Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31510 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sumiati Bedah; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Ririn Arminsih, Budi Hartono, Didik Supriyono
T-4069
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ellysa; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Didik Supriyono, Riza Afriani Margaresa
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Ellysa Program Studi   : Epidemiologi Komunitas Judul                  : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Skabies di Pondok Pesantren Miftahul Aziz Cigombong Kabupaten Bogor Jawa Barat Tahun 2018 Pembimbing : Prof.dr. Nuning Maria Kiptiyah, MPH, Dr. PH Skabies adalah penyakit infeksi kulit menular yang disebabkan oleh Sarcoptes scabiei varian hominis yang dapat ditularkan melalui kontak langsung dan tidak langsung. Skabies merupakan masalah kesehatan di wilayah iklim tropis dan subtropis. Jumlah penderita skabies di dunia lebih dari 300 juta setiap tahunnya. Prevalensi skabies di Indonesia masih cukup tinggi karena Indonesia termasuk negara tropis, yaitu sekitar 627% dari populasi umum dan cenderung lebih tinggi pada anak dan remaja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian skabies di Pondok Pesantren Miftahul Aziz Cigombong Kabupaten Bogor jawa Barat tahun 2018. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik sebanyak 236 santri. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara total sampling dan analisis yang digunakan dengan metode Regresi Cox. Hasil analisis menunjukkan bahwa prevalensi skabies sebesar 48,7%, jenis kelamin (PR 2,079 95% CI 1,392-3,104), pengetahuan tentang skabies (PR 1,671 95% CI 1,0012,788), kebersihan tempat tidur (PR 1,506 95% CI 1,017-2,232), menggunakan tempat tidur bersama (PR 1,645 95% CI 1,033-2,621), dan kepadatan hunian (PR 1,865 95% CI 1,128-3,085) mempunyai hubungan bermakna dengan kejadian skabies. Jenis kelamin merupakan faktor yang paling ominan terhadap kejadian skabies, yaitu santri laki-laki berisiko 2,079 kali (95% CI 1,392-3,104) untuk terjadi skabies dibandingkan dengan santri perempuan. Menggunakan tempat tidur bersama merupakan faktor yang paling besar kontribusinya terhadap kejadian skabies yaitu 63,96%, artinya 63,96% kejadian skabies dapat dieliminasi atau dikurangi bila santri tidak menggunakan tempat tidur bersama/berpindah –pindah tempat tidur. Kata kunci: Skabies, pondok pesantren, jenis kelamin


ABSTRACT Name                : Ellysa Study Program : Community Epidemiology Title                  : Factors Related to the Scabies in  Miftahul Aziz Boarding  School Cigombong district Bogor West Java in 2018 Consellor : Prof. dr. Nuning Maria Kiptiyah, MPH, Dr. PH Scabies is an infectious skin disease caused by Sarcoptes scabiei varian hominis that could be transmitted through direct and indirect contact. Scabies is the health problem in tropical and subtropical climates. The number of people with scabies in the world is more than 300 million every year. Prevalence of scabies in Indonesia is still quite high, which is about 6-27% of the general population and tends to be higher in children and adolescents. The purpose of this study is to determine the factors related with the incidence of scabies in Miftahul Aziz Boarding School Cigombong Bogor West Java in 2018. This research using cross sectional design by interview, observation and physical examination 236 students, total sampling and the analysis using Cox Regresssion method. The analysis showed that the prevalence of scabies was 48.7%, sex (PR 2.079 95% CI 1,392-3,104), knowledge of scabies (PR 1.671 95% CI 1,001-2,788), bed cleanliness (PR 1.506 95% CI 1.017- 2,232), shared bed (PR 1.645 95% CI 1.033-2,621), and occupancy density (PR 1.865 95% CI 1.128-3.085) had significant association with the incidence of scabies. Sex was the most dominant factor with the incidence of scabies, the male student had 2.079 times (95% CI 1.392-3.104) for being scabies than the female student. Sharing a bed is the most contributing factor with the incidence of scabies 63,96%, it means 63.96%  the incidence of scabies could be eliminated or reduced when santri not sharing a bed or moved to another bed. Key words: scabies, boarding school, sex

Read More
T-5148
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salma Sabira; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Yovsyah, Lukman Hakim, Yuliandri
Abstrak:
Kabupaten Purworejo mengalami peningkatan kasus malaria setempat kembali pada tahun 2021 dan Kecamatan Bener adalah Kecamatan tertinggi penyumbang kasus malaria. Penelitian epidemiologi mengenai malaria yang banyak dilakukan selama ini adalah penelitian mengenai faktor risiko malaria yang pengukurannya bertujuan untuk mengetahui biobehavioral effect pada tingkat individu. Di Indonesia belum banyak dilakukan penelitian mengenai faktor risiko terjadinya malaria yang menggabungkan analisis tingkat individu dan tingkat ekologi. Penelitian ini ingin mengetahui faktor-faktor yang berperan terhadap kejadian malaria di Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo. Desain studi yang digunakan adalah gabungan dua rancangan studi yaitu rancangan studi cross sectional dan studi ekologi. Sebanyak 1240 subjek dan 28 desa yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian dengan analisis multilevel menunjukkan bahwa variabel individu yang berperan terhadap kejadian malaria adalah usia yang lebih tua ≥35 tahun (OR 2,307; 95% CI 1,511-3,481) dan jenis kelamin laki-laki (OR 6,944; 95% CI 49), pada variabel kontekstual yang berperan terhadap kejadian malaria adalah endemisitas tinggi (IOR 14,077-129,207) dan keberadaan pohon tinggi (IOR 0,563-4,766). Peran kontribusi 2 variabel kontekstual terhadap kejadian malaria sebesar 83,795%. Penanganan malaria difokuskan pada wilayah dengan tingkat endemisitas tinggi dan keberadaan pohon tinggi agar kelompok individu yang berisiko (usia ≥35 tahun dan jenis kelamin laki-laki) meningkatkan perilaku pencegahan.

In 2021, Purworejo Regency in Indonesia saw a rise in local malaria cases, with Bener District having the highest number. The research aimed to understand the factors influencing the incidence of malaria in Bener District, using a cross-sectional and ecological study design. The study involved 1240 subjects and 28 villages, with results showing that older age (OR 2.307; 95% CI 1.511-3.481) and male gender (OR 6.944; 95% CI 49) are the main individual variables affecting malaria incidence. Contextual variables, such as high endemicity (IOR 14.077-129.207) and the presence of tall trees (IOR 0.563-4.766), also play a role in malaria incidence. The contribution of these variables is 83.795%. Malaria management is now focusing on areas with high levels of endemicity and tall tree presence to encourage preventive behavior among individuals at risk, particularly those aged 35 or more and male.
Read More
T-7012
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Saleh Jasape; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Renti Mahkota, Nyoman Saniambara
Abstrak:
Rabies, penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus dari genus Lyssavirus, tetap menjadi tantangan kesehatan masyarakat global, termasuk di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia. Penelitian ini menggunakan analisis multilevel untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kejadian rabies pada tingkat individu dan kontekstual di NTT selama 2023-2024. Data dari 14 kabupaten/kota yang dikategorikan sebagai daerah endemis rabies menunjukkan bahwa kelompok usia muda (15-24 tahun), paparan kerja lapangan, dan akses ke fasilitas kesehatan yang berjarak lebih dari 207 km secara signifikan meningkatkan risiko rabies. Temuan utama mencakup nilai odds ratio (OR) sebesar 18,427 untuk akses layanan kesehatan jarak jauh dan kontribusi variabel kontekstual seperti akses layanan kesehatan sebesar 36,284% terhadap kemungkinan wabah rabies. Penelitian ini menekankan pentingnya peningkatan akses layanan kesehatan, intervensi kesehatan masyarakat yang terarah, serta kampanye vaksinasi yang efektif untuk manusia dan hewan guna mengurangi penyebaran rabies di daerah endemis seperti NTT. 

Rabies, a zoonotic disease caused by lyssaviruses, remains a significant public health challenge globally, including in East Nusa Tenggara (NTT) Province, Indonesia. This study employed a multilevel analysis to identify factors influencing rabies incidence at individual and contextual levels in NTT during 2023-2024. Data from 14 districts/cities categorized as rabies-endemic areas revealed that young age groups (15-24 years), occupational exposure, and living more than 207 km from healthcare facilities significantly increased the risk of rabies. Key findings included an odds ratio (OR) of 18.427 for distant healthcare access and a 36.284% contribution of contextual variables such as healthcare access to the likelihood of rabies outbreaks. This study underscores the importance of improving healthcare access, targeted public health interventions, and effective vaccination campaigns for both humans and animals to reduce rabies transmission in endemic areas like NTT
Read More
T-7224
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irwin; Pembimbing: Bastaman Basuki, Helda; Penguji: Yovsyah, Dede Kusmana
Abstrak:

Latar belakang: Prevalensi hipertensi semakin meningkat, demikian pula bipertensi derajat 2 yang paling tinggi risikonya berkornplikasi. Pegawai negeri sipil (PNS) juga rentan menderita hipertensi. Oleh karena itu perlu diidentifikasi faktor-faktor risiko apa saja yang berperan terhadap kejadian hipertensi derajat 2 di kalangan PNS. Metode: Desain penelitian ini adalah kasus kontrol. Kasus adalah PNS yang menderita hipertensi derajat 2 (berdasarlam mc 7 2003), sedangkan kontrol adaIah mereka yang nonnatensi. Baik kasus, maupun kontrol dipilih dengan metode diagnostik yang sarana. Penelitian dilaksanakan di kalangan PNS staf administrasi Universitas Hasanuddin pada bulan April-Mei 2007 dengan jumlah PNS 850. Hasil:, Diperoleh 55 kasus dan 177 kontrol berusia 26-69 tahun. Prevalensi hipertensi derajat I dan derajat 2 masing-masing sebesar 18,1 % dan 9,3%. Risiko hipertensi derajat 2 berhubungan dengan umur , indeks massa tubuh dan aktivitas olah raga. Sedangkan jenis, kelamin, tingkat pendidikan terakhir, status pernikahan, kegiatan fisik rumah hingga kebiasaan merokok dan minum kopi, golongan kepegawaian, mesa kerja, Riwayat hipertensi dalam keluarga dan stres kerja tidak terbukti berkaitan dengan hipertensi derajat 2. Jika dibandingkan yang berusia 26-35 tahun, mereka yang berusia 46-50 dan 51-69 tahun berisiko menderita hipertensi derajat 2 masing-masing 12 kaIi (rasio odds [OR) suaian ; 11,94; 95% intetval kepercayaan [IK) ; 1,48-96,11) dan 22 kali (OR; 21,16; 95% IK ; 2,58-183,81). Selanjutnya jika dibandingkan mereka yang berbadan normal maka yang obesitas beosiko terkena hipertensi derajat 2 sebesar 2,5 kali (OR. suaion ~ 2,52; 95% IK ~ 1,26-5,03). Sedangkan olah raga dengan intensitas sedang dapat memperkecil risiko hipertensi sebesar 11% (OR suaian ; 0,29; 95% IK = O,O9-{l,99) dibandingkan yang tidak berolahraga. Kesimpulan: Studi menyimpulkan bahwa faktor yang betperan terhadap hipertensi derajat 2 pada PNS administrasi di Unhas adalah umur diatas 46 tahun dan obesitas sedangkan olah raga sedang dapat menurunkan fisika hipertensi.


Background: At the present, the prevalence of hypertension is increasing and will result in many complications. Civil servants are 8 group with a great possibility of suffering hypertension. Therefore, it is important to identify the risk factors in stage 2 hypertension of administrative civil servants of Hasanuddin University. Methods: A case-control study was conducted among administrative civil servants of Hasanuddin University in April-May 2007. Civil servants with stage 2 hypertension (based on JNC 7 2003) were designated as cases. As controls were civil "wants with normotension. Both case and control were selected by similar diagnostic methods. Results: There were 55 cases and 1 n controls aged 26 to 69 years old. The prevalence of stage 1 and stage 2 hypertension was 18.1% and 9.3%, respectively. Stage 2 hypertension was found to be associated with age, body posture, and physical exercise. other risk factors such as gender, education, marital status, physical activity at home, smoking, daily coffee drinking, level of employment, length of employment, family history of hypertension, and job stress were not found to be related to stage 2 hypertension. Compared with subjects aged 26-35 years old, those who were 46-50 and 51-69 years old had 12-f,,1d (adjusted Odds Ratio [OR.] ~ 11.94; Confidence Interval [CI] 95% = 1.4&-96.11) and 22-fuld (OR,. 21.76; CJ 95% = 2.58-183.81) greater risk to be stage 2 hypertension. Moreover, compared to subjects with normal body posture, those Who were obese had more than 2.S-fold increased in the risk to be stage 2 hypertension. On the other hand, moderate exercise reduced the risk of stage 2 hypertension by 71% (OR,. 0.29; C195% = 0.09-{).99), compared with sedentary subjects. Conclusion: This study concluded that special attention should be taken to administrative civil servants aged 46 years and over, obese, and with moderate exercise to prevent stage 2 hypertension.

Read More
T-2609
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitri Aulia; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko, Hidayat Nuh Ghazali Djadjuli, Galuh Budhi Leksono Adhi
Abstrak:
Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular yang masih menjadi salah satu penyebab utama masalah kesehatan di dunia. Kasus TBC di Indonesia termasuk yang tertinggi kedua setelah India dengan persentase kasus mencapai 8,5%. Data Riskesdas tahun 2018 melaporkan prevalensi TBC Paru di Indonesia sebesar 0,42%. Berdasarkan penelusuran literatur, masih sedikit yang mengkaji mengenai faktor risiko TBC Paru dari berbagai level secara bersamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berperan pada level individu dan kelompok secara bersamaan terhadap kejadian TBC Paru di Indonesia menggunakan analisis multilevel. Penelitian ini menggunakan data sekunder dengan menggabungkan data Riskesdas Tahun 2018 sebagai sumber data untuk variabel level individu dan data BPS tahun 2018 sebagai sumber data untuk variabel level provinsi. Data yang berjumlah 938.389 sampel digunakan sebagai sampel penelitian. Berdasarkan hasil penelitian, variabel yang berperan terhadap kejadian TBC Paru pada level individu adalah usia (POR=4,93; 95% CI: 4,36-5,57), tingkat pendidikan (POR=1,63; 95% CI: 1,49-1,77), riwayat penyakit DM (POR= 3,77; 95% CI: 3,32-4,28), kepadatan penduduk (POR= 3,11; 95% CI: 1,81 - 5,33), kemiskinan (POR= 1,35; 95% CI: 1,07 - 1,71), dan ketersediaan fasyankes (POR= 1,36; 95% CI: 0,98 - 1,89). Selain itu, variabel yang berperan terhadap kejadian TBC Paru pada level provinsi adalah kepadatan penduduk (MOR= 1,41), kemiskinan (MOR= 1,46), dan ketersediaan fasyankes (MOR= 1,45). Berdasarkan besar kontribusi, variabel individu (usia, tingkat pendidikan, dan riwayat DM) secara bersama-sama berkontribusi sebesar 2,4%. Pada variabel konteksual, variabel kepadatan penduduk, kemiskinan, dan ketersediaan berkontribusi masing-masing sebesar 4,1%, 0,5% dan 0,8%. Namun, jika ketiga variabel dimasukkan secara bersama-sama ke dalam model, kontribusinya meningkat menjadi 9,3%.

Tuberculosis (TB) is an infectious disease which is still the main cause of health problems in the world. Indonesia is the second highest country after India with 8.5% of all cases in the world. Riskesdas data in 2018 reported that the prevalence of pulmonary tuberculosis in Indonesia was 0.42%. There have been many studies that have examined the effects of factors contributing to the prevalence of pulmonary TB at individual, environmental, or global level. Based on the results of a literature search, there are still few studies that examine the risk factors for pulmonary tuberculosis from various levels. This study aimed to analyze the factors contributing at the individual and group levels simultaneously on the prevalence of pulmonary TB in Indonesia using multilevel analysis. The study design used was a combination of two study designs (hybrid design)-cross sectional and ecological study designs. This study used secondary data by combining data from two different sources: Riskesdas in 2018 as the data source for individual-level variables and BPS in 2018 as the data source for province-level variables. There were 938.389 samples were used in this study. Based on the result, it is known that the variables that contribute to the incidence of pulmonary tuberculosis at the individual level were age (POR=4.93; 95% CI: 4.36-5.57), level of education (POR=1.63; 95% CI: 1 .49-1.77), history of DM (POR= 3.77; 95% CI: 3.32-4.28), population density (POR= 3.11; 95% CI: 1.81 - 5.33 ), poverty (POR= 1.35; 95% CI: 1.07 - 1.71), and availability of health facilities (POR= 1.36; 95% CI: 0.98 - 1.89). In addition, the variables that contribute to the incidence of pulmonary TB at the provincial level are population density (MOR = 1.41), poverty (MOR = 1.46), and availability of health facilities (MOR = 1.46). = 1.45). Based on the contribution, individual variables (age, education level, and history of DM) together contributed 2.4%. In the contextual variables, population density, poverty and availability contributed respectively 4.1%, 0.5% and 0.8%. However, when these three variables were included in the model together, their contribution increases to 9.3%.
Read More
T-6500
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lia Alfiana Fauziah; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Dwi Gayatri, Fahiyah Isbaniyah
Abstrak: Penyakit tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia baik dalam hal prevalensinya maupun masalah-masalah lainnya yang ditimbulkannya. Upaya dalam penanggulangan penyakit tuberkulosis masih terus dilakukan. Namun dalam perjalanannya banyak hambatan dalam upaya tersebut, salah satunya adalah adanya fenomena tuberkulosis multidrug resistant (TB-MDR). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian TB-MDR. Desain penelitian yang digunakan adalah kasus-kontrol dengan populasinya pasien TB di RSUP Persahabatan tahun 2013.
 
Penelitian ini menghasilkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian TB-MDR di RSUP Persahabatan adalah umur (OR 1,7; 95%CI 0,7-4,1), konsumsi alkohol (OR 1,5; 95%CI 0,5-4,5), riwayat kontak TB (OR 2,1; 95%CI 0,8-5,2), kepatuhan minum obat (OR 10,8; 95%CI 4,4-26,8), status gizi (OR 3,3; 95%CI 1,4-7,8) dan diabetes mellitus (OR 2,1; 0,7-5,8). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa untuk mendukung pelaksanaan program DOTS, penderita TB harus terus dimonitoring dan dikontrol selama pengobatannya terutama dalam hal kepatuhan dalam minum obat.
 

Tuberculosis remains a major problem of public health in Indonesia, both in terms of prevalence and other problems it causes. An attempt of the tuberculosis prevention is still underway. But along the way there are a lot of obstacles in it, one of which is a phenomenon of multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB). This study intended to find the factors that affecting the MDR-TB. The design study is a case-controland the population is patients with TB at RSUP Persahabatan in 2013.
 
This study found that affected is the factors in MDR-TB at RSUP Persahabatan are the age (OR 1.7; 95%CI 0.7-4.1), alcohol consumption (OR 1.5; 95%CI 0.5-4.5), history of TB contact (OR 2.1; 95%CI 0.8-5.2), medication compliance (OR 10.8; 95%CI 4.4-26.8), nutritional status (OR 3.3; 95%CI 1.4-7.8) and diabetes mellitus (OR 2.1; 95%CI 0.7-5.8). The study showed that to support the implementation of DOTS program, TB patients should be closely monitored and controlled during treatment, especially in terms of medication compliance.
Read More
S-7783
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Denny Saptono Fahrurodzi; Pembimbing: Helda; Penguji: Yovsyah, Julianty Pradono
Abstrak: Latar Belakang: Gagal jantung memiliki angka bertahan hidup yang rendah. Sekitar 26 juta orang dewasa hidup dengan gagal jantung di dunia. Berdasarkan Riskesdas 2013, prevalensi gagal jantung berdasarkan wawancara terdiagnosis dokter di Indonesia sebesar 0,13 %. Metode: Penelitian ini menggunakan data Riskesdas tahun 2013 dengan desain studi cross-sectional. Sampel adalah seluruh penduduk yang berada di Indonesia berusia ≥18 tahun. Diagnosis gagal jantung (decompensatio cordis) berdasarkan diagnosa dokter. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 655.192 orang. Hasil: Analisis data menunjukkan prevalensi gagal jantung terdiagnosis sebesar 0,1%. Faktor risiko yang paling besar terhadap kejadian gagal jantung di Indonesia adalah penyakit jantung koroner (POR=42,578; 95% CI=35,982-50,383; p<0,001). Kesimpulan dan saran: Kejadian gagal jantung berdasarkan diagnosis dokter memiliki prevalensi 0,1% dan penduduk perempuan yang memasuki masa menopause dan berumur lebih dari 41 tahun diharapkan rutin melakukan cek kesehatan jantung serta mengurangi aktivitas sedentari. Selain itu, penduduk disarankan untuk menghindari penyakit jantung koroner, diabetes mellitus, stress, hipertensi, obesitas, dan merokok dengan pola hidup sehat agar terhindar dari gagal jantung. Kata kunci: Gagal Jantung, Sosiodemografi, Gaya Hidup, Riwayat Penyakit Latar Belakang: Gagal jantung memiliki angka bertahan hidup yang rendah. Sekitar 26 juta orang dewasa hidup dengan gagal jantung di dunia. Berdasarkan Riskesdas 2013, prevalensi gagal jantung berdasarkan wawancara terdiagnosis dokter di Indonesia sebesar 0,13 %. Metode: Penelitian ini menggunakan data Riskesdas tahun 2013 dengan desain studi cross-sectional. Sampel adalah seluruh penduduk yang berada di Indonesia berusia ≥18 tahun. Diagnosis gagal jantung (decompensatio cordis) berdasarkan diagnosa dokter. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 655.192 orang. Hasil: Analisis data menunjukkan prevalensi gagal jantung terdiagnosis sebesar 0,1%. Faktor risiko yang paling besar terhadap kejadian gagal jantung di Indonesia adalah penyakit jantung koroner (POR=42,578; 95% CI=35,982-50,383; p<0,001). Kesimpulan dan saran: Kejadian gagal jantung berdasarkan diagnosis dokter memiliki prevalensi 0,1% dan penduduk perempuan yang memasuki masa menopause dan berumur lebih dari 41 tahun diharapkan rutin melakukan cek kesehatan jantung serta mengurangi aktivitas sedentari. Selain itu, penduduk disarankan untuk menghindari penyakit jantung koroner, diabetes mellitus, stress, hipertensi, obesitas, dan merokok dengan pola hidup sehat agar terhindar dari gagal jantung. Kata kunci: Gagal Jantung, Sosiodemografi, Gaya Hidup, Riwayat Penyakit.
Read More
S-9318
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Megawati Adhitama Putri; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Budiarti Setiyanigsih
S-8877
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Restya Sri Sugiarti; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Tri Yunis Miko, Siti Syamsiah
S-8722
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive