Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 49536 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
618.92342 IND d
[s.l.] : Jakarta Bag. Dokumentasi dan Publikasi 1975, s.a.]
Kumpulan Daftar Isi Buku   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sando Pranata; Pembimbing: Popy Yuniar; Penguji: Besral, R. Sutiawan, Giri Wurjandaru, Amir Su`udi
T-4819
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Citaningrum Wiyogowati; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Besral, Vitalis Ramon
S-7010
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
618.92342 IND d
[s.l.] : Jakarta Bag. Dokumentasi dan Publikasi 1975, s.a.]
Kumpulan Daftar Isi Buku   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiopan Sipahutar; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Iwan Ariawan, Besral, Anies Irawati, Ning Sulistyowati
Abstrak:

Tesis ini bertujuan untuk melihat model persamaan struktural determinan stunting pada anak bawah dua tahun di Indonesia tahun 2010 dengan menggunakan data Riset Kesehatan Dasar tahun 2010. Tehnik analisis yang digunakan adalah Structural Equation Model Analysis. Determinan stunting yang memiliki jalur langsung stunting adalah indikator pola asuh (perilaku menyusui), asupan makanan (tablet besi pada ibu, vitamin A pada ibu dan anak) dan sosial ekonomi (lokasi tinggal, jumlah anggota keluarga, pengeluaran per kapita, pendidikan ibu dan rumah sehat). Variabel sosial ekonomi merupakan variabel yang memiliki hubungan statistic yang bermakna terhadap stunting. Disarankan untuk meningkatkan pengetahuan tentang nutrisi ibu sejak hamil. Untuk memperluas cakupan, peningkatan pengetahuan dapat dilakukan di posyandu yaitu pada meja 4. Saran lain adalah melakukan program peningkatan pendapatan rumah tangga, baik oleh pemerintah maupun kerjasama dengan LSM atau lembaga swasta terkait. . Kata Kunci :  Stunting, Structural Equation Model, anak bawah dua tahun


 The thesis is intended to see the structural equation model of determinant stunting of children under two years in Indonesia in 2010 by using data from “Riset Kesehatan Dasar” in 2010. Analysis technique that is used is Structural Equation Model Analysis. Determinants of stunting that has a direct path to the stunting is an indicator of care (breastfeeding), food intake (maternal iron tablets, vitamin A in mother and child) and the socio-economic indicators (location of residence, family size, expenditure per capita, maternal education and healthy house). Socio-economic variable is the only variable that is significantly different toward stunting. It is recommended to improve mother knowledge on nutrition from pregnancy period and to increase the coverage, it can be done through posyandu at table 4. Another suggestion is to create such income generating program. It could be done by government or partnering with NGO or related private institution as well. Key Words:  Stunting, Structural Equation Model, children under two

Read More
T-3321
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fajaria Nurcandra; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Didik Supriyono
Abstrak: Diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup seriusdi Kabupaten Karawang. Angka kejadian diare di wilayah ini termasuk tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2012, kasus diare di Kabupaten Karawang pada tahun 2012 sebanyak 75.892 kasus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor risiko diare di DesaSedari, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang. Disain penelitian adalah kasuskontrol. Kasus merupakan ibu dari anak usia di bawah 12 tahun yang menderitadiare selama sebulan terakhir dan kontrol merupakan ibu dari anak usia di bawah12 tahun di Desa Sedari yang tidak menderita diare selama sebulan terakhir.Jumlah sampel kasus yaitu 29 responden dan kontrol 116 responden. Data yang digunakan merupakan data sekunder dari kegiatan assessment Program DesaBinaan CSR Pertamina dan FKM UI. Variabel pada penelitian ini ialah jumlah anggota keluarga, umur ibu, pendidikan ibu, sarana air bersih, jamban, dan pengelolaan sampah keluarga. Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara pendidikan ibu dengan kejadian diare (nilai p<0,1) danOdds Ratio1,435 (CI 95% 0,248-2,980) untuk kategori tidak sekolah / tidak lulusSD serta Odds Ratio 0,552 (CI 95% 0,102-2,980) untuk kategori lulus SD / lulus SMP. Kesimpulan dari penelitian ini adalah faktor risiko yang paling dominan adalah pendidikan ibu.
Kata kunci : diare, kasus kontrol, anak-anak, faktor risiko
Diarrhea is still a public health problem that is serious enough inKarawang district. The incidence of diarrhea in this region is high in recent years.In 2012 , cases of diarrhea in Karawangdistrict in 2012 as many as 75 892 cases.This study aims to analyze the risk factors for diarrhea in Sedari Village ,District Cibuaya , Karawangdistrict . The design was a case-control study . Thecase is a mother of a child under 12 years of age suffering from diarrhea for thepast month and control the mother of children aged under 12 years in the villageof Sedari that does not suffer from diarrhea during the past month . The number ofsample cases are 29 respondents and controls are 116 respondents . The data usedare secondary data from assessment activities CSR Pertamina Village ProgramPatronage and FKM UI . Variable in this study is the number of family members ,maternal age , maternal education , clean water , latrines , and waste managementfamily. The results of the bivariate analysis showed a significant associationbetween maternal education with incidence of diarrhea ( p < 0.1 ) and Odds Ratio1.435 ( 95% CI 0.248 to 2.980 ) for the category of no school / no pass elementaryand Odds Ratio 0.552 ( 95 % CI 0.102 to 2.980 ) for the category of graduatingelementary / junior high school graduation. The conclusion of this study is themost dominant risk factor is maternal education.
Keywords : diarrhea, case-control, children, risk factors
Read More
S-8106
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Medika, No. 5, th.16, Mei 1990, hal. 357-365
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Halimatussa Diah; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Dewi Susanna, Eli Setyawati, Sukanda
T-4383
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ermawati; Pembimbing: Ronnie Rivany; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Wachyu Sulistiadi, Khafifah Any
Abstrak: Penyelenggaraan program kesehatan memerlukan pengembangan sistem pembiayaan yang bersumber dari pemerintah dan masyarakat termasuk swasta yang mampu menghasilkan tersedianya dana yang memadai. Pembiayaan dari sektor swasta utamanya pembelanjaan masyarakat merupakan porsi terbesar dari pembiayaan kesehatan. Konstribusi sektor swasta dan masyarakat dalam pembiayaan kesehatan adalah sekitar 65 % dan sisanya sebesar 35 % dari sektor publik, Dari konstribusi sektor swasta dan masyarakat yang sekitar 65 % itu, sebagian besar masyarakat membiayai kesehatan mereka masih menggunakan cara membayar untuk tiap pelayanan (fee for service), hanya 14% masyarakat tercakup dalam program asuransi kesehatan. Sistem pembayaran dengan cara pra upaya (prepaid) pada pemberi pelayanan kesehatan baik rumah sakit maupun dokter dalam jumlah yang ditetapkan sebelum suatu pelayanan diberikan, salah satu caranya adalah dengan Diagnosis Related Group’s (DRG’s). Tujuan dari penelitian ini secara umum adalah untuk mendapatkan gambaran variasi biaya dalam penyusunan DRG’s pada penyakit Diare/Gastro Enteritis di RSU Tangerang. Kasus yang diambil pada penelitian ini adalah penyakit diare, karena penyakit diare hingga kini masih merupakan salah satu penyakit utama pada bayi dan anak di Indonesia. Diperkirakan angka kesakitan berkisar diantara 150-430 perseribu penduduk setahunnya. Dan menurut WHO (1999), setiap tahun 12 juta anak di dunia meninggal sebelum mencapai umur 5 tahun. Dari seluruh kematian tersebut, 70% meninggal karena ISPA (Inpeksi Saluran Pernafasan), diare, malaria, campak dan malnutrisi serta seringkali merupakan kombinasi dari penyakit diatas. Demikian pula di RSU Tangerang, kasus Diare/GE dari tahun 2000 hingga 2004 berada diposisi pertama dari sepuluh penyakit terbanyak di Instalasi Rawat Inap RSU Tangerang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif, dengan populasi pada semua pasien yang mempunyai diagnosis utama Diare/GE dengan dan tanpa diagnosis penyerta dan diagnosis penyulit yang terjadi pada bulan Januari 2004 sampai dengan Desember 2004. Sedangkan sampelnya adalah pada kelompok umur anak-anak. Data didapat dari catatan medik pasien di Bagian Rekam Medik RSU Tangerang, sedangkan data untuk mencari unit cost pelayanan diare didapat dari bagian keuangan serta unit-unit terkait di RSU Tangerang. Dari penelitian didapat hasil rata-rata lama hari rawat Diare/GE tanpa penyerta dan penyulit (murni) adalah 2 hari dengan biaya sebesar Rp 454.401,-, rata-rata lama hari rawat Diare/GE dengan penyerta adalah 4 hari dengan biaya sebesar Rp 827.195,-, rata-rata lama hari rawat Diare/GE dengan penyulit adalah 6 hari dengan biaya sebesar Rp 1.310.088,- serta rata-rata lama hari rawat Diare/GE dengan penyerta dan penyulit adalah 9 hari dengan biaya sebesar Rp 1.727.192,-. Sehingga berdasarkan hasil tersebut, pengelompokkan penyakit Diare/Gastro Enteritis berdasarkan DRG’s di RSU Tangerang dapat dilakukan, yaitu dengan masuknya penyakit Diare/Gastro Enteritis ke dalam MDC 6 dengan DRG G68A dan DRG G68B. Berdasarkan hasil penelitian, ada beberapa saran yang dapat dijadikan masukan untuk rumah sakit jika ingin menyusun DRG’s yaitu penulisan diagnosis akhir harus jelas dan tepat, serta mempunyai standar operating prosedur penanganan Diare/GE yang lengkap. Kepustakaan : 35 ( 1986 – 2005)
Health program development needs support from government as well as society which includes a sufficient budget from private sector. The cost from private sector, mainly society’s budgeting has resulted in the biggest portion from the health expenses. The contribution from private sector and society is around 65 percent and the rest about 35 percent comes from public sector. From this 65 percentage, the majority of society is still using one mean of payment by paying for each service (fee for service), only 14 percent of the society is covered by health insurance. Prepaid payment sistem on the side of health provider either in hospitals and clinics (doctors) in the recommended state before certain treatment being given, one way is using Diagnosis Related Group’s (DRG’s). On the whole this study aims to get the descriptive picture as cost variation in making the DRG’s for Diarrhea/GastroEnteritis illness in Tangerang Public Hospital. The focus us on the diarrhea disease, since it is still one of the major disease for babbies and children in Indonesia. It is predicted that the number of these patients will be around 150-430 every 1000 people annually. According to WHO (1999), 12 millions children below the age of five all over the world died because of this disease. From the mortality rate, 70% died of ISPA (upper respiratory tract), diarrhea, malaria, measles, and malnutrition and oftentimes is the complication of all diseases. And also in Tangerang Public Hospital, diarrhea/GE cases between 2000 until 2004 ranked at number one of the the tenth most diseases in in-patient installation, Tangerang Public Hospital. The methode is quantitative, descriptive, using all patients as the population with the indication of diarrhea with or without difficulties and complications from January 2004 to December 2004. The sample is children. The data is taken from the medical record department and for the unit cost on dirrhea treatment is gathered from the accounting department and from other related departments in Tangerang Pubilc Hospital. The study reveals that LOS (length of stay) of diarrhea/GE with no complications is two days with the total cost Rp. 454.401, LOS (length of stay) of diarrhea/GE with complications is for days with the total cost Rp. 827.195. LOS (length of stay) of diarrhea/GE with difficulties is six days with the total cost Rp. 1.310.088, LOS (length of stay) of diarrhea/GE with complications and difficulties is for nine days with the total cost Rp. 1.727.192. So, the group of diarrhea disease/GastroEnteritis based on Tangerang Public Hospital’s DRG can be done, that is by grouping diarrhea disease, into MDC 6 with DRG G68A dan DRG G68B. Based on the results, it is recommended that the hospital should make a concise, clear diagnosis report before undergoing DRG’s and a complete DRG’s standard operating procedure. Indexing : 35 (1986 – 2005)
Read More
B-881
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erani Soengkono; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Wachyu Sulistiadi, Dedi Tedjakusnadi, Jusuf Kristianto
Abstrak: Gastroenteritis akut merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia karena faktormortalitas dan morbiditas yang tinggi terutama pada anak-anak. Proses pelayanan yangbaik dan terorginisir akan meningkatkan hasil keluaran (outcome) yang baik daripasien dengan gastroenteritis akut. Clinical Pathway dapat digunakan sebagai standardyang jelas untuk meningkatkan kualitas pelayanan, mengurangi lama hari perawatandi rumah sakit, biaya perawatan dan mengurangi variabilitas. Rumah Sakit Husadayang menerapkan clinical pathway gastroenteritis akut pada pasien anak sebagai alatkendali mutu harus benar-benar merencanakan, menyusun, menerapkan danmengevaluasi clinical pathway secara sistematis dan berkesinambungan.Penelitian inidilakukan dengan pendekatan kuantitatif yang menggunakan Tools PengembanganPra Clinical Pathway dan Evaluasi Clinical Pathway serta pendekatan kualitatif denganwawancara mendalam. Implementasi clinical pathway gastroenteritis akut pada pasienanak di RS Husada dapat dilihat dari faktor input (sumber daya manusia, biaya / dana,kebijakan rumah sakit, ketersediaan obat dan alat kesehatan, sarana dan prasarana),faktor proses mulai dari proses pra persiapan clinical pathway sampai tahapimplementasi dan faktor output berupa kesesuaian pelayanan kesehatan denganclinical pathway gastroenteritis akut (lama hari rawat, visite DPJP, pemeriksaanpenunjang, tindakan keperawatan dan penggunaan obat dan alat kesehatan). Hasilpenelitian didapatkan dari faktor input sumber daya manusia menjadi faktorpenghambat penerapan clinical pathway gastroenteritis akut sehingga penerapannyatidak berjalan baik, sedangkan dari sisi proses langkah awal pembuatan clinicalpathway tidak dijalankan dengan benar sehingga menjadi awal hambatan pada prosesimplementasi selanjutnya, dan dari faktor output masih belum ada kesesuaianpelayanan dengan clinical pathway gastroenteritis seperti visite DPJP, penggunaanobat dan alkes yang polifarmasi dan tidak efisien, serta pemeriksaan penunjang yangtidak diperlukan.Kata Kunci: gastroenteritis akut, pasien anak, evaluasi, implementasi, ClinicalPathway
Acute gastroenteritis becomes health problem all over the world, because it is thecausal factor of high mortality and morbidity especially in children. Good and well-organized process of healthcare service will improve the outcome of the patients withacute gastroenteritis. Clinical pathway may be used as clear standard to improve thequality of health care, and also to reduce the length of hospital stay, hospital costs anddecrease the variability. Husada Hospital which implementing the clinical pathwayacute gastroenteritis in children as a quality control should really plan, organize,implement and evaluate clinical pathway systematically and continuously. Methodethat used for the research are quantitative approach with development of pre-clinicalpathways and evaluation of clinical pathways tools, and also indepth interview. Theaim of this research are to find out the inhibiting factors for implementation of clinicalpathways acute gastroenteritis which seen from input factors (human resources,funds, hospital policy, availability of drugs and medical equipments, also facilitiesand infrastructure); process factors which start from pre-preparation of clinicalpathways until the implementation phase; the output factors to look at theappropriateness of health services acute gastroenteritis in children with clinicalpathways in Husada Hospital. The result showed that the inhibiting factors from inputfactors are human resources, then process factors are the beginning of deciding on anICP to develop, and the output which there are no appropriatness in service healthwith acute gastroenteritis clinical pathways (e.g. visite doctors, using drugs andmedical equipments, laboratories, radiology that unnecessary)
Read More
B-1808
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive