Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39072 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Syafiyah Maharani Mustarih; Pembimbing: Abdur Rahman; Penguji: Suyud Warno Utomo, Abdur Rochman
S-8112
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mutia Utami Butar Butar; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Laila Fitria, Heri Nugroho
S-11935
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Megawati Adhitama Putri; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Budiarti Setiyanigsih
S-8877
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Darayani Madarina; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Syahrizal Syarif, Eli Winardi
Abstrak: Penyakit diare merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian. Di Indonesia mulai dari tahun 2000 hingga 2010 IR (Insiden Rate) untuk penyakit Diare terus meningkat, bahkan pada tahun 2009 dan 2010 terjadi KLB diare di 24 kecamatan pada tahun 2009 dan 33 kecamatan pada tahun 2010. Penelitian ini menggunakan studi korelasi dan menggunakan data sekunder yang dilaksankan pada bulan Februari hingga Mei 2016 berlokasi di Wilayah DKI Jakarta. Variabel yang digunakan adalah faktor sosiodemografi (kepadatan penduduk, jenis kelamin, orang yang bekerja, pendidikan rendah dan public health center) dan faktor lingkungan (produksi sampah). Hasil analisis bivariat dengan regresi linear sederhana menunjukkan bahwa variabel yang secara signifikan terhadap prevalensi kejadian diare adalah kepadatan penduduk dengan diare (p = 0,001; r = 0,496) , rasio jenis kelamin dengan diare (p = 0,002; r = 0,463) rasio puskesmas (p = 0,011; r = 0,378). Hasil analisis multivariate dengan regresi linear ganda menunjukkan bahwa ketiga variabel tersebut memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prevalensi kejadian diare. Kata kunci : Sosiodemografi, Lingkungan, Diare, DKI Jakarta Diarrhea is still one of the main cause of pain and death. In Indonesia started to from 2000 until 2010 IR (incident rate) to diarrhea to increase even in 2009 and 2010 outbreaks of diarrhea in 24 districts in 2009 and 33 districts in 2010. This study is a correlation study using secondary data was carried out in February to May 2016 and are located in Jakarta. Values is a factor socio-demography ( population density, sex, one who works, low education and public health center ) and factors environment (production garbage). The result of the bivariate analysis with simple linear regression show that variables which significantly affect the prevalence diarrhea is population density (p = 0,001; r = 0,496), sex ratio ((p = 0,002; r = 0,463) and public health center ratio( p = 0,011; r = 0,378). The result of multivariate analysis using multiple linear regression showed that three variable of them significantly affect the prevalence diarrhea. Keyword : Sociodemograph, Environment, Diarrhea, DKI Jakarta
Read More
S-9172
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Afifah Isra Rinda Siregar; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Rizka Maulida, Sekar Astrika Fardani
Abstrak:
Latar Belakang: Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) merupakan penyakit utama dan masih menjadi beban kesehatan besar di Indonesia, terutama akibat tingginya perilaku merokok dan paparan asap rokok yang melebihi rata-rata global. Implementasi Kawasan Tanpa Rokok (KTR) telah diterapkan secara nasional, tetapi pelaksanaannya belum merata sehingga efektivitas pengendalian rokok antarwilayah bervariasi. Pulau Jawa memiliki tingkat konsumsi rokok tinggi, perbedaan kekuatan implementasi KTR, serta variasi karakteristik penduduk yang berpotensi memengaruhi risiko PPOK. Penelitian ini bertujuan menggambarkan dan mengetahui korelasi antara tingkat konsumsi rokok (pack-years), skor implementasi KTR, rasio jenis kelamin, dan tingkat melek huruf dengan proporsi penduduk berisiko PPOK di tujuh wilayah Pulau Jawa. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan unit analisis kabupaten/kota dengan total sampling (n = 7) berdasarkan data Uji Coba Deteksi Dini PPOK 2022, dashboard Implementasi KTR, dan publikasi BPS. Analisis dilakukan secara deskriptif sederhana dan uji korelasi Spearman untuk menilai hubungan antara variabel independen dan proporsi penduduk berisiko PPOK usia ≥40 tahun. Hasil: Proporsi penduduk berisiko PPOK berkisar 0,6–6,3 per 100.000 penduduk, dengan rata-rata 2,8 (95% CI = 1,28–4,40). Rata-rata pack-years adalah 30,8 (95% CI = 21,01–40,39), skor implementasi KTR 33,1 (95% CI = 14,36–51,08), rasio jenis kelamin 96,3 (95% CI = 94,50–97,77), dan tingkat melek huruf 96,7 (95% CI = 94,67–98,57). Hasil uji Spearman menunjukkan tidak ada variabel yang berhubungan signifikan dengan risiko PPOK: pack-years (r = 0,036; p = 0,939), skor KTR (r = –0,179; p = 0,702), rasio jenis kelamin (r = –0,607; p = 0,148), dan tingkat melek huruf (r = 0,214; p = 0,645). Kesimpulan: Tidak ditemukan hubungan signifikan antara pack-years, skor KTR, rasio jenis kelamin, maupun tingkat melek huruf dengan proporsi penduduk berisiko PPOK di Pulau Jawa. Temuan ini menunjukkan bahwa variasi risiko PPOK kemungkinan dipengaruhi faktor lain di luar variabel yang diteliti.

Background: Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) remains a major disease and a substantial public health burden in Indonesia, primarily due to high smoking prevalence and exposure to tobacco smoke exceeding the global average. Smoke-Free Area (SFA) policies have been implemented nationally, however, their enforcement has been uneven, resulting in regional variation in the effectiveness of tobacco control. Java Island exhibits high levels of cigarette consumption, differences in the strength of SFA implementation, and diverse population characteristics that may influence the risk of COPD. This study aimed to describe and examine the correlation between smoking consumption level (pack-years), SFA implementation score, sex ratio, and literacy rate with the proportion of the population at risk of COPD across seven regions of Java Island. Methods: This study employed an ecological study design with districts/cities as the units of analysis, using total sampling (n = 7). Data were obtained from the 2022 COPD Early Detection Pilot Program, the SFA Implementation Dashboard, and publications from Statistics Indonesia (BPS). Analyses included simple descriptive statistics and Spearman’s correlation test to assess the associations between independent variables and the proportion of the population aged ≥40 years at risk of COPD. Results: The proportion of the population at risk of COPD ranged from 0.6 to 6.3 per 100,000 population, with a mean of 2.8 (95% CI: 1.28–4.40). The mean pack-years was 30.8 (95% CI: 21.01–40.39), the mean SFA implementation score was 33.1 (95% CI: 14.36–51.08), the mean sex ratio was 96.3 (95% CI: 94.50–97.77), and the mean literacy rate was 96.7 (95% CI: 94.67–98.57). Spearman’s correlation analysis indicated no statistically significant associations between any variables and the risk of COPD: pack-years (r = 0.036; p = 0.939), SFA implementation score (r = −0.179; p = 0.702), sex ratio (r = −0.607; p = 0.148), and literacy rate (r = 0.214; p = 0.645). Conclusion: No significant associations were found between pack-years, SFA implementation score, sex ratio, or literacy rate and the proportion of the population at risk of COPD on Java Island. These findings suggest that variations in COPD risk are likely influenced by other factors beyond those examined in this study.
Read More
S-12155
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sandrina Hagja Salsabila; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Trisari Anggondowati, Nining Mularsih
Abstrak:
Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan secara global. Kejadian maupun risiko komplikasi stroke dapat dicegah melalui pengendalian faktor risiko dan komorbid. Meskipun skrining penyakit tidak menular (PTM) memegang peran krusial dalam pencegahan primer maupun tersier, evaluasi program ini di Indonesia dan Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta umumnya masih terbatas pada lingkup fasilitas kesehatan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan aspek fisiologis (hipertensi dan hiperglikemia) dan stroke berdasarkan aspek epidemiologi (waktu, tempat, dan orang), serta menjelaskan korelasi antar faktor risiko dan komorbiditas pada populasi skrining PTM DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan data agregat sekunder dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tahun 2020-2024. Analisis dengan jenis kelamin serta wilayah kota administrasi meliputi analisis tren, pemetaan kota, dan uji korelasi Spearman Rank untuk data berdistribusi tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan tren pemulihan partisipasi masif pasca pandemi Covid-19 hingga mencapai lebih dari 7 juta partisipan pada tahun 2024. Terdapat kontribusi partisipasi skrining konsisten dengan dominasi perempuan (53–56%) serta konsentrasi terbesar di Jakarta Timur. Secara wilayah kota, ditemukan tren yang berbeda dengan Jakarta Selatan konsisten memiliki beban hipertensi tertinggi. Sementara itu, beban hiperglikemia menunjukkan tren kenaikan di Jakarta Selatan dan Timur, berbeda dengan penurunan di Jakarta Pusat dan Utara. Meskipun partisipasi laki-laki lebih rendah, kelompok ini menunjukkan kerentanan lebih tinggi dengan beban penyakit yang lebih besar. Hasil penelitian menemukan bahwa beban hipertensi memiliki hubungan korelasi yang kuat dengan proporsi temuan stroke pada seluruh populasi (r= 0,677; 95% CI= 0,354 – 0,845), berbeda dengan beban hiperglikemia yang tidak berkorelasi pada populasi umum maupun pada setiap jenis kelamin. Beban hipertensi konsisten pada kedua jenis kelamin dengan korelasi pada laki-laki (r= 0,718; 95% CI= 0,440 – 0,844) tercatat lebih kuat dibandingkan perempuan (r= 0,537; 95% CI= 0,182 – 0,772). Oleh karena itu, diperlukan strategi intervensi yang gender-responsive serta pendekatan berbasis wilayah untuk mengendalikan beban penyakit di wilayah dengan risiko tinggi.

Stroke is a leading cause of death and disability globally. Both the incidence and risk of stroke complications can be prevented through control of risk factors and comorbidities. Although non-communicable diseases (NCDs) screening plays a crucial role in primary and tertiary prevention, evaluation of this program in Indonesia and Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta is generally limited to healthcare facilities. Therefore, this study aims to describe the burden of risk (hypertension and hyperglycemia) and stroke based on epidemiological aspects (time, place, and person), and to demonstrate the correlation between risk factors and comorbidities in the NCDs screening population of DKI Jakarta. This study used an ecological study design with secondary aggregate data from the DKI Jakarta Provincial Health Office for 2020-2024. Analysis by gender and administrative city area included trend analysis, city mapping, and Spearman Rank correlation test for non-normally distributed data. The results showed a trend of massive participation recovery after the Covid-19 pandemic, reaching more than 7 million participants by 2024. There was a consistent contribution to screening participation, with a female predominance (53–56%) and the largest concentration in East Jakarta. By city region, the burden shows a different pattern, with South Jakarta consistently having the highest hypertension burden. Meanwhile, the burden of hyperglycemia shows an increasing trend in South and East Jakarta, in contrast to a decrease in Central and North Jakarta. Despite lower male participation, this group demonstrates higher vulnerability with a greater burden of disease findings. The study found that the burden of hypertension was strongly correlated with stroke findings proportion in the population (r= 0,677; 95% CI= 0,354 – 0,845), in contrast to the burden of hyperglycemia findings, which did not correlate in the general population or in either sex. The pattern of hypertension findings was consistent across both sexes, with a stronger correlation in men (r= 0,718; 95% CI= 0,440 – 0,844) than in women (r= 0,537; 95% CI= 0,182 – 0,772). Therefore, gender-responsive intervention strategies and area-based approaches are needed to control the disease burden in high-risk areas.
Read More
S-12211
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andri Musita; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Kusharisupeni, Besral, Minarto, Anies Irawati
T-4782
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rachma Wenidayanti Prasetyo; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Trisari Anggondowati, Ratna Djuwita, Iram Barida Maisya
Abstrak:
Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Terjadi penurunan angka stunting tiap tahunnya, namun masih jauh dari target yang telah ditetapkan secara nasional. Kawasan Timur Indonesia (KTI) masih jauh tertinggal dari segi akses layanan dasar seperti kesehatan maupun pendidikan. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Data berasal dari data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Populasi dalam penelitian ini adalah balita berusia 6 – 59 bulan yang berada di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Stunting dalam penelitian ini didefinisikan sebagai apabila nilai perhitungan z-score < - 2 SD. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat, stratifikasi dan multivariat menggunakan cox regression untuk menghitung nilai PR. Prevalensi stunting paling tinggi di Kawasan Timur Indonesia berada di provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu sebesar 36,43%. Faktor yang secara signifikan berhubungan dengan stunting adalah usia anak, jenis kelamin anak, berat badan lahir, panjang badan lahir, akses layanan kesehatan, akses Air Minum, akses Sanitasi dan indeks pembangunan manusia dengan faktor yang paling dominan adalah akses layanan kesehatan (PR = 1,36; 95% CI = 1,25 – 1,48). Stunting di Kawasan Timur Indonesia masih cukup tinggi jika dibandingkan dengan Kawasan Barat Indonesia sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut sebagai upaya pencegahan dari stunting.

Stunting remains a major public health issue in Indonesia. Although the national stunting rate has declined each year, it is still far from the target set by the government. The Eastern Indonesia Region (Kawasan Timur Indonesia/KTI) continues to lag behind in terms of access to basic services such as healthcare and education. This study employed a cross-sectional analytical design. The data were sourced from the 2023 Indonesia Health Survey (SKI). The study population consisted of children under five years old (aged 6–59 months) living in Eastern Indonesia. Stunting was defined as having a height-for-age z-score below -2 standard deviations. Analysis included univariate, bivariate, stratified, and multivariate approaches using Cox regression to estimate prevalence ratios (PR). The highest prevalence of stunting in Eastern Indonesia was found in East Nusa Tenggara Province, at 36.43%. Factors significantly associated with stunting included child’s age, sex, birth weight, birth length, access to health services, access to drinking water, sanitation access, and the Human Development Index. The most dominant factor was access to health services (PR = 1.36; 95% CI = 1.25–1.48). The prevalence of stunting in Eastern Indonesia remains considerably higher compared to Western Indonesia, highlighting the need for further research as part of efforts to prevent stunting.

Read More
T-7345
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jenny R Batubara; Pembimbing: Rahman, Abdur; Penguji: Utomo, Suyud Warno; Rochman, Abdur
S-8448
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive