pada penderita ISPA non pnemoni mencapai 53,8% Desain penelitian ini cross sectional, Pengambilan data menggunakan kuesioner angket (self administration) dan dilengkapi dengan daftar monitoring peresepan diagnosis ISPA non pnemoni. Proporsi petugas kesehatan di puskesmas yang memberikan antibiotik pada penderita ISPA non pnemoni di Kabupaten Majalengka tahun 2007 sebesar 75,2%. Proporsi karakteristik individu dominan pada petugas kesehatan yagn berumur muda (8,3%), tanaga medis (77,8%), masa kerja baru (76,9%), tidak pernah mendapat pelatihan (78,4%), pengetahuan kurang (78,8%), dan mempunyai sikap negativ (96,3%). Sedangkan karakteristik organisasi lebih dominan pada petugas kesehtan yang kurang didukung Kepala Puskesmas (88,5%), tidak pernah disupervisi (80,7), tidak ada buku pedoman pengobatan dasar (80,0%), dan kecukupan obat kurang (75,4%). Variabel yang dominan/utama berhubungan denagn perilaku pemberian antibiotik pada penderita ISPA non pnemoni adalah variabel sikap. Variabel konfondingnya ada variabel suspenvisi. Dinas Kesehatan, agar meningkatkan supervisi pengobatan rasional yang diarahkan pada anjurnn penggunaan buku pedoman pengobatan dasar, perlunya pelatihan pengobatan rasional dengan peserta minimal 3 orang petugas pelayan pengobatan dari puskesmas dan petugas dari pelayanan kesebatan swasta serta lebih meningkatkan freknensi evaluasi penggunaan obai rasional di puskesmas disertai umpan balik rutin setiap tiga bulan sekali. Kepala puskesmas lebih mendukung upaya pengobatan rasional dan mengevaluasi secara rutin dan mensosialisasikan obat rasional kepada masyarekat yang berkunjung ke puskesmas. Perlunya penelitian dengan metode Dislrusi Kelompok Terarah (DKl) meliputi aspek kebijakan sistem perencanaan dan pengelolaan obat di puskesmas.
One of the discase that become a standard of rational medicine using is ISPA (Acute Respiratory Infection), if this discase do not obtain correct and exact mediacation, ISPA possibility will continue become pneumonic. Many reserches state that antibiotic gave invorrectly to ISPA non-pneumonic patient reach 53,8%. This research is using cross sectional design. Data gathering is using self-administration questioner and completed with prescription monitoring list of ISPA non-pneumonic diagnosis. Health staffs proportion in puskesmas that give antiviotic to ISPA non-pneumonic patient in Majalengka District year 2007 is 75,2%. This proportion is dominant in young health staff (8,3%), medical staff (77,8%), new work length (76,9%), never participate in training (78,4%), lack of education (78,9%) and negative attitude (96,3%). Antibiotic distribution is dominant in health staffs that less supported by puskesmas chief (88,5%), never supervised (80,7%), no standard medication guidance (80,0%) and lack of medicine availability (75,4%). Dominant variable that related with giving antiviotic behavior to ISPA non-pneumonic patient are age, attitude, availability of standard medication guidance book. support from puskesmas chief and health agency supervislon. The most dominant variable related with giving antibiotic behavior is staffs attitude (OR = 8.134). Suggested to Health Agency increasing rational medicine supervision that directed on using standard medication guidance book, require rational medicine training with minimal participants of 3 medication staffs from puskesmas and staffs from private health service also increasing frequency of rational medicine using evaluation in puskesmas along with routine feedback once evecy 3 months. Puskesmas chief is more supporting effort of rational medication and evaluating rontinely and socializing rational medication to public that visiting puskesmas. Require research with Directed Group Discussion (DKT) method including aspect of planning system policy and medicine management in puskesmas.
ABSTRAK Pada era globalisasi atau era pasar bebas organisasi dinmtut umuk bisa berkompefisi dan mempunyai daya saing Puskesmas merupakan organisasi yang memberikan pelayanan kesehatan terdepan kepada masyarakat tidak terlepas dari timtutan tersebut. Pimpinan puskesmas sangat berperan dalam kemajuan organisasi, karena pelayanan kesehatan yang dibelikan oleh puskesmas mcrupakan hasil keljasama antara staf beserta pimpinan. Pimpinan puskesmas harus mampu memberikan kepuasan kepada setiap individu dalam organisasi dan dapat menggabungkan tujuan-tujuan individu menjadi bagian dari tujuan organisasi. Pegawai atau staf yang tidak puas tidak akan mau dan mampu untuk menghasilkan suatu pekeijaan yang bcrmutu, juga tidak akan pemah mendapatkan pelanggan yang terpuaskan, sehingga pimpinan puskesmas harus bisa memberilcan dukungan fungsi~fungsi utama manajemen kepada pelanggnn intemal atau staf dan pelanggn ekstemai atau konsumen. Salah satu fungsi manajemen dalam organisasi adalah gaya Icepemimpinan dari pimpinan puskesmas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempcroleh gambaran pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kepuasan kcnja staf puskesmas di Kabupaten Majalengka. Penelitian ini mcnggunakan desain cross sectional dengan pendekatan lcuantitatif dengan jumlah sampel 127 staf puskesmas. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner yang didistribusikan kepada 127 staf puskesmas. Hasil peneiitian memperlihatkan bahwa kepuasan keija (total) staf puskesmas dengan menggunakan cuz of point median dalam menilai kepuasan kemja tertinggi azhlah 50,4%. Kepuasan kelja tcrtinggi pada peniiaian kepedulian pimpinan (94,5%) dan terendah pada penilaian motivasi pimpinan (S0,4%). Dari basil uji bivariat diperoleh adanya hubungan yang bermakna antara gaya kepemimpinan tcrhadap kcpuasan kerja staf puskesmas (p= 0,00l). Dimensi gaya kepemimpinan yang mempimyai hubungan yang bermakna terhadap kepuasan kexja adaiah dimcnsi komunikasi (p= 0,00l), dimensi motivasi (p= 0,002) dan dimensi koordinasi (p= 0,002). Hanya faktor confolmding lama keija saja yang bermakna (p=0,005) terhadap gaya kepemimpinari Hasil uji statistik multivariat didapatkan faktor yang paling dominan berhubungan dcngan kepuasan kerja staf puskesmas adalah dimensi koordinasi dan pimpinan (p Wald = o,005) dan nnai OR (2,95). Persepsi gaya kepemimpinan mempunyai pengaruh terhadap kepuasan kerja staf, perbaikan fungsi koordinasi dad pimpinan puskesmas bisa diadopsi untuk memperbaiki gaya kepemimpinaxmya sekaligus memperbaiki organjsasi secam keseluruhan sehingga akhirnya diperoleh kepuasan kelja staf puskesmas.
ABSTRACT At globalization era or organizational free market era is claimed competition to be able to and has competitiveness. Puskesmas is organization giving health service of the iirst to public is not quit ofthe demand Head of puskesmas so central in organization progress, because health service given by puslcesmas is result of cooperation between staives along with learder. Head of puskesmas must be able to give satisfaction to every individual in organization and can merge purposeof individuals to become part of organization.Unsatis?ried officer or staff will not will and eble to yeild a certiiiable work, nor would have ever got cutomer client which left nothing to be desired. So leader puskesmas should be able to give main functions support from of management to internal cutomer client or staff and cutomer client of extemal or consumer. One of tixnction of management in organization is leadership style from leads' puskesmas. Purpose of this research is to obtain image of leadership style influence to job satisfaction of staff puskesmas in Majalengka district. this research applies design cross sectional with quantitative approach with number of sample 127 stafves puskesmas. Result of research shows that job satisfaction total staff puskesmas by using cut of median point in assessing highest job satisfaction is 50,4%. Highest job satisfaction at assessment of leader caring (94,5%) and low of motivation of leader (50,4%) From bivariatc test result is obtained existence of relationship having a meaning of between leadership styles toward job satisfaction of staff puskesmas (p=0,00l). Dimension leadership style having relationship having a meaning to job satisfaction is communications dimension (p=0,001), motivation dimension ( p=0,002) and coordination dimension ( p=0,002). Only factor counfonding having a meaning just duration of action ( p=0,005) to leadership style. Statistic test result multivariat yields factor that is most dominant related to job satisfaction Of staff puskesmas is coordination dimension from leader ( p Wald = 0,005) and value OR (2,95). Perception of leadership style has influence to job satisfaction of staff; repair function of coordination from leader puskesmas can be adopted to improve;repair its(the leadership style is at the same time improve;repair organization as whole so that finally is obtained job satisfaction of staipuskesmas.
