Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 30375 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ita Patriani, Dumilah Ayuningtyas
KJKMN Vol.8, No.2
Depok : FKM UI, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ita Patriani; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Sjaaf, Amal C.; Hartono, Budi; Megraini, Amila
Abstrak:

Kepatuhan (compliance), aderensi (adherency), dan konkordansi (concordance) adalah faktor yang sangat penting dalarn upaya penanganan penyakit kronik TB Paru, hipertensi, asrna. Mengingat pengobatan penyakit kronik rnernbutuhkan tidak hanya ketersediaan obat dan petugas kesehatan yaitu dokter, tetapi juga ketiga faktor tersebut. Untuk rnewujudkan sikap konkordansi dibutuhkan komunikasi efektif antara dokter dan pasien. Komunikasi yang terj alin baik akan rneningkatkan pernaharnan dan rnotivasi dalarn diri pasien untuk rnengikuti nasehat dari dokter. Penelitian ini dilaliukan karena tingginya angka penderita dan angka kegagalan berobat (drop out) pasien tuberkulosis paru, hipertensi, asma di RSUD Kota Mataram. Melalui penelitian ini dapat dilihat adanya hubungan konnunikasi dokter, dan karakteristik pasien dengan sikap konkordansi. Penelitian dengan desain cross Sectional ini dilakukan terhadap 174 responden. Pendidikan, pengeluaran, dan kornunikasi rnerupakan variabel yang berhubungan dengan sikap konkordansi pada pasien TB, hipertensi dan asma. Sebagai saran untuk tindak lanjut adalah peningkatan fasilitas ruangan sehingga pasien dan dokter merasa nyarnan untuk berkornunikasi, penyelenggaraan program pengernbangan kemarnpuan komunikasi dokter, dan survei secara berkala tentang proses komunikasi dokter-pasien.


 Compliance, adherence, and concordance are crucial factors in the handling of chronic diseases like lung tuberculosis, hypertension, and asthma. Regarding as the therapy of chronic diseases is not only needed drugs supply and health staff that is doctor, but also the three of factors as mentioned above. To accomplish a concordance attitude is needed an effective communication between doctor and patient. Well established communication may increase the understanding and motivation of patients to comply the doctor?s advice. This study was conducted because high prevalence rate and drop-out rate ofthe patients of lung tuberculosis, hypertension, and asthma at Mataram City General Hospital. This study showed that doctor communication and characteristics of patients related to the concordance attitude. Cross sectional design was employed in this study with 174 respondents. Education, expenses, and communication were variables that related to the concordance attitude on the patients of lung tuberculosis, hypertension, and asthma. It is recommended to maintain room facilities so that patient and doctor feel comfortable to communicate and to conduct a doctor communication skill development program as well as a regular survey of patient-doctor communication process.

Read More
B-1436
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marlina Br Ginting Manik; Pembimbing: Kusdinar Achmad; Penguji: Abdur Rachman, Hadi Pratomo, Hafni Rochmah, Hernani
T-2128
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pribakti B.
MJKI No.9, Tahun XL
Jakarta : Medika Media Mandiri, 2014
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ida Diana Sari, Rofiangatul Mubasyiroh, Sudibyo Supardi
BPK Vol.45, No.1
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2016
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sari Pediatri, Vol.10, No.5, Febr. 2009, hal. 314-319, ( Cat. ada di bendel 2008 - 2009 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alius Cahyadi, Venty
JInMA-Vol.61/No.4
Jakarta : IDI, 2011
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dani Iswara, Anis Fuad
CDK Vol.35, No.1 (2008)
Jakarta : Kalbe Farma, 2008
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Buku 4, Koran Tempo hal. 88
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Koran   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Henik Saefulmilah; Pembimbing: Sabarinah; Penguji: Dian Ayubi, Puput Oktamianti, Ida Bagus Sila Wiweka, Indra Rachmad Dharmawan
Abstrak:
Latar belakang: Lama hari rawat (LHR) di RS adalah salah satu indikator efisiensi pemberian layanan kesehatan, juga merupakan faktor utama yang mempengaruhi biaya pengobatan pasien rawat inap TB. Implementasi clinical pathway (CP) adalah rencana tatalaksana pasien berupa standarisasi langkah-langkah penanganan pasien mulai masuk RS sampai dengan keluar RS yang telah dikembangkan dengan tujuan mengurangi variasi pelayanan termasuk untuk mengontrol LHR di RS. Sebagai upaya mewujudkan layanan TB yang berkualitas RSPG sudah menerapkan CP dalam tatalaksana pasien rawat inap dengan TB Paru tetapi LHR pasien dengan TB Paru masih bervariasi, bahkan ada kasus dengan LHR yang memanjang, oleh sebab itu penelitian terkait analisis implementasi CP terhadap LHR pasien dengan diagnosis TB Paru perlu untuk dilakukan untuk melihat hubungan implementasi clinical pathway terhadap LHR di RSPG. Tujuan Penelitian: analisis hubungan implementasi CP terhadap LHR pada pasien rawat inap dengan TB Paru di RSPG. Metode:Penelitian ini berjenis kuantitatif dengan desain cross-sectional, variabel independen adalah implementasi CP, karakteristik pasien (usia, jenis kelamin, kelas rawat inap, tipe pasien) dan kondisi klinis (diagnosis utama, severity level, pemeriksaan HIV dan penyakit DM), dan variabel dependen adalah LHR. Penelitian menggunakan data sekunder, metode pengumpulan data melalui telusur rekam medik dengan jumlah sampel 456 yang diambil secara acak sederhana, kriteria inklusi pasien yang dirawat di RSPG tahun 2023 dengan diagnosis utama TB Paru sensitif obat, dan kriteria eksklusi pasien rawat inap TB Paru dengan cara keluar dari RS atas permintaan sendiri, dirujuk, atau meninggal. Analisis data dengan menggunakan software SPSS. Hasil: Rata-rata LHR dari 456 sampel penelitian adalah 6,13 hari (95% CI: 5,84-6,42 hari), 54,8% pasien dengan LHR ≤ 5 hari. kepatuhan implementasi baik 37,7%, proporsi LHR ≤5 hari pada CP baik adalah 75,5% sedangkan pada CP tidak baik 42,3%. Implementasi CP memiliki hubungan yang signifikan dengan LHR (P-value 0,0001), implementasi CP yang tidak baik memiliki risiko sebesar 4,91 kali lebih tinggi untuk terjadi LHR lebih lama dari standar (LHR > 5 hari) dibandingkan implementasi CP yang baik setelah dikontrol variabel kelas rawat dan tipe pasien. Kesimpulan: Implementasi CP, usia, pemeriksaan HIV dan penyakit DM berhubungan signifikan terhadap LHR setelah dikontrol variabel kelas rawat dan tipe pasien, variabel yang paling dominan mempengaruhi LHR adalah implementasi CP (OR 4,91).

Background: Length of hospital stay (LOS) is a key indicator of healthcare service efficiency and a major factor influencing the treatment costs for inpatient tuberculosis (TB) patients. The implementation of clinical pathways (CP) is a standardized patient management plan designed to reduce service variations and control LOS. Despite the implementation of CP for inpatient management of pulmonary TB at RSPG, LOS for TB patients still varies, with some cases exhibiting extended stays. Thus, analyzing the impact of CP implementation on the LOS of patients diagnosed with pulmonary TB is necessary to understand its effectiveness at RSPG. Research Objective: This studi aims to analyze the relationship between CP implementation and LOS among inpatient pulmonary TB patients at RSPG. Methods: This quantitative research, a cross-sectional design. The independent variables include CP implementation, patient characteristics (age, gender, class of inpatient care, patient type), and clinical conditions (primary diagnosis, severity level, HIV test, and diabetes mellitus). The dependent variable is LOS. Secondary data was collected through medical record reviews of a randomly selected sample of 456 patients. Inclusion criteria were patients admitted to RSPG in 2023 with a primary diagnosis of drug-sensitive pulmonary TB, while exclusion criteria were pulmonary TB patients discharged against medical advice, referred out, or deceased. Data analysis was performed using univariate, bivariate, and multivariate methods with SPSS software Result: The average LOS for the 456 studi samples was 6.13 days (95% CI: 5.84-6.42 days), with 54.8% of patients having an LOS ≤ 5 days. Good compliance with CP implementation was observed in 37.7% of cases. The proportion of LOS ≤ 5 days was 75.5% in patients with good CP compliance, compared to 42.3% in those with poor CP compliance. CP implementation was significantly associated with LOS (P-value 0.0001), with poor CP implementation resulting in a 4.91 times higher risk of extended LOS (>5 days) compared to good CP implementation, after controlling for class of inpatient care and patient type. Conclusion: CP implementation, age, HIV testing, and diabetes mellitus are significantly associated with LOS after controlling for the variables class of inpatient care and patient type. The most dominant factors influencing LOS is the CP implementation (OR 4.91).
Read More
T-6993
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive