Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 28894 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Bambang Suharto ... [et al.]
R 615.19 SUH d
Jakarta : Medipress, 1976
Referensi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
penyusun, Bambang Suharto ... [et al.]
R 615.19 DAT d
Jakarta : Medipress, 1976, 1992
Referensi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kesmas. Indonesia (MKMI), XXV, No.7, 1997, hal. 445-449. ( ket. ada di bendel 1994-2009 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Departemen Kesehatan
615.1 IND k
Jakarta : Pusat Data Depkes, 2000
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dinda Ayu Reihanisa; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Popy Yuniar, Rahmadewi
S-11970
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bul. Pen. Kes. (Bulitkes), Vol.38, No.2, 2010, hal. 80-89, ( Cat ada di bendel 2008-2011 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wina Adelia Putri; Pembimbing: Besral; Penguji: Milla Herdayati, Zakiah
Abstrak: Latar Belakang: Hipertensi merupakan salah satu beban kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia dan pemicu utama penyakit kardiovaskular. Keberhasilan pengendalian kondisi hipertensi sangat bergantung pada kepatuhan pasien. Berdasarkan data SKI 2023, ketidakpatuhan minum obat antihipertensi masih menjadi masalah signifikan di Indonesia. Metode: Menggunakan data sekunder dari SKI 2023 dengan desain studi cross sectional. Sampel adalah responden berusia ≥18 tahun dengan diagnosis hipertensi. Responden dengan data tidak lengkap dan wanita hamil diesklusi sehingga menghasilkan sampel akhir sebanyak 49.026 responden. Analisis data menggunakan regresi logistik multinomial. Hasil: Seluruh variabel independen yang diuji (pendidikan, pekerjaan, status ekonomi, wilayah geografis, komorbiditas, waktu sejak diagnosis, umur, jenis kelamin, tempat tinggal, perilaku penggunaan obat tradisional, konsumsi alkohol, akses fasilitas kesehatan, kepemilikan asuransi, dan dukungan informasi) berhubungan signifikan dengan ketidakpatuhan. Persentase ketidakpatuhan adalah sebesar 53,5%, yaitu 36,7% (95% CI:  35,9-37,4) responden tidak rutin dan 16,8% (95% CI: 16,2-17,4) tidak minum obat. AOR tertinggi ditemukan pada responden yang tidak mendapatkan dukungan informasi, baik pada kategori tidak rutin (AOR 3,76; 95% CI 3,59-3,95; p<0,001) dan pada kategori tidak minum obat (AOR 8,63; 95% CI: 8,12-9,19; p<0,001). Kesimpulan: Ketidakpatuhan minum obat antihipertensi masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Diperlukan intervensi berbasis komunitas, peningkatan edukasi, dan perbaikan akses kesehatan untuk meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan. 
Background: Hypertension is one of the largest public health burdens in Indonesia and a major trigger for cardiovascular disease. The success of controlling hypertension is highly dependent on patient compliance. Based on SKI 2023 data, non-compliance with taking antihypertensive drugs is still a significant problem in Indonesia. Methods: Using secondary data from SKI 2023 with a cross-sectional study design. The sample was respondents aged ≥18 years with a diagnosis of hypertension. Respondents with incomplete data and pregnant women were excluded, resulting in a final sample of 49,026 respondents. Data analysis used multinomial logistic regression. Results: All independent variables tested (education, occupation, economic status, geographic region, comorbidities, time since diagnosis, age, gender, place of residence, traditional medicine use behavior, alcohol consumption, access to health facilities, insurance ownership, and information support) were significantly associated with non-compliance. The percentage of non-compliance was 53.5%, specifically 36.7% (95% CI: 35.9-37.4) of respondents did not follow the routine, and 16.8% (95% CI: 16.2-17.4) did not take their medication. The highest AOR was found in respondents who did not receive information support, both in the non-routine category (AOR 3.76; 95% CI 3.59-3.95; p<0.001) and in the category of not taking medication (AOR 8.63; 95% CI: 8.12-9.19; p<0.001). Conclusion: Non-compliance with taking antihypertensive medication is still a major challenge in Indonesia. Community-based interventions, increased education, and improved access to health are needed to improve treatment adherence.
Read More
S-11968
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anastasha Cassandra Ko; Pembimbing: Rizka Maulida; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Diah Satyani Saminarsih
Abstrak:
Penyakit tidak menular (PTM) menyebabkan 71% kematian global, dengan kasus hipertensi diproyeksikan meningkat dari 639 juta pada 2000 menjadi 1,5 miliar pada 2025. Di Indonesia, prevalensi hipertensi meningkat dan menjadi penyebab kematian utama ketiga, namun hanya kurang dari 10% penderita yang memiliki kontrol tekanan darah baik. Penelitian ini menganalisis hubungan karakteristik pasien hipertensi dengan konsumsi obat antihipertensi pada responden Riskesdas 2018. Desain penelitian cross-sectional ini menggunakan data Riskesdas 2018 dengan responden berusia 18 tahun ke atas. Survei oleh Kementerian Kesehatan RI menggunakan stratified multistage random sampling untuk representasi nasional. Karakteristik pasien yang dianalisis meliputi jenis kelamin, kelompok umur, pendidikan, pekerjaan, dan tempat tinggal. Analisis statistik chi-square bivariat dengan signifikansi p < 0.05 digunakan untuk menentukan hubungan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik pasien hipertensi yang signifikan terkait konsumsi obat antihipertensi guna merancang intervensi pengendalian hipertensi yang lebih efektif. Hasil analisis menunjukkan bahwa responden perempuan (OR = 0,78; 95%CI= 0,75-0,81), kelompok umur berisiko (≥31 tahun) (OR = 0,32; 95%CI= 0,30-0,35), individu dengan pendidikan rendah (OR = 1,27; 95%CI=1,22-1,33), tidak bekerja (OR = 1,30; 95%CI= 1,26-1,35), dan tinggal di perdesaan (OR = 0,95; 95%CI= 0,92-0,99) berhubungan dengan konsumsi obat antihipertensi. Temuan ini menekankan perlunya peningkatan kesadaran dan kepatuhan terhadap pengobatan antihipertensi terutama di kalangan kelompok berisiko tinggi, untuk mengurangi beban hipertensi di Indonesia.

Non-communicable diseases (NCDs) account for 71% of global deaths, with hypertension cases projected to increase from 639 million in 2000 to 1.5 billion by 2025. In Indonesia, the prevalence of hypertension is rising and is the third leading cause of death, but less than 10% of patients have good blood pressure control. This study analyzes the relationship between the characteristics of hypertensive patients and the consumption of antihypertensive drugs among respondents of the 2018 Riskesdas. This cross-sectional study design uses data from the 2018 Riskesdas with respondents aged 18 years and older. The survey by the Indonesian Ministry of Health used stratified multistage random sampling for national representation. The analyzed patient characteristics include gender, age group, education, occupation, and place of residence. Bivariate chi-square statistical analysis with significance set at p < 0.05 was used to determine these relationships. The aim of this study is to identify significant characteristics of hypertensive patients related to the consumption of antihypertensive drugs to design more effective hypertension control interventions. The analysis results show that female respondents (OR = 0.78; 95%CI = 0.75-0.81), at-risk age group (≥31 years) (OR = 0.32; 95%CI = 0.30-0.35), individuals with low education (OR = 1.27; 95%CI = 1.22-1.33), unemployed (OR = 1.30; 95%CI = 1.26-1.35), and living in rural areas (OR = 0.95; 95%CI = 0.92-0.99) are associated with the consumption of antihypertensive drugs. These findings highlight the need to increase awareness and adherence to antihypertensive treatment, especially among high-risk groups, to reduce the burden of hypertension in Indonesia.
Read More
S-11782
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Rosmalasari; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Besral, Dien Anshari, Adhi Darmawan Tato, Tiur Dina Waty
Abstrak: Peningkatan perilaku masyarakat dalam menggunakan obat dilakukan melalui komunikasi, informasi dan edukasi sehingga masyarakat dapat memilih produk obat yang aman, berkhasiat, dan bermutu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku masyarakat dalam menggunakan obat dengan menggunakan analisis data survei indeks kesadaran masyarakat dalam memilih obat dan makanan tahun 2016 dengan metode cross sectional dan regresi logistik ganda. Hasil analisis menunjukkan faktor sumber informasi merupakan faktor yang paling dominan berhubungan terhadap perilaku masyarakat dalam menggunakan obat (OR = 4). Hal ini berarti, sumber informasi yang besar berpeluang meningkatkan perilaku masyarakat dalam menggunakan obat sebesar 4 kali dibandingkan dengan sumber informasi yang terbatas. Untuk itu diperlukan peningkatan upaya promosi kesehatan yang sebesar-besarnya terkait dengan penggunaan obat.
Kata kunci: obat, perilaku, sumber informasi, pengetahuan, sikap

Community behavior in medicine use could be improved by organizing communication, information, and education so that people can choose safe, efficacy, and quality medicine products. This study aims to analyze factors related to community behavior in medicine use by using data analysis of public awareness index survey in choosing drug and food in 2016 with cross sectional method and multiple logistic regression. The result shows that the information source factor is the most dominant factor related to the community behavior in medicine use (OR = 4). A large amounts of information sources potentially increase community behavior in medicine use 4 times compared to limited information sources. Therefore, the health promotion effort related to the medicine use is necessary needed.
Keywords: medicine, behavior, information exposure, knowledge, attitude
Read More
T-5508
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ribka Kezia Angelica Sagala; Pembimbing: Popy Yuniar; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Umi Zakiati
Abstrak:
Kepatuhan pengobatan Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan utama dalam menanggulangi TB di Indonesia. Proporsi kepatuhan minum obat TB di Indonesia mengalami penurunan dari tahun 2018 (69,2%) ke tahun 2023 (62,5%). Dalam strategi DOTS, dijelaskan bahwa salah satu upaya mengendalikan kepatuhan pengobatan adalah  kehadiran Pengawas Menelan Obat (PMO). Namun, proporsi pasien TB yang memiliki PMO juga mengalami penurunan dari 66,2% menjadi 62,1%. Oleh karena itu, penelitian ini hendak menelusuri apakah penurunan keberadaan PMO berkontribusi terhadap penurunan kepatuhan pasien TB usia ≥ 15 Tahun meminum obat di Indonesia menggunakan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Desain studi yang digunakan adalah potong lintang. Analisis yang dilakukan adalah analisis univariabel, bivariabel, dan multivariabel. Hasil penelitian menemukan hubungan signifikan antara keberadaan PMO dengan kepatuhan minum obat (OR: 4,62; 95% CI: 2,39–8,93). Setelah dikontrol dengan usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status ekonomi, dan komorbid DM, dan kepemilikan jaminan kesehatan, keberadaan PMO masih berhubungan positif dengan kepatuhan (AOR: 4,41; 95% CI: 2,18–8,90). Hasil tersebut menunjukkan bahwa kehadiran PMO relevan dan penting untuk meningkatkan kepatuhan dan keberhasilan pengobatan TB Paru di Indonesia. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan pasien TB adalah mengoptimalisasi peran dan kualitas PMO baik dari keluarga maupun tenaga kesehatan.


Treatment adherence for tuberculosis (TB) remains one of the major health challenges in TB control efforts in Indonesia. The proportion of TB patients adhering to treatment decreased from 69.2% in 2018 to 62.5% in 2023. In the DOTS strategy, one of the key efforts to improve treatment adherence is the presence of a Treatment Supervisor (Pengawas Menelan Obat or PMO). However, the proportion of TB patients with a PMO also declined from 66.2% to 62.1%. This study aims to examine whether the decline in PMO presence contributed to the decrease in treatment adherence among TB patients aged ≥15 years in Indonesia, using secondary data from the 2023 Indonesia Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia or SKI). The study design is cross-sectional, and analyses were conducted using univariate, bivariate, and multivariate methods. The results showed a significant association between the presence of a PMO and treatment adherence (OR: 4.62; 95% CI: 2.39–8.93). After controlling for age, sex, education level, economic status, comorbid diabetes mellitus, and health insurance ownership, the presence of a PMO remained positively associated with adherence (AOR: 4.41; 95% CI: 2.18–8.90). These findings indicate that the presence of a PMO is relevant and essential for improving TB treatment adherence and success in Indonesia. The efforts to enhance patient adherence should also focus on optimizing the role and quality of PMO, whether from family members or healthcare providers.
Read More
S-12109
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive