Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 6 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nadhira Kannitha Putri; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Syahrizal Syarief, Retno Kusuma Dewi
Abstrak: Penelitian ini melihat hasil pengobatan pasien TB RO serta faktor faktor yang berhubungan dengan hasil pengobatan TB RO di Indonesia pada tahun 2017 sampai 2019 dengan menggunakan desain cross sectional. Menggunakan data pasien dari e-TB Manager berumur ≥15 tahun yang telah menyelesaikan pengobatannya tahun 2017-2019. Terdapat 3822 kasus dengan sembuh sebanyak 35,5%, pengobatan lengkap sebanyak 4,7%, putus berobat sebanyak 32,8%, meninggal sebanyak 17,7%, gagal sebanyak 6,9%, perubahan diagnosis 1,2%, dan lainnya 8%. Jenis kelamin, riwayat pengobatan sebelumnya, aksesibilitas geografis ke fasilitas pelayanan kesehatan secara statitsik tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan hasil pengobatan. Faktor yang berhubungan dengan hasil pengobatan TB RO adalah usia (PR 1,328; 95% CI 1,773 - 2,332), pasien XDR (PR 1,353; 95% 1,225-1,494), pasien pre XDR (PR 1,234; 95% CI 1,145-1,330) pasien MDR (PR 0,869; 95% CI 0,8110,930), dan interval inisiasi pengobatan >7 hari (PR 1,069; 95% CI 1,002-1,140).
Read More
S-10788
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meliana Zailani; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Syahrizal Syarief; Amal C. Sjaaf; Bambang Sutrisna; dkk.
Abstrak:
ABSTRAK
 
BOR yang rendah, biaya satuan rawat inap yang makin meningkat serta rasio tempat tidur per penduduk yang masih rendah, merupakan hal yang mendasari perlunya perbaikan mutu admisi rumah sakit. Penelitian potong lintang digunakan untuk mengetahui besaran masalah ketidaktepatan admisi. Sebagai instrumen pengukuran ketepatan admisi digunakan Protokol Evaluasi Ketepatan Admisi yang mengacu pada Evaluation Appropriateness Protocol for Appropriateness Admission. Rancangan penelitian kasus kontrol dipilih unluk melihat faktor penyebab dan peranannya.
 
 
Tujuan
 
Mengetahui besaran masalah ketidaktepatan admisi dan faktor penyebabnya, serta mengembangkan model diagnostik prakiraan ketidaktepatan admisi.
 
 
Metodologi dan Cara Penelitian
 
Penelitian dilakukan di ruang rawat inap bagian Ilmu Penyakit Dalam dan Bedah RSCM bulan Nopember 2000 sampai dengan Mei 2001.Uji validasi dan reliabilitas dilakukan pada tahap persiapan. Besar sampel penelitian potong lintang 323. Besar sampel penelitian kasus kontrol dengan sampel 570, 190 kasus dan 380 kontrol. Sampel diambil secara acak dari populasi penelitian yang terpilih.
 
 
Hasil penelitian
 
Uji validasi menghasilkan sensitivitas 87,5%,spesifisitas 66,6%, LR 2,65
 
Rasio ketidaktepatan admisi di RSCM 31, 6%
 
Variabel yang berperan terhadap ketidaktepatan admisi, variabel Rujukan (OR 7,564; CI95% 3,781; 15, 131) dari Faktor rujukan, variabel Jaminan pihak ketiga dari Faktor Jaminan Pihak ketiga (OR 4,089; CI95%2, 193-7, 625); variabel perencanaan pemeriksaan atau tindakan medis (OR 3,26; CI 95% 1,194; 8,897)dan variabel pelaksanaan asuhan keperawatan (OR 2,309; CI95% 1,481-3,599) dari faktor Pelayanan Provider; variabel Waktu admisi dari Faktor sikap pasien.(ORO, 115,CI 95% 0,072;0,814 )Variabel Kelengkapan pemeriksaan medis (or 1,475 95%Cl 0,949; 2,291) dari Ketersediaan Geografis(OR 3,405; 95%CI 0,895; 12,949) meskipun perannya secara statistik tidak bermakna, tetap diikutkan dalam permodelan dengan pertimbangan dibutuhkan secara teori dan kenyataan.
 
 
Permodelan logistik regresi yang dihasillkan dikembangkan dengan pembobotan dan skoring faktor, untuk memperoleh model diagnostik yang lebih mudah dalam penentuan probabilitas ketidaktepatan admisi.
 
 
Ketidaktepatan admisi dipengaruhi oleh faktor rujukan, faktor pelayanan provider, faktor pola pembiayaan dan faktor sikap pasien.
 

ABSTRACT
 
The low rate of HOR and the increasing of inpatient unit cost and the tow rate of heal/population become the basic reasons for improving the quality of hospital admission. Admission research has to he performed for quality improvement. By means epidemiological approach a cross-sectional design was used to determine inappropriate admission and case-control study to reveal risk factor and its consequences.
 
 
The Aim of Study
 
The general aim of this study is to obtain information on the rate of inappropriate admission problem in RSCM and the influencing factors and to search out o model tier predicting diagnostics of inappropriate admission
 
 
Method
 
Population taken for research was the inpatients in inpatient installation A and B of RSCM from December 2001 to May 2002. Research performed in two stages i.e.
 
Preliminary study was taken to ensure the validation and reliability instrumentation research stages, which consist of two sub stages i.e.:
 
Cross-sectional study in search of the proportion of admission inappropriateness according to the Appropriateness Admission Evaluation Protocol, and
 
Case-control study to test the hypotheses
 
 
Samples for arts, sectional study were 323 patients and 570 were taken as samples to ease control study. where 190 patient were for case study and 3817 were taken as control.
 
 
Result and Discussion
 
Sensitivity and specificity were ST.5 and 66.6 percents
 
Kappa coefficient was 0,56 - 0.74 percents so that it was concluded that there was a good agreement.
 
Cross-sectional study indicated that inappropriate admission (proportion) was 31.6 percents.
 
Multivariate analysis results revealed that a model designed from independent and dependent variables can he constructed with inferences such as:
 
Referral Factors:
 
Patients without referral has a risk of 7.6 higher than patients with referral
 
Provider Factors:
 
Imperfect medical examination planning or medical procedure scheduling has o risk of admission inappropriateness 3.3 higher than proper medical arrangement Patient's Perception Factors:
 
Patients admitted with perception of emergency have a risk of admission inappropriateness -115 lower than patient with out emergency admission
 
Payment Scheme Factors:
 
Patient covered by the insurance company has o risk of admission inappropriateness of 4.1 higher than patients paying with other payment scheme.
 
 
Inappropriate admission s influenced by several factor, service provider's factor, payment scheme factor and patient's perception factor.
Read More
D-90
Depok : FKM UI, 2004
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Achmad Kustijadi; Pembimbing: Soedarto Ronoatmodjo; Penguji: Lukman Hakim Tarigan, Syahrizal Syarief, Kosim syarief, Uus Sukmara
Abstrak:
Telah dilakukan penelitian Hubungan Pelayanan Antenatal dengan kejadian Kematian Perinatal di Kabupaten Bandung tahun 200l, dengan tujuan untuk mengetahui besamya hubungan pelayanan antenatal dengan kematian perinatal menggunakan rasio oddv bagi bayi yang dilahirkan oleh ibu yang memperoleh pelayanan antenatal tidak adekuat dibanding dengan bayi dari ibu yang memperoleh pelayanan antenatal adekuat. Rancangan penelitian adalah kasus kontrol tanpa matching dengan jumlah sampel seluruhnya 288 responden yang terdlri 144 kasus dan I44 kontrol. Kasus adalah bayi yang meninggal pada periode perinatal yang diketahui melalui laporan audit matemal perinata. Sedangkan kontrol adalah bayi lahir hidup dan tidak mati pada periode perinatal tlnggal diwilayah yang sama dengan kasus. Data diolah dengan analisa statistik univariat, bivariat, dan analisa multivariat menggtulakan negresi logistik. Perangkat lunak yang digunakan adalah program Epi Info versi 6, SPSS versi 10. Penelitian menunjukkan bahwa hasil pada model akhir diketahui ibu yang memperoleh pelayanan antenatal tidak adekuat mempunyai risiko 4,37 kali untuk terjadinya kematian perinatal dibandingkan dengan ibu yang memperoleh pelayanan antenatal yang adekuat setelah dikontrol oleh variabel kontrol serta uji interaksi variabel pelayanan antenatal dan variabel paritas dan secara statistik bermakna p=0,000 (95 % Cl ; 2,594 - 7,784}. Faktor risiko lain yang berhubungan dengan kejadian kematian perinatal pada penelitian ini adalah : paritas dan komplikasi kehamilan. Berdasarkan hal tersebut diatas pelayanan antenatal yang adekuat semakin perlu diupayakan sehingga berdampak terhadap penurunan kematian bayi pada umumnya dan kematian perinatal khususnya. Sedangkan operasional pelayanan kesehatan mengacu kepada Standar Operasional Prosedur (SOP) pelayanan antenatal kesehatan dasar yang sudah ditetapkan oleh Departeman Kesehatan yaitu bahwa pemeriksaan antenatal untuk ibu hatnil setiap kali kunjungan harus lengkap dengan 5 T dan Rekuensi kunjungan ke sarana pelayanan kesehatan lebih dari 4 kali selama kehamilannya.

Threre is research about the relationship between Antenatal Care and Perinatal Mortality in Bandung District in Year 2001, with purpose to investigate measurement the relationship between Antenatal Care and Perinatal Mortality using Odds Ratio for bom babies from pregnant women who get inadequate antenatal care compare to bom babies from pregnant wo men who get antenatal care adequately. Design of the study is case-control without matching with respondents were 288 people which consist of 144 cases and controls. Case were infant who died during perinatal period which have been known from the matemal perinatal audit report. And control were infant who were free of death in live perinatal period who in the same area where the cases happened. Statistical analysis used in this study was univariate, bivariate and multivariate using unconditional logistic regression.. Computer software which were used are Epi info version 6 and SPSS version 10. This research indicated that result of final model has known that pregnant women who get inadequate antenatal care was 4,37 times higher to loss their babies than those who get adequate antenatal care after controlled with control variable and variable interaction test, in statistically it is significant (p = 0,000 (95 % Cl : 2,594 - 1784). Other relations risk factors to perinatal mortality in this research are : paritas, and pregnant complication. Based to the above mentioned facts, the adequate antenatal care is more needed. As the result this effort will decrease generally the death of new bom babies and especially the death during perinatal. Meanwhile the operational care must be referred to standard operating procedure (SOP) which decreed by the ministry of health that is : The antenatal care for the pregnant women must fulfill the ?5T? thoroughly in every visit and at least makes 4 or more visits during her pregnancy.
Read More
T-1336
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ike Silvian; Promotor: Nuning MK. Masjkuri; Kopromotor: Nurhayati A. Prihartono; Penguji: Sudijanto Kamso, Sabarinah B. Prasetyo, Syahrizal Syarief, Agus Suwandono, Bachti Alisjahbana
D-306
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Djap Hadi Susanto; Promotor: Bambang Sutrisna; Kopromotor: Prastuti Soewondo, Kris Herawan Timotius; Penguji: Ratna Djuwita, Syahrizal Syarief, Trihono, Yanto Sandy Tjang
D-376
Depok : FKM-UI, 2018
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Forman Novrindo Sidjabat; Promotor: Nurhayati Adnan; Kopromotor: Rita Damayanti, Syahrizal Syarif; Penguji: Besral, Mondastri Korib Sudaryo, Fidiansjah, Evi Sukmaningrum
Abstrak:
Latar Belakang: Tren insiden HIV di Indonesia menunjukkan penurunan, namun terjadi peningkatan kematian akibat HIV. Kelompok kunci lelaki seks dengan lelaki (LSL) memiliki prevalensi tertinggi terhadap HIV di Indonesia. Upaya meningkatkan keterlibatan pada pengobatan ARV dilakukan melalui strategi test and treat, namun masih didapatkan ketidakpatuhan yang menghambat capaian target 95-95-95. Hal ini disebabkan oleh kompleksitas faktor sosiodemografi, faktor tekanan psikologis, faktor sosial dan gaya hidup. Penelitian ini memberikan fokus pada intention sebagai faktor kunci yang menentukan kepatuhan pengobatan ARV dan mempertimbangkan berbagai faktor latar belakang yang memengaruhinya. Tujuan: Mengembangkan model prediktif determinan kepatuhan pengobatan antiretroviral lelaki seks dengan lelaki dengan HIV/AIDS di Kota Kediri. Metode: Metode potong lintang yang dilakukan di Kota Kediri dengan jumlah sampel sebanyak 314 selama bulan Maret-April 2024 melalui penjaringan di penyedia layanan pengobatan dan konseling antiretroviral dan Komunitas Dukungan Sebaya Friendship Plus. Dengan kriteria sampel pernah mendapatkan pengobatan ARV di Kota Kediri setidaknya satu bulan sebelum penelitian berlangsung, dan LSL dengan diagnosis AIDS stadium 3 tidak dijadikan sampel. Data dianalisis menggunakan analisis partial least square structural equation modelling (PLS-SEM). Hasil: Model prediktif yang dikembangkan mampu memprediksi dan menjelaskan terbantuknya kepatuhan pengobatan ARV pada kelompok LSL sebesar 77%. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor dukungan sosial (keluarga, sebaya, dan tenaga kesehatan) yang secara simultan berhubungan dengan kepatuhan pengobatan ARV melalui pembentukan intention. Kesimpulan: Keberhasilan kepatuhan pengobatan ARV pada kelompok LSL berhubungan dengan intention yang terbentuk karena adanya sikap, norma, dan kemampuan melakukan pengobatan melalui penguatan dukungan sosial. Diperlukan upaya penguatan peran dukungan sebaya/komunitas untuk mampu menstimulus intention melalui praktik pelibatan, penanganan tekanan psikologis, edukasi dan advokasi.

Background: The trend of HIV incidence in Indonesia shows a decline, but there is an increase in deaths due to HIV. The key group of men who have sex with men (MSM) has the highest prevalence of HIV in Indonesia. Efforts to increase involvement in ARV treatment are carried out through the test and treat strategy, but there is still non-compliance that hinders the achievement of the 95-95-95 target. This is due to the complexity of sociodemographic factors, psychological stress factors, social factors and lifestyle. This study focuses on intention as a key factor determining the availability of ARV treatment and considers various background factors that influence it. Objective: to disseminate a predictive model of determinants of adherence to antiretroviral treatment for men who have sex with men with HIV/AIDS in Kediri City. Methods: A cross-sectional method was carried out in Kediri City with a sample size of 314 during March-April 2024 through screening at antiretroviral treatment and counseling service providers and the Friendship Plus Peer Support Community. With the criteria for samples who had received ARV treatment in Kediri City at least one month before the study took place, and MSM with a diagnosis of stage 3 AIDS were not sampled. Data were analyzed using partial least squares structural equation model (PLS-SEM) analysis. Results: The developed predictive model was able to predict and explain the formation of ARV treatment adherence in the MSM group by 77%. The results of the analysis showed that social support factors (family, peers, and health workers) were simultaneously related to the fulfillment of ARV treatment through the formation of intentions. Conclusion: The success of the fulfillment of ARV treatment in the MSM group was related to the intention formed due to attitudes, norms, and the ability to carry out treatment through strengthening social support. Efforts to strengthen peer/community support are needed to be able to stimulate intentions through the practice of involvement, handling psychological stress, education and advocacy.
Read More
D-617
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive