Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37428 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Melisa Rahmadini; Pembimbing: Besral; Penguji: Poppy Yuniar, Rahmadewi
S-8155
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayu Sya`bani Wulandari MD; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Milla Herayati, Rahmadewi
S-8156
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rosita Muliawati; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Besral, Rahmadewi
S-8208
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Aulia Rahman; Pembimbing: Sabarinah Prasetyo; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Tri Bayu Purnama
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai faktor apa saja yang memiliki hubungan dengan pemilihan tempat persalinan bagi wanita usia subur berusia 15-49 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data sekunder Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017 dengan analisis univariat dan bivariat. Populasi dari penelitian ini adalah wanita berusia 15-49 tahun di Indonesia yang pernah melahirkan dalam periode 5 tahun ke belakang dengan jumlah sampel sebanyak 15.357 orang.
Read More
S-10557
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gita Rinjani; Pembimbing: Meiwita Budiharsana; Penguji: Indang Trihandini, Anindita Dyah Sekarpuri
Abstrak: Angka Kematian Perinatal (AKP) merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan dalam menilai derajat kesehatan suatu bangsa. Hal ini dikarenakan kematian perinatal menyumbang angka yang cukup tinggi terhadap Angka Kematian Bayi (AKB). Di Indonesia, tidak terjadi penurunan AKP dalam sepulu htahun terakhir (2002-2012). Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah studi potong lintang. Penelitian menggunakan data sekunder SDKI 2012 denganteknik penarikan sampel cluster sampling tiga tahap. Sampel yang diambil berjumlah 15.430 responden dengan 1.420 responden mengalami kematian perinatal dan 14.010 responden lahir hidup dan tidak mengalami kematian neonatal dini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antarapendidikan, umur, paritas, komplikasi kehamilan, komplikasi persalinan, prematur, berat bayi, IMD, dan kunjungan antenatal ibu dengan kematian perinatal. Komplikasi persalinan merupakan faktor risiko yang paling tinggi dalam menyebabkan kematian perinatal. Kata kunci: Perinatal, lahir mati, komplikasi, antenatal
Perinatal Mortality Rate (PMR) is one of the indicators that can be used inassessing health status of a nation. This is because perinatal mortality is quite high contributed to Infant Mortality Rate (IMR). In Indonesia, there is no deriving of PMR in last ten years (2002-2012). The design used in this research was crosssectional study. This research used secondary data of IDHS 2012 with three stagecluster sampling technique. Samples taken were 15.340 respondents with 1.420 respondents experiencing perinatal death and 14.010 respondents were born aliveand did not experience early neonatal death. The results showed that there isassociation between maternal education, age, parity, pregnancy complication,delivery complication, premature, birth weight, early initiation of breastfeeding,and frequency of antenatal visits with perinatal mortality. Delivery complicationis the highest risk factor in affecting perinatal mortality.Key words:Perinatal, stillbirth, complication, antenatal
Read More
S-8211
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Laeli Nur Maeni; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Besral, Rahmadewi
S-8197
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ria Resti Agustina; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Indang Trihandini, Martini Rachman
Abstrak: Walaupun manfaat pemberian ASI eksklusif sangat banyak terutama untuk ibudan bayinya, prevalensi pemberian ASI eksklusif di Indonesia masih jauh dibawahtarget Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (80%). Permasalahan yangkerap di alami oleh wanita primipara adalah kegagalan proses let down yangmenyebabkan tidak keluarnya ASI. Inisisasi menyusu dini (IMD) merupakansalah satu cara untuk merangsang pengeluaran hormon oksitosin yangmemproduksi ASI. Penelitian ini merupakan analisis data sekunder dari SurveiDemografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 dengan desain penelitiancrossectional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara inisiasimenyusu dini (IMD) dengan pemberian ASI eksklusif 6 bulan pada wanitaprimipara di Indonesia. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 604 respondendengan kriteria inklusi adalah ibu primipara yang memiliki bayi berusia 6 sampai12 bulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikanantara pelaksanaan inisiasi menyusu dini (IMD) dengan pemberian ASI eksklusif6 bulan. Ibu yang melakukan inisiasi menyusu dini (IMD) memiliki peluang21,868 kali lebih tinggi untuk memberikan ASI eksklusif 6 bulan dibandingkandengan ibu yang tidak melakukan inisiasi menyusu dini setelah dikontrol olehvariabel pekerjaan ibu, kuintil kekayaan, dan berat badan lahir (95% CI: 8,956sampai dengan 53,394). Sementara itu, ibu yang tidak bekerja memiliki peluang1,717 kali lebih tinggi untuk memberikan ASI eksklusif 6 bulan dibandingkan dengan ibu yang bekerja setelah dikontrol oleh variabel inisiasi menyusu dini(IMD), kuintil kekayaan, dan berat badan lahir bayi (95% CI: 0,986 sampai dengan 3,026). Pada variabel kuintil kekayaan semakin kaya cenderung memiliki peluang yang semakin kecil untuk melakukan pemberian ASI eksklusif dan padavariabel berat badan lahir (BBL) bayi bayi yang lahir dengan berat badan lahirrendah memiliki peluang yang lebih banyak untuk memberikan ASI eksklusif.Oleh karena itu, disarankan intervensi pemberian ASI eksklusif 6 bulan melalui inisiasi menyusu dini (IMD) pada wanita primipara oleh tenaga kesehatan perlu dilakukan di fasilitas kesehatan.
Kata kunci: ASI eksklusif, inisiasi menyusu dini (IMD), pekerjaan ibu
Read More
S-8499
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ade Handayani; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Yuniar, Yusinta Aswarini
S-8241
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Umi Lutfiah; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Lukni Sabri, Rodiyawati
S-8066
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Unun Khamida Qodarina; Pembimbing: Besral; Penguji: Fitra Yelda, Anindita Dyah Sekarpuri
Abstrak: Remaja mengalami perubahan fisik, emosional, dan perkembangan sosial yang menandai perpindahan fase dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Sebagai bentuk perubahan perkembangan sosial, timbul keinginan pada remaja untuk menjalin hubungan dengan orang lain termasuk salah satunya teman sebaya. Teman sebaya dapat mempengaruhi remaja secara positif dan negatif. Penelitian dilakukan untuk mengetahui hubungan teman sebaya terhadap perilaku seksual remaja. Penelitian menggunakan desain studi cross sectional dan data Survei Demografi Kesehatan Indonesia Tahun 2012. Penelitian menggunakan kriteria inklusi remaja yang pernah atau sedang berpacaran sehingga jumlah sampel yang diperoleh sebesar 16679 remaja. Hasil penelitian menunjukkan pada remaja yang pernah atau sedang berpacaran yang mempunyai teman pernah berhubungan seksual dapat meningkatkan risiko 4,2 kali lebih tinggi untuk melakukan hubungan seksual dibandingkan dengan remaja yang tidak mempunyai teman dengan pengalaman seksual setelah variabel lain dikendalikan. Remaja yang merasa terdorong oleh teman yang pernah berhubungan seksual juga dapat meningkatkan risiko 6,2 kali lebih tinggi untuk melakukan hubungan seksual dibandingkan dengan remaja yang tidak merasa terdorong oleh pengalaman seksual teman sebaya. Variabel lain yang turut berperan dalam perilaku seksual remaja yaitu jenis kelamin, umur, status merokok, alkohol, konsumsi narkoba, dan keterpajanan media. Oleh karena itu, sosialisasi mengenai perilaku seksual serta dampaknya pada remaja, komunikasi kesehatan reproduksi dari orang tua kepada remaja, serta mengikut sertakan remaja dalam kegiatan lingkungan teman sebaya yang positif diperlukan sebagai upaya mencegah dan mengatasi permasalahan perilaku seksual di kalangan remaja. Kata Kunci: Perilaku, seksual, remaja, pengaruh, teman sebaya
Adolescents experience physical, emotional, and social development changes that marks the displacement phase ofchildhood into adulthood. As a form of social developmental changes the desire of adolescents to engage with othersincluding peer that may affect adolescent positively and negatively. The study was conducted to determine therelationship of peers on adolescent sexual behavior. The study uses cross-sectional study design and the dataIndonesia Demographic Health Survey 2012. The study has an inclusion criteria which is adolescents who have orare dating so the number of samples obtained for teens 16679. Results showed that adolescents who have or aredating have been friends intercourse can increase the risk 4,2 times higher for sexual intercourse compared withteens who do not have any friends with sexual experience after other variables are controlled. Adolescents who feelcompelled by friends who've sexual intercourse can also increase the risk 6,2 times higher for sexual intercoursecompared with teens who do not feel compelled by peer sexual experiences. Other variables that play a role inadolescent sexual behavior are gender, age, smoking status, alcohol, drug consumption, and media of exposure.
Read More
S-8143
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive