Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 13 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Fitriyani; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Yovsyah, Robert Meison Saragih
S-7380
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wina Setiany; Pembimnbing: Indang Trihandini; Penguji: Sudijanto Kamso, Robert Meison Saragih
S-7677
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amrina Rosyada; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Ratna Djuwita, Robert Meison Saragih
S-7739
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vebby Amellia Edwin; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Fitra Yelda, Robert Meison Saragih
Abstrak: Penyebab kematian akibat penyakit tidak menular semakin meningkat setiap tahunnya. Penyakit jantung dan pembuluh darah merupakan penyebab kematian utama di Indonesia. Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskuler. Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah pada pembuluh darah arteri yang ditunjukkan dengan tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥90 mmHg. Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo merupakan salah satu Kecamatan di Jakarta Timur yang aktif melaksanakan deteksi dini terhadap faktor risiko penyakit kardiovaskuler. Tujuan dengan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risikoyang berhubungan dengan hipertensi di Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur tahun 2012. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional dengan variabel dependen (hipertensi) dan variabel independen (jenis kelamin, umur, obesitas, diabetes mellitus, kebiasaan merokok, kurangnya aktivitas fisik). Populasi padapenelitian ini adalah seluruh pasien yang dilakukan deteksi di Puskesmas. Prevalensi hipertensi di PuskesmasKecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur yaitu 67,8%. Faktor risiko yang berhubungan hipertensi di PuskesmasKecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur yaitu jenis kelamin, umur, kebiasaan merokok, dan kurangnya aktivitas fisik.Risiko hipertensi pada responden laki-laki lebih tinggi 1,6 kali dibandingkan perempuan, risiko hipertensi padaresponden yang berumur lebih dari 40 tahun lebih tinggi 3,3 kali dibandingkan responden yang berumur kurang dari40 tahun, risiko hipertensi pada responden merokok 3 kali lebih tinggi dibandingkan responden yang tidak merokok,dan risiko hipertensi pada responden dengan aktivitas fisik ringan 9 kali lebih tinggi dibandingkan pada respondendengan aktivitas fisik berat. Oleh karena itu, diperlukan deteksi dini dan pola hidup sehat untuk mencegah danmengendalikan hipertensi.
Kata Kunci: hipertensi; faktor risiko; puskesmas kecamatan pasar rebo
The cause of death because of non-communicable diseases are increasing every year. Moreover, heart and bloodvessel diseases, as an example of non-communicable diseases is the major cause of death in Indonesia. Hypertensionis one of the major risk factors of cardiovascular disease. It is marked by an increase of blood pressure within thearteries, indicated by the amount of systolic pressure which is ≥ 140 mmHg and the diastolic blood pressure ≥ 90mmHg. Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo is one of health clinics in East Jakarta wich is actively implementing anearly detection of risk factors for the cardiovascular disease. This research applies cross-sectional study design withtwo variable wich are a dependent variable (hypertension) and independent variables (gender, age, obesity, diabetesmellitus, smoking habit, physical inactivity). The population in this research is the overall of people in Pasar Rebodistrict and people with 15 years and over. The prevalence of hypertension in Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo ,East Jakarta, which is 67.8 %. The risk factors related to hypertension in the Pukesmas Kecamatan Pasar Rebo, EastJakarta are sex, age , smoking habit, and physical inactivity . Hypertension is more likely to occur to malerespondents,which amount is 1.6 times higher than for female respondents. The hypertension risk of 40 years old2Faktor Risikorespondents and over is 3.3 times higher than the respondents who have not reahed 40 years old. The hypertensionrisk of respondents with smoking habit 3 times higher that non-smoker. Meanwhile, the hypertension risk of peoplewho do less activities is 9 times higher than the ones who have tight activities. Therefore, early detection is requiredand healthy lifestyle to prevent and control hypertension.
Key Word: hypertension; risk factor, Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo
Read More
S-8152
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Rizky Ramadhani; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Ratna Djuwita, Eva Sulistiowati, Robert M. Saragih
Abstrak: Prediabetes adalah masalah kesehatan global. Prevalensi prediabetesmeningkat signifikan di seluruh dunia dan pada umumnya tinggi di masyarakatserta merupakan keadaan risiko tinggi untuk terjadinya DM. Obesitas memilikiperanan penting dalam patofisiologi prediabetes. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui apakah obesitas umum dan obesitas abdominal secara bersama-samaberhubungan terhadap kejadian prediabetes pada kelompok usia 20-65 tahun diKecamatan Bogor Tengah berdasarkan faktor riwayat DM keluarga, jeniskelamin, umur, merokok, hipertensi, aktifitas fisik dan stress. Desain studi yangdigunakan adalah potong lintang dengan Cox Regression untuk analisismultivariable. Data analisis merupakan data baseline dari studi kohort faktorrisiko penyakit tidak menular tahun 2012. Ada 3244 responden dari kecamatanbogor tengah yang dipilih dengan teknik sampel acak. Hasil analisis menunjukkanbahwa obesitas terhadap kejadian prediabetes setelah mengendalikan faktor umuradalah obesitas umum PR 1,58 (95% CI: 1,17-2,15), obesitas abdominal PR 1,45(95% CI; 1,19-1,87) dan obesitas umum dan obesitas abdominal secara bersama-sama PR 1,92 (95% CI; 1,62-2,28). Untuk itu, obesitas umum dan obesitasabdominal secara bersama-sama berkontribusi paling besar terhadap peningkatanprevalensi prediabetes. Peningkatan kesadaran dan skrining prediabetes padakelompok risiko tinggi berdasarkan pengukuran IMT bersama dengan lingkarpinggang penting untuk dipertimbangkan sebagai bagian dari upaya untukmengurangi epidemi prediabetes di masyarakat.Kata Kunci : obesitas umum, obesitas abdominal, prediabetes
Prediabetes is a global public health issue. Prevalence of prediabetes isincreasing worldwide. Generally, it is high among adults and as a high risk statefor DM. Obesity has essential role in pathophysiology of prediabetes. This studyaimed to explore whether both of general obesity and abdominal obesity related toprediabetes on age group 20-65 years in Bogor tengah sub-district by familyhistory of DM, sex, age, smoking, hypertension, physical activity and stress. Thisstudy used the cross sectional design study with Cox Regression to multivariableanalysis. Data for this analysis were collected during the baseline stage of cohortstudy of risk factors of non-communicable disease in 2011-2012. There were3244 respondents from Bogor tengah were taken by random sample technique..The result indicated that obesity to prediabetes adjusted by age; general obesityalone PR 1,58 (95% CI: 1,17-2,15), abdominal obesity alone PR 1,45 (95% CI;1,19-1,87), general obesity and abdominal obesity jointly PR 1,92 (95% CI;1,62-2,28). Therefore, general obesity and abdominal obesity jointly contributedmost to the increase prevalence of prediabetes. Awareness raising and screeningof prediabetes of those at high risk group by assessing obesity by BMI and waistcircumference joinlty are essential to be considered as part of efforts for haltingthe epidemic of prediabetes in community.Keyword : general obesity, abdominal obesity, prediabetes.
Read More
T-4776
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yoppy Nersan; Pembimbing: Zakianis, I Made Djaja; Penguji: Renti Mahkota, Mahmud Yunus, Robert Saragih
Abstrak:

Penelitian ini dilakukan di Kota Palembang mulai November 2005 sampai dengan Januari 2006 dengan menggunakan disain studi ekologi campuran atau mixed ecological study. Data yang digunakan merupakan data skunder dari hasil rekapitulasi jumlah penderita diare per kecamatan per bulan dan data hasil pemeriksaaan iklim perbulan selama tahun 2000 - 2004 di Kota Palembang. Data yang diperoleh ditampilkan visualisasi trend berdasarkan tempat dan waktu serta dianalisa secara statistik untuk melihat hubungan antar variabel. Prevalensi diare rata-rata per tahun tertiuggi sebesar 33 per 1000 penduduk. Prcvalcnsi diare rata-rata pertahun tertinggi terjadi di Kccamatan Bukit Kecil tahun 2004. Prevalensi diare per bulan tertinggi terjadi pada bulan Juli 2004 yaitu sebesar 47 per 1000 penduduk. Peningkatan prevalensi diare rata-rata perbulan terjadi pada bulan Februari hingga bulan Juli. Suhu udara per bulan tertinggi terjadi pada bulan Mei tahun 2004 sebesar 31.6 °C. Suhu rata-rata per bulan diatas 27°C tetjadi pada bulan Maret hingga Oktober. Curah hujan rata-rata diibawah 200 mm terjadi pada bulan Mei hingga September. Jumlah hari hujan rata-rata per bulan dibawah I2 had terjadi pada bulan Mei hingga Oktober, Kelembaban menurun pada bulan Februari hingga bulan Agusrus dengan kelembaban terendah sebesar 72%. Peningkatan kecepatan angin pada bulan Mei sampai bulan September. Peningkatan prevalensi diare tejadi disaat suhu udara meningkat, curah hujan di Kota Palembang rendah, jumlah hari hujan sedikit saat kelembaban rendah dengan kecepatan angin tinggi Suhu udara dan kelembaban berhubungan dengan prevalensi diare di Kota Palembang tahun 2000 ~ 2004 dan yang paling dominan berpengaruh dcngan prevalensi diare adalah kelembaban udara.


 

This research was conducted in Palembang since November 2005 until January 2006, by using mixed ecological study design. The writer used the secondary data that gained from the recapitulation result ofthe people who got diarrhoea disease per months in each area, and the monthly climate checking during 2000 to 2004 in Palembang. The data gained is presented by using visualisation trend on the based of the time and the location, and also the data was analyzed statistically in order to see the correlation between variables. The highest annually rate of diarrhoea disease prevalence was 33 out of 1000 citizens. On the year of 2004, the highest rate occurred on Bukit Kecil area. The highest monthly diarrhoea disease prevalence rate occurred on July 2004 as much as 47 out of 1000 citizens. The increased of monthly diarrhoea prevalence rate happened from February to July. The highest monthly temperature occurred on May 2004 as much as 31.6° C. The monthly temperature was above 27° C occurred from March to October. The rainfall rate was below 200 mm, occurred from May to October. The humidity decreased Hom February to August with 72% as the lowest humidity point. While the wind speed increased fiom May until September. The increased of diarrhoea prevalence in Palembang, happened along with the increasing of the air temperature and wind speed, and the decreasing of rainfall, rainy days and humidity. There was a correlation between temperature and humidity to the diarrhoea prevalence in Palembang, in 2000-2004, where the humidity became the most dominant factor that influenced the diarrhoea prevalence.

Read More
T-2235
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Meutia Sari; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Nurhayati Adnan, Syahrizal Syarif, Robert M. Saragih, M. Sugeng Hidayat
Abstrak: Abstrak

Prevalensi hipertensi terus meningkat tajam, WHO memprediksi pada tahun 2025, sekitar 29% orang dewasa di seluruh dunia menderita hipertensi. Hipertensi telah mengakibatkan kematian sekitar 8 juta orang setiap tahun. Survei Riskesdas 2007 menunjukkan prevalensi hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke atas di Indonesia adalah sebesar 31,7%. Hipertensi stage 1 sebagai fase awal perlu ditemukan secara dini. Direkomendasikan untuk mencegah dan mengatasi hipertensi dengan diet sehat, aktivitas fisik teratur, menghindari konsumsi alkohol, mempertahankan berat badan dan lingkar pinggang ideal, serta hidup di lingkungan bebas asap rokok. Program pengendalian penyakit hipertensi perlu melakukan upaya pencegahan dan pengendalian agar tekanan darah tidak berlanjut menjadi tinggi dan mencegah komplikasi lebih lanjut.

Penelitian ini bertujan untuk mengetahui hubungan obesitas sentral terhadap kejadian Hipertensi stage 1 di Posbindu Kota Padang Panjang. Penelitian menggunakan desain Cross Sectional Analitik, terhadap data sekunder kegiatan skrining Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PPTM) Direktorat PTM, Ditjen PP-PL, Kemenkes RI tahun 2011. Responden dalam penelitian ini berusia 18-64 tahun. Analisis data menggunakan analisis stratifikasi dan multivariat cox regression. Dari hasil analisis data diperoleh prevalensi Hipertensi stage 1 sebesar 25,1% dan obesitas sentral sebesar 59,7%.

Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa orang dengan obesitas sentral (Waist Circumference/WC laki-laki>90 cm, dan perempuan>80 cm) berisiko 1,5 kali (PR= 1,446; 95% CI 0,897 ? 2,329) terhadap kejadian Hipertensi stage 1 setelah di kontrol variabel umur, jenis kelamin, status pekerjaan, tingkat pendidikan dan stress. Kegiatan deteksi dini melalui skrining di Posbindu terutama pada orang yang obesitas sentral akan menjaring kasus hipertensi stage 1 (fase awal penyakit hipertensi). Pola hidup sehat, pengendalian stress dan mencegah terjadinya obesitas diharapkan menurunkan angka kejadian hipertensi stage 1.


The Prevalence of hypertension tends to be increase, WHO predict in 2025, approximatelly 29% adults all around the world suffer hypertension. Hypertension caused death approximatelly 8 million people every year. Basic Health Survey in 2007 showed the prevalence of hypertension in community age above 18 year old were 31,7%. Hypertension stage 1 due to initial phase should to be found earlier. Recommended to prevent and control hypertension with healthy diet, regular physical activities, avoid alcohol consumption, maintaining ideal body weight and waist circumtances, and life in the smoke free enviroment. Hypertension programme control integrated in prevention and control effort to prevent progressing blood tension higher and the complication.

The objectives of this study was to investigate the association between abdominal obesity and Hypertension stage 1 in Posbindu Padang Panjang. This is a cross sectional study, utilized the data from the result of screening by Directorate NCDC Directorate General DC & EH Ministry of Health, Republic of Indonesia. The inclusion criteria was Padang Panjang resident whom their ages 18-64 years. The data analysis was performed with stratification and cox regression multivariate analysis. The results of study showed the prevalence of Hypertension stage 1 was 25,1%, meanwhile the prevalence of abdominal obesity was 59,7%.

The result of multivariate analysis showed that the people with abdominal obesity (waist circumference man> 90 cm and women> 80 cm) had 1,5 risk to get Hypertension stage 1 compared to the people who did not, after controlling for covariates, age, sex, working status, education level, and stress level (PR= 1,446; 95% CI: 0,897-2,329). Early detection and screening in Posbindu NCDC specially people with abdominal obesity become one of the strategies as the early detection of people with Hypertension stage 1. Healthy life style, controling stress level and prevent the obesity expected to reduce the prevalence of Hypertension stage 1.

Read More
T-4002
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ridho Ichsan Syaini; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Yovsyah, Robert M. Saragih, Setyadi
Abstrak:

Diabetes Mellitus tipe 2 merupakan salah satu masalah kesehatan yang sangat serius akibat setiap tahun terjadi peningkatan dan salah satu kontributor terhadap angka kesakitan dan kematian akibat penyakit tidak menular di seluruh dunia. 90% Diabetes Mellitus yang di diagnosis adalah DM tipe 2. Perubahan pola hidup yang ditandai dengan meningkatnya obesitas khususnya obesitas sentral merupakan salah satu risiko terhadap terjadinya Diabetes Mellitus tipe 2. Penelitian ini bertujan untuk mengetahui hubungan obesitas sentral terhadap kejadian Diabetes Mellitus Tipe 2 di Kelurahan Johar Baru Kecamatan Johar Baru Jakarta Pusat. Penelitian dilakukan dengan desain Cross Sectional Analitik, dengan menggunakan data Program skrining Penyakit Tidak Menular (PTM) Direktorat PTM Dirjen P2PL Kemenkes RI tahun 2012. Responden dalam penelitian ini berusia 20 tahun keatas. Analisis data menggunakan stratifikasi dan analisis multivariat menggunakan cox regression.

Hasil analisis data diperoleh prevalensi DM tipe 2 sebesar 18,1% dan obesitas sentral sebesar 57,7%. Selain itu, hasil multivariat menunjukkan bahwa orang dengan obesitas sentral (Waist Circumference (WC) P>90 cm, dan W>80 cm) berisiko 1,47 kali (PR= 1,47; 95% CI 0,606 - 3,575) terhadap kejadian DM tipe2 setelah di kontrol variabel jenis kelamin, IMT, dan aktivitas fisik. Namun setelah mengikutkan efek interaksi antara obesitas sentral dan aktivitas fisik diketahui bahwa orang yang obesitas sentral dan beraktivitas rendah (< 300 Mets) berisiko 7,59 (PR=7,59; 95% CI, 1,656 - 34,77) kali terhadap kejadian diabetes mellitus tipe 2. Dengan melakukan intervensi atau mencegah obesitas sentral dapat mencegah 23,98 % kejadian diabetes mellitus tipe 2 di populasi studi. Usaha untuk deteksi dini dengan skrining pada orang obesitas khususnya obesitas sentral membantu dalam menjaring kasus DM tipe 2, dan pola hidup sehat dan peningkatan aktivitas fisik dapat mencegah terjadinya obesitas sehingga menurunkan angka kejadian diabetes mellitus tipe 2.


Diabetes Mellitus categorized into serious health problems due to the increasing of its prevalence every year. It is one of the contributors to the global burden of disease and mortality in the world, where 90% of this disease was type II Diabetes. Changing of people lifestyle was one of the risk factors to the increasing of the disease in community. The objective of this study was to investigate the association between abdominal obesity and type II DM in Johar Baru Sub-district, Central Jakarta. This is a cross sectional study, utilized the data from the result of screening by direktorat PTM dirjen P2PL kemenkes RI. The inclusion criteria was Johar baru resident whom their ages more than 20 years. The data analysis was performed with stratification and cox regression multivariate analysis.

The results of study showed the prevalence of type II DM was 18,1%, meanwhile the prevalence of abdominal obesity was 57,7%. The result of multivariate analysis showed that the people with abdominal obesity (waist circumference P> 90 CM and W> 80 cm) had 1,47 risk to get type II DM compared to the people who did not, after controlling for covariates, Included: Sex, IMT and Physical activity (PR= 1,47; 95% CI: 0,606-3,575). However, after including the interaction effect between abdominal obesity and physical activity, it is showed the people with abdominal obesity and light physical activity had the risk 7,59 (PR=7,59; 95% CI, 1,656 - 34,77) to get type II diabetes. The result of analysis showed, with intervention or prevention of abdominal obesity can prevent 23,98 % type II DM in community. Screening one of the strategies as the early detection of people with type II DM. Healthy life style and having more physical activity could prevent the obesity and it is expected to reduce the prevalence of type II DM.

Read More
T-3702
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Robby Djauhari; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Tri Krianto, Zulazmi Mamdy, Robert Saragih, Pudjo Hartono
Abstrak:

Diabetes Mellitus merupakan suatu penyakit kronik yang yang prevalensinya akan meningkat sebagai akibat dari transisi epidemiologi yang sedang berlangsung. Transisi epidemiologi berpenganth terhadap pola penyebab kematian. Permasalahan kesehatan akan bergeser dari masalah-masalah organobiologis menjadi masalah yang berbasis perilaku. Melihat adanya kecenderungan prevalensi DM di berbagai daerah, terutama di kota-kota besar akibat peningkatan kemakmuran, perubahan gaya hidup dan bertambahnya usia harapan hidup maka, dapat dipahami bila dimasa yang akan datang akan berkembang menjadi salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian di Indonesia. Merujuk pada hasil survei atau penelitian di bidang penyakit tidak menular angka prevalensi diabetes melitus mengalami peningkatan yang cukup bemakna, hasil SICRT tahtm 2003 menunjukkan angka sebesar 14,7 % di perkotaan dan 7,2 % pedesaaan, yang berarti DM merupakan masalah kesehatan yang cukup serius di masa rnendatang. Diabetesi yang memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang memadai tentang standar diet yang tepat sena mengaplikasikannya dalam diet sehari-hari maka berat badan dan kadar glukosa darahnya dapat dikendalikan dengan baik sehingga dapat mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui informasi yang mendalam tentang pengetahuan, persepsi, sikap, miotivasi diabetesi tipe 2 dalarn melaksanakan terapi dietnya dan peranan, dukungan dari keluarga serta tenaga kesehatan di RSUD Sekanvangi tahun 2007. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik FGD dan wawancara mendalam. Informan seluruhnya berjumlah 61 orang, terdiri dari 53 informan diabetesi , 4 orang informan keluarga diabetesi dan 4 orang informan petugas kesehatan. Hasil penelitian rnenunjukkan, pengetahuan informan tentang penyebab DM, gejala DM., pen.gobatan DM, tujuan diet DM, pengertian gula darah, nilai normal gula darah, dan cara mengendalikan gula darah sudah cukup baik. Hal ini disebabkan intbrman penderita sudah cukup mendapatkan intbrmasi dari berbagai surnber baik raisalnya tenaga kesehatan, majalah kesehatan, tv dan teman yang sudah mempunyai pengalaman. Informan dengan kadar glukosa darah tidak terkendali tidak merasakan ancaman apapun apabila mereka tidak melaksanakan diet. Informan dengan kadar glukosa darah terkendali merasakan akan ada ancaman apabila mereka tidak melaksanakan diet, hal ini dikarenakan komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakit tersebut tidak cepat dirasakan oleh penderita. Beberapa hal yang dapat disarankan untuk penanganan diabetes tipe 2 di RSUD Sekarwangi diantaranya, pernbentukan tim edukator 1DM, tim asuhan gizi, penyuluhan terpadu, klinik diabetes terpadu, kerjasama dengan dinas kesehatan dalarn hal ini puskesmas dan melakukan kunjungan rumah.


Diabetes mellitus is chronic disease that prevalence always increases as consequence from epidemiology transition and health transition in progress. Epidemiology transition will affect death came pattern. Health issues will shift from oranobiology issues into behavior basis problems. Perceive DM prevalence trend in various country, especially in big cities as consequence of prosperity improvement, lifestyle change and increasing lifespan, so that perceivable if in future period will developed as one of the main disease cause and death in Indonesia. SKRT in 2003 has found rural 14,7 % and urban 7,2 % that means DM is seriously problem. DM patient that has knowledge, attitude and adequate ability toward exact diet standard and implementing it everyday subsequently weight and blood glucose level could controlled properly so that could prevent further complication. Research objective is recognize significant information toward knowledge, perception, attitude and motivation of DM type 2 patient in performing diet therapy and role, support from family and health force at RSUD Sekarwangi year 2007. This research using qualitative method with Discussion Group focuses technique and significant interview. Total informants are 61 people; consist of 53 patient informants, 4 patient family informants and 4 health officer informants. Research result shows that knowledge of patient informant toward DM causes, DM symptoms, DM medications, DM diet purposes, blood sugar interpretation, blood sugar normal value and controlling blood sugar is quite good. It because of patient informant has obtained enough information from various sources such as health officer, health magazine, TV and experienced friends. Informant with uncontrolled blood sugar level does not feel any threat if they are implementing the diet. Informant with controlled blood sugar level does feel threat if they are not implementing the diet. It caused by complication that appear from the disease not felt by patients. Several things that suggested for DM type 2 patient treatments at RSUD Sekarwangi concerning education team, nutritional team, DM clinics, give first-rate service besides in hospital and conduct house visit.

Read More
T-2589
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ikron; Pembimbing: I Made Djaja, Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Sjahrul Meizar Nasri, Bambang Wahyudi, Robert Meison Saragih
Abstrak:

Kebisingan lalulintas jalan merupakan masalah utama masyarakat di daerah perkotaan yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan, diantaranya gangguan kesehatan psikologis. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh kebisingan lalulintas jalan terhadap gangguan kesehatan psikologis anak SDN Cipinang Muara Kecatamatan Jatinegara dan pengaruh faktor risiko lainnya seperti jarak, lama pajanan, lama sekolah dan umur. Disain penelitian adalah Kasus-kontrol, dengan populasi adalah anak sekolah dasar kelas IV, V dan VI. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 240 anak yang terdiri dari 80 kasus dan 160 kontrol. Cara pengambilan sampel menggunakan rancangan sampling bertingkat. Data Kebisingan diukur di dalam kelas, menggunakan Noise Logging Dosimeter Q-400/500. Analisis bivariabel dengan uji beda proporsi dengan kai kuadrat dan analisis multivariabel dengan uji regresi logistik ganda.Analisis bivariabel diperoleh ada pengaruh kebisingan, jarak dan lama pajanan dengan gangguan kesehatan psikologis, sedangkan lama sekolah dan umur tidak berpengaruh. Hasil analisis multivariabel mengindikasikan, bahwa anak sekolah dasar yang menerima kebisingan lalulintas jalan > 61,8 dBALeq dalam lingkungan sekolah berisiko 10,9 kali mengalami gangguan kesehatan psikologis dibanding dengan anak sekolah dasar yang menerima kebisingan lalulintas jalan ≤ 61,8 dBALeq secara bersama-sama dengan variabel jarak dan variabel lama pajanan. Perlu dilakukan sosialisasi dan penerapan peraturan perundangan tentang kebisingan dan dampaknya secara tegas dan konsisten. Pembinaan dan pengawasan dengan melakukan penyuluhan dan pemantauan kebisingan dan dampaknya secara berkala yang melibatkan lintas program dan sektor terkait. Untuk memastikan adanya inferensi kausal temporality, perlu dilakukan penelitian sejenis dengan disain studi kohort atau eksperimental, meningkatkan jumlah variabel yang secara substansi berpengaruh serta lokasi penelitian yang lebih tepat agar dapat menggambarkan kondisi lapangan yang lebih mantap.


 

The Effect of Road Traffic Noise on Psychological Health Disorders of School Children at Cipinang Muara Elementary School, Jatinegara Sub District, East Jakarta City, DKI Jakarta Province, 2005. The traffic noise is the main issue of the community who live in urban area because it may cause an adverse human health and psychological effects. The purpose of this study is to describe the effect of road traffic noise to psychological health disorders on school children of Cipinang Muara elementary school at Jatinegara Sub District, and other risk factors such as distance, length of exposure, learning periode in school, and age. This research applied a case-control study with sample population of elementary school students from grade 4 to 6. Total samples were 240 children, including 80 cases and 160 controls. Data were collected through a multistage of random sampling. Data analysis used a computer program of univariate, bivariate and multivariate. Road traffic noise data measure in the classroom using noise logging dosimeter Q-400/500. Bivariate analysis (Chis-Square) and multiple logistic regression analysis are applied in the analysis. Bivariate analysis showed that there were a significantly effect of traffic noise, distance of seat, and length of exposure towards psychological health problems. On the other side, the length of school period and age of respondents did not have any significantly effect to the psychological health problems on the elementary school students. Multivariate analysis indicated that the elementary school students exposed to traffic noise more than 61.8 dBLAeq in the school area having a risk of psychological health problem 10.9 higher than those who were exposed to traffic noise less than 61.8 dBLAeq, a long with the distance variable and the length of noice exposure. It is required to socialize and apply the regulation on noise control and its impact in a consistently manner. Also, it is necessary to conduct health promotion and integrated monitoring both with inter-sector and inter-program. At last, to ensure the presence of inferential causal temporality, it is required to conduct further study with design of cohort or experimental study. This includes the increase of variable number and location of study in order to describe the real condition.

Read More
T-2118
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive