Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Erdwin Rakun Hasibuan; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Puput Oktamianti, Subianto, Achmad Soebagio
B-1501
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indra Yoga; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Pujiyanto, Kurnia Sari, Achmad Soebagio T., Doni Arianto
Abstrak: ABSTRAK Nama : Indra Yoga Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat Judul Tesis : Analisis Potensi Readmisi Pasien Jaminan Kesehatan Nasional Rawat Inap dengan Kode Casemix Main Group I di Rumah Sakit DKI Jakarta Tahun 2014 xviii+134 halaman, 28 tabel, 9 gambar, 1 lampiran Readmisi merupakan kriteria penting dalam sistem pelayanan kesehatan, yakni sebagai indikator kualitas layanan dan efisiensi biaya rumah sakit. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara variabel karakteristik pasien (usia dan jenis kelamin), variabel klinis (lama hari rawat dan tingkat keparahan penyakit) dan variabel rumah sakit (kepemilikan dan tipe kelas rumah sakit) yang berhubungan dengan tingkat potensi readmisi pasien JKN Rawat Inap dengan Kode CMG I di Rumah Sakit Wilayah DKI Jakarta tahun 2014. Desain penelitian yang digunakan adalah studi potong lintang. Penelitian ini menggunakan dua data sekuder, yaitu klaim pasien JKN di Rumah Sakit tahun 2014 dan sebagai tambahan menggunakan data pasien JKN di Rumah Sakit tahun 2014. Lokasi penelitian dilakukan pada seluruh Rumah Sakit yang bekerjasama dengan program JKN di wilayah DKI Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan dari 6 (enam) variabel yang diteliti hanya 4 (empat) variabel yang berhubungan signifikan yaitu variabel usia, tingkat perubahan keparahan penyakit, lama hari rawat, kepemilikan Rumah Sakit. Variabel jenis kelamin tidak berhubungan terhadap potensi readmisi. Pada variabel Usia menunjukkan koefisien negatif yang berarti bahwa semakin bertambahnya usia, potensi readmisi semakin rendah. Pada variabel lama hari rawat menunjukkan koefisien positif, berarti bahwa semakin kecil lama hari rawat, peluang potensi readmisi semakin tinggi. Pada variabel tipe kelas Rumah Sakit menunjukkan koefisien positif, berarti semakin rendah tipe kelas Rumah Sakit, peluang untuk risiko potensi readmisi semakin tinggi. Secara uji multivariat, variabel terkuat yang berhubungan dengan tingkat potensi readmisi adalah kepemilikan Rumah Sakit, dimana Kepemilikan Rumah Sakit merupakan variabel yang paling dominan berhubungan dengan potensi readmisi dengan OR = 2 dan hasil estimasi diperoleh nilai koefisien positif, artinya pasien yang berasal dari rumah sakit swasta berpeluang 2 kali berpotensi readmisi setelah dikontrol dengan variabel usia pasien, dan lama hari rawat inap. Kata kunci: Readmisi, Rumah Sakit, JKN ABSTRACT Name : Indra Yoga Study Program : Public Health Science Title : Potential Analysis Readmission National Health Insurance Patient Hospitalization with Casemix Main Group Code I in Hospitals DKI Jakarta 2014 xviii+134 pages, 28 tables, 9 pictures, 1 attachments Readmission is an important criterion in the healthcare system, which is an indicator of the quality of service and cost efficiency of the hospital. This study aims to analyze the relationship between the variables of patient characteristics (age and gender), clinical variables (length of stay and level of severity) and the variable hospitals (ownership and type of hospital class) related to the potentially readmission patients JKN Hospitalization with Code I CMG Regional Hospital in Jakarta in 2014. the design study is a cross-sectional study. This study uses data from two secondary data, which claims JKN patients in the hospital in 2014 and in addition to using Data Provider (Hospital) in 2014. The research location is on the whole hospital in cooperation with JKN program in Jakarta. The results showed than six (6) variables examined only four (4) significant variables related to the variable age, the rate of change in disease severity, length of stay, hospital ownership. Gender variable is not related to the potentially readmission. At the age variable indicates negative coefficient means that as we grow older, the lower the potentially readmission. In the variable length of stay showed a positive coefficient, meaning that the smaller the length of stay, the higher the potentially readmission. In class type Hospital variable showed a positive coefficient, meaning the lower the class type Hospital, opportunities for higher readmission potentially risks. In multivariate analysis, the variables strongest related to the level of potentially readmission is proprietary Hospital, where private Hospital is the most dominant variable related to potentially readmission with OR = 2 and the estimated values obtained positive coefficient, meaning that patients from private hospitals 2 times the chance of potentially readmission after controlling for the variables age of the patient, and long days of hospitalization. Keywords: Readmission, Hospitals, JKN
Read More
T-4836
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pipin Farida; Pembimbing: Zulazmi Mamdy, Ridwan Z.Sjaaf; Penguji: Evi Martha, Achmad Soebagio T, Farida Djufri
Abstrak:

Salah satu masalah paling pokok dalam penyelenggaraan kegiatan pelayanan kesehatan adalah yang menyangkut sumber daya tenaga. Hal ini juga berlaku dalam kegiatan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit. Rumah Sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan mempunyai sumber daya manusia yang kualitasnya sangat berperan dalam menunjang pelayanan tersebut. Sumber daya terpenting dalam rumah sakit adalah perawat, karena selain jumlahnya yang terbesar dari seluruh tenaga yang ada, mereka memberikan pelayanan 24 jam sehari selama tujuh hari dalam seminggu serta kontak yang konstan dengan pasien. Meningkatnya prevalensi gangguan jiwa akhir-akhir ini dan persentase rawat inap yang mengalami peningkatan, memerlukan pelayanan yang optimal dari RS Jiwa. Apalagi RS Jiwa Pusat Bogor sebagai pusat rujukan tertinggi dalam bidang kesehatan jiwa dituntut untuk senantiasa meningkatkan sumber daya manusianya secara terus menerus, sehingga mampu memberikan konstribusi bagi peningkatan kinerja RS Jiwa Pusat Bogor. Secara teori dijelaskan bahwa salah satu faktor yang dapat meningkatkan kinerja adalah terpenuhinya faktor kepuasan dalam pelaksanaan tugasnya. Berdasarkan hal tersebut, maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara kepuasan kerja perawat dengan kinerja menurut persepsi mereka (perawat) di RS Jiwa Pusat Bogor. Rancangan penelitian yang digunakan adalah "Cross sectional", dengan responden seluruh perawat pelaksana fungsional di ruang rawat inap sebanyak 137 orang, dari 172 orang perawat. Pengumpulan data menggunakan kuesioner yang diisi sendiri oleh responden. Analisis dilakukan dengan univariat, selanjutnya analisis bivariat dengan uji "Kai Kuadrat". Adapun analisis multivariat dilakukan dengan uji regresi logistik untuk mengetahui variabel independen yang paling berhubungan dengan variabel dependen. Hasil penelitian menunjukkan lebih sedikit responden yang mempunyai kinerja yang baik menurut persepsi mereka sendiri yaitu 35.04 % dan hasil uji bivariat diketahui variabel kepuasan kerja tidak ada yang memiliki nilai p value 0.05, berarti tidak ada variabel independen yang menunjukkan adanya hubungan bermakna secara statistik dengan persepsi kinerja, serta variabel kontrol adalah pendidikan yang memiliki nilai p value < 0.05 (0.003) mempunyai hubungan bermakna dengan persepsi kinerja. Hasil uji multivariat dengan regresi logistik menunjukkan tidak ada variabel yang berhubungan dengan persepsi kinerja. Sesuai dengan hasil penelitian ini. maka disarankan kepada pimpinan RS Jiwa Pusat Bogor untuk mengupayakan program peningkatan kinerja perawat melalui peningkatan kemampuan (ability) dan motivasi (motivation), antara lain dengan memberi kesempatan mengikuti pendidikan keperawatan baik jalur formal dan non formal, sesuai dengan perencanaan rumah sakit. Bagi peneliti lain disarankan melakukan penelitian sejenis dengan populasi yang lebih luas dan mencakup seluruh variabel kepuasan kerja dari Herzberg serta pengukuran kinerja dengan metoda lainnya, sehingga data yang diperoleh lebih akurat, reliabel dan tidak bias.


 

Relationship between Job Satisfaction and Performance Appraisal Perception of the Nurses at the Bogor Mental Hospital 2000. One of the main problems in health service is the human resources. That human resources is an important element is the success of this health services in the hospital. The most important human resources in the hospital is nurses, they give a 24 hour service a day. 7 days service a week, and they make a constant contact with the patients. The increase of mental sickness prevalence and the increase of the patients recently cause an optimum service need in a mental hospital, especially Bogor Mental Hospital is the centre of mental health referral. It this, therefore, demanded to always improve the quality of its human resources continuously. This will also give an impact on the improvement Bogor Mental Hospital performance. Theoretically, its said that one factor Co improve the performance appraisal is the fulfillment of one's satisfaction in doing jobs. The study was done to find out the relationship between nurses' job satisfaction and performance appraisal Perception in the Bogor Mental Hospital. Cross Sectional approach were used in this study. As many as 137 out of 172 functional nurses become the respondents. Questionnaires the respondents filled in were used to collect the data. The result of study shows that fewer nurses have a good performance appraisal perception 35.04 %. And bivariat analysis that there is no job satisfaction variables which has p value < 0.05. Control variable is education which has p value <0.05 (p = 0.003) has a significant correlation with a performance appraisal. Multivariat analysis shows that there no independent variables (job satisfaction) correlation with performance appraisal perception. Considering these promising results, it`s recommended that the ability and motivation improvement be continued, and to other researchers it?s suggested the same study involving a larger population which covers all job satisfaction from Herzberg and the data gained with other methods.

Read More
T-1172
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Trimartani; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Anhari Achadi, Ratna Dwi Restuti, Achmad Soebagio
Abstrak: Latar Belakang: Pusat implan koklea (IK) merupakan salah satu pelayanan unggulan Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM). Pelayanan implan koklea ini dapat dibagi menjadi 3 tahap, yaitu tahap preoperasi, tahap operasi, dan tahap postoperasi (habilitasi). Sebagai pusat IK, pelayanan tersebut belum berjalan secara maksimal serta belum memiliki tahap postoperasi yang lengkap berupa audio verbal therapy (AVT). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model kegagalan yang ada sehingga mengganggu mutu pelayanan implan koklea di RSCM dan memberikan rekomendasi terbaik agar pelayanan implantasi koklea di RSCM dapat menjadi yang terbaik dan paripurna.

Metode Penelitian: Penelitian ini dilakukan secara kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui rekam medis, observasi, dan wawancara mendalam serta focus group discussion. Penelusuran rekam medis dari pasien yang pernah menjalani implan koklea di RSCM dalam periode 3 tahun pada 2015-2017 memberikan gambaran mengenai karakteristik pasien, diagnosis, hasil pemeriksaan preoperasi, dan data operasi pasien. Selain itu, dilakukan pula observasi nonpartisipatif untuk melihat proses layanan implantasi koklea selama 3 bulan. Wawancara mendalam dan focus group discussion dilakukan untuk mencari dan mengkonfirmasi faktor kegagalan beserta masukan untuk mengatasinya. Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) yang diintegrasikan dengan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, and Threat) dapat memberikan corrective action terbaik bagi pelayanan IK di RSCM.

Hasil Penelitian: Dari penelitian ini, didapatkan bahwa sebagian besar pasien IK di RSCM berusia 1-3 tahun dan mayoritas berasal dari luar Jabodetabek. Durasi pemeriksaan konsultasi praoperasi terlama ditemukan di bagian ilmu kesehatan Anak RSCM. Focus group discussion menggunakan FMEA menemukan beberapa masalah dalam proses pelayanan IK dan merumuskan corrective action berupa pengadaan pelayanan AVT, pembuatan buku komunikasi untuk pasien, dan pengadaan case manager. Dari corrective action yang ada, telah dihitung preference score menggunakan koefisien korelasi dengan SWOT, dan didapatkan corrective action dengan nilai tertinggi adalah mengadakan pelayanan AVT di RSCM.

Kesimpulan: Alternatif corrective action yang terpilih untuk meningkatkan mutu pelayanan IK di RSCM agar menjadi paripurna adalah menyediakan pelayanan AVT di RSCM.

Kata kunci: Failure Mode and Effect Analysis, FMEA, SWOT, pelayanan implan koklea, AVT

Background: As a national referral hospital, Cipto Mangunkusumo National Center General Hospital (RSCM) provides several excellent services, one of which is cochlear implantation center. The cochlear implant service in RSCM is a complete implant cochlear service that performs integrated cochlear implant services in one hospital. The cochlear implant services were divided into three stages, pre-operative stage, operative stage, and post-operative stage (habilitation). However, this program had not run optimally due to the absence of habilitation process such as audio verbal therapy (AVT). This study aimed to analyze the failure mode that might affect the quality of the cochlear implant services in RSCM and to give the best recommendation to create the best and holistic cochlear implant services.

Methods: This research was a qualitative study using data from the medical records, observation, and in-depth interview as well as focus group discussion. Medical records searching was done in 3 consecutive years from 2015 until 2017 to provide data regarding the characteristic of patients, diagnosis, the pre-surgical examination results, and the surgery. Additionally, non-participative observation was performed to discern the process of cochlear implantation services. Indepth interview and focus group discussion was done to identify and confirm the failure mode also inputs to overcome the situation. Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) integrated with Strength, Weakness, Opportunity and Threat (SWOT) proposed the best corrective actions to improve the quality of cochlear implant services in RSCM.

Results: This study showed that most patients underwent cochlear implant surgery in RSCM were aged 1-3 years old and the large proportion of patients were from out of Jakarta and its surrounding area. The longest duration of pre-surgical examination was in the Department of Pediatric Health RSCM. Focus group discussion using FMEA had identified some problems during the process of cochlear implant services and had determined three corrective actions, which were to establish AVT in RSCM, to create a liaison book, and to provide a case manager. From these corrective actions, we counted the preference score using correlation coefficient and SWOT and we found that the corrective action with the highest score were to establish AVT in RSCM.

Conclusion: The chosen corrective action for quality improvement in Cochlear Implant Center RSCM was to conduct AVT in RSCM.

Keywords: Failure mode and effect analysis, FMEA, SWOT, cochlear implant center
Read More
B-2032
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive