Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34591 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Taruli Tua Pane; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Dwi Gayatri, Julianty Pradono
Abstrak: Stroke merupakan penyakit nomor 3 terbesar dan paling sering menyebabkan kematian di Indonesia. Prevalensi kejadian stroke di Indonesia menurut riskesdas 2007 adalah sebesar 8,3 per 1000 penduduk. Di Jakarta sendiri prevalensi kejadian stroke masih berada di atas prevalensi nasional yaitu 12,5 per 1000 penduduk dan menimbulkan banyak problem baik dari sisi sosial maupun ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan faktor risiko kejadian stroke iskemik dan stroke hemoragik pada pasien stroke di RS Harapan Kita Tahun 2012. Penelitian dilakukan dengan menganalisis data sekunder berupa status rekam medis pasien menggunakan desain studi cross sectional. Hasil menunjukkan terdapat pasien penderita stroke iskemik (10,4%) dan hemoragik (89,6%) dengan karakteristik umur ≥62 tahun (51,5%), berjenis kelamin laki-laki (62%), pendidikan rendah (17,8%), memiliki perilaku merokok (37,4%), mengidap hipertensi (81,6%) dan DM (50,3%). Berdasarkan analisis bivariat tidak ditemukan adanya perbedaan yang secara statistik bermakna antara faktor risiko dengan kejadian stroke, namun perbedaan proporsi faktor risiko pada stroke iskemik selalu lebih besar dibandingkan stroke hemoragik.
 

Stroke is the third disease which often cause death in Indonesia. Prevalence of stroke in Indonesia from Riskesdas 2007 is 8,3 per 1000 person. Prevalence of stroke in Jakarta is still higher then national prevalence that is 12,5 per 1000 person and cause a lot of problems both in terms of social and economic. This research aims to identify different risk factors of ischemic and hemorragic stroke in inpatient of stroke at National Cardiovascular Center Harapan Kita 2012. The study was conducted by analyzing secondary data from patient medical record by using cross sectional study. Results showed that there were patients with ischemic stroke (10,4%) and hemorrhagic (89,6) with a characteristic age ≥62 years (51,5%), male (62%), low education (17,8%), smoking behaviour (37,4%), hypertension (81,6%) and diabetes (50,3%). Based on bivariate analysis, result shows that there is no statistical difference between risk factors and incidence of stroke, but the difference proportion of risk factors in ischemic stroke always greater than hemorrhagic stroke.
Read More
S-7850
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mega Hermawan; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji; Dwi Gayatri, Julianty Pradono
Abstrak: Penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab kematian utama penduduk dunia (30%). Untuk menghadapi masalah ini perlu diketahui distribusi penyakit kardiovaskuler terhadap faktor-faktor risikonya secara lebih spesifik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penyakit kardiovaskuler pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita Tahun 2012. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari rekam medik RSJPD Harapan Kita menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah sampel 339 orang dianalisis secara univariat.
 
Hasil menunjukkan Ischemic Heart Diseases merupakan penyakit dengan proporsi terbesar yaitu 43,36%. Berdasarkan letak lesi, penyakit jantung memiliki proporsi terbesar yaitu 87,02%. Penyakit kardiovaskuler cenderung mengenai kelompok usia 51-60 tahun dengan proporsi 29,79%. Penyakit kardiovaskuler cenderung menyerang laki-laki dan orang dengan tingkat pendidikan menengah. Diketahui bahwa proporsi pasien hipertensi dan diabetes mellitus cenderung lebih besar di antara pasien penyakit pembuluh darah otak daripada pada pasien penyakit jantung ataupun pasien penyakit pembuluh darah perifer.
 

 
Cardiovascular disease is the most common death cause (30%) . To face the problem it’s necessary to know the distribution of cardiovascular disease specifically to its risk factors. This research aims to describe the cardiovascular disease among the hospitalized patients in Harapan Kita Cardiovascular Hospital in 2012. This research uses the secondary data from Harapan Kita Cardiovascular Disease medical record and also uses cross sectional design with 339 sample and analyzed in univariate.
 
The results show that among the cardiovascular diseases in inpatient unit in Harapan Kita Cardiovascular Hospital, Ischemic Heart Diseases is the diseases with the biggest proportion which is 43,36%. According to lesion location, heart disease has the biggest proportion which is 87,02%. Cardiovascular diseases tend to affect the 51-60 years old group of age by 29,79% among other age groups. Cardiovascular diseases tend to affect men and those who have middle educational level. The results also show that proportion of patients with hypertension and Diabetes Melitus tends to be bigger among cererovascular diseases patients than heart diseases patients or peripheral vascular diseases patients.
Read More
S-7904
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Nastiti; Pembimbing: Nurhayati A. Prihartono; Penguji: Yovsyah, M. Sugeng Hidayat
S-6971
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Della Desvina; Pembimbing: Helda, Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Ridho Ichsan Syaini, Felly Philipus Senewe
Abstrak: Analisis Kaplan Meier menunjukkan probabilitas 30 hari kesintasan pasien stroke iskemik (91,8%) lebih tinggi dibandingkan dengan pasien stroke hemoragik (78,3%) Probabilitas kesintasan pasien stroke iskemik lebih tinggi dibandingkan pasien stroke hemoragik di RSPON Jakarta tahun 2018 (p<0,05). Rata-rata kesintasan pasien stroke iskemik, yaitu selama 27 hari, sedangkan pasien stroke hemoragik selama 23 hari. Hasil analisis cox regression didapatkan, risiko kematian pasien stroke hemoragik 4,05 kali lebih besar dibandingkan pasien stroke iskemik setelah dikontrol oleh umur dan diabetes melitus di RSPON Jakarta (p<0,05) dalam kurun waktu 30 hari
Read More
T-5676
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anis Kurniawati; Pembimbing: Helda; Penguji: Renti Mahkota, Iin Pusparini
Abstrak:
Stroke menjadi salah satu penyebab kematian utama di dunia sebesar 17,9 juta kematian dan prevalensi stroke secara global mencapai 101 juta kasus. Stroke hemoragik sendiri menyumbang angka 13% dari stroke keseluruhan dan di Indonesia tahun 2001 mencapai 18,5% dan perdarahan subarachnoid sebesar 1,4%. Namun, pasien stroke hemoragik memiliki kondisi lebih parah dengan risiko kematian yang lebih tinggi hingga 4 kali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara hipertensi dengan stroke hemoragik pada pasien rawat inap di RS Pusat Otak Nasional tahun 2022 setelah dikontrol variabel confounding. Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan sampel yang diperoleh sebesar 1010 sampel. Variabel confounding yang dipakai dalam penelitian ini adalah obesitas, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, status pernikahan, jenjang pendidikan, pekerjaan, usia, dan jenis kelamin. Hasil penelitian ini menunjukkan jika terdapat hubungan signifikan antara hipertensi dengan stroke hemoragik (p=0,044) hingga 2,37 kali lebih tinggi dibandingkan pasien stroke yang tidak hipertensi setelah dikontrol variabel confounding. Pentingnya peningkatan kesadaran dengan melibatkan anak muda mengenai hipertensi dan stroke hemoragik perlu dilakukan. Selain itu, masyarakat diharapkan tetap menerapkan pola hidup sehat dan cek kesehatan berkala di Posbindu setempat terutama masyarakat yang memiliki hipertensi

Stroke is one of the main causes of death in the world with 17.9 million deaths and the prevalence of stroke globally reaches 101 million cases. Hemorrhagic stroke itself accounts for 13% of all strokes and in Indonesia in 2001 it reached 18.5% and subarachnoid hemorrhage was 1.4%. However, hemorrhagic stroke patients have a more severe condition with a higher risk of death up to 4 times. This study aims to determine the relationship between hypertension and hemorrhagic stroke in inpatients at the National Brain Center Hospital in 2022 after controlling for confounding variables. The research method used was cross sectional with a sample of 1010 samples. The confounding variables used in this study were obesity, smoking habits, alcohol consumption, marital status, level of education, occupation, age and gender. The results of this study indicate that there is a significant relationship between hypertension and hemorrhagic stroke (p=0.044) up to 2.37 times higher than stroke patients who are not hypertensive after controlling for confounding variables. The importance of raising awareness by involving young people regarding hypertension and hemorrhagic stroke needs to be done. In addition, the community is expected to continue to adopt a healthy lifestyle and periodic health checks at the Posbindu, especially people who have hypertension
Read More
S-11231
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mailisafitri; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Yovsyah, Fatum Basalamah
S-6787
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andriyani Risma Sanggul; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Nurhayati Adnan, Daniel Tobing
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Andriyani Risma Sanggul Program Studi : Epidemiologi Judul Tesis : Faktor – Faktor yang Memengaruhi Risiko Mortalitas selama 3 Tahun pada Pasien Infark Miokard Akut dengan Elevasi Segmen ST/ ST - Segment Elevation Myocardial Infarction (STEMI) di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Tahun 2011 -2012 xxii+96 halaman, 28 tabel, 17 gambar, 5 lampiran Infark Miokard Akut dengan elevasi segmen ST/ ST-Segment Elevation Myocardial Infarction (STEMI) adalah bagian dari sindrom koroner akut yang berat dan menetap akibat oklusi total arteri koroner sehingga diperlukan tindakan revaskularisasi segera untuk mengembalikan aliran darah dan reperfusi miokard secepatnya. Tindakan revaskularisasi dilakukan dalam 12 jam onset serangan angina pektoris dan didapatkan elevasi segmen ST yang menetap atau ditemukan Left Bundle Branch Block (LBBB). Tatalaksana Intervensi Koroner Perkutan primer lebih disarankan dibandingkan fibrinolisis. Penelitian mengenai mortalitas selama 3 tahun pada pasien pasca STEMI dengan IKP primer belum pernah dilakukan di Indonesia sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tersebut. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif dengan waktu pengamatan selama 3 tahun. Populasi studi adalah adalah semua pasien diagnosis STEMI dengan terapi IKP primer berusia ≥ 18 tahun dan keluar rawat hidup Tahun 2011-2012 di RSJPD Harapan Kita. Kriteria inklusi sampel adalah pasien didiagnosa STEMI dan keluar rawat dalam keadaan hidup 01 Januari 2011- 31 Desember 2012 dan Pasien STEMI yang berusia ≥ 18 tahun dengan total sampel sebanyak 466 orang. Data pasien diperoleh dari Jakarta Acute Coronary Syndromes (JACS) dan rekam medis. Analisis data dilakukan dengan Stata 12. Pada analisis multivariat dengan menggunakan uji cox regression time independent, didapatkan pasien STEMI dengan IKP primer yang tidak teratur kontrol memiliki risiko kematian lebih tinggi dibandingkan kontrol teratur ( Adj HR = 5,7 ; 2,447 – 13,477 ; p value = 0,0001). Pasien STEMI yang DM memiliki risiko kematian lebih tinggi dibandingkan tidak DM ( Adj HR = 2,66 ; 1,149 - 6,150; p value = 0,034). Pasien STEMI dengan kelas killip II memiliki risiko kematian lebih tinggi dibandingkan kelas killip I    (Adj HR = 2,31  ; 0,99 – 5,363 ; p value = 0,05). Model estimasi risiko hazard: H(1095h,t)=ho (1095h) exp [(0,91DM )+ (0,84 x Killip Admisi) + ( 1,75 x Kontrol)] . Keteraturan kontrol, diabetes mellitus dan kelas killip admisi memengaruhi risiko mortalitas pasien STEMI dengan IKP primer di RSJPD Harapan Kita. Kata kunci: STEMI, IKP Primer, Mortalitas 3 tahun x


ABSTRACT Name : Andriyani Risma Sanggul Study Program : Epidemiology Title : The Factors That Affect Risk of Mortality for 3 Years In ST-Segment Elevation Myocardial Infarction (STEMI) Post Primary Percutaneous Coronary Intervention in Heart and Vascular Hospital Harapan Kita 2011 - 2012 xxiii+96 pages, 28 tables, 17 pictures, 5 attachments ST -Segment Elevation Myocardial Infarction ( STEMI ) is a part of the heavy acute coronary syndromes and settled due to total occlusion of the coronary arteries that required immediate revascularization to restore blood flow and myocardial reperfusion as soon as possible . Revascularization performed within 12 hours of onset of angina pectoris and ST segment elevation obtained were settled or discovered Left Bundle Branch Block ( LBBB ) . Primary Percutaneous Coronary Intervention (PPCI) Procedures more advisable than fibrinolysis. The purpose of this study to determine the factors that affect the risk of 3 years mortality and resulted in a scoring system STEMI patients with primary IKP based on demographic and clinical patients at the Hospital Cardiovascular Harapan Kita . This study used a retrospective cohort design with observation time for 3 years . The study population was is all STEMI patients with a diagnosis of  PPCI  ≥ 18 years old and alive at discharge at 2011-2012 in RSJPD Harapan Kita . The inclusion criteria were patients diagnosed STEMI alive at discharge at January 2011 - December 2012 and STEMI patients ≥ 18 years old with a total sample of 466 people . Data obtained from the patient  Jakarta Acute Coronary Syndromes ( JACS ) and medical records . Data analysis was performed with Stata 12. In multivariate analysis using Cox regression test time independent , STEMI patients with PPCI who irregular control have a higher mortality risk than regular controls ( Adj HR = 5.3 ; 2.345 to 13.026 ; p value = 0.0001 ) . STEMI patients with DM have a higher mortality risk than not DM ( Adj HR = 2,66 ; 1,149 to 6,150 ; p value = 0,034 ) . STEMI patients with killip class II had a higher mortality risk than Killip class  I ( Adj HR = 2,31 ; 0,991 to 5,363 ; p value = 0,035 ) . Hazard risk estimation model : H(1095h,t)=ho (1095h) exp [(0,91DM )+ (0,84 x Killip Admisi) + ( 1,75 x Kontrol)] . Keywords:  STEMI, PPCI, 3 Years Mortality

Read More
T-4763
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sekar Ayudia Rahmadani; Pembimbing: Helda; Penguji: Renti Mahkota, Hidayat Nuh Ghazali Djajuli
Abstrak:
Stroke merupakan penyakit kardiovaskular penyebab kematian peringkat kedua di tingkat dunia. Stroke dapat dikategorikan menjadi stroke iskemik dan stroke hemoragik. Secara global, sekitar 4,6 juta kasus dari 12,2 kasus stroke baru tiap tahunnya merupakan stroke hemoragik. Jumlah kasus stroke hemoragik lebih sedikit dibandingkan stroke iskemik, namun memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi faktor risiko stroke hemoragik dengan kejadian stroke hemoragik di 34 provinsi Indonesia pada tahun 2019. Peneliti menggunakan desain studi ekologi dengan unit analisis populasi. Penelitian menggunakan data sekunder dari hasil Riskesdas tahun 2018, BPS, dan penelitian oleh Widyasari, Rahman, dan Ningrum (2023). Analisis bivariat menggunakan uji korelasi dan regresi linear. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan incidence rate stroke hemoragik suatu provinsi berkorelasi dengan penurunan prevalensi hipertensi (ρ = -0,201), penurunan prevalensi diabetes mellitus (ρ = -0,291), penurunan proporsi obesitas (ρ = -0,161), dan peningkatan jumlah penduduk laki-laki (ρ = 0,250) provinsi tersebut. Peningkatan prevalensi stroke hemoragik suatu provinsi berkorelasi dengan peningkatan proporsi obesitas (R = 0,167) dan peningkatan jumlah penduduk laki-laki (R=0,308) provinsi tersebut. Akan tetapi, korelasi tersebut secara statistik tidak signifikan. Meskipun demikian, upaya pengendalian dan pencegahan faktor risiko dapat berperan dalam mengurangi kejadian stroke hemoragik.

Stroke is the second leading cause of death in the world. Stroke can be categorized into ischemic stroke and hemorrhagic stroke. Globally, about 4,6 million of 12,2 million new stroke cases are hemorrhagic strokes. Hemorrhagic stroke has a higher mortality rate than ischemic stroke despite having fewer cases. This study aims to determine the correlation of hemorrhagic stroke risk factors with hemorrhagic stroke occurrence in 2019 at 34 provinces of Indonesia. The research uses an ecological study design and secondary data from the 2018 Riskesdas, BPS, and research by Widyasari, Rahman, and Ningrum (2023). Bivariate analysis uses correlation and linear regression. Results showed that an increase of hemorrhagic stroke incidence rate in a province was correlated with a decrease in the prevalence of hypertension (ρ = -0.201), decrease in the prevalence of diabetes mellitus (ρ = -0.291), decrease in the proportion of obesity (ρ = -0.161), and an increase in the male population (ρ = 0.250). A province’s increase of hemorrhagic stroke prevalence is correlated with an increase in the proportion of obesity (R = 0.167) and the male population (R = 0.308). Correlation is not statistically significant, but controlling and preventing risk factors can still reduce hemorrhagic stroke occurrence.
Read More
S-11457
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fadhila Nafilah Azzahra; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Putri Bungsu, Bambang Widyantoro, Prima Almazini
Abstrak:
Infark Miokard Akut (IMA) menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Studi tahun 2022 mendapatkan mortality rate pasien IMA di Indonesia mencapai 8,9%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor demografi, faktor risiko, komorbiditas, parameter klinis, parameter laboratorium, pemberian terapi inisial, dan pemberian tindakan revaskularisasi dengan kejadian kematian intrahospital pada pasien IMA di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta Tahun 2019 – 2023. Desain studi cross sectional dengan populasi penelitian pasien IMA yang tercatat dalam registri Sindroma Koroner Akut (SKA) di RSJPDHK pada Januari 2019 – Agustus 2023. Analisis multivariat dengan menggunakan regresi logistik berganda untuk menemukan prediktor kematian, dan analisis skoring dilakukan dengan menggunakan ROC Curve untuk mengetahui kualitas diskriminasi skor. Sampel penelitian berjumlah 3593 pasien IMA dengan kejadian kematian intrahospital sebesar 9,6%.Variabel yang dapat dijadikan prediktor kejadian kematian intrahospital pada pasien IMA adalah Usia ≥65 tahun (AOR 1,64; 95% CI=1,24 – 2,18; p=0.001), kejadian gagal ginjal akut (AOR 1,80; 95% CI=1,32 – 2,44; p<0.001), gagal jantung akut (AOR 2,76; 95% CI=1,95 – 3,92; p<0.001), syok kardiogenik (AOR 24,45; 95% CI=16,85 – 35,47; p<0.001), FEVKi ≤ 40% (AOR 1,54; 95% CI=1,14 – 2,08; p=0.005), Hs Troponin ≥ 9 ng/dL (AOR 2,01; 95% CI=1,19 – 3,40; p=0.009), kreatinin > 2 mg/dL (AOR 1,83; 95% CI=1,26 – 2,65; p=0.001), GDS ≥ 200 mg/dL (AOR 1,71; 95% CI=1,30 – 2,25; p<0,001), riwayat dislipidemia (AOR 0,57; 95% CI=0,40 – 0,81; p=0,002), ticagrelor (AOR 0,63; 95% CI=0,41 – 0,99; p=0,043), statin (AOR 0,38; 95% CI=0,25 – 0,57; p<0,001), dan tindakan revaskularisasi (AOR 0,71; 95% CI=0,52 – 0,98; p=0,035). Hasil penilaian skoring menunjukkan nilai diskriminasi yang baik (AUC 0,886).

Acute myocardial infarction (AMI) is the leading cause of death in Indonesia. A study in 2022 found that the mortality rate of AMI patients in Indonesia reached 8.9%. This study aimed to know the relationship between demographic factors, risk factors, comorbidities, clinical parameters, laboratory parameters, administration of initial therapy, and provision of revascularization procedures with the incidence of in-hospital mortality in AMI patients at National Cardiovascular Center Harapan Kita from 2019 to 2023. The study design was cross-sectional with a population of AMI patients who were recorded in the Acute Coronary Syndrome (ACS) registry at RSJPDHK from January 2019 to August 2023. Multivariate analysis used multiple logistic regression to find predictors of in hospital mortality, and scoring analysis was carried out using the ROC Curve to determine the quality of score discrimination. Sample of this study consisted of 3593 AMI patients with an in-hospital mortality rate of 9.6%.Variables that can be used as predictors of inhospital mortality in AMI patients are age ≥65 years (AOR 1.64; 95% CI=1.24 – 2.18; p=0.001), acute kidney injury (AOR 1.80; 95% CI=1.32 – 2.44; p<0.001), acute heart failure (AOR 2.76; 95% CI=1.95 – 3.92; p<0.001), cardiogenic shock (AOR 24.45; 95% CI=16.85 – 35.47; p<0.001), left ventricular ejection fraction (LVEF) ≤ 40% (AOR 1.54; 95% CI=1.14 – 2.08; p=0.005), Hs Troponin ≥ 9 ng/dL (AOR 2.01; 95% CI=1.19 – 3.40; p=0.009), creatinine > 2 mg/dL (AOR 1.83; 95% CI=1.26 – 2.65; p=0.001), blood glucose (BG) ≥ 200 mg/dL (AOR 1.71; 95% CI=1.30 – 2.25; p<0.001), history of dyslipidemia (AOR 0.57; 95% CI=0.40 – 0.81; p=0.002), ticagrelor (AOR 0.63; 95% CI=0.41 – 0.99; p=0.043), statin (AOR 0.38; 95% CI=0.25 – 0.57; p<0.001), and revascularization (AOR 0.71; 95% CI=0.52 – 0.98; p=0.035).The results of the scoring assessment showed good discrimination values (AUC 0.886).
Read More
T-6883
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Apriany; Pembimbing: Tri Yunis Miko; Penguji: Yovsyah, Rifqi Aveuroza
Abstrak: Penyakit stroke menjadi masalah kesehatan yang serius di dunia dimana angka kematianakibat stroke cukup tinggi dan menjadi penyebab kecacatan tertinggi di seluruh dunia.Masalah stroke di Indonesia menjadi semakin penting dan mendesak, karena kinijumlah penderita stroke terbanyak di Asia adalah di Indonesia dan merupakan urutankedua terbanyak jumlah penderita usia rata-rata di atas 60 tahun. Dampak stroke yangpaling signifikan dan bertahan lama adalah kecacatan dalam waktu yang lama. Strokemenyebabkan kemandirian seseorang dalam melakukan AKS menurun. Okupasi Terapiterbukti dapat meningkatkan kemampuan penderita stroke sehingga meningkatkankemandirian dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari. Tujuan Penelitian iniadalah mengetahui gambaran faktor risiko stroke dan hubungan jenis stroke, umur, jeniskelamin, hipertensi, jumlah sesi terapi dan frekuensi Okupasi Terapi terhadapkemandirian pasien stroke paska Okupasi Terapi RSPON.Penelitian ini menggunakandesain studi potong lintang dengan uji Statistik chi square dan prevalensi rasio untukmelihat faktor risiko kemandirian pasien stroke paska Okupasi Terapi. Hasil analisisunivariat menunjukkan proporsi pasien dengan jenis stroke iskemik sebesar 66%, jeeniskelamin laki-laki (66%), umur 55-65 tahun sebesar (54%), yang memiliki riwayat strokedalam keluarga sebesar (54%), pasien stroke yang baru mengalami serangan stroke 1xpaling banyak yaitu sebesar (74%), yang memiliki hipertensi sebesar (92%), pasiendengan tidak memiliki penyakit jantung (86%), dengan tidak memiliki diabetes mellitussebesar 60% dan yang tidak merokok sebesar 54%. Proporsi pasien dengan pendidikanterakhir Sarjana sebesar 54%, yang memiliki status pekerjaan tidak bekerja sebesar 74%dan status perkawinan kawin sebesar 86%. Kondisi kemandirian pasien stroke sebelumOT sebesar 50% bergantung sedang dan kondisi sesudah melakukan OT sebesar 58%bergantung ringan. Hasil analisis bivariat mennunjukkan adanya perbaikan kondisikemandirian pasien stroke paska Okupasi Terapi akan tetapi secara statistik tidaksignifikan sehingga tidak ada perbedaan antara jenis stroke (p=0,860, PR= 0,729 (95%CI 0,207-2,575), umur (p=0,108, PR= 0,312 (95% CI 0,92-1,058), jenis kelamin (p=0,860, PR= 1,371 (95% CI 0,388-4,824), hipertensi (p=0,597, PR= 0,484 (95% CI0,62-3,776), jumlah sesi terapi OT ( p=0,321, PR= 2,259 (95% CI 0,649-7,859),frekuensi OT (p=0,264, PR= 4,267 (95% CI 0,358-50,826).Hal ini diduga disebabkanoleh jumlah sampel yang kecil sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Selainitu pelayanan pada pasien stroke di RSPON menggunakan pendekatan Neurorestorasibukan Rehabilitasi medik yang dipimpin oleh dokter saraf bukan dokter rehab mediksehingga mungkin memiliki perbedaan penilaian dan proses.Kata kunci:Kecacatan, Aktivitas Kehidupan Sehari-hari Kemandirian, Okupasi Terapi.
Read More
S-10234
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive