Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 28087 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sudihati Hamid; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Endang Laksminingsih Achadi, Siti Arifah Pujonarti, Martini, Itje A. Ranida
Abstrak:

Anemia Gizi yang disebabkan karena kekurangan zat besi masih merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia. Survai Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995 menunjukkan bahwa 57,1% Remaja Putri (usia 10-14 tahun) dan 39,5% Wanita Usia Subur (WUS) menderita anemia. Hasil penelitian pada remaja putri di SMUN 3 Padang tahun 1999 juga menunjukkan angka anemia yang cukup tinggi yaitu 25,6%. Namun sejauh ini belum diketahui faktor-faktor apa yang berhubungan dengan terjadinya anemia atau rendahnya kadar hemoglobin pada siswi tersebut.Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran asupan zat gizi terutama energi, protein, vitamin C, dan zat besi serta faktor lainnya yang berkaitan dengan kejadian anemia. Penelitian dilakukan pada siswi SMUN 3 Kota Padang Provinsi Sumatera Barat Desain penelitian adalah cross sectional. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara purposive sampling sedangkan pengambilan sampel dilakukan secara systematic random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 192 orang siswi.Hasil penelitian menunjukkan besarnya prevalensi anemia sebesar 29,2%. Terdapat hubungan bermakna antara asupan zat gizi (energi,protein, zat besi) dengan kadar Hb siswi (p< 0,05). Faktor pendapatan per kapita berhubungan secara bermakna terhadap kadar Hb, sedangkan tingginya konsumsi bahan makanan penghambat absorbsi zat besi, rendahnya konsumsi bahan makanan peningkat absorbsi zat besi, pola haid yang lama, dan pendidikan ibu yang rendah menunjukkan persentase kejadian anemia yang lebih tinggi walaupun tidak bermakna secara uji statistik. Dan uji multivariat ditemukan 2 (dua) faktor yang berhubungan secara bermakna dengan kadar Hb yaitu asupan protein dan pendapatan per kapita keluarga. Asupan protein merupakan faktor dominan berhubungan dengan kadar Hb.Dari hasil penelitian disarankan kepada sekolah untuk mengembangkan program pencegahan dan penanggulangan anemia dengan pendidikan kesehatan dan gizi melalui diskusi peer group secara berkala, pengembangan materi KIE yang menarik sesuai dengan minat remaja, pengadaan dan pemberian tablet tambah darah bagi siswi pada saat haid, pemeriksaan Hb secara berkala, dan pemberian tablet tambah darah bagi yang anemia. Kegiatan ini dilaksanakan bekerja sama dengan organisasi BP3,OSIS, Puskesmas/Dinas Kesehatan Kota Padang, Akademi Gizi Padang, dan Distributor obat.Perlu penelitian dengan ruang lingkup lebih luas untuk mengetahui besarnya permasalahan anemia gizi di Kota Padang, khususnya pada remaja putri sebagai calon ibu agar mutu SDM dapat lebih dioptimalkan.


 

Nutritional Anemia, and specifically iron deficiency anemia remains one of the most severe and important nutritional deficiencies in Indonesia to day. The household health survey (SKRT) conducted in 1995 showed that 57,1% of adolescent girls (10-14 years old) and 39,5% women of reproductive age (15-44 years old) suffered from anemia. The result of survey on adolescent school girls at SMUN 3 Padang in 1999, showed that prevalence of nutritional anemia among that girls was 25,6%. So far, the factors which are related to that problem not yet known. The potential consequences of anemia in adolescent girls may include fatigue, impaired physical performance, lowered endurance, reduced attention span, decreased school performance and leads to increased risk for morbidity and mortality among pregnant women.The objective of this study was to find out the description of nutrients intake (energy, protein, vitamin C, iron) and other factors related to hemoglobin concentration in adolescent school girls. The study has been done for adolescent school girls at SMUN 3 Padang, West Sumatera. Research designed was using cross sectional study and location of the study based on purposive sampling. Sampling used by systematic random sampling and sample size were 192 adolescent school girls.The results indicates that 29,2% of adolescent schoolgirls was suffered from anemia (Hb concentration < 12 g/dl) and nutrients intake (energy, protein, iron) had significant relation to concentration of hemoglobin of adolescent schoolgirls (p<0,05). The household income per capita also had statistically significant relation to concentration of hemoglobin, while high consumption of inhibitor factor of iron absorption, low consumption of enhancer factor of iron absorption, length of menstruation patterns, and low level of mother education had relation to concentration of hemoglobin but non significant by using statistics. Results of multivariate statistics showed that 2 (two) factors which are protein intake and household income per capita were related significantly with hemoglobin concentration. Protein intake was dominant factor related to hemoglobin concentration.According to the results of the study the author suggests to school to develop preventive and curative program through health and nutrition education with peer group discussion regularly, to develop the attractive material for IEC, to provide and gives iron supplementation to menstrual school girls, to assess hemoglobin concentration regularly, and gives iron supplementation to anemic girls. The activity can be done by teamwork with BP3 organization, OSIS, Public Health Center/Padang Health District, Academy of Nutrition, and Pharmacy Distributor.It needed a study with wide-scale to investigate the problem of nutritional anemia in Padang city, especially in adolescent girls as future mothers in order to make human resources optimalized.

Read More
T-1225
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurhanifah; Pembimbing: Fatmah, Endang Laksminingsih Achadi; Penguji: Kusharisupeni, Iip Syaiful, Masni Asbudin
T-2650
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elisabet Anggita Siregar; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Rahmawati
Abstrak:
Risiko kekurangan energi energi kronik (KEK) merupakan situasi dimana remaja putri mempunyai kecenderungan menderita KEK. Kategori risiko kekurangan energi kronik (KEK) di Indonesia didasari pada hasil pengukuran lingkar lengan atas (LILA) kurang dari atau sama dengan 23,5 cm atau pada pita LILA bagian berwarna merah, jika hasil pengukuran lebih dari 23,5 cm maka tidak ada risiko menderita KEK. Kekurangan energi kronik (KEK) yang terjadi pada remaja merupakan suatu masalah gizi yang harus segera diatasi, mengingat dampak KEK pada remaja putri dapat berkelanjutan hingga usia dewasa dan dapat berdampak buruk pada saat hamil serta melahirkan bayi yang stunting. Prevalensi risiko (KEK) pada sekolah ini lebih besar dari prevalensi nasional. Remaja putri dipilih karena prevalensi kurang energi kronik (KEK) pada wanita usia subur tertinggi di usia 15-19 tahun. Penelitian ini menggunakan desain studi analitik deskriptif dengan menggunakan metode cross sectional/ potong lintang dan metode pengambilan sampelnya dengan simple random sampling pada siswi SMK Informatika Bina Generasi 3 Bogor yaitu kelas 10 - 12 periode 2022/2023. Pengolahan data untuk mengetahui asupan energi dan asupan gizi makro dengan menggunakan program nutrisurvey. Analisis frekuensi makan, kebiasaan sarapan pagi, citra tubuh, pengetahuan gizi remaja, uang saku, dan pekerjaan ibu dengan kejadian KEK analisis univariat dan analisis bivariat yaitu menggunakan analisis statistik chi-square. Sebanyak 53,3% siswi SMK Informatika Bina Generasi 3 berisiko KEK dan 47,8% tidak berisiko KEK. Berdasarkan data hasil analisis univariat didapatkan bahwa resiko KEK tertinggi terdapat pada responden yang memiliki asupan energi kurang (85%), asupan karbohidrat kurang (89,4%), asupan lemak kurang (78,8%), asupan protein kurang (81,4%), frekuensi makan kurang (57,5%), jarang sarapan pagi (69,9%), pengetahuan gizi kurang (78,8%). Adanya hubungan yang bermakna antara asupan energi, asupan karbohidrat, asupan lemak, asupan protein, frekuensi makan, dan pengetahuan gizi dengan risiko kurang energi kronik (KEK) pada siswi SMK Informatika Bine Geberasi 3 Kabupaten Bogor Tahun 2023. Asupan energi merupakan faktor dominan terjadinya risiko KEK pada siswi SMK Informatika Bine Geberasi 3 Kabupaten Bogor Tahun 2023. Siswi yang mempunyai asupan energi yang kurang berpeluang 10,962 kali lebih besar berisiko KEK dibandingkan dengan responden dengan asupan energi yang cukup.

The risk of chronic energy deficiency (CED) is a situation where young women have a tendency to suffer from CED. The category of chronic energy deficiency (CED) in Indonesia is based on the results of measurements of the upper arm circumference (LILA) less than or equal to 23.5 cm or on the red LILA band; if the measurement results are more than 23.5 cm, then there is no risk of suffering KEK. Chronic energy deficiency (CED) that occurs in adolescents is a nutritional problem that must be addressed immediately, bearing in mind that the impact of KEK on young women can continue into adulthood and can have a negative impact during pregnancy and giving birth to stunted babies. The risk prevalence (KEK) in this school is greater than the national prevalence. Young women were chosen because they have the highest prevalence of chronic energy deficiency (CED) among women of childbearing age, aged 15–19 years. Bina Generation 3 Bogor, namely classes 10–12 for the 2022–2023 period Data processing to determine energy intake and macronutrient intake using the nutrisurvey program Analysis of eating frequency, breakfast habits, body image, knowledge of adolescent nutrition, pocket money, and mother's occupation with the incidence of SEZ univariate analysis and bivariate analysis using chi-square statistical analysis As many as 53.3% of Informatics Bina Generation 3 Vocational School students are at risk of KEK, and 47.8% are not at risk of KEK. Based on data from univariate analysis, it was found that the highest CED risk was found in respondents who had less energy intake (85%), less carbohydrate intake (89.4%), less fat intake (78.8%), less protein intake (81.4%), less frequency of eating (57.5%), rarely breakfasted (69.9%), and a lack of knowledge of nutrition (78.8%). There is a significant relationship between energy intake, carbohydrate intake, fat intake, protein intake, meal frequency, and nutritional knowledge and the risk of chronic energy deficiency (CED) in female students of SMK Informatika Bina Geberasi 3 Bogor Regency in 2023. Energy intake is the dominant factor for risk KEK for female students of SMK Informatika Bina Geberasi 3 Bogor Regency in 2023. Students who have less energy intake are 10.962 times more likely to be at risk of KEK compared to respondents with sufficient energy intake.
Read More
S-11479
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sarah Christy; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Endang L. Achadi, Yunita
S-8516
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mulyatni Nizar; Pembimbing: Fatmah Yusron; Penguji: Asih Setiarini, Endang L.Achadi, Penina Regina, Dewi Permaisih
Abstrak:
Status gizi kurang di Indonesia masih merupakan masalah gizi utama yang belum tertanggulangi secara tuntas. Data Susenas 1999 menemukan 24,2% wanita usia subur menderita kurang energi kronis yang memberikan indikasi bahwa pada remaja putri masih terdapat gizi kurang khususnya kurang energi protein. Masalah kekurangan energi protein pada remaja khususnya remaja putri belum banyak mendapat perhatian. Dilain pihak remaja putri diharapkan dapat melahirkan generasi penerus yang sehat dan berkualitas. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang status gizi remaja putri dan faktor-faktor yang berhubungan. Penelitian dilakukan pada Sekolah Menengah Umum Negeri dan Madrasah Aliyah Negeri di Kota Padang Propinsi Sumatera Barat. Disain penelitian ini adalah potong lintang (cross sectional), yang dilakukan pada bulan Februari - Maret 2002. Pengambilan sampel dilakukan secara systematic random sampling terhadap siswi dengan jumlah sampel 293 orang, yang sekaligus dijadikan sebagai responden. Pengumpulan data status gizi dengan cara pengukuran berat dan tinggi badan dan pengukuran variabel bebas seperti persepsi terhadap ukuran tubuh, aktifitas fisik, kebiasaan makan, pengetahuan gizi, riwayat penyakit dan penghasilan keluarga dengan wawancara terstruktur sedangkan konsumsi zat gizi (energi, protein, lemak dan karbohidrat) dengan "recall 24 jam". Status gizi ditentukan dengan Indeks Massa Tubuh dari hasil pengukuran berat dan tinggi badan. Analisis bivariat dilakukan dengan uji Kai-Kuadrat dan analisis multivariat dengan Regresi Logistik Ganda. Hasil penelitian ini mendapatkan proporsi responden yang mempunyai status gizi kurang sebesar 30.7% dengan penyebaran 23.9% dengan status kekurangan gizi tingkat ringan (IMT 17.0 -18.5) dan 6.8% kekurangan gizi tingkat berat (IMT 17.0). Sebagian besar responden mempunyai tingkat konsumsi zat gizi kurang (74.7% tingkat konsumsi energi kurang, 56.0% tingkat konsumsi protein kurang, 68.6% tingkat konsumsi lemak kurang dan 58.4% tingkat konsumsi karbohidrat kurang), sebanyak 49.5% responden mempunyai persepsi terhadap ukuran tubuh kurang, 51.2% mempunyai aktifitas fisik tinggi, 47.1% mempunyai kebiasan makan kurang, 41.3% mempunyai pengetahuan gizi kurang, 30.0% mempunyai riwayat penyakit dan 66.3% mempunyai penghasilan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang bermakna tingkat konsumsi energi, persepsi terhadap ukuran tubuh dan aktifitas fisik dengan status gizi responden (p<0.05). Persepsi terhadap ukuran tubuh dan tingkat konsumsi energi merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan status gizi responden. Dari hasil penelitian tersebut disarankan agar lebih dipererat kerjasama antara Dinas Pendidikan Nasional dan Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Barat, dalam hal penyebarluasan informasi gizi dan kesehatan kepada anak didik melalui kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah serta melakukan monitoring status gizi anak didik secara berkala. Disamping itu juga disarankan untuk memasukkan mata ajaran tentang gizi dan kesehatan dasar secara khusus sebagai muatan lokal. Penelitian tentang masalah gizi remaja perlu diperbanyak agar didapatkan informasi yang lebih banyak pula tentang masalah gizi remaja yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan program gizi pada remaja.

Factors that Related to the Girl Adolescences Nutritional Status at a State Senior High School and State Islamic High School in Padang-West Sumatra Province in 2002Malnutrition in Indonesia still become a main problem in nutrient that haven't covered yet The National Social Economic Survey (1999) found that 24.2 % woman in a fertile age suffer from chronically energy malnutrition. This condition gives indication that adolescences have an undernourished especially protein energy malnutrition. Energy protein malnutrition problem in adolescences especially woman haven't get a lot of attention. In other side, they are expected to birth a quality and healthy generation. The objective of this research was to obtain illustration about adolescences nutritional status and factors that related to it. This research was conducted in state senior high school and state Islamic senior high school in Padang-West Sumatra Province. The research design was cross sectional that done in February-March 2002. The sample taking done by using a systematic random sampling to girl students and the entire sample were 293 persons that then become a respondent. Dependent variables of data collecting such as body size perception, physical activity, eating habit, nutrient knowledge, disease background, and family income collected by using a structural questionnaire while nutritional consumption (energy, protein, fat and carbohydrate) using a 24 hours recall. And the nutritional status determined by using calculation Body Mass Index (BMI) was taken from height and weight of each respondent. Bivariat analysis used a Chi-Square Test, and the multivariat analysis use a Multiple Logistic Regression. The Result of the research showed that 30.7 % respondent were malnutrition with spread of 23.9% respondent were mild malnutrition (BMI 17.0-18.5) and 6.8% were severe malnutrition (BMI < 17.0) almost all respondent get an low nutritional level consumption (74.7% low energy consumption, 56.0% low protein consumption, 68.6% low fat consumption and 58.4% low carbohydrate consumption), 9.5% respondent have a low body size perception, 51.2% had high physical activity, 47.1% had low eating habit, 41.3% had low nutritional knowledge, 30.0% had a disease background and 66.3% have a high income. The result showed that there is a significant relation between energy consumption, body size perception, and physical activity with a respondent nutrient status (p<0.05). Body size perception and energy consumption is the dominant factor that related to the respondent nutritional status. According to the result, it suggested that the National Education Department and Health Department of West Sumatra Province should make a strong partnership in the way to spread out nutrient and health information to students through School Health Attempt and make a monitoring of students nutrient status periodically. Beside that, it also suggests to put a basic nutrient and health as a subject matter in school. We need a lot of research concern in adolescences problems in order to get more information about adolescences nutrient problems that can be considered in making a nutrient program for adolescences.
Read More
T-1297
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mahmud Fauzi; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Endang Laksminingsih Achadi, Siti Arifah Pujonarti, Rachman Rauf
Abstrak:

Anemia gizi yang disebabkan karena kekurangan zat besi masih merupakan masalah gizi utama di Indonesia. SKRT tahun 1995 menunjukkan bahwa 50,9 % ibu hamil menderita anemia, sedangkan pada kehamilan trimester III angkanya sebesar 49,2 %. Hasil survey anemia gizi ibu hamil di kabupaten Donggala tahun 1996, juga menunjukkan angka anemia yang sangat tinggi, yaitu 92,12 %. Hal tersebut menunjukkan bahwa anemia gizi ibu hamil masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian serius.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pesan cakupan suplementasi tablet tambah darah (Fe3) ibu hamil dan faktor lainnya yang berhubungan dengan kadar Hb ibu hamil trimester III, yang nantinya dapat dijadikan masukan untuk perencanaan program penanggulangan anemia gizi ibu hamil. Penelitian dilakukan di Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah, dan sebagai unit analisisnya adalah ibu hamil, yang usia kehamilannya _> 7 bulan pada saat penelitian dilakukan, baik pada wanita primigravida maupun multigravida.Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional, dan cara pengambilan sampelnya dilakukan dengan pendekatan metode multistage random sampling dengan jumlah sampelnya sebanyak 150 ibu hamil trimester III. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa 63,5 % ibu hamil trimester III di Kabupaten Donggala menderita anemia. Persentase anemia ini lebih tinggi pada daerah dengan cakupan suplementasi tablet tambah darah yang rendah (< 80 %) dibandingkan dengan daerah yang cakupan suplementasi tablet tambah darahnya tinggi (? 80 %).Hasil uji bivariate menunjukkan hubungan bermakna, antara cakupan suplementasi tablet tambah darah (Fe3) ibu hamil, konsumsi tablet tambah darah, tingkat pendidikan ibu, alat kontrasepsi hormonal dan ukuran LILA ibu dengan kadar Hb ibu hamil. Sedangkan variabel lain seperti : umur ibu, tingkat pengetahuan, status pekerjaan, usia kehamilan, dan jarak kehamilan, berbeda tapi tidak bermakna, dan variabel paritas tidak bermakna. Selain itu uji bivariate antara cakupan suplementasi tablet tambah darah dengan konsumsi tablet tambah darah menunjukkan hubungan yang bermakna.Dari hasil uji analisis multivariate, terdapat tiga variabel yang berhubungan bermakna dengan kadar Hb ibu hamil, yaitu variabel konsumsi tablet tambah darah, tingkat pendidikan, dan ukuran lingkar lengan atas (LILA). Dari ketiga variabel tersebut, LILA merupakan variabel yang paling dominan.Karena masih rendahnya konsumsi tablet tambah darah, dimana faktor tersebut merupakan salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kadar Hb ibu hamil, maka perlu adanya upaya peningkatan KIE yang berkaitan dengan konsumsi tablet tambah darah. LILA ibu merupakan faktor yang dominan berhubungan dengan kadar Hb ibu hamil, oleh karena itu ukuran lingkar lengan atas ibu dapat dijadikan indikasi anemia. Dengan demikian upaya peningkatan KIE pada ibu yang LILA nya < 23,5 cm perlu dilakukan.Mengingat cakupan suplementasi tablet tambah darah berkaitan dengan konsumsi tablet tambah darah, sementara konsumsi tablet tambah darah berpengaruh terhadap kadar Hb ibu hamil, maka upaya peningkatan cakupan program suplementasi tablet tambah darah harus terus dilakukan, dengan penekanannya pada aspek monitoring program dan diupayakan agar tablet tambah darah diberikan lebih dini kepada ibu hamil.Daftar bacaan : 57 (1972 - 2001)


 

The Coverage Role of Iron Tablet Supplemental (Fe3) from Pregnant Mother and Other Factors to Mother's Hemoglobin (Hb) Content on the Third Trimesters in Donggala Regency, Central Sulawesi Province Year of 2001Nutritional anemia because of the iron deficiency is still became particular problem of nutrition in Indonesia. SKRT in the year of 1995, shown that of 50,9 percent of mother in pregnancy has suffered of anemia, whereas in pregnancy within the third trimester, it's figure amount of 49,2 percent. Data of survey reported that nutritional anemia of pregnant mother, 1996 in Donggala Regency as well that the number of anemia are very high, that is 92,12 percent. The matter, shown that nutritional anemia of pregnant mother is still remaining a problem seriously.This research has aim to identify the role of coverage of iron tablet supplemental (Fe3) from pregnant mother and other factor in relation to mother's Hb content on the third trimester, for the next it can be made an input for planning program of tackling to nutritional anemia of pregnant mother.The research conducted in Donggala Regency, Province of Central Sulawesi and as analysis unit is pregnant mother with pregnant aged of _> 7 months during research conducted of the both for women in first pregnancy (Primigravida) and multi pregnancy (Multigravida).Design research applied cross sectional and the ways of adopting the sample carried out by approaching multistage random sampling method withtotal of it's samples as many of 150 mother pregnancies on the third trimester. This results of research concluded that 63,5 percent of pregnant mother on the third trimester in Donggala Regency has anemia. This anemia percentage is higher at site with coverage of iron tablet supplemental is low (< 80 percent) than coverage's site of iron tablet supplemental is high (_> 80 percent).The result of bivariate test indicated that value a significant relation among coverage of iron tablet supplemental (Fe3) from pregnant mother, iron tablet consumption, education level of mother, hormone contraception device and mid-upper arm circumference (MUAC) of mother with Hb content of mother age, knowledge-level, occupation status, age of pregnancy, and range of pregnancy were different but no significant, and variable parity has no significant.From the result of multivariate consumption iron tablet supplemental, education Ievel and mid-upper arm circumference measurement (MUAC), from the three of those variables upper hand measurement is the most dominant variables.Due to the consumption for iron tablet supplemental is low remain that the related factor is one of influencing factor to Hb content of pregnant mother, therefore, attempts to increase KIE (Communication, Information and Education) that related with consumption of iron tablet supplemental is apparently needed. The mid-upper arm circumference (MUAC) relating with Hb content of mother pregnant, as a result upper hand measurement of mother can be made anemia indication. Thus, attempts to increase KIE of mother whose mid-upper ann circumference (MUAC) measurement of < 23,5 cm is necessary followed up.Considering that coverage of iron tablet supplemental relating with iron tablet consumption while consume iron tablet impact to Hb content of pregnant mother attempts to increase coverage of iron tablet supplemental must be done continuity by stressing to aspect of monitoring program and attempted that iron tablet is earlier given to pregnant mother.References : 57 (1972 - 2001)

Read More
T-1208
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Chuzaemah; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Endang Laksminingsih, Fatmah, Itje Aisah, Eti Rohati
Abstrak: Anemia merupakan salah satu masalah gizi, yang perlu mendapat perhatian khusus. Remaja putri termasuk golongan yang rawan menderita anemia karena mengalami mensturasi setiap bulan dan sedang dalam masa petumbuhan. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan efektifitas suplementasi TTD program lama dan baru Kemenkes terhadap perubahan kadar hemoglobin siswi anemia di Kabupaten Bengkulu Utara. Rancangan penelitian randomized control group pretest dan postest. Subyek penelitian dikelompokkan menjadi 2 kelompok perlakuan yaitu kelompok A (19 siswi) diberi suplementasi program lama (satu tablet per minggu dan satu tablet selama haid) dan kelompok B (19 siswi) diberi suplementasi program baru (satu tablet per minggu). Pemberian suplementasi TTD diminum di depan peneliti diberikan selama 8 minggu. Data asupan zat gizi diperoleh dengan kuesioner food recall, lama haid, lama menarche, kebiasaan minum teh atau kopi, pengetahuan tentang anemia dan TTD diperoleh melalui kuesioner berstruktur, kadar Hb awal dan akhir dengan cyanmethemoglobin. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan efektifitas perubahan kadar Hb pada kedua kelompok intervensi (p=0.402) dan tidak ada hubungan bermakna antara variabel internal dan eksternal terhadap perubahan kadar hemoglobin siswi kecuali Hb awal (p=0.001) dengan rata-rata perubahan Hb siswi kelompok A sebesar 1.77 g/dl sedangkan kelompok B sebesar 1.44 g/dl. Kata kunci : zat besi , suplementasi, perubahan hemoglobin, anemia, remaja putri Anemia is one of the nutritional problems, which needs to be highly concerned. Adolescent girls are included to a group which is susceptible to anaemia because of their monthly menstruation and gowth periods. This study aims to investigate difference effectiveness between old and new programs of the ministry iron supplementation in changes hemoglobin level among anemic students in Kabupaten Bengkulu Utara. Design of this study is randomized control group pretest dan posttest.Subjects were randomized into two groups, group A (19 subjects) old program supplementation ( once per week and once per day in menstrual period) and group (B) new program supplementation (once per week). Supplementation of iron tablet was given for a consecutive 8 weeks. Nutrient intake obtained with the food recall questionnaire, days menstruation, menarche, drinking tea or kopi , knowledge anemia and iron tablet through structured questionnaire and level of hemoglobin by cymenthemoglobin. The study shows no difference found in the change of hemoglobin level of the two groups (p=0.402) and internal and external variable were not significantly in the change of hemoglobin level except early hemoglobin with mean hemoglobin change in old program supplementation was 1.77 g/dl while in new program supplementation the change was 1.44 g/dl. Keyword : iron, supplementation, change of hemoglobin level, anemia, adolescent girls
Read More
T-5039
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yania Febsi; Pembimbing: Endang Laksminingsih; Penguji: Wahyu Kurnia Putra, Trini Sudiarti, Ni Ketut Aryastami, Denas Symond
Abstrak: Penduduk dunia saat ini berada pada era ageing population yaitu penduduk yang berusia lebih dari 60 tahun melebihi 10% dari total penduduk. Lanjut usia merupakan salah satu kelompok yang rawan menderita gizi kurang. Agar tidak menjadi beban bagi masyarakat, perlu upaya pemeliharaan kesehatan bagi lanjut usia. Angka kesakitan penduduk di Sumatera Barat paling tinggi berada dikelompok lanjut usia yaitu 25,64%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan status gizi lanjut usia. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional dengan menggunakan data sekunder FKM Universitas Andalas tahun 2021. Analisis bivariat menggunakan uji chi-square, analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik. Sampel penelitian ini sebanyak 140 responden di Kota Pariaman dan Kota Padang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masalah gizi lanjut usia di Kota Padang dan Pariaman yaitu status gizi lebih dengan prevalensi status gizi lanjut usia sebesar 37,1%. Berdasarkan hasil multivariat, diketahui bahwa riwayat penyakit menjadi faktor paling dominan mempengaruhi kejadian gizi lebih lanjut usia di Kota Pariaman dan Kota Padang setelah dikontrol oleh variabel kebiasaan olahraga, status perkawinan, status pekerjaan dan perilaku merokok (p=0,003, OR 4,172 95% CI=1,602-10,863). Perlu kesadaran keluarga untuk lebih memperhatikan tentang konsumsi, aktifitas dan perilaku hidup sehat lanjut usia demi mencegah status gizi lebih pada lanjut usia
The world's population is currently in the era of the aging population, namely the population aged more than 60 years exceeding 10% of the total population. The elderly are one of the groups that are prone to suffer from malnutrition. In order not to become a burden for the community, it is necessary to take care of health for the elderly. The population morbidity rate in West Sumatra is the highest in the elderly group, namely 25.64%. This study aims to analyze the factors associated with the nutritional status of the elderly. This study is a cross-sectional study using secondary data from FKM Andalas University in 2021. Bivariate analysis using chi-square test, multivariate analysis using logistic regression test. The sample of this study was 140 respondents in Pariaman City and Padang City. The results of this study indicate that the nutritional status of the elderly in the cities of Padang and Pariaman is more nutritional status with the prevalence of elderly nutritional status at 37.1%. Based on multivariate results, it is known that disease history is the most dominant factor influencing the incidence of elderly nutrition in Pariaman City and Padang City after being controlled by the variables of exercise habits, marital status, employment status and smoking behavior (p = 0.003, OR 4.172 95% CI = 1,602-10,863). Family awareness is needed to pay more attention to consumption, activities and healthy living behavior of the elderly in order to prevent more nutritional status in the elderly
Read More
T-6239
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aisyah Nur Kumalasari; Pembimbing: Asih Setiarini; Penguji: Endang L. Achadi, Mahmud Fauzi
S-8246
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nabila Kumala Bening; Pembimbing: Wahyu Kurnia Yusrin Putra; Penguji: Triyanti,Novdini Nurwiryani
Abstrak:
Gizi lebih merupakan permasalahan kesehatan global dan menjadi faktor risiko dari berbagai penyakit tidak menular, bahkan menjadi penyebab kematian jutaan penduduk dunia setiap tahunnya. Terjadinya permasalahan ini dipengaruhi oleh faktor individu dan juga faktor lingkungan. Angka kejadian gizi lebih, khususnya pada usia dewasa, terus mengalami peningkatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan proporsi kasus gizi lebih berdasarkan skor mindful eating, riwayat keluarga, aktivitas fisik, tingkat stress, higenitas tidur, ketersediaan dan akses pangan, asupan energi, asupan karbohidrat, asupan protein, asupan lemak, serta usia pada di kantor X tahun 2023. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan sampel sebanyak 177 orang pekerja. Ditemukan perbedaan proporsi kasus gizi lebih yang signifikan berdasarkan skor mindful eating [OR = 2,261; 95% CI: 1,147-4,455], riwayat gizi lebih pada keluarga [OR = 2,724; 95% CI: 1,400-5,302], tingkat aktivitas fisik [OR = 3,724; 95% CI: 1,602-6,690], serta tingkat stres [OR = 1,882 95% CI: 1,495-2,369]. Untuk mengatasi permasalahan ini, perlu adanya kolaborasi antara institusi terkait dengan berbagai pihak seperti tenaga kesehatan agar dapat memaksimalkan langkah pencegahan dan penanganan gizi lebih pada pekerja.

Overnutrition is a major global health issue and a risk factor for various non-communicable diseases, even causing millions of deaths worldwide each year. This occurance of this problem is influenced by individual factors, as well as environmental factors. The prevalence of overnutrition, especially in adults, continues to increase. The aim of this study is to determine the differences in proportion of overnutrition cases based on mindful eating score, family history, physical activity level, stress level, sleep hygiene, perception towards food availability and access, energy intake, carbohydrate intake, protein intake, fat intake, and age group at X company in 2023. The research design used in this study is cross-sectional, with a sample size of 177 employees. In this study, significant differences were found in the proportion of overnutrition cases based on mindful eating scores [OR = 2,261; 95% CI: 1,147-4,455], family history of overnutrition [OR = 2,724; 95% CI: 1,400-5,302], physical activity [OR = 3,724; 95% CI: 1,602-6,690], and also stress [OR = 1,882 95% CI: 1,495-2,369]. To address these issues, collaboration between institution and healthcare professionals is needed to maximize prevention and treatment of overnutrition.
Read More
S-11423
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive