Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 14 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Cintia Cresna Simanjuntak; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Fathimah Sulistyowati Sigit, Fajrinayanti
Abstrak:

Eating disorders merupakan gangguan perilaku makan yang terjadi secara terus-menerus dan menyebabkan perubahan asupan oral, yang secara signifikan dapat mengganggu kesehatan fisik atau fungsi psikososial (American Psychiatric Association, 2013). Setiap tahunnya, eating disorders diperkirakan menyebabkan morbiditas pada lebih dari 3,3 juta orang di seluruh dunia, dan sekitar 20% penderitanya meninggal dunia (Miskovic-Wheatley et al., 2023). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan proporsi dan hubungan tingkat stres, citra tubuh, pengaruh teman sebaya, pengaruh media sosial, status tinggal, tingkat aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan konsumsi alkohol dengan kecenderungan eating disorders pada mahasiswa kesehatan dan non-kesehatan Universitas Indonesia tahun 2025. Desain studi dalam penelitian ini adalah cross-sectional dengan menggunakan data primer yang diambil dari 200 responden mahasiswa kesehatan dan non-kesehatan Universitas Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan proporsi kecenderungan eating disorders, yaitu 84% pada mahasiswa kesehatan dan 77% pada mahasiswa non-kesehatan. Terdapat hubungan yang signifikan antara citra tubuh, pengaruh teman sebaya, dan pengaruh media sosial dengan kecenderungan eating disorders pada kedua kelompok, serta tingkat stres dan kebiasaan merokok hanya pada mahasiswa kesehatan. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara status tinggal, tingkat aktivitas fisik, dan konsumsi alkohol dengan kecenderungan eating disorders pada kedua kelompok. Dibutuhkan peningkatan kesadaran mahasiswa terkait eating disorders, yang dapat dilakukan dengan penyebarluasan informasi terkait eating disorders melalui video edukasi, infografis, flyer, dan media lain, serta informasi terkait layanan konseling oleh pihak kampus.

Eating disorders are persistent eating behaviour disturbances that negatively affect both physical health and psychosocial functioning. According to the World Health Organization (2019), an estimated 14 million cases of eating disorders occurred globally, with 3 million affecting children and adolescents. This study aims to examine the relationship between celebrity worship, body image, and other influencing factors with the risk of eating disorders among female adolescents who are K-Pop fans in Daerah Khusus Jakarta in 2025. A quantitative approach was used with a cross-sectional study design. Data were collected online through a questionnaire completed by 160 respondents. Results showed that 85% of respondents were at risk for eating disorders, comprising 33.8% at risk for anorexia nervosa, 1.9% for bulimia nervosa, 2.5% for binge-eating disorder, and 46.9% for other specified feeding or eating disorders (OSFED). Bivariate analysis revealed significant associations between body image, peer influence, family influence, social media exposure, and stress levels with the risk of eating disorders. On the other hand, celebrity worship, self-esteem, and nutritional knowledge were not significantly associated with eating disorder risk. To reduce the risk of eating disorders, educational interventions are needed to promote healthy body perception, effective stress management, and critical awareness in social media use, including discerning the influence of K-Pop trends, which are highly prevalent among adolescents.

Read More
S-11894
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Selvia Amelya; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Fathimah Sulistyowati Sigit, Kusharisupeni Djokosujono
S-11898
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cahaya Mahatma Sembahen; Pembimbing: Fathimah Sulistyowati Sigit, Daden Setiawan
Abstrak:
Pertambahan berat badan selama kehamilan merupakan salah satu indikator penting dalam menilai status gizi ibu dan janin. Namun, masih banyak ibu hamil yang mengalami pertambahan berat badan tidak sesuai rekomendasi, yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada ibu dan bayi. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2018, sebanyak 17,3% ibu hamil mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK). Di Kabupaten Bogor, 22,7% ibu hamil memiliki berat badan kurang, sedangkan di Kota Bogor sebanyak 50% mengalami defisit energi berat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara faktor ibu, asupan zat gizi, serta faktor keluarga dengan pertambahan berat badan ibu selama masa kehamilan di Kabupaten dan Kota Bogor tahun 2025. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional yang menggunakan data sekunder dari penelitian Prof. Dr. Ratu Ayu D. S., Apt., M.Sc., berjudul “Pengaruh Suplementasi Red Palm Oil pada Diet Ibu Hamil terhadap Kualitas ASI dan Status Gizi Bayi.” Penelitian ini melibatkan responden ibu hamil dari wilayah kerja puskesmas terpilih Kabupaten dan Kota Bogor. Analisis data dilakukan dengan metode uji chi-square dan independent t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 63,93% responden mengalami pertambahan berat badan yang tidak sesuai rekomendasi, dengan proporsi 42,31% di Kabupaten Bogor dan 57,69% di Kota Bogor. Uji bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara IMT prahamil, asupan energi, karbohidrat, lemak, pengetahuan ibu tentang kehamilan, serta dukungan suami dengan pertambahan berat badan ibu hamil (p-value < 0,05). Namun, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia, persepsi, pendidikan, status pekerjaan, jumlah anggota keluarga, dan pendapatan keluarga (p-value > 0,05) dengan pertambahan berat badan ibu hamil. Oleh karena itu, disarankan untuk meningkatkan edukasi mengenai pentingnya asupan energi dan zat gizi makro, serta pelibatan keluarga khususnya suami dalam mendukung kehamilan, sebagai upaya perbaikan status gizi ibu hamil di Kabupaten dan Kota Bogor.

Weight gain during pregnancy is one of the important indicators in assessing the nutritional status of the mother and baby. However, there are still many pregnant women who experience weight gain that is not as recommended, which can increase the risk of health problems in mothers and babies. Based on data from the Ministry of Health of the Republic of Indonesia in 2018, 17.3% of pregnant women experienced Chronic Energy Deficiency (CHD). In Bogor Regency, 22.7% of pregnant women were underweight, while in Bogor City as many as 50% experienced severe energy deficit. The purpose of this study was to determine the relationship between maternal factors, nutrient intake, and family factors with maternal weight gain during pregnancy in Bogor City and District in 2025. This research is a quantitative study with a cross-sectional study design that uses secondary data from the research of Prof. Dr. Ratu Ayu D. S., Apt., M.Sc., entitled “The Effect of Red Palm Oil Supplementation in Pregnant Women's Diet on Breast Milk Quality and Infant Nutritional Status.” This study involved pregnant women respondents from selected health centers in Bogor City and District. Data were analyzed using chi- square and independent t-test methods. The results showed that 63.93% of respondents experienced weight gain that was not as recommended, with a proportion of 42.31% in Bogor Regency and 57.69% in Bogor City. Bivariate tests showed that there was a significant relationship between pre-pregnancy BMI, energy intake, carbohydrates, fat, protein, maternal knowledge about pregnancy, and husband and family support with gestational weight gain (p-value < 0.05). However, there was no significant relationship between age, perception, education, employment status, number of family members, and family income (p-value > 0.05) with gestational weight gain. Therefore, it is recommended to increase education on the importance of energy and macronutrient intake, as well as family involvement, especially husbands in supporting pregnancy, as an effort to improve the nutritional status of pregnant women in Bogor City and District.
Read More
S-11913
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yasmin Syifa Bakhtiar; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Fathimah Sulistyowati Sigit, Dieta Nurrika
Abstrak: Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit tingginya kadar glukosa pada darah seseorang yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi fisiologis. Berdasarkan data Riskesdas 2018, di Indonesia, terdapat disparitas antara prevalensi DM yang didiagnosis oleh dokter (2%) dan prevalensi berdasarkan pemeriksaan kadar glukosa darah (8,5%). Perbedaan ini mengindikasikan adanya kemungkinan besar kasus DM yang belum terdiagnosis. Memiliki pemahaman terkait faktor-faktor yang berpengaruh terhadap diagnosis diabetes melitus, khususnya pada kelompok usia tertentu dapat berguna untuk mengembangkan rencana tindakan baik dari segi pencegahan maupun penanganan. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang dapat mengulik faktor-faktor risiko kejadian diabetes melitus pada penduduk usia dewasa (25-60 tahun) yang belum pernah didiagnosis dokter di Indonesia pada tahun 2018. Desain penelitian ini adalah cross-sectional menggunakan data sekunder Riskesdas 2018. Analisis data yang dilakukan antara lain adalah analisis univariat menggunakan distribusi frekuensi, analisis bivariat menggunakan uji chi-square, dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 24434 individu di Indonesia, sebanyak 8,5% penduduk usia dewasa (25-60 tahun) memiliki DM yang tidak pernah didiagnosis oleh dokter. Faktor dominan kejadian DM pada penduduk usia dewasa (25-60 tahun) yang tidak pernah terdiagnosis di Indonesia adalah tingkat pendidikan (AOR = 1,224).
Diabetes mellitus (DM) is a condition characterized by high blood glucose levels that can lead to various physiological complications. Based on 2018 Riskesdas data, there is a disparity in Indonesia between the prevalence of DM diagnosed by doctors (2%) and prevalence identified through blood glucose testing (8.5%). This difference suggests a significant number of undiagnosed DM cases. Understanding the factors that influence diabetes diagnosis, especially in specific age groups, can help develop effective prevention and treatment plans. Therefore, this research aims to investigate the risk factors for undiagnosed diabetes mellitus in adults (ages 25-60) in Indonesia in 2018. This study uses a cross-sectional design with secondary data from the 2018 Riskesdas. Data analysis includes univariate analysis with frequency distribution, bivariate analysis with the chi-square test, and multivariate analysis with multiple logistic regression. The results indicate that out of 24,434 individuals in Indonesia, 9.6% of adults (ages 25-60) have undiagnosed DM. The dominant factor for undiagnosed DM in this population is level of education (AOR =1,224).
Read More
S-11806
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syifa Kumala Sari Dewi; Pembimbing: Wahyu Kurnia Yusrin Putra; Penguji: Fathimah Sulistyowati Sigit, Teguh Jati Prasetyo
Abstrak: Terjadi peningkatan konsumsi sugar-sweetened beverage (SSB) di kalangan mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) dari tahun ke tahun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran frekuensi konsumsi SSB dan determinan perilaku konsumsi SSB berdasarkan Theory of Planned Behavior (TPB) serta faktor-faktor lainnya pada mahasiswa FKM UI tahun 2025. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional dengan pengumpulan data primer melalui kuesioner yang diisi secara mandiri oleh 158 responden yang dipilih menggunakan metode stratified random sampling. Hubungan antar variabel dianalisis menggunakan tabulasi silang dengan uji chi-square. Hasil penelitian ini menunjukkan 75,3% responden mengkonsumsi SSB dengan frekuensi tinggi (≥ 2 kali per minggu), serta mengungkapkan adanya hubungan yang signifikan antara variabel konsumsi SSB dengan tingkat stres (p = 0,005; OR = 2,865; CI 95% = 1,355-6,042) dan ketersediaan SSB di tempat tinggal (p = 0,001; OR = 3,779; CI 95% = 1,730-8,256). Dengan demikian, mahasiswa FKM UI disarankan untuk lebih bijak dalam mengkonsumsi SSB dengan cara mengurangi ketersediaan SSB di tempat tinggal dan membatasi akses terhadap konsumsi SSB serta mengelola stres dengan cara-cara yang sehat.
An increase in the consumption of sugar-sweetened beverages (SSB) has been observed among students of the Faculty of Public Health, Universitas Indonesia (FKM UI) over the years. This study aims to examine the frequency of SSB consumption and the determinants of SSB consumption behavior based on the Theory of Planned Behavior (TPB), along with other factors, among FKM UI students in 2025. A cross-sectional design was employed, with primary data collected through self-administered questionnaires completed by 158 respondents selected using stratified random sampling. Cross-tabulation and the chi-square test were then undertaken to investigate the associations between the variables. The results of this study indicate that 75.3% of respondents consumed SSB at a high frequency (≥ 2 times per week), and reveal significant associations between SSB consumption and stress level (p = 0.005; OR = 2.865; 95% CI = 1.355–6.042) and the SSB availability at home (p = 0.001; OR = 3.779; 95% CI = 1.730–8.256). Therefore, FKM UI students are advised to take more attention towards their SSB consumption by reducing its availability at home or limiting access to SSB, and managing stress through healthy methods.
Read More
S-11996
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Debbie Natali; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Fathimah Sulistyowati Sigit, Neni Herlina Rafida
S-12010
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marsella Syah Putri; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Fathimah Sulistyowati Sigit, Cesilia Meti Dwiriani
Abstrak:
Anemia gizi besi (AGB) masih menjadi masalah gizi mikro yang umum dialami oleh remaja perempuan di Indonesia. Salah satu upaya pemerintah dalam mengatasi AGB adalah dengan mewajibkan fortifikasi zat besi pada tepung terigu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan rata-rata asupan zat besi dari pangan berbahan tepung terigu berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya pada siswi SMAN 34 Jakarta tahun 2025. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah responden sebanyak 65 siswi. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata asupan zat besi dari pangan berbahan tepung terigu sebesar 4,19 ± 1,58 mg/hari (27,93% dari AKG). Terdapat perbedaan rerata yang signifikan antara frekuensi jajan, uang jajan, pengaruh teman, dan ketersediaan makanan berbahan tepung terigu dengan asupan zat besi (p < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa beberapa faktor berpengaruh terhadap kontribusi pangan berbahan tepung terigu terhadap kecukupan zat besi. 

Iron deficiency anemia (IDA) remains a prevalent micronutrient deficiency among adolescent girls in Indonesia. One of the government’s strategies to address IDA is mandatory iron fortification in wheat flour. This study aimed to analyze the differences in average iron intake from wheat-based foods based on influencing factors among female students at SMAN 34 Jakarta in 2025. A cross-sectional design was used with a total of 65 respondents. The results showed that the average iron intake from wheat-based foods was 4.19 ± 1.58 mg/day, which only meets 27.93% of the recommended dietary allowance (RDA). Significant differences were found in iron intake based on snacking frequency, amount of pocket money, peer influence, and availability of wheat-based foods at home (p < 0.05). It can be concluded that both internal and external factors influence iron adequacy from wheat-based foods among adolescents.
Read More
S-11893
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kayla Zalfaa Hadyan Putri; Pembimbing: Nurul Dina Rahmawati; Penguji: Fathimah Sulistyowati Sigit, Ni Putu Dewi Arini
S-12220
[s.l.] : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Natalia Desiani; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Fathimah Sulistyowati Sigit, Tria Astika Endah Permatasari , Iing Mursalin
Abstrak:

Sindrom metabolik merupakan kumpulan faktor risiko kardiometabolik yang semakin meningkat di Indonesia. Studi ini bertujuan mengidentifikasi determinan biopsikososial yang berhubungan dengan sindrom metabolik pada penduduk usia ≥15 tahun, menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Sebanyak 17.766 responden dianalisis menggunakan regresi logistik multivariat. Prevalensi sindrom metabolik tercatat sebesar 37,7%, lebih tinggi pada perempuan (44,2%) dibandingkan laki-laki (28,2%), dan meningkat pada usia ≥45 tahun. Komponen paling umum adalah hipertensi dan obesitas sentral. Lingkar perut (AOR: 4,00; 95%CI: 3,80–4,20) dan rasio lingkar perut terhadap tinggi badan (AOR: 3,95; 95%CI: 3,75–4,15) merupakan determinan biomedis terkuat. Paparan rokok aktif dan pasif, serta konsumsi alkohol, meningkatkan risiko, sementara aktivitas fisik menunjukkan efek protektif. Konsumsi makanan ultra proses tingkat sedang dan tinggi (AOR: 1,12–1,22) serta konsumsi sedang makanan berlemak dan berbumbu juga meningkatkan risiko secara signifikan. Hasil ini menunjukkan perlunya intervensi yang lebih terarah pada kelompok perempuan dewasa dan lansia, melalui strategi promosi gaya hidup sehat dan pengendalian obesitas sentral untuk menurunkan beban sindrom metabolik di Indonesia.


Metabolic syndrome is a growing public health concern in Indonesia, involving a cluster of cardiometabolic risk factors. This study aimed to identify biopsychosocial determinants associated with metabolic syndrome among individuals aged ≥15 years using data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). A total of 17,766 respondents were analyzed using multivariable logistic regression. The prevalence of metabolic syndrome was 37.7%, higher among women (44.2%) than men (28.2%), and increased significantly in those aged ≥45 years. The most common components were hypertension and central obesity. Key biomedical predictors included waist circumference (AOR: 4.00; 95% CI: 3.80–4.20) and waist-to-height ratio (AOR: 3.95; 95% CI: 3.75–4.15). Psychosocial factors such as active/passive smoking and alcohol consumption increased the risk, while higher levels of physical activity were protective. Additionally, moderate and high consumption of ultra-processed foods (AOR: 1.12–1.22) and moderate intake of fatty and seasoned foods were significantly associated with increased risk. These findings highlight the urgent need for targeted interventions, especially for adult and older women, focusing on healthy lifestyle promotion and central obesity control to reduce the burden of metabolic syndrome in Indonesia.

 

Read More
T-7268
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amalia Ane Istamayu; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Fathimah Sulistyowati Sigit, Suparno, Kusharisupeni Djokosujono
Abstrak:
Anemia pada masa kehamilan merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat berdampak tidak hanya pada ibu namun juga pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status anemia ibu hamil di Puskesmas Terpilih di Wilayah Kota dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat 2025. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain cross sectional dan data sekunder dengan sampel adalah ibu hamil. Pengambilan sampel menggunakan total sampling yang berjumlah 124 ibu hamil berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang sudah ditetapkan. Analisis data terdiri dari analisis univariat, bivariat dan juga multivariat, dimana masing-masing wilayah dilakukan analisis untuk melihat kecenderungan dari masing-masing wilayah. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa rata-rata kadar Hb ibu hamil di wilayah Kota dan Kabupaten Bogor adalah 11,46 g/dL dimana ibu hamil di wilayah Kota Bogor mengalami anemia sebesar 17,2% dan 28,3% di wilayah Kabupaten Bogor. Hasil analisis bivariat secara keseluruhan di wilayah Kota dan Kabupaten Bogor menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu hamil mengenai anemia dan TTD (p value = 0,03; OR = 2,95; 95% CI: 1,18-7,36) dan juga status KEK (p value = 0,01; OR = 4,23; 95% CI: 1,34-13,39) dengan status anemia ibu hamil. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa variabel yang paling dominan berhubungan dengan status anemia ibu hamil adalah status KEK yaitu ibu hamil yang mengalami KEK di Kota Bogor berisiko 10,828 kali lebih tinggi mengalami anemia dibandingkan dengan  ibu hamil yang status KEK normal sedangkan ibu hamil yang mengalami KEK di Kabupaten Bogor berisiko 8,743 kali lebih tinggi mengalami anemia dibandingkan dengan ibu hamil yang status KEK normal. Oleh karena itu diperlukan skrining status gizi ibu hamil yang dimulai sejak ANC K1, mengintegrasikan edukasi konsumsi makanan yang bergizi, pencegahan anemia dan bahaya KEK terhadap ibu dan anak dalam penyuluhan rutin sehingga ibu hamil dapat memastikan asupan makanan yang bergizi dan asupan zat besi, vitamin C dan folat terpenuhi setiap hari.

Anemia during pregnancy is one of the public health problems that can affect not only the mother but also the child. This study aims to determine the factors associated with anemia status of pregnant women in Selected Puskesmas in Bogor City and Regency, West Java 2025. This study is a quantitative research using cross sectional design and secondary data with the sample is pregnant women. Sampling using total sampling which amounted to 124 pregnant women based on inclusion and exclusion criteria. Data analysis consists of univariate, bivariate and multivariate analysis, where each region is analyzed to see the tendency of each region. The results of univariate analysis showed that the average Hb level of pregnant women in Bogor City and Regency was 11.46 g/dL where pregnant women in Bogor City experienced anemia by 17,2% and 28,3% in Bogor Regency. The results of the overall bivariate analysis in Bogor City and Regency showed that there was a significant association between pregnant women's knowledge about anemia and TTD (p value = 0.03; OR = 2.95; 95% CI: 1.18-7.36) and also Chronic Energy Deficiency (CHD) status (p value = 0.01; OR = 4.23; 95% CI: 1.34-13.39) with anemia status of pregnant women. The results of multivariate analysis showed that the most dominant variable associated with anemia status of pregnant women was CHD status, pregnant women who experienced CHD in Bogor City had a 10,828 times higher risk of anemia compared to pregnant women with normal CHD status, while pregnant women who experienced CHD in Bogor Regency had a 8.743 times higher risk of anemia compared to pregnant women with normal CHD status. Therefore, it is necessary to screening the nutritional status of pregnant women starting from ANC K1, integrating education on nutritious food intake, prevention of anemia and the dangers of CHD for mothers and children in routine counseling so that pregnant women can ensure nutritious food intake and daily intake of iron, vitamin C and folate.
Read More
T-7263
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive