Ditemukan 4 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Gilang Anugerah Munggaran; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Laila Fitria, Zakianis, Arif Sumantri
Abstrak:
Polusi udara di DKI Jakarta meningkat setiap tahun bahkan berkontribusi besar terhadap kejadian pneumonia balita. Kasus pneumonia balita di DKI Jakarta 2018 mencapai 42.305 dengan cakupan penemuan 95,53% kasus. Maka, sangat penting untuk memahami dan memeriksa faktor-faktor yang mempengaruhi pencemaran udara ambien (PM10, SO2, CO, O3, dan NO2) dengan kejadian pneumonia balita pada tiga tahun sebelum dan setahun saat pandemic COVID 19 ang dimulai tahun 2017 sampai 2020 di Provinsi DKI Jakarta. Desain penelitian ini menggunakan analisis time-trend ecologic study dan analisis keeratan hubungan menggunakan uji korelasi spearman (non parametrik). Data Indeks Standar Pencemaran Udara dikumpulkan dengan cara menghitung rata-rata bulanan dan data pneumonia berdasarkan data bulanan insidens pneumonia balita emuan ini mendukung alasan bahwa membatasi konsentrasi PM10 dan CO lebih lanjut di Jakarta merupakan strategi yang efektif untuk mengurangi insidens pneumonia balita. Penelitian ini memanggil penelitian lanjutan dengan metode cross sectional/ kasus kontrol mengenai pencemaran udara bebas dengan pneumonia balita yang dielaborasi dengan pandemi COVID 19
Read More
T-6207
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dewi Nuraini; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Amila Megraini, Ede Surya Darmawan, Tugiman Atmasumarta, Arif Sumantri
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fadilah Habibul Hamda; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Laila Fitria, Ririn Arminsih Wulandari, Arif Sumantri, Dede Anwar Musadad
Abstrak:
Read More
Dengue, salah satu penyakit dengan penularan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti betina yang terinfeksi, biasanya terdapat di daerah dengan iklim tropik dan subtropik. Kota Padang merupakan daerah yang endemis terhadap penyakit dengue dengan faktor iklim yang memadai dan hampir semua daerah mengalami kasus dengue. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan ABJ dan faktor iklim (suhu udara, kelembaban, curah hujan), ketinggian wilayah dan kepadatan penduduk dengan kejadian dengue di Kota Padang tahun 2022-2024. Desain penelitian ini adalah observational dengan studi ekologi, menggunakan data sekunder yang bersumber dari Dinas Kesehatan Kota Padang, Stasiun BMKG Kelas II Maritim Teluk Bayur dan Stasiun BMKG Bandara Internasional Minangkabau (BIM), serta BPS Kota Padang dan BIG yang terdiri dari data dengue, ABJ, iklim (suhu, kelembaban, curah hujan) ketinggian wilayah dan kepadatan penduduk dari Januari 2022-Desember 2024. Analisis data menggunakan uji statistik univariat, bivariat, multivariat, dan spasial untuk menggambarkan distribusi serta tingkat kerawanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ABJ dan suhu kumulatif pada time lag 0, time lag 1 dan time lag 2 tahun 2022-2024 serta kelembaban kumulatif pada time lag 1 dan time lag 2 tahun 2022-2024 memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian dengue. Sementara itu untuk tingkat kerawanan hampir semua kecamatan dari tahun 2022 sampai 2024 mengalami peningkatan tingkat kerawanan dari yang rendah, sedang menuju tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa Kota Padang memang menjadi daerah dengan endemik untuk kasus dengue sehingga perlu upaya yang konsisten dan berkelanjutan dalam menyikapi pencegahan dan pengendalian dengue.
Dengue, a disease that is transmitted to humans through the bite of an infected female Aedes aegypti mosquito, is usually found in areas with tropical and subtropical climates. Padang City is an area that is endemic to dengue disease with adequate climatic factors and almost all areas experience dengue cases. This study aims to analyze the relationship between larvae free rate and climatic factors (air temperature, humidity, rainfall), regional altitude and population density with dengue incidence in Padang City in 2022-2024. The design of this study is observational with ecological studies, using secondary data sourced from the Padang City Health Office, Teluk Bayur Maritime Class II BMKG Station and Minangkabau International Airport (BIM) BMKG Station, as well as Padang City BPS and BIG which consist of dengue, larvae free rate, climate (temperature, humidity, rainfall) area altitude and population density from January 2022-December 2024. Data analysis used univariate, bivariate, multivariate, and spatial statistical tests to describe the distribution and level of vulnerability. The results showed that larvae free rate and cumulative temperature at time lag 0, time lag 1 and time lag 2 in 2022-2024 as well as cumulative humidity in time lag 1 and time lag 2 in 2022-2024 had a significant relationship with dengue incidence. Meanwhile, for the level of vulnerability, almost all sub-districts from 2022 to 2024 have experienced an increase in the level of vulnerability from low, moderate to high. This shows that Padang City is indeed an endemic area for dengue cases, so consistent and continuous efforts are needed in responding to dengue prevention and control.
T-7280
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Soraya Permata Sujana; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Budi Hartono, Ririn Arminsih Wulandari, Arif Sumantri, Hermawan Saputra
Abstrak:
Read More
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, terutama di Jawa Barat. Kabupaten Bogor, Kota Bandung, dan Kota Bekasi merupakan tiga wilayah dengan jumlah kasus TB tertinggi di provinsi tersebut. Faktor lingkungan (kepadatan penduduk, ketinggian wilayah, dan cakupan rumah sehat) diduga berperan dalam meningkatkan kejadian TB. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian TB dan korelasi faktor lingkungan terhadap kejadian TB, serta menganalisis sebarannya secara spasial untuk mengidentifikasi wilayah risiko tinggi untuk diintervensi. Penelitian ini merupakan studi ekologi menggunakan data sekunder tahun 2022–2024 dari Dinas Kesehatan, BPS, dan BIG. Analisis dilakukan secara deskriptif, korelasi, pemetaan spasial, dan kerawanan menggunakan aplikasi SPSS dan QGIS. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan tren kejadian TB di ketiga wilayah. Terdapat korelasi antara kepadatan penduduk dan cakupan rumah sehat terhadap kejadian TB di Kabupaten Bogor dan Kota Bandung, namun tidak di Kota Bekasi. Ketinggian wilayah tidak menunjukkan hubungan dengan kejadian TB diketiga wilayah. Sebaran faktor lingkungan terhadap kejadian TB menunjukkan adanya variasi antarwilayah. Pemetaan secara spasial mengidentifikasi Kota Bandung sebagai wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi. Intervensi pengendalian TB berbasis wilayah diperlukan dan difokuskan pada daerah dengan kepadatan dan kerawanan tinggi. Diharapkan surveilans epidemiologi aktif (active case finding) terus dilakukan, mengembangkan sistem informasi TB spasial secara real-time yang terintegrasi dengan data surveilans aktif, menjalin kerjasama lintas sektor, mengevaluasi standar penilaian rumah sehat, mendorong regulasi daerah terkait TB, serta meningkatkan partisipasi masyarakat untuk pengendalian TB, terutama di wilayah padat penduduk dan berisiko tinggi.
Tuberculosis (TB) is an infectious disease that remains a significant public health problem in Indonesia, particularly in West Java. Bogor Regency, Bandung City, and Bekasi City are among the regions with the highest number of TB cases in the province. Environmental factors such as population density, altitude, and healthy housing coverage, are suspected to contribute to the incidence of TB. This study aims to describe the incidence of TB, examine the correlation between environmental factors and TB cases, and analyze the spatial distribution to identify high-risk areas for targeted intervention. This ecological study used secondary data from 2022 to 2024 obtained from the Health Office, Statistics Indonesia (BPS), and the Geospatial Information Agency (BIG). Analyses were conducted using descriptive statistics, correlation tests, spatial mapping, and vulnerability assessment through SPSS and QGIS applications. The results showed an increasing trend in TB cases across all three regions. A significant correlation was found between population density and healthy housing coverage with TB incidence in Bogor and Bandung, but not in Bekasi. Altitude was not associated with TB incidence in any of the regions. The spatial distribution revealed variations in environmental factors related to TB incidence between regions. Bandung City was identified as having the highest level of TB vulnerability. Area-based TB control interventions are therefore necessary, particularly in densely populated and high-risk areas. It is recommended to strengthen active epidemiological surveillance (active case finding), develop a real-time spatial TB information system integrated with surveillance data, establish cross-sectoral collaboration, evaluate the standards for healthy housing assessment, promote local regulations related to TB control, and enhance community participation in TB prevention, especially in densely populated and high-risk areas.
Tuberculosis (TB) is an infectious disease that remains a significant public health problem in Indonesia, particularly in West Java. Bogor Regency, Bandung City, and Bekasi City are among the regions with the highest number of TB cases in the province. Environmental factors such as population density, altitude, and healthy housing coverage, are suspected to contribute to the incidence of TB. This study aims to describe the incidence of TB, examine the correlation between environmental factors and TB cases, and analyze the spatial distribution to identify high-risk areas for targeted intervention. This ecological study used secondary data from 2022 to 2024 obtained from the Health Office, Statistics Indonesia (BPS), and the Geospatial Information Agency (BIG). Analyses were conducted using descriptive statistics, correlation tests, spatial mapping, and vulnerability assessment through SPSS and QGIS applications. The results showed an increasing trend in TB cases across all three regions. A significant correlation was found between population density and healthy housing coverage with TB incidence in Bogor and Bandung, but not in Bekasi. Altitude was not associated with TB incidence in any of the regions. The spatial distribution revealed variations in environmental factors related to TB incidence between regions. Bandung City was identified as having the highest level of TB vulnerability. Area-based TB control interventions are therefore necessary, particularly in densely populated and high-risk areas. It is recommended to strengthen active epidemiological surveillance (active case finding), develop a real-time spatial TB information system integrated with surveillance data, establish cross-sectoral collaboration, evaluate the standards for healthy housing assessment, promote local regulations related to TB control, and enhance community participation in TB prevention, especially in densely populated and high-risk areas.
T-7396
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
