Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 30916 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Detia Octrienda Ula; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Renti Mahkota, Euis Rahayuningsih
Abstrak: Kusta masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang penting di Indonesia. Tidak hanya dari sisi medis, kusta juga menjadi permasalahan sosial. Stigma yang timbul di masyarakat menjadi masalah orang dengan kusta untuk dapat bekerja dan beraktivitas seperti biasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi pasien kusta yang tidak produktif, dan faktor determinan produktivitas pada pasien kusta.
 
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Sampel yang digunakan adalah semua pasien kusta rawat jalan di RS Kusta Dr. Sitanala, Tangerang, Banten tahun 2012. Penelitian ini menghasilkan faktor-faktor yang berhubungan terhadap produktivitas pasien kusta di RS Kusta Dr. Sitanala adalah jenis kelamin (p=0.044; OR 0.543), status perkawinan (p=0.000;OR 3.681) dan pendidikan (p=0.026; OR 1.9).
 
Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor individu menjadi hal yang mempengaruhi produktivitas. Diperlukan suatu usaha yang mendukung agar pasien tetap produktif, seperti pelatihan keterampilan terhadap pasien dengan pendidikan rendah dan dukungan mental yang lebih untuk pasien yang belum/ tidak menikah.
 

Leprosy is still one of the important health issues in Indonesia. Not only the medical problem, leprosy is also a social problem. The Stigma that arises in society become a problem of people with leprosy to be able to work as usual. This research aims to know the prevalence of leprosy patients who are not productive, and determinants of productivity factors of leprosy patients.
 
This research is quantitative research withcross sectional design. The sample used is outpatientof Leprosy at RS Kusta Dr Sitanala, Tangerang, Banten in 2012. This research found that factors related to productivity in leprosy patients at RS Kusta Dr. Sitanala are sex (p=0.044; OR 0.543), marital status (p=0.000; OR 3.681), and education (p=0.026; OR 1.9).
 
This research shows that individual factors being affecting productivity. It needs an effort to support the patient to keep productive, such as skills training with low education and also mentally support for unmarried patients.
Read More
S-8000
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erni Astutik; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Krisnawati Bantas, Christina Widaningrum, Benyamin Sihombing
T-4050
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rita Yulihane; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Syahrizal, Prima Kartika Esti, Tiara Pakasi
Abstrak: ABSTRAK Erythema Nodosum Leprosum (ENL) merupakan reaksi kusta tipe 2 yang bukan hanya menyebabkan kesakitan parah pada pasien, tetapi juga dapat menyebabkan kecacatan dan bahkan kematian. ENL lebih banyak terjadi pada pasien kusta tipe Multi Basiler (MB). Indonesia memiliki proporsi kasus baru kusta tipe MB yang tinggi dibandingkan proporsi kasus baru MB di India dan Brasil yaitu 84%. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ENL di RS. Dr. Sitanala belum diketahui. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ENL di RS. Dr. Sitanala tahun 2017. Studi cross sectional yang menggunakan data rekam medis di RS. Dr. Sitanala tahun 2017 ini dianalisis dengan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi kasus ENL di RS. Dr. Sitanala tahun 2017 sebesar 21,5%. Faktor yang dominan berhubungan dengan kejadian ENL adalah faktor koinfeksi (POR 15,034; 95%CI: 7,061-32,007). Faktor lain yang berhubungan dengan kejadian ENL di RS. Dr. Sitanala tahun 2017 adalah umur <45 tahun (POR 2,564; 95%CI: 1,179-5,574) dan indeks bakteri ≥4 (POR 4,405; 95%CI: 1,689-11,486). Sistem skoring yang dihasilkan dapat memprediksi kejadian ENL sebesar 81%. Kata kunci: ENL, reaksi kusta tipe 2, kusta, faktor resiko, skoring Erythema Nodosum Leprosum (ENL) is a type 2 leprosy reaction that not only causes severe pain in patients, but also can cause disability and death. ENL is more common in Multi Basiler (MB) leprosy patients. Indonesia has a higher proportion of new cases of MB leprosy than the proportion of new MB cases in India and Brazil at 84%. Factors related to ENL incidence in hospital. Dr. Sitanala is unknown. The purpose of this study is to identify the factors related to ENL incidence in RS. Dr. Sitanala year 2017. Crosssectional study using medical record data at RS. Dr. Sitanala year 2017 is analyzed by logistic regression. The results showed that the proportion of ENL cases in RS. Dr. Sitanala year 2017 of 21.5%. The dominant factor associated with ENL was coinfected (POR 15,034; 95% CI: 7.061-32,007). Other factors related to ENL incidence in RS. Dr. Sitanala year 2017 are age <45 years (POR 2,564; 95% CI: 1,179-5,574) and bacteria index ≥4 (POR 4,405; 95% CI: 1,689-11,486). Scoring system can predict ENL events of 81%. Key words: ENL, type 2 leprosy reaction, leprosy, risk factors, scoring
Read More
T-5152
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Upi Meikawati; Pembimbing: Rita Damayanti, Penguji: Sabarinah B. Prasetyo, Syahrizal Syarif, Cristina Widaningrum, Mamak Jamaksari
Abstrak:

ABSTRAK Latar belakang: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kinerja petugas Kusta Puskesmas di Provinsi Banten dan peran faktor organisasi dan psikologis terhadap kinerjanya masing-masing. Metode : Penelitian ini menggunakan desain studi kuantitatif cross sectional. Data kuantitatif dikumpulkan secara langsung melalui pengisian kuesioner selama 2 bulan sejak bulan Mei-Juni 2012 Hasil : Dari 75 responden tersebut, 54.7% mempunyai kinerja baik dan 45.3% mempunyai kinerja kurang. Faktor yang paling dominan berperan terhadap kinerja yaitu motivasi dan pelatihan. Kesimpulan : Untuk meningkatkan kualitas pelayanan terhadap penderita kusta dibutuhkan sumber daya manusia yang mempunyai kinerja baik. Dalam pelaksanaanya untuk evaluasi kinerja belum mempunyai sistem pengukuran kinerja berbasis skoring. Penilaian kinerja yang dilakukan agar dikembangkan dan karena faktor yang berperan terhadap kinerja tersebut adalah motivasi dan pelatihan, maka dibutuhkan usaha yang optimal untuk memperbanyak pelatihan yang bermutu dan meningkatkan motivasi petugas. Kata Kunci : Kinerja, Petugas Kusta Puskesmas, Faktor Organisasi, Faktor Psikologis.


 ABSTRACT Background: This study aims to determine the performance of Leprosy officers in Banten Province Health Center and the role of organizational and psychological factors on the performance of each. Methods: The study used a cross-sectional quantitative study designs. Quantitative data are collected directly by filling out the questionnaire during the two months since the May-June 2012 Results: Of the 75 respondents, 54.7% had good performance and 45.3% had less performance. The most dominant factor contributing to the performance of the Lepsory Officer are motivation and training. Conclusion: To improve the quality of service to the lepers needed human resources that have a good performance. In the implementation for performance evaluation does not have a scoring system based on performance measurement. Performance appraisals are conducted in order to be developed and because the factors that contribute to performance is the motivation and training, the optimal effort is required to reproduce the quality of training and improving staff motivation. Keywords: Performance, Leprosy Officer Health Center, Organizational Factors, Psychological Factors

Read More
T-3543
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Isti`anah Surury; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Yovsyah, Syahrizal Syarif, Upi Meikawati, Dewi Maria Yuliani
T-4726
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Phenta Chrisna Nugraha; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Dita Andriani Daud Suyadi
Abstrak:
Indonesia merupakan negara dengan jumlah kasus Kusta deteksi baru tertinggi ketiga di dunia. Angka kasus deteksi baru yang tinggi ini turut disumbang oleh Kabupaten Tangerang yang merupakan wilayah di Provinsi Banten yang memiliki angka kasus Kusta deteksi baru tertinggi dibandingkan dengan wilayah lainnya. Kondisi merupakan hal yang sangat memprihatinkan mengingat risiko dan beban disabilitas yang harus ditanggung oleh penderita Kusta sangat tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi determinan kejadian kasus Kusta dengan disabilitas di Kabupaten Tangerang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi kasus-kontrol dan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari SIPK Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang. Penelitian ini menggunakan metode total sampling (kelompok kasus) dan simple random sampling (kelompok kontrol) dengan sampel yang digunakan berjumlah 507 sampel dan perbandingan rasio antara kelompok kasus dengan kontrol adalah 1:2. Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji regresi logistik untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berasosiasi terhadap kejadian Kusta dengan disabilitas di Kabupaten Tangerang. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa terdapat asosiasi positif atas beberapa faktor, yaitu durasi diagnosis (aOR 6,36; 95% CI 3,19 – 12,69; p-value <0,001), status penebalan saraf (aOR 13,68; 95% CI 6,43 – 29,08; p-value <0,001), dan riwayat reaksi (aOR 26,99; 95% CI 13,38 – 54,47; p-value <0,001). Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi bahan pertimbangan bagi pemangku kebijakan dalam merencanakan, meningkatkan, dan mengevaluasi kebijakan dan program kesehatan yang berkaitan dengan pencegahan dan pengendalian kasus Kusta.

Indonesia is the third highest country in terms of newly detected Leprosy cases in the world. The high number of newly detected cases is notably contributed by Tangerang Regency, a region in Banten Province recording the highest incidence of new leprosy cases compared to other areas. This situation is deeply concerning due to the high risk and disability burden faced by Leprosy patients. This study was conducted to identify determinants of disability-associated Leprosy in Tangerang Regency. Employing a quantitative approach with a case-control study design, secondary data from the SIPK of Tangerang Regency Health Office were utilized. This study consisted of 507 samples employing total sampling methods for selecting the cases group and simple random sampling methods for selecting the control group. Furthermore, the case-control ratio of 1:2 was used in this research. Logistic regression analysis was conducted to identify factors associated with disability-associated Leprosy in Tangerang Regency. The results of this study found that a several factors were revealing a positive association, namely duration of diagnosis (aOR 6,36; 95% CI 3,19 – 12,69; p-value <0,001), nerve thickening status (aOR 13,68; 95% CI 6,43 – 29,08; p-value <0,001); and reaction history (aOR 26,99; 95% CI 13,38 – 54,47; p-value <0,001). These findings are expected to inform policymakers in planning, enhancing, and evaluating health policies and programs related to disability-associated Leprosy prevention and control.
Read More
S-11721
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sarah Anggraheni; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Indah Lestari
Abstrak: Kota Administrasi Jakarta Timur merupakan wilayah DKI Jakarta dengan angka deteksi kasus baru kusta dan kecacatan paling banyak di Jakarta pada tahun 2018. Kusta merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Leprae. Penyakit kusta dapat menimbulkan kecacatan baik tingkat 1 maupun 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran distribusi spasial karakteristik kasus baru kusta dengan Sistem Informasi Geografi serta hubungan faktor-faktor yang memengaruhi kejadian kecacatan pada kasus baru kusta Kota Administrasi Jakarta Timur tahun 2018. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional dengan total sampel sebanyak 85 orang. Data diperoleh dari kartu penderita kusta di sembilan Puskesmas di Jakarta Timur. Data kemudian dianalisis univariat, bivariat, dan spasial. Kasus baru kusta paling banyak terdapat di Kecamatan Cakung (21 kasus), Cipayung (16 kasus), dan Duren Sawit (16 kasus) pada laki-laki (67,1%), rentang umur 25-34 tahun (27,1%), tidak bekerja (47,1%), tidak memiliki riwayat kontak (65,9%), cara penemuan pasif (84,7%), lama gejala <1 tahun (44,7%), tipe kusta MB (85,9%), tidak mengalami reaksi (64,7%), kecacatan tingkat 1 sebesar 10,6% dan kecacatan tingkat 2 sebesar 74,1%. Dari seluruh faktor risiko, tidak ada hubungan faktor risiko yang diteliti dengan kecacatan pada kasus baru kusta.
Read More
S-10132
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Leny; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah Masjkuri; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Evie Martha, Eulis Wulantari, Christina Widaningrum
Abstrak: Abstrak

Latar Belakang : Indonesia adalah negara peringkat ke-3 di dunia sebagai penyumbang penderita baru kusta terbanyak dengan jumlah penderita cacat tingkat-2 sejumlah 2.025 atau 10.11% (indikator < 5%). Kabupaten Bogor memiliki proporsi cacat kusta yang tinggi bahkan melebihi angka nasional yaitu 15.18 %. Beberapa studi menunjukkan hubungan bermakna antara perawatan diri dengan kecacatan pada penderita kusta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perawatan diri dengan kecacatan pada penderita kusta di Kabupaten Bogor tahun 2012 setelah dinkontrol oleh faktor-faktor lainnya.

Metode : Desain penelitian kasus kontrol. Populasi dalam penelitian ini adalah penderita kusta tipe MB usia ≥ 15 tahun yang sudah menjalani minimal 8 bulan pengobatan MDT dan tercatat pada register puskesmas tahun 2012 di 10 kecamatan di Kabupaten Bogor. Kasus adalah sebagian dari populasi yang mengalami kecacatan baik tingkat-1 atau tingkat-2 pada saat penelitian dilakukan yang diambil dari puskesmas yang dipilih secara purposive sedangkan kontrol adalah sebagian dari populasi yang tidak mengalami kecacatan pada saat penelitian dilakukan yang diambil secara purposive dari puskesmas yang terpilih. Jumlah sampel 86 orang terdiri dari 43 kasus dan 43 kontrol. Analisis data dilakukan secara bivariat dan multivariat.

Hasil : Terdapat variabel interaksi antara perawatan diri dengan faktor lama sakit sehingga pada analisis multivariat diketahui bahwa penderita kusta yang melakukan perawatan diri dengan baik dan lama sakitnya < 2 tahun diperoleh OR=0.68 (95% CI: 0.12 ? 3.72). Penelitian ini memberikan hasil bahwa perawatan diri tidak berdiri sendiri dalam mempengaruhi kecacatan penderita kusta melainkan ada interaksi bersama antara perawatan diri dengan faktor lama sakit. Bahwa risiko kecacatan semakin besar pada penderita kusta yang kurang baik dalam merawat diri dan lama sakitnya ≥ 2 tahun dengan OR=10.6 (95% CI: 1.03 ? 109.86).


Background : Indonesia is ranked 3rd in the world as a contributor to the new leprosy patients with the highest number of people with disabilities level-2 or 2.025 (10.11%). Bogor district has a high proportion of deformed leprosy even exceed the national rate is 15.18%. Some studies show a significant relationship between self-care disability in patients with leprosy. This study aims to determine the relationship of self-care with a disability in leprosy patients in Bogor Regency in 2012 after control by other factors.

Methode : Case-control study design. Population in this research is the type of MB leprosy patients aged ≥ 15 years who had undergone at least 8 months of treatment MDT and recorded in the register in 2012 health centers in 10 districts in Bogor Regency. Case is part of the population who have disabilities either level-1 or level-2 at the time of the study were drawn from purposively selected health centers while the control is part of the population who do not have disabilities at the time of the study were taken from the clinic were purposively selected . Number of samples 86 people consisting of 43 cases and 43 controls. Data analysis was performed bivariate and multivariate

Result : There is a variable interaction between self-care with a long illness factor that in multivariate analysis known that leprosy patients who perform self-care and well long illness <2 years obtained OR = 0.68 (95% CI: 0:12 - 3.72). This study provides results that self-care does not stand alone in influencing disability lepers but no interaction with the factor of self-care with a long illness. That the greater the risk of disability in leprosy patients in poor self-care and pain ≥ 2 years old with OR = 10.6 (95% CI: 1.03 - 109.86).

Read More
T-3850
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Binti Khofifa; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: R. Sutiawa, Syswanda
S-8260
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Euis Rahayuningsih; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Toha Muhaimin, Ratna Djuwita, Janne Uktolseja, Suhardiman
Abstrak:
Stigma merupakan salah satu faktor tertundanya penanganan penyakit kusta yang membuat penderita merasa malu dan terlambat mencari pengobatan sehingga dan sudah mengalami kecacatan yang berakibat terjadinya penurunan kualitas hidup. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara perceived stigma dengan kualitas hidup setelah dikontrol umur, jenis kelamin, pendidikan, dan penghasilan. Desain yang digunakan adalah cross sectional dengan data primer menggunakan instrumen WHOQOL-BREF, perceived stigma dan format isian karakteristik. Kualitas hidup penderita kusta lebih banyak yang memiliki kualitas hidup kurang (57,45%). Karakteristik responden sebagian besar perempuan (82,98%), berumur 18-40 tahun (72,34%), lama pendidikan 0-6 tahun sebesar 76,60% dan penghasilan dibawah UMR (91,49%). Terdapat hubungan signifikan antara perceived stigma dengan kualitas hidup setelah dikontrol variabel penghasilan. Untuk meningkatkan kualitas hidup penderita diperlukan penanganan stigma seperti konseling, terapi kelompok, rehabilitasi fisik dan okupasi untuk mencegah timbulnya cacat dan penderita bisa melakukan pekerjaan yang bisa meningkatkan kualitas hidupnya. Bagi peneliti lain disarankan untuk mencoba rancangan longitudinal, teknik analisis lain, menambah variabel, melakukan uji instrumen, mencoba instrumen lain dan membuat perbandingan responden. Masyarakat diharapkan lebih terbuka pada informasi kusta agar menambah pemahaman dan memiliki persepsi yang baik tentang kusta.

Stigma is one factor that delayed treatment of leprosy makes people feel embarrassed and too late to seek treatment and have experience of disability that results in decreased quality of life. The purpose of this study was to determine the relationship between perceived stigma to quality of life after controlling for age, sex, education, and income. The design used was cross sectional with primary data using the WHOQOL-BREF instrument, perceived stigma and formatting characteristics of the field. Quality of life of leprosy patients more likely to have less quality of life (57.45%). Characteristics of respondents most women (82.98%), aged 18-40 years (72.34%), a study period of 0-6 years at 76.60% and earnings below minimum wage (91.49%). There is a significant relationship between perceived stigma to quality of life after the controlled variable income. To improve the quality of life of patients required treatment stigma such as counseling, group therapy, physical rehabilitation and occupational therapy to prevent the onset of disability and the patient can do the work that could improve the quality of life. For other researchers are advised to try the longitudinal design, other analytical techniques, add a variable, test instruments, other instruments to try and make a comparison of respondents. Expected to be more open to the public information in order to increase the understanding of leprosy and has a good perception of leprosy.
Read More
T-3551
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive