Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Desi; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Yvonne Indrawani, Imam Subekti
S-6605
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Syamsu Alam; Pembimbing: Helda; Penguji: Ratna Djuwita, Kusharisupeni, Julitasari, Imam Subekti
T-3216
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Laurentius Aswin Pramono; Pembimbng: Bambang Sutrisna; Penguji: Siti Setiati, Imam Subekti, Nasrin Kodim, Asri C. Adisasmita
T-3140
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Bambang Purwanto; Pembimbing: Kresno Sudarti; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Ismoyowati, Imam, Hasbullah Thabrany
Abstrak:
Promosi kesehatan di RS mulai dikampanyekan oteh WHO sejak tabun 1997. Harapannya agar RS tidak menfokuskan pada individunya tetapi juga mengarah pada sikap untuk mecegah , mengurangi kesakitan dan meningkatkan derajat kesehatan. Sehingga RS memiliki paradigma baru yaitu rnenjadi tempat untuk menciptakan kesehatan, promotif dan preventif bukan hanya melayani orang saldt saja. Kerja sama yang baik perlu diciptakan antara petugas di ruang perawatan di RSt karena informasi yang kurang dan tidak baik tentang interaksi obat dan makanan yang diminum pasien dalam terapinya, dapat memperpanjang kesembuhan dan masa perawatan serta menimbulkan kejadian keracunan, aler,gi atau internksi obat, kurang gizi, hingga menimbulkan kematian pasien. Ini terlihat dari masih tingginya angka kejadian interaksi obat dan alergi (30,39 %) pada pasien di RRl BPD RSCM. Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan, sikap dan perilaku perawat dalam memberikan infonnasi cara minum obat (ICMO) kepada pasien di ruang rawat inap Bagian Pcnyakit Dalam (RRI BPD) RSCM Jakarta tahun 2007. Dari teori model Gibson dan diperkuat dengan teori Gillies, Hasibuan dan Siagian. maka peneliti membuat sebuah kerangka konsep peneiitian. Kerangka konsep ini akan diuji lmbungan antara variabel yang mempengaruhi perilaku perawat. Dalam penelitian ini, peneliti akan mengukur hubungan pengetahuan, sikap dan perilaku perawat dalam memberikan ICMO kepada pasien di RRI BPD P.SC:>-1 Jakarta lahun 2007. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Populaslnya adalah pcnmrat yang tedibat langsung dalam pemberian IC?-.10 pada pasien di RRI BPD. Sampel adalah perawat yang bekerja d1 RRl BPD d!pilih secara acak mewakili petugas di RRI BPD. Penentuan jumlah responden ditetapkan secara acak atau sample random sampling. Karena 2 proporsi petugas yang memberikan dan yang tidak memberikan infonnasi minum obat maka jumlah seluruh sampel adalah sebanyak I 16 perawat. Dari analisis multivariat regresi logistik ganda di dapatkan model terakhir pada penelitian ini adalah : variabel Pengetahuan (p value 0~558; 95 % CI 0~536- 3,171, OR: 1,304), Sikap (p value 0,137; 95% Cl 0,194- 1,253, OR: 0,493) dengan dikontrol variabel konfonding : Pendidikan (p value 0,005; 95 % CI 0,113 -0,683,0R: 0,277) dan Sanksi (pvalue0,003; 95 %CI1,617- 9,770, OR : 3,974). Artinya bahwa responden yang memiliki sanksi yang ketat dl RR1 BPD RSCM mempunyai peluang 4 kali untuk memberikan ICMO kepada pasien dibandingkan dengan responden yang memiliki sanksi longgar. Kesimpulan adalah : Perawat yang memberikan lCMO sebanyak 32,8 %, tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan periiaku perawat dalam pemberian ICMO. Tidak ada hubungan antara sikap dengan perilaku perawat dalam pemberian ICMO, Tidak ada hubungan antara pengetahuan dan sikap, Hasil analisa uji multivariat regresi logistik ganda menunjukkan bahwa model terakhir dari penelitian ini adalah pengetahaun dan sikap perawat dikontrol dengan variabel pendidikan dan sanksi dapat mempengaruhi pemberian ICMO. Artinya pengetahuan dan sikap perawat yang dikontrol dengan sanksi yang ketat di RRl BPD RSCM mempunyai peluang 4 kali untuk memberikan ICMO kepada pasien dibandingkan dengan responden yang memiliki sanksi longgar. Saran : sebaiknya pengetahuan perawat tentang penyebab, tanda-tanda bahaya yang ditimbulkan dan cara pencegahan keracunan atau aJergi obat perlu ditingkatkan, agar kejadian keracunan atau alergi oba.t di RR1 BPD dapat dihindari atau dapat diminimalisasi. Peningkatan pengetahuan ini bisa disampaikan pada saat pergantian shift kerja, saat ronde dengan dokter~pertemuan mingguan dengan kepala ruangan dan manajer atau menyelenggarakan workshop. Sebaiknya perawat diberikan kesempatan untuk melihat atau mengunjungi RS lain yang telab memiliki program promosi kesehatan khususnya tentang ICMO. Sebaiknya pibak manajemen RSCM memasang spanduk atau poster di ruang praktek dokter, apotek, ruang tunggu pasien, loket pendaftaran, RRl dan di lingkungan RS yang mudah lihat pasien dan keluarganya. Sebaiknya petugas medis dan keperawatan yang tidak sempat memberikan ICMO kepada pasien dan keluarganya dapat memberikan selebaran atau flyer. Akan baik lagi kalau manajemen RSCM menyediakan ruang khusus untuk mendapatkan ICMO atau konsultasi ten tang obat di setiap RRI RSCM.
Read More
T-2601
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hasnawati Amqam; Promotor: Umar Fahmi Achmadi; Kopromotor: Budi Haryanto, Irawan Yusuf; Penguji: Kusharisupeni Djokosujono, Imam Subekti, Asep Nugraha Ardiwinata, Indang Trihandini, Dewi Susanna
Abstrak:
ABSTRAK Penggunaan jangka panjang insektisida klorpirifos (CPF) akan menimbulkan efek pada Thyroid Stimulating Hormone (TSH) dan hormon-hormon tiroid (triidiotironin/T3 dan tirotoksin/T4). Studi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh insektisida CPF terhadap kadar TSH dan hormon-hormon tiroid pada petani sayur dari tinjauan aspek genetik populasi. Studi ini dilakukan dengan desain potong lintang. Terdapat 273 petani sayur yang menjadi subjek, yang diambil pada tiga populasi suku, yaitu Jawa, Sunda, dan Makassar. Terdapat variasi genetik paraoxonase 1 (PON1) pada ketiga populasi dan alel Q banyak ditemukan pada semua populasi. PON1 dapat menjadi prediktor terjadinya gangguan pada kadar hormon-hormon tiroid dan TSH. TCP sebagai metabolit CPF merupakan biomarker kemampuan metabolisme individu terhadap CPF. Pada masyarakat petani yang terpajan klorpirifos, TCP urin yang tidak terdeteksi berperan dalam terjadinya kadar FT3 rendah dan kadar TCP urin yang rendah berperan dalam terjadinya kadar FT4 tertil rendah dan kadar TSH tinggi. Efek CPF terhadap ketiga hormon ini diduga terjadi melalui mekanisme terganggunya sistem neurotransmitter dan proses deyodinasi pada perifer dan hati.
ABSTRACT Long-term use of chlorpyrifos (CPF) insecticide will affects Stimulating Thyroid Hormone (TSH) and thyroid hormones (triidiotironin/T3 and tirotoksin/ T4). This study aimed to assess the effect of insecticide CPF on levels of TSH and thyroid hormones of the vegetable farmers as the reviews of population genetic aspects. This study was conducted with a cross-sectional design. There were 273 vegetable farmers as subjects, taken in three population, namely Java, Sunda, and Makassar. There was genetic variation of paraoxonase 1 (PON1) in a population of in the three populations and Q alleles found in all populations. PON1 may be a predictor of causing interference to the levels of thyroid hormones and TSH. TCP as CPF metabolite was a biomarker of individual metabolic capabilities toward CPF. In exposed CPF farming communities, undetected TCP urine played a role in occurrence of low FT3 levels while low levels of TCP urine play a role for lower tertile FT4 level and high TSH level. CPF effect to the hormones possiblyoccured through the mechanism of disruption of neurotransmitter system and deiodinase process in peripheral and liver
Read More
D-348
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Laurentius Aswin Pramono; Promotor: Nurhayati Adnan; Kopromotor: Imam Subekti, Hamzah Shatri; Penguji: L. Meily Kurniawidjaja, Ratna Djuwita, Sabarinah, Felicia Kurniawan
Abstrak:
Read More
Pendahuluan Kanker tiroid seringkali disalahpahami sebagai kanker yang baik karena kesintasannya yang panjang. Oleh karena itu, pasien kanker tiroid jarang mendapat perhatian dan penilaian kualitas hidup dan kebutuhan perawatan paliatif. Tujuan Penelitian ini bertujuan mengetahui kualitas hidup dan kebutuhan perawatan paliatif pada pasien kanker tiroid pasca-operasi dan faktor-faktor yang berhubungan. Metode Penelitian ini merupakan studi potong lintang dengan metode campuran (kualitatif dan kuantitatif) di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan Rumah Sakit St Carolus terhadap 204 subjek kanker tiroid. Dilakukan wawancara menggunakan kuesioner ThyCaQoL (Thyroid Cancer Quality of Life), PNPC (Problems and Needs for Palliative Care), and SPICT (Supportive and Palliative Care Indicator Tools). Selanjutnya, dilakukan wawancara mendalam terhadap 10 subjek terpilih untuk mengeksplorasi kualitas hidup dan kebutuhan perawatan paliatif. Analisis data menggunakan statistik deskriptif, uji kai kuadrat, regresi logistik, dan regresi poisson. Hasil Sebanyak 67 dari 204 subjek (32,8%) mengalami penurunan kualitas hidup, dengan disfonia menetap sebagai faktor yang berhubungan. Durasi penyakit > 5 tahun memiliki kecenderungan kualitas hidup yang lebih baik. Sebanyak 24 dari 204 subjek (11,8%) memiliki kebutuhan perawatan paliatif. Kanker stadium IV, keluhan luka bekas operasi, refrakter radioablasi, dan penggunaan terapi target sebagai faktor-faktor yang berhubungan dengan kebutuhan perawatan paliatif. Kebutuhan perawatan paliatif berhubungan dengan kualitas hidup yang buruk. Kesimpulan Penelitian ini menemukan 1 dari 3 pasien kanker tiroid mengalami penurunan kualitas hidup dan 1 dari 8 pasien kanker tiroid memiliki kebutuhan perawatan paliatif. Identifikasi dan model prediksi membantu klinisi memprioritaskan pasien yang dikonsultasikan untuk mendapatkan perawatan paliatif yang adekuat.
Introduction Thyroid cancer is often mislead as the “good cancer” since its overall survival rate is relatively high. Therefore, thyroid cancer patients are rarely evaluated for quality of life and the need for palliative care. Objective The aim of the study is to assess the quality of life and need for palliative care in post-operative thyroid cancer patients and its related factors. Methods A cross-sectional study was conducted at Cipto Mangunkusumo Hospital and St Carolus Hospital Jakarta which interviewed 204 thyroid cancer patients with ThyCaQoL (Thyroid Cancer Quality of Life), PNPC (Problems and Needs for Palliative Care), and SPICT (Supportive and Palliative Care Indicator Tools) Questionnaires, from whom we also perform in-depth interview to 10 patients to explore the quality of life and need for palliative care. Descriptive statistics, chi square, logistic regression, and poisson regression were conducted to analyze the data. Results About 67 from 204 subjects (32.8%) experience decrease quality of life with permanent dysphonia as related factors. Disease duration of more than 5 years has better quality of life. About 24 from 204 subjects (11.8%) have need for palliative care with stage IV cancer, surgical scar complain, radio-iodine refractory, and targeted therapy with tyrosine kinase inhibitor as related factors. Need for palliative care associated with quality of life. Conclusion This study obtain 1 out of 3 thyroid cancer patients experience decrease quality of life and 1 out of 8 thyroid cancer patients have need for palliative care. Identification and prediction model can help clinicians to prioritize which patients need approach for adequate palliative care.
D-532
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
