Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 41766 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sinta Purnamawati; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Besral, Irawan Mangunatmadja, Vivi Setiawaty
T-4086
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Anandari; Pembimbing: Luknis Sabri; Penguji: Toha Muhaimin, Ramadanura
S-6406
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nayda Nihayah; Pembimbing: Popy Yuniar; Penguji: Milla Herdayati, Dini Trisnowati
Abstrak:
Perawat merupakan kelompok terbesar dalam tenaga kesehatan yang memiliki peran fundamental dalam pencapaian mutu pelayanan. Indonesia menduduki urutan keempat negara dengan rasio perawat terendah di dunia pada 2023 dengan rasio 2,28 per 1.000 penduduk. WHO memproyeksikan akan terjadi kekurangan perawat sekitar 4,5 juta pada 2030. Ketidakhadiran menjadi salah satu penyebab kekurangan staf di lingkungan layanan kesehatan. Pada lingkup pelayanan kesehatan, fenomena ketidakhadiran banyak terjadi pada kelompok perawat karena berkaitan dengan sistem kerja shift serta tuntutan beban kerja yang tinggi. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan analisis bivariat. Penelitian menggunakan data ketidakhadiran dan kepegawaian Rumah Sakit Universitas Indonesia dengan jumlah sampel 455 perawat. Hasil penelitian menunjukkan persentase perawat di RSUI yang mengalami ketidakhadiran pada tahun 2025 adalah sebesar 50,5%. Sebagian besar variabel tidak berhubungan dengan ketidakhadiran. Namun, masa kerja (p = 0,001) dan tempat tugas (p = 0,001) berhubungan signifikan dengan ketidakhadiran pada perawat di RSUI tahun 2025. Dengan demikian, rumah sakit perlu melakukan kegiatan refreshment atau penguatan budaya kerja secara berkala bagi seluruh perawat serta melakukan evaluasi beban kerja dan penyesuaian jumlah tenaga perawat sesuai kebutuhan masing-masing unit.

Nurses constitute the largest group of healthcare workers and play a fundamental role in achieving quality service. Indonesia ranks fourth among countries with the lowest nurse ratio in the world in 2023, with a ratio of 2.28 per 1,000 residents. The WHO projects a nurse shortage of approximately 4.5 million by 2030. Absenteeism is one of the causes of staff shortages in healthcare settings. In healthcare settings, absenteeism is common among nurses due to shift work systems and high workload demands. This study used a cross-sectional design with bivariate analysis. The study used absenteeism and staffing data from the University of Indonesia Hospital, with a sample size of 455 nurses. The results showed that the percentage of nurses at the University of Indonesia Hospital experiencing absenteeism in 2025 was 50.5%. Most variables were not related to absenteeism. However, length of service (p = 0.001) and work unit (p = 0.018) were significantly associated with absenteeism among nurses at RSUI in 2025. Therefore, hospitals need to conduct regular refreshment activities or strengthen work culture for all nurses as well evaluate workloads and adjust the number of nursing staff according to the needs of each unit.
Read More
S-12326
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tetty Herta Doloksaribu; Pembimbing: Sudijanto Kamso, Kusharisupeni; Penguji: Luknis Sabri, Soewarto Kosen, Itje A. Ranida
Abstrak: Latar Belakang:Umur 12-23 bulan termasuk dalam periode emas pertumbuhan otak, namun prevalensi anemia pada anak umur tersebut paling tinggi dibandingkan dengan prevalensi anemia pada anak balita dengan kelompok umur yang lebih tua yaitu lebih dari 50%. Anak-anak yang menderita anemia, perkembangan psikomotornya akan terhambat, menurunnya kemampuan bahasa, motorik dan koordinasi serta menyebabkan anoreksia, perubahan fungsi saluran pencernaan serta turunnya kekebalan tubuh. Tujuan: Mengetahui gambaran anemia dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada anak umur 12-23 bulan. Metode: Data yang digunakan adalah data Nutrition and Health Surveillance System-NSS periode Maret hingga Juni 2003 oleh HKI Indonesia bekerjasama Depkes RI di pedesaan pada 7 propinsi yaitu Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan. Desain penelitian adalah potong lintang dan analisis data dengan regresi logistik multivariat menggunakan program STATA 7.0. Hasil: Proporsi anemia pada anak umur 12-23 bulan di pedesaan pada 7 propinsi di Indonesia adalah 63.33%. Faktor yang signifikan berhubungan adalah status gizi menurut indeks TB/U yang berinteraksi dengan kehadiran anak di posyandu, penyakit infeksi, pemberian ASI, frekuensi konsumsi susu dan jumlah anggota keluarga. Kesimpulan: Faktor yang lebih dominan hubungannya dengan anemia pada kelompok umur 12-23 bulan adalah kehadiran anak di posyandu. Kata kunci: Faktor-faktor, anemia, umur 12-23 bulan.
Background: Ages 12-23 months is the prime period for a child’s brain development. The prevalence of anaemia in this group of age is 50%, higher than those with the group of older under-five children. Children who suffer anaemia will got slow development of psychomotor, reduced language skills, their motoric skills and coordination, anorexia, deficiency in the digestive system and deficiency in the immune system. Objective: This research aims to investigate the anaemia descriptions and the factors in associated with cases of anaemia among children aged 12-23 months. Design: The data used is the Nutrition and Health Surveillance System-NSS from March 2003 to June 2003 by Helen Keller International (HKI) Indonesia in cooperation with Government of Indonesia (GOI). The data is collected from rural areas in 7 provinces: Lampung, Banten, West Java, Central Java, East Java, West Nusa Tenggara and South Sulawesi. The design of this study is cross-sectional.The data is analysed with multiple logistic regression by using STATA 7.0. Result: The research indicates that the proportion of anaemia on children ages 12-23 months in the aforementioned 7 provinces is 63.33%. The significant factors associated with anemia are the nutrient state of the children (height for age index), infection-related diseases, breast-milk feeding, milk consumption, the number of family and the attendance of children at integrated health post (posyandu). There are interactions between nutrient state of the children with the attendance of children at posyandu. Conclusions: Out of The significant factors associated with anemia, the most dominant is the attendance rate of the children at posyandu. Key words: Factors, anaemia, aged 12-23 months.
Read More
T-2108
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Athi Susilowati Rois; Pembimbing: Luknis Sabri
S-3483
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salmaa Afkari; Pembimbuing: R. Sutiawan; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Ely Setyawati
Abstrak:
Periode balita adalah fase rentan terhadap risiko kesehatan yang dapat menghambat pertumbuhan anak serta menyebabkan kematian. Diare menjadi perhatian utama dalam kesehatan balita karena menjadi penyebab utama kematian dan penyakit pada kelompok usia tersebut, terutama di negara-negara berkembang. Berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 dan 2017, prevalensi diare pada balita di Indonesia cenderung stagnan, hanya mengalami sedikit penurunan dari 14,3% pada tahun 2012 menjadi 14,1% pada tahun 2017. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh antara sumber air minum dan sanitasi rumah tangga terhadap kejadian diare pada balita di Indonesia dengan menggunakan analisis propensity score matching berdasarkan data SDKI 2017. Penelitian bersifat kuantitatif dengan menggunakan desain studi observasional. Populasi penelitian ini yaitu seluruh anak di bawah usia lima tahun (0 - 59 bulan) yang tercatat dalam data SDKI 2017. Hasil analisis propensity score matching menemukan bahwa efek rata-rata dari layanan air minum yang tidak layak menunjukan hasil yang tidak signifikan terhadap peningkatan kejadian diare pada balita berdasarkan nilai statistic t yang dihasilkan dengan nilai efek peningkatan risiko sebesar 2,0%. Sementara itu, efek rata-rata dari layanan sanitasi yang tidak layak memenuhi nilai asumsi yang signifikan berdasarkan nilai t yang dihasilkan terhadap peningkatan kejadian diare pada balita dengan nilai efek peningkatan risiko sebesar 3,8%. Perbandingan hasil analisis propensity score matching dan analisis regresi logistik biner menunjukkan sedikit perbedaan pada nilai odds ratio yang dihasilkan, namun tidak terlihat signifikan. Temuan ini menunjukan masih diperlukan penanganan terhadap kejadian diare pada balita. Diperlukan upaya dalam penerapan program edukasi yang berfokus pada pencegahan diare untuk mengurangi kejadian diare pada balita terkait sanitasi jamban. Selain itu, diperlukan pengembangan infrastruktur dan peningkatan ketersediaan fasilitas sumber air minum dan sanitasi agar akses fasilitas dapat tercapai merata di seluruh wilayah Indonesia.

The under-five period is a phase vulnerable to health risks that can stunt a child's growth and cause death. Diarrhea is a major concern in the health of children under five as it is the leading cause of death and illness in this age group, especially in developing countries. Based on data from the Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS) in 2012 and 2017, the prevalence of diarrhea in children under five in Indonesia tends to stagnate, only experiencing a slight decrease from 14.3% in 2012 to 14.1% in 2017. This study aims to examine the effect of drinking water sources and household sanitation on the incidence of diarrhea in children under five years old in Indonesia using propensity score matching analysis based on the 2017 IDHS data. The research was quantitative in nature using an observational study design. The population of this study was all children under the age of five (0 - 59 months) recorded in the 2017 IDHS data. The results of the propensity score matching analysis found that the average effect of unimproved drinking water services showed insignificant results on increasing the incidence of diarrhea in children under five years of age based on the t-statistic value generated with an increased risk effect value of 2.0%. Meanwhile, the average effect of unimproved sanitation services meets the significant assumption value based on the resulting t value on the increase in the incidence of diarrhea in children under five with an increased risk effect value of 3.8%. Comparison of the results of propensity score matching analysis and binary logistic regression analysis showed a slight difference in the resulting odds ratio values, but did not appear significant. These findings indicate the handling of the incidence of diarrhea in toddlers. Efforts are needed to implement educational programs that focus on diarrhea prevention to reduce the incidence of diarrhea in children under five years of age related to latrine sanitation. In addition, it is necessary to develop infrastructure and increase the availability of water supply and sanitation facilities so that access to facilities can be achieved evenly throughout Indonesia.
Read More
S-11517
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Armansyah jaya Putra ZA.; Pembimbing: Artha Prabawa; Penguji: Besral, Elise Garmelia
Abstrak: Dalam implementasi Program Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Haji Jakartamasih ditemukan Kejadian-Kejadian Keselamatan Pasien, yaitu KTD, KTC, KPCdan KNC. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Faktor-Faktor yang berhubungan dengan Kejadian Keselamatan Pasien di Rumah Sakit Haji Jakarta Tahun 2012, serta untuk mengetahui tindakan apakah yang harus dilakukan untukmenurunkan Angka Kejadian Keselamatan Pasien, untuk mengetahui perawatyang sudah mengikuti pelatihan Patient Safety serta Gambaran PemahamanKaryawan Tentang Dimensi Pelatihan Keselamatan Pasien di Rumah Sakit HajiJakarta. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain penelitian kualitatifdan kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Analisis DataUnivariat dan Bivariat. Variabel yang diduga berhubungan dengan kejadiankeselamatan pasien adalah jenis kelamin, umur dan pendidikan. Perekrutantenaga baru untuk ruang perawatan harus segera diberikan pelatihan PatientSafety, masih banyak perawat yang belum mengikut pelatihan Patient Safety danmasih terdapat tenaga di ruang perawatan yang belum paham terhadap materi pelatihan Patient Safety dan tidak melaporkan terhadap Kejadian Keselamatan Pasien.Kata kunci: Keselamatan Pasien, Kejadian Keselamatan Pasien
In the implementation of the Patient Safety Program in Hospital Haji Jakarta stillfound incidents Patient Safety, namely KTD, KTC, KPC and KNC. The researchwas conducted to determine factors associated with the incidence of Patient Safetyin the Jakarta Hajj Hospital in 2012, and to know what action should be taken tolower the incidence rate for Patient Safety, to know nurses who have trainingUnderstanding Patient Safety, and Employee Preview About Dimension TrainingPatient Safety in Jakarta Hajj Hospital. The research was conducted usingqualitative and quantitative research design using cross sectional. Univariat andBivariate Data Analysis. Variables that were related to patient safety incident isthe sex, age and education. Recruitment of new personnel to inpatient unit shouldbe given training Patient Safety, there are still many who have not followed thetraining nurses Patient Safety and there are personnel inpatient unit who do notunderstand the training material and Patient Safety Patient Safety to report theincident.Keywords: Patient Safety, Patient Safety incident
Read More
S-7641
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Supriyadi; Pembimbing: Iwan Ariawan; Penguji: Besral, Trui Yunis Wahyono, Setyadi, Eko Winarto
Abstrak: Abstrak

Stroke merupakan salah satu penyebab kematian ketiga. Ketahanan Hidup Satu Tahun Pasien Stroke dipengaruhi oleh umur, tipe stroke, larna hari rawat, diabetes melitus, hipertensi, hiperkolesterol, penyakit jantung, merokok, jenis kelarnin dan riwayat stroke. Desain penelitian ini adalah kohort restrospektif. Probabilitas ketahanan hidup pasien stroke satu tahun sebesar 61% . Pasien stroke berulang memiliki resiko meninggal 2,0 kali dibandingkan yang stroke pertama pada penyakit jantung dan kolesterol yang sarna. Pasien stroke yang menderita penyakit jantung memiliki resiko meninggal 2,8 kali dibandingkan dengan yang tidak menderita penyakit jantung pada riwayat stroke dan kadar kolesterol yang sarna. Pasien stroke dengan kolesterol memiliki resiko meninggal 1,8 kali dibandingkan dengan yang tidak kolesterol pada riwayat stroke dan penyakit jantung yang sarna.


Stroke is the third most common cause of death. A one-year survival rate of stroke patients has been affected by their ages, type of stroke, period of treatment, diabetes mellitus, hypertension, hypercholesterolemia, heart disease/cardiovascular disease, smoking, gender, and the patients' parental/maternal history of stroke. This research uses retrospective cohort design. The probability of stroke patients' survival rate for the duration one year is 61%. Patients with frequent stroke recurrence have 2,0 times of death risk compared to patients with first time stroke on identical level of medical history in heart disease and cholesterol leveL Whereas stroke patients with heart disease have 2,8 times of death risk compared to stroke patients with no heart disease on identical level of medical history in stroke illness and cholesterol level. Meanwhile stroke patients with hypercholesterolemia have 1,8 times of death risk compared to stroke patients with low cholesterol level on identical level of medical history in stroke illness and heart disease.

Read More
T-3728
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurhalina Sari; Pembimbing: R. Sutiawan; Penguji: Besral, Fitriai
S-7002
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive