Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39061 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ani Widiastuti; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Ririn Arminsih, Didik Surpiyono
S-8223
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Henti Rahmaningtyas Asih; Pembimbing: Sri Tjahyani Budi Utami; Penguji: Ema Hermawati, Sukanda
Abstrak: ABSTRAK
 
Skabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh Sarcoptes scabiei var
 
hominis yang sering menyebar di lingkungan yang padat penghuni seperti pondok
 
pesantren. Sanitasi lingkungan dan higiene personal memiliki hubungan yang erat
 
dengan kejadian skabies di pondok pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk
 
menganalisis hubungan sanitasi lingkungan dan higiene personal santri dengan
 
kejadian skabies di Yayasan Pondok Pesantren Ash-Shiddiqiyyah Kabupaten
 
Purworejo Tahun 2015. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional
 
dengan total sampel sebanyak 64 santri pondok pesantren Ash-Shiddiqiyyah.
 
Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 37.5% santri menderita skabies.
 
Berdasarkan analisis univariat menunjukkan sebagian besar santri memiliki
 
pengetahuan tentang skabies yang baik (65.5%), sebagaian besar responden
 
(96.9%) menempati hunian dengan kepadatan hunian tidak memenuhi syarat,
 
dalam higiene personal santri menunjukkan bahwa variabel mandi pakai sabun
 
pada 63 santri (98.4%) memenuhi syarat, variabel pemakaian handuk pada 53
 
santri (82.8%) tidak memenuhi syarat, variabel pemakaian pakaian pada 44 santri
 
(68.8%) tidak memenuhi syarat, dan variabel penggunaan tempat tidur pada 55
 
santri (85.9%) tidak memenuhi syarat. Berdasarkan analisis bivariat, hanya
 
variabel pemakaian handuk yang memiliki hubungan bermakna dengan kejadian
 
skabies dengan nilai p 0.042 dan nilai OR 7.667.
ABSTRACT
 
Scabies is a skin disease caused by Sarcoptes scabiei var hominis. It often spreads
 
among crowded population quite rapidly such as in boarding school.
 
Environmental sanitation and personal hygiene have a close relationship with
 
incident of scabies in boarding school. This research is conducted to analyze the
 
correlation of environmental sanitation and personal hygiene students with
 
incidence of scabies at Ash-Shiddiqiyyah Boarding School Purworejo 2015. The
 
research uses cross-sectional study design with total sample of 64 students in Ash-
 
Shiddiqiyyah Boarding School. The result has shown that 37.5% students infected
 
scabies. Based on univariate analysis a large number of students have a good
 
knowledge of scabies (65.5%), most students (96.9%) occupy the room by
 
ineligible room density, personal hygiene students show that 63 students (98.4%)
 
eligible on bathing with soap, 53 students (82.5%) ineligible on usage of towels,
 
44 students (68.8%) ineligible on usage of clothes, and 55 students (85.9%)
 
ineligible on usage of bed. Based on bivariate analysis, usage of towels has
 
significant relationship towards the incidence of scabies among students with pvalues
 
0.042 and OR 7.667.
Read More
S-8814
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ii Sumarni; Pembimbing: Dewi Susanna, Zakianis; Penguji: Laila Fitria, Endah Kusumowardani, Casuli
T-3934
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Chiara Maharani; Pembimbing: Chiara Susanna; Penguji: Suyud Warno Utomo, Aria Kusuma
Abstrak: Penyakit kulit masih menjadi masalah kesehatan yang tergolong tinggi di Indonesia dan santri yang tinggal di Pesantren berisiko lebih besar untuk terkena penyakit kulit. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara faktor individu mencakup perilaku cuci tangan pakai sabun, berbagi peralatan pribadi, riwayat keluarga dengan penyakit kulit, dan sistem kekebalan tubuh, serta faktor kondisi asrama mencakup kondisi air, kelembaban ruangan, dan kepadatan hunian terhadap kejadian penyakit kulit pada santri di Pesantren X Khusus Laki-Laki. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional karena kondisi yang diukur menggambarkan kondisi pada saat pengumpulan data dilakukan yakni dengan menggunakan kuesioner mengenai Potensi Penyakit Berbasis Lingkungan di Pesantren kepada 71 santri di Pesantren X dengan bantuan guru dan data sekuner dari pihak Pesantren X terkait daftar kamar asrama, luas kamar asrama, dan daftar pembagian kamar asrama santri. Hasil dari penelitian yakni sebanyak 35 santri (49,3%) pernah mengalami penyakit kulit dan 36 santri lainnya (50,7%) tidak pernah mengalami penyakit kulit. Adapun jenis-jenis penyakit kulit yang pernah dialami oleh santri adalah kurap, kutu air, impetigo, kusta, bisul, cacar air, kutil, kudis, herpes, panu, eksim, vitiligo, dan rosacea. Penyakit kulit yang paling banyak dialami oleh santri adalah panu sebanyak 16 santri (22,5%) dan yang paling sedikit dialami adalah cacar air hanya 1 santri (1,4%). Tidak ada hubungan yang signifikan antara faktor individu maupun kondisi asrama terhadap kejadian penyakit kulit pada santri di Pesantren X Khusus Laki-Laki. Maka dari itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menganalisis faktor-faktor lain yang memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian penyakit kulit, namun tetap diperlukan juga adanya peningkatan penerapan personal hygiene dan menjaga kondisi lingkungan asrama Pesantren agar terhindari dari berbagai penyakit.
Skin disease is still a relatively high health problem in Indonesia and students living in Islamic boarding schools are at greater risk of developing skin diseases. The purpose of this study was to analyze the relationship between individual factors including hand washing behavior with soap, sharing personal utensils, family history of skin diseases, and the immune system, as well as dormitory condition factors including water conditions, room humidity, and residential density on the incidence of skin diseases in students at Islamic Boarding School 'X' for Boys. This study used a cross-sectional study design because the measured conditions described the conditions when data collection was carried out by using a questionnaire regarding the Potential for Environmental-Based Diseases in Pesantren to 71 students at Pesantren X with the help of teachers and secondary data from Pesantren X regarding the list of dorm rooms, the size of the dorm rooms, and a list of the distribution of the students' dormitory rooms. The results of the study were as many as 35 students (49.3%) had experienced skin diseases and 36 other students (50.7%) had never experienced skin diseases. The types of skin diseases that have been experienced by students are ringworm, water fleas, impetigo, leprosy, boils, chickenpox, warts, scabies, herpes, tinea versicolor, eczema, vitiligo, and rosacea. The most common skin disease experienced by students was tinea versicolor as many as 16 students (22.5%) and the least experienced was chickenpox, only 1 student (1.4%). There was no significant relationship between individual factors and dormitory conditions on the incidence of skin diseases in students at Pesantren 'X' for Boys. Therefore, it is necessary to conduct further research to analyze other factors that have a significant relationship to the incidence of skin diseases, but it is still necessary to increase the application of personal hygiene and maintain the environmental conditions of the boarding school dormitory in order to avoid various diseases.
Read More
S-10974
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ghina Labibah; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Dewi Susanna, Hidayani Fazriah
Abstrak: Latar Belakang : Skabies merupakan penyakit menular yang diakibatkan oleh tungau Sarcoptes scabiei varietas homonis. Penularan skabies dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Penyakit skabies sering terjadi pada lingkungan yang berpenghuni padat salah satunya adalah pondok pesantren yang memiliki asrama untuk tempat tinggal santrinya. Kejadian skabies selain mengganggu kesehatan santri namun akan berdampak kepada performa santri untuk menjalankan kegiatan sehari-hari. Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan penelitian untuk menganalisis hubungan antara faktor lingkungan dan personal hygiene dengan kejadian skabies pada santri di pesantren. Tujuan : Mengetahui hubungan faktor lingkungan dan personal hygiene dengan kejadian skabies pada santri di pesantren X di Kota Bogor pada Tahun 2022. Metode : Studi cross sectional yang dilakukan pada 1 pesantren di Kota Bogor. 84 orang santri dipilih dengan random sampling untuk menjadi responden penelitian. Penelitian dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan pengambilan data lingkungan secara langsung. Dara yang telah diperoleh akan dilakukan uji statistik univariat dan bivariat. Hasil : Sebanyak 65 orang (77,4%) mengalami skabies, dan 19 orang (22,6%) tidak mengalami skabies. Tidak ada hubungan yang signifikan antara faktor lingkungan yaitu suhu dan kelembaban dengan kejadian. Sedangkan faktor personal hygiene seperti kebersihan tangan, kebersihan kuku, kebersihan kulit, kebersihan handuk dan kebersihan pakaian memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian skabies. Kata Kunci : Skabies, Sarcoptes scabiei varietas homonis, Pesantren, Lingkungan, Personal Hygiene
Background : Scabies is an infectious disease caused by the mite Sarcoptes scabiei homonis variety. Transmission of scabies can occur directly or indirectly. Scabies disease often occurs in densely inhabited environments, one of which is Islamic boarding schools which have dormitories for students to live in. The incidence of scabies in addition to disturbing the health of students but will have an impact on the performance of students to carry out daily activities. Based on this, it is necessary to conduct research to analyze the relationship between environmental factors and personal hygiene with the incidence of scabies in students in Islamic boarding schools. Objective: To determine the relationship between environmental factors and personal hygiene with the incidence of scabies in students at Islamic boarding school X in Bogor City in 2022. Methods: Cross sectional study conducted at 1 Islamic boarding school in Bogor City. 84 students were selected by random sampling to become research respondents. The research was conducted using a questionnaire and direct environmental data collection. The data that has been obtained will be subjected to univariate and bivariate statistical tests. Results: As many as 65 people (77.4%) had scabies, and 19 people (22.6%) did not have scabies. There is no significant relationship between environmental factors, namely temperature and humidity with the incidence. Meanwhile, personal hygiene factors such as hand hygiene, nail hygiene, skin hygiene, towel cleanliness and clothing hygiene have a significant relationship with the incidence of scabies. Keywords : Scabies, Sarcoptes scabiei homonis variety, Islamic boarding school, Environment, Personal Hygiene
Read More
S-10967
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syifa Aulia Hudriah; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Ema Hermawati, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Skabies adalah penyakit menular yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei var. hominis. Penyakit ini dapat menular baik melalui kontak langsung maupun tidak langsung. Skabies masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama pada individu yang hidup dalam kelompok, seperti di pondok pesantren. Penularan skabies dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan Personal Hygiene. Selain mengganggu kesehatan santri, skabies juga dapat memengaruhi aktivitas mereka sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor lingkungan dan Personal Hygiene yang berhubungan dengan kejadian skabies di Pondok Pesantren X, Kota Bogor pada tahun 2024. Desain penelitian ini adalah studi cross-sectional dengan sampel sebanyak 90 orang yang dipilih secara acak. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner dan pengukuran lingkungan, serta dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik faktor prediksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 47 orang menderita skabies dan 43 orang tidak mengalami skabies. Faktor Personal Hygiene  yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian skabies antara lain kebersihan tangan (OR 4,67; 1,85-11,75), kebersihan kuku (OR 3,60; 1,50-8,64), kebersihan pakaian (OR 4,96; 1,82-13,53), kebersihan handuk (OR 4,03; 1,57-10,32), dan kebersihan tempat tidur (OR 31,27; 9,11-107,25). Sedangkan faktor lingkungan seperti suhu dan kelembapan tidak menunjukkan hubungan signifikan dengan kejadian skabies. Variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian skabies pada santri adalah kebersihan tempat tidur (OR 90,72; 14,83-554,9), kebersihan tangan (OR 6,64; 0,93-47,48), dan kebersihan pakaian (OR 4,31; 0,63-29,34).

Scabies is an infectious disease caused by the mite Sarcoptes scabiei var. hominis. This disease can be transmitted either through direct or indirect contact. Scabies is still a public health problem in Indonesia, especially in individuals who live in groups, such as in Pondok Pesantren. Scabies transmission is influenced by environmental factors and personal hygiene. Apart from disrupting the health of students, scabies can also affect their daily activities. This study aims to analyze environmental factors and personal hygiene that are associated with the incidence of scabies at Pondok Pesantren Data was collected through interviews using questionnaires and environmental measurements, and analyzed using the chi-square test and logistic regression of predictive factors. The results showed that 47 people suffered from scabies and 43 people did not. Personal hygiene factors that have a significant relationship with the incidence of scabies include hand hygiene (OR 4.67; 1.85-11.75), nail hygiene (OR 3.60; 1.50-8.64), clothing hygiene (OR 4.96; 1.82-13.53), towel hygiene (OR 4.03; 1.57-10.32), and bed hygiene (OR 31.27; 9.11-107.25). Meanwhile, environmental factors such as temperature and humidity do not show a significant relationship with the incidence of scabies. The variables that most influence the incidence of scabies in students are bed hygiene (OR 90.72; 14.83-554.9), hand hygiene (OR 6.64; 0.93-47.48), and clothing hygiene (OR 4.31; 0.63-29.34).
Read More
S-11859
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hardito Nugroho; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Ema Hermawati, Yulia Fitria Nungrum
Abstrak: Sampah masih menjadi sumber masalah kesehatan dan lingkungan di Indonesia,meskipun sudah dikelola di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Salahsatunya masalah penyakit kulit yang banyak diderita oleh pemulung. Pemulungmerupakan salah satu pekerjaan yang berisiko terkena gangguan kulit akibatkontak langsung dengan kondisi lingkungan yang tidak sehat. Data PuskesmasKecamatan Bantargebang tahun 2014 menunjukan bahwa terdapat 1.961kunjungan ke puskesmas dengan keluhan penyakit kulit diantaranya pemulungTPST Bantargebang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif denganpendekatan cross sectional yang dilakukan dari bulan Februari sampai Juli 2016.Sampel penelitian yang digunakan sebanyak 300 responden. Tujuannya adalahmenganalisis hubungan personal hygiene dan karakteristik individu dengankejadian penyakit kulit. Metode dalam pengambilan data menggunakan kuesionerdan lembar observasi. Data yang diperoleh kemudian dilakukan uji statistikdengan rumus chi square dan t independent. Hasil penelitian menunjukan bahwa62,3% pemulung menderita sakit kulit dan 37,7% pemulung tidak sakit kulit.Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian penyakit kulit pada penelitianini adalah waktu kerja (9,98;4,374-22,774), kebersihan pakaian (9,49;4,693-19,205), dan penggunaan alat pelindung diri (4,32;2,248-8,284). Disarankankepada pemulung TPST Bantargebang untuk menghindari intensitas waktu kerjapada siang hari, lebih memperhatikan perilaku hidup bersih, serta menggunakanalat pelindung diri sesuai standar. Pihak pengelola TPTS Bantargebang yangbekerja sama dengan Puskesmas Kecamatan Bantargebang harus lebihmeningkatkan pengawasan dan penyuluhan tentang kesehatan kulit kepadapemulung.
Waste is still a source of health and environmental problems in Indonesiaalthough they have been managed in the Integrated Waste Management (TPST).One of them is dermal illness effecting many scavengers. Scavenger is one of jobswhich is at risk of skin irritation from direct contact with unhealthy environmentalconditions. Data from Public Health Centre of Bantargebang subdistrict in 2014showed that there were 1,961 visits to the clinics with complaints of skin diseases,among them are scavengers in TPST Bantargebang. This research is a quantitativeresearch with cross sectional approach conducted from February to July 2016.There are research sample of 300 respondents. The goal is to analyze therelationship of personal hygiene and individual characteristics with the incidenceof skin diseases. The method in collecting data is by using questionnaires andobservation sheets. The data obtained was then performed statistical tests by usingformula of chi square and t independent. The results show that 62.3% ofscavengers were suffering dermal illness while the other 37.7% were not. Factorsassociated with the incidence of dermal illness in this research are working time(9.98; 4.374 to 22.774), cleanliness of clothing (9.49; 4.693 to 19.205), and theuse of personal protective equipment (4.32; 2.248 to 8.284). Furthermore, It issuggested to scavengers in TPST Bantargebang to avoid the intensity of workingtime during the midday, give more attention to hygienic behavior, as well as touse appropriate personal protective equipment standards. The management ofTPTS Bantargebang in collaboration with Public Health Centre of Bantargebangsubdistrict should further improve the supervision and counseling about the healthof the skin to the scavengers.Key words : Waste, Dermal Ilness, Personal Hygiene, Individual Characteristics.
Read More
S-9092
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisa Melianriza; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Laila Fitria, Yoerdi Agusmal Saputra, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Kehadiran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di suatu wilayah dapat menimbulkan risiko kesehatan bagi penduduk sekitar. Manajemen yang tidak baik dapat mengakibatkan pencemaran air, udara, dan tanah oleh tumpukan sampah. Pencemaran ini berpotensi menyebabkan penyakit berbasis lingkungan seperti ISPA, Diare, DBD, dan masalah kulit. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara kondisi lingkungan permukiman, personal hygiene, dengan kejadian penyakit berbasis lingkungan di sekitar TPA Sungai Andok Padang Panjang. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional dengan data primer dari wawancara dan observasi. Analisis yang digunakan yaitu bivariat dengan Chi Square dan analisis multivariat dengan Binary Regresi logistic model prediksi. Sampel sebanyak 103 responden dipilih melalui metode convenience sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa variabel lingkungan permukiman seperti luas ventilasi, penerangan alami, kelembaban rumah, dan kebersihan rumah berhubungan signifikan dengan kejadian penyakit berbasis lingkungan (p<0,05). Variabel personal hygiene seperti kebersihan kulit dan kebersihan tangan juga memiliki hubungan signifikan dengan penyakit tersebut (p<0,05). Umur, lama bermukim, kelembaban rumah, dan kebersihan kulit diidentifikasi sebagai variabel yang paling dominan berhubungan kejadian penyakit berbasis lingkungan di masyarakat sekitar TPA Sungai Andok. Kesimpulan Penelitian ini menemukan hubungan signifikan faktor lingkungan permukiman dan personal hygiene dengan penyakit berbasis lingkungan di sekitar TPA Sungai Andok. Umur, lama bermukim, kelembaban rumah, dan kebersihan kulit menjadi variabel paling dominan. Temuan ini dapat membantu pengembangan kebijakan kesehatan masyarakat dan program intervensi untuk mengurangi prevalensi penyakit berbasis lingkungan.

The presence of a landfill (Tempat Pembuangan Akhir or TPA) in a certain area can pose health risks tothe surrounding population. Poor management can result in water, air, and soil pollution from waste piles. This pollution has the potential to cause Environmentally Based Diseases such as Acute Respiratory Infections (ISPA), Diarrhea, Dengue Fever (DBD), and skin problems. This research aims to analyze the relationship between settlement environmental conditions, personal hygiene, and the occurrence of Environmentally Based Diseases around TPA Sungai Andok in Padang Panjang. The research methodology uses a cross-sectional approach with primary data obtained from interviews and observations. The analysis includes bivariate Chi Square and multivariate analysis using Binary Logistic Regression model prediction. A sample of 103 respondents was selected through Convenience sampling. The research results indicate that several settlement environmental variables such as ventilation area, natural lighting, house humidity, and house cleanliness are significantly associated with the occurrence of Environmentally Based Diseases (p<0.05). Personal hygiene variables such as skin cleanliness and hand hygiene also show a significant association with these diseases (p<0.05). Age, length of residence, house humidity, and skin cleanliness are identified as the most dominant variables associated with the occurrence of Environmentally Based Diseases in the community around TPA Sungai Andok. The conclusion of this research identifies a significant relationship between environmental factors in settlements and personal hygiene with environmentally based diseases around the TPA Sungai Andok area. Age, length of residence, humidity in the house, and skin hygiene emerge as the most dominant variables. These findings can contribute to the development of public health policies and intervention programs to reduce the prevalence of environmentally based diseases.
Read More
T-6871
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zihan Kamila Maharani; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Budi Hartono, Indry Octavia
Abstrak:
Penyakit berbasis lingkungan seperti ISPA, diare, dan infeksi kulit masih banyak ditemukan di lingkungan dengan sanitasi buruk dan kebersihan diri yang rendah, termasuk di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara personal hygiene, kondisi sanitasi lingkungan, dan kepadatan hunian dengan kejadian penyakit berbasis lingkungan pada warga binaan LPKA Kelas II Jakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 31 orang dan diambil dengan teknik total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan observasi, serta dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara lama masa tinggal dengan kejadian penyakit berbasis lingkungan, diare, dan ISPA (p≤0,05). Disarankan adanya peningkatan edukasi terkait kebersihan diri dan perbaikan sanitasi lingkungan di LPKA guna menurunkan risiko penyakit.

Environmental-based diseases are often found in environments with poor sanitation and low personal hygiene, including in Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). This study aims to examine the relationship between personal hygiene, environmental sanitation conditions, and housing density with the incidence of environmentally based diseases among the residents of LPKA Kelas II Jakarta. This research employed a quantitative approach with a cross-sectional design. The sample consisted of 31 participants selected using a total sampling technique. Data were collected through questionnaires and observation, and analyzed using the chi-square test. The results showed a significant relationship between length of stay and the incidence of environmentally based diseases, including diarrhea and acute respiratory infections (p≤0.05). It is recommended to enhance education on personal hygiene and improve environmental sanitation in LPKA to reduce disease risk.
Read More
S-11916
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Heri Purwanto; Pembimbing: I Made Djaja, Ema Hermawati; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Rina Hasrina, Suwito
T-3962
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive