Abstrak:
Berat badan lahir rendah (BBLR) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena berhubungan dengan peningkatan risiko kematian neonatal dan gangguan pertumbuhan anak. Kejadian BBLR juga menunjukkan variasi antarprovinsi yang kemungkinan dipengaruhi oleh faktor individu dan konteks wilayah. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan faktor individu dan faktor tingkat provinsi dengan kejadian BBLR serta menilai variasi kejadian BBLR antarprovinsi di Indonesia tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan data sekunder Survei Status Gizi Indonesia tahun 2024 yang digabungkan dengan data Profil Kesehatan Indonesia tahun 2024 dan publikasi Badan Pusat Statistik tahun 2025. Sampel penelitian terdiri atas 26.483 kelahiran hidup dalam satu tahun terakhir dari 32 provinsi di Indonesia. Analisis dilakukan menggunakan regresi logistik multilevel dengan individu sebagai level pertama dan provinsi sebagai level kedua. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi BBLR sebesar 6,38%. Pada tingkat individu, usia ibu, paritas, jarak kehamilan kurang dari dua tahun, ANC yang tidak sesuai rekomendasi, risiko kekurangan energi kronis, pre-eklampsia, status ekonomi kuintil terbawah, dan konsumsi MMS berhubungan signifikan dengan kejadian BBLR. Pre-eklampsia merupakan faktor yang paling kuat berhubungan dengan kejadian BBLR. Pada tingkat provinsi, kepadatan penduduk, cakupan ANC K6, cakupan TTD, rasio bidan, radius puskesmas, dan wilayah tempat tinggal tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kejadian BBLR. Nilai ICC menurun dari 2,37% pada model awal menjadi 1,92% pada model akhir, yang menunjukkan adanya variasi kejadian BBLR antarprovinsi, meskipun sebagian besar variasi berada pada tingkat individu. Pencegahan BBLR perlu memprioritaskan deteksi dini dan pemantauan ibu hamil berisiko, terutama ibu dengan KEK, pre-eklampsia, jarak kehamilan pendek, usia berisiko, dan kondisi ekonomi rendah, disertai penguatan mutu pelayanan ANC dan intervensi gizi ibu hamil.
Low birth weight (LBW) remains a public health concern in Indonesia because it is associated with an increased risk of neonatal mortality and impaired child growth. The occurrence of LBW also varies across provinces, which may be influenced by individual and contextual factors. This study aimed to analyze the association of individual- and province-level factors with LBW and to assess the variation in LBW occurrence across provinces in Indonesia in 2024. This study used a cross-sectional design with secondary data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey, linked with the 2024 Indonesia Health Profile and the 2025 publications of Statistics Indonesia. The study sample consisted of 26,483 live births during the preceding year from 32 provinces in Indonesia. Multilevel logistic regression analysis was conducted, with individuals as the first level and provinces as the second level. The prevalence of LBW was 6.38%. At the individual level, maternal age, parity, interpregnancy interval of less than two years, antenatal care (ANC) not meeting recommendations, risk of chronic energy deficiency, preeclampsia, lowest wealth quintile, and multiple micronutrient supplementation (MMS) were significantly associated with LBW. Preeclampsia was the factor most strongly associated with LBW. At the province level, population density, ANC K6 coverage, iron supplementation coverage, midwife ratio, primary health center radius, and area of residence were not significantly associated with LBW. The intraclass correlation coefficient decreased from 2.37% in the initial model to 1.92% in the final model, indicating variation in LBW occurrence across provinces, although most variation was observed at the individual level. LBW prevention should prioritize early detection and monitoring of high-risk pregnant women, particularly those with chronic energy deficiency, preeclampsia, short interpregnancy intervals, high-risk maternal age, and low economic status, accompanied by strengthened ANC quality and maternal nutrition interventions.