Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Tesis ini bertujuan untuk mengestimasi angka kematain bayi dan anak secara tidak langsung dan mengevaluasi keterbatasan-keterbatasan metodologi estimasi kematian bayi dan anak secara teoritik dan empirik dan asumsi yang mendasari metode perhitungan. Metode yang dipilih dalam penghitungan angka kematian bayi dan anak adalah metode Trussell. Angka kematian bayi dan anak secara tidak langsung adalah 43 per 1000 kelahiran hidup dan 14 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2003-2007. Keterbatasan metodologi secara teoritik bahwa responden adalah wanita usia subur yang masih hidup, sehingga mengecualikan mereka yang sudah meninggal pada saat survei tidak signifikan mempengaruhi angka kematian bayi dan anak . Keterbatasan metodologi secara empirik bahwa jumlah anak yang pernah dilahirkan dan anak yang meninggal sangat tergantung pada daya ingat dari si ibu yang dapat dilihat dari rasio paritas antar kelompok tidak mengidentifikasi adanya bayi yang pernah dilahirkan tidak terlaporkan. Asumsi tingkat kematian dan fertilitas konstan selama beberapa tahun sebelum survei terpenuhi. Kata kunci : kematian bayi secara tidak langsung, estimasi.
The objectivity of this thesis is to estimate the infant and child mortality indirectly and to evaluate the methodology limitations of infant and child mortality estimation, theoretically and empirically, and also the assumptions underlying the calculations as well. The chosen method in calculating infant and child mortality was the Trussell method. Infant and child mortality indirectly rates were 43 per 1000 live births and 14 per 1000 live births in 2003-2007. Theoretically, methodological limitations was that the respondents were childbearing age women who were survive, therefore excluded those who had died during the survey did not significantly affect the infant and child mortality. The empirical methodology limitation was that the number of children ever born and children who had died was very dependent on the mother's memory which could be seen from the ratio of parity between the groups were not identifying any unreported ever born baby. The assumption of constant mortality and fertility for several years before the survey was fulfilled. Key words: infant mortality indirectly, estimates
Abstrak "Leave no one behind" adalah prinsip inti dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mencapai kesehatan yang merata dan menyeluruh. Upaya ini ditujukan untuk mengatasi kesenjangan kesehatan dan menyediakan layanan berkualitas dan terjangkau bagi semua orang, terutama mereka yang paling rentan dan terpinggirkan, termasuk dalam layanan kesehatan gigi untuk orang dengan gangguan jiwa. Komunikasi adalah kunci keberhasilan perawatan. Diagnosa dan rencana perawatan yang sesuai membutuhkan komunikasi yang baik. Orang dengan gangguan jiwa seperti depresi berat dan skizofrenia menghadapi kendala komunikasi: depresi menyebabkan respons tertunda dan penyempitan pikiran, sementara skizofrenia menyebabkan disorganisasi pikiran dan bicara. Rumah Sakit Jiwa dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor, sebagai rumah sakit rujukan terbesar di Indonesia, merawat banyak pasien dengan gangguan jiwa, termasuk depresi berat dan skizofrenia. Diperlukan keterampilan komunikasi khusus selama perawatan untuk mencapai hasil yang sukses. Penelitian ini bertujuan menemukan pendekatan terbaik dalam berkomunikasi dengan pasien depresi berat dan skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Informan terdiri dari dokter gigi, pasien dengan gangguan jiwa, dan keluarga pasien. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan analisis dokumen, kemudian dianalisis dengan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi yang efektif adalah dengan melibatkan kesabaran, empati, dan keterampilan mendengarkan aktif, sangat penting dalam keberhasilan perawatan gigi pada pasien dengan gangguan jiwa. Pengetahuan tentang kondisi psikologis pasien dan pelatihan komunikasi interpersonal bagi tenaga kesehatan juga penting untuk meningkatkan kualitas perawatan. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan kebijakan dan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi bagi tenaga kesehatan di rumah sakit jiwa guna meningkatkan efektivitas komunikasi dan hasil perawatan gigi pada pasien dengan gangguan jiwa. Kata Kunci: komunikasi, perawatan gigi dan mulut, gangguan jiwa, depresi berat, skizofrenia, fenomenologi.
Abstract "Leave no one behind" is a core principle of the World Health Organization (WHO) aimed at achieving comprehensive and equitable health. This effort seeks to address health disparities and provide quality and affordable services for everyone, particularly the most vulnerable and marginalized, including dental care services for individuals with mental disorders. Communication is key to successful treatment. Proper diagnosis and treatment planning require effective communication. Individuals with mental disorders such as severe depression and schizophrenia face communication challenges: depression leads to delayed responses and narrowed thinking, while schizophrenia causes disorganized thoughts and speech. Dr. H. Marzoeki Mahdi Mental Hospital in Bogor, the largest referral hospital in Indonesia, treats many patients with mental disorders, including severe depression and schizophrenia. Special communication skills are required during treatment to achieve successful outcomes. This study aims to identify the best approach to communicating with patients with severe depression and schizophrenia at Dr. H. Marzoeki Mahdi Mental Hospital in Bogor. The research employs a qualitative method with a phenomenological approach. Informants include dentists, patients with mental disorders, and their families. Data were collected through in-depth interviews, observation, and document analysis, then analyzed using data reduction, data presentation, and conclusion drawing techniques. The results show that effective communication, involving patience, empathy, and active listening skills, is crucial in the success of dental care for patients with mental disorders. Knowledge of the patients' psychological conditions and interpersonal communication training for healthcare providers are also important in improving the quality of care. This study recommends the development of policies and training to enhance communication skills for healthcare providers in mental hospitals to improve communication effectiveness and dental care outcomes for patients with mental disorders. Keywords: Communication, Dental Care, Mental Disorders, Severe Depression, Schizophrenia, Phenomenology.
